The Secret of Adriana (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Sesekali wanita itu menimang boneka beruang yang ada di tangannya, dengan senyum manisnya yang menyiratkan kasih sayang, sesekali ia menatap langit biru lalu kembali tersenyum dan kembali menunduk seolah bermain dengan dunianya sendiri. “Dia sudah agak baikan Adriana, kau tak perlu khawatir,” Adriana menoleh, terlihat guratan kesal di wajahnya, hari ini adalah ketiga kalinya ia tertangkap basah oleh Danu sedang mengamati wanita paruhbaya itu.

“Aku tak pernah mengkhawatirkannya sama sekali, bahkan aku ingin ia seperti itu hingga akhir hayatnya,” ucap wanita itu ketus. Adriana pun beranjak pergi dari bawah pohon mangga itu sambil membenarkan jasnya. “Baiklah dokter cantik kau menang.” ucap Danu sambil melirik wanita itu, ia tersenyum kecut, Danu memandangi gadis yang telah melesat pergi itu sambil membetulkan kacamatanya.

Tangannya gemetar sesekali ia coba menggerakkan tangannya yang kaku, kakinya meringkuk di sudut ruang kamarnya, ia kembali dihantui dengan bayang-bayang masa lalunya, dimana dengan teganya ayahnya membuangnya lantaran terbukti bahwa ia adalah anak hasil perzinahan ibunya dengan rekan kerjanya. Ia teringat bagaimana dengan sadis ayahnya yang tengah mabuk membuka seluruh pakaiannya lalu menendangnya ke luar rumah, saat itu umurnya sekitar 10 tahun.

Ia terus menggedor-gedor pintu rumah megah nan mewah itu dengan tangisan tanpa tahu apa salahnya, namun sedikit pun tak ada sahutan. Angin malam kembali menjalar ke seluruh tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam, dingin begitu menyergapnya, ia memutuskan untuk pergi dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia berjalan dengan penuh rasa takut, perumahan terlihat sepi, hingga seketika sinar harapan muncul dari rumah yang terlihat ramai, ia berharap ada yang mau membantunya. Semua mata tertuju padanya, tiba-tiba ada semua suara yang membuat matanya bersinar.

“Bukankah itu anak Johan? Hei, Nak sini.” ia tersenyum.
“Kau mencari Ibumu? Ya Tuhan mengapa tubuhmu seperti ini, ayo masuk!” wanita itu mengajak Adriana masuk.
“Anitaaa, bukankah ini anakmu?” Anita terkejut mendapati Adriana yang tengah berlari ingin memeluknya.
“Mama…” ucap Adriana, seolah menemukan sandarannya.
“Mengapa kau ke sini? Ayo ikut aku!” Adriana mengikuti ibunya tanpa tahu apa maksud wanita itu.

“Mama, mengapa tak pulang?” suara bisik berbisik pun terdengar riuh saat mereka melewati kerumunan orang.
“Ma, aku lapar..” ucap Adriana merintih, namun seolah suaranya tenggelam dengan berbagai bisikan.
“Ku dengar Anita berhasil mengeruk kekayaan lelaki itu dan katanya mereka sudah bercerai,” Bisik salah seorang, Adriana hanya bisa mendengar.
“Ma, aku kedinginan,” ucapnya lagi, sesekali ia tersandung.
“Jalan saja.” suara mamaya datar.

“Masuk!” Anita mendorong Adriana ke dalam mobilnya.
“Ma aku lapar, aku kedinginan, kau tahu aku sehabis menangis, karena Papa, tadi papa….” ucap Adriana terpotong.
“Cukup Adriana!!!” bentak Anita, rasanya ia ingin segera membuang gadis pembawa bencana bagi kehidupannya itu saat ini juga. Adriana terdiam, padahal tadinya ia berharap mamanya mau sedikit saja merangkulnya agar hangat, ia menangis sambil menatap mamanya yang menyetir mobil. Malam pun semakin larut, mobil inova merah itu berhenti di sebuah pertokoan yang sudah tertutup terlihat jalanan begitu lengang.

Ssetelah mematikan mobilnya Anita ke luar, lalu membuka pintu Adriana. “Turun!” ucap wanita itu, Adriana tertunduk menurut ia turun dengan kaki tanpa alas, dingin kembali menyergapnya seketika ia mencoba memeluk dirinya sendiri. “Dingin Ma.” Anita menggandeng anak kecil itu hingga ke sebuah gang sempit, lalu berhenti.
“Kamu tunggu di sini, oke? Mama akan belikan baju dan makanan untukmu.” ucap Anita sambil memandang mata Adriana meyakinkan, namun ketika Anita akan pergi, Adriana memegang tangan wanita itu.

“Mam, Adriana ikut Mama aja, Adriana takut di sini sendirian gelap,” air matanya kembali terjatuh. “Aku mau ikut Mama aja,” Anita terdiam ia memejamkan matanya.
“Lepaskan Mama, Adriana!” ucap Anita sedikit keras dan ditekan ia takut membangunkan penduduk kumuh itu.
“Aku mau ikut Mama aja, aku takut..” semakin Anita berusaha melepaskan pegangan, Adriana semakin kuat memegang tangannya. “Lepas ku bilang! Aku sudah mengatakan padamu, tunggu di sini akan ku belikan pakaian dan makanan mengerti!!!” bentak Anita, sambil memandangi jalan lengang itu.

“Dengar!” ucap Anita sambil mendekati wajah yang kini basah dengan air mata. “Kalau kau mengikutiku, maka engkau tak akan melihat Mamamu ini selamanya.” Adriana melepaskan pegangannya ia tertunduk. “Hhh, anak baik.” ucap Anita, ia melangkah pergi, Adriana memandang hampa melihat mamanya yang semakin jauh dan semakin jauh hingga terdengar suara mobil yang melesat pergi, air matanya kembali merembes dengan deras ia mencoba terduduk sambil meringkuk, di rangkul tubuhnya oleh kedua tangannya, seolah angin terus ingin masuk ke dalam tubuhnya dan membuat badannya bergelembung, lambat laun ia tertidur.

Adriana terbangun tatkala seseorang anak kecil menimpukinya dengan batu. “Aww!!” ia terbangun mengucek matanya, matahari telah tinggi, namun ia tak mendapati mamanya di sisinya, badannya penuh dengan tanah, ia kembali menggigil, semua mata tertuju padanya anak-anak kecil pun mengelilinginya tiba-tiba mereka melemparinya dengan rerumputan dan tanah. Ia menangis, anak-anak seusianya itu pun tertawa dan menyerunya. “Orang gila, orang gila!!” ia terdiam dipeluknya perut yang kian melilit itu ia tenggelamkan wajahnya di sikunya, ia terdiam seakan ia sudah tak ada energi untuk sekedar menangis.

“Hei, sudah, sudah kalian ini.” tiba-tiba ada yang menyibak kerumunan itu, seorang pria dengan pakaian kumuhnya.
“Pergi sana, hus, hus, sudah pergi sana dasar anak-anak nakal!” ucap pria itu, ia pun mendekati gadis itu, Agus menunduk. “Hei,” Diusapnya rambut gadis malang itu. Adriana mendongakkan kepalanya.
“Ya rabb, badanmu panas sekali.” ucap Agus sambil memegang kening gadis itu.
“Aku, lapar Kak.” rintih Adriana.
“Ke rumah Kakak yuk!” ajaknya, Adriana tersenyum lemah, dengan segera ia membawa gadis kecil itu ke rumahnya.

“Assalamualaikum, Ibu, Ibu.” wanita yang dipanggilnya ibu beranjak dari kayu bakar yang tengah ditiupnya.
“Masyaallah, siapa anak ini Gus?” dengan segera Bu Mus menyelimuti badan Adriana yang hampir beku lalu membaringkannya.
“Enggak tahu Bu, tadi sehabis pulang sekolah aku temukan ia di jalan, ia dikerumuni oleh anak-anak,” ucap Agus.
“A-aku lapar..” ucap Adriana dengan suara serak, tiba-tiba sebelum jelas ia melihat kedua orang yang dikirimkan Tuhan kepadanya itu, matanya tiba-tiba buram dan hitam, namun ia masih sempat mendengar ucapan tulus penuh kasih sayang bu mus. “Ambilkan ubi hangat dan buatkan segelas teh Gus, untuk anak ini.”

“Mas aku agak telat ya, soalnya banyak pasien yang baru masuk, jadi harus ada pemeriksaan awal sebentar,” ucap Adriana sambil mengunyah seiris roti tawar yang dibuatkan Eva di ruang sebelah. “Kamu udah makan?” ucap suara di seberang sana tulus. “Ini aku lagi makan, Mas bilang sama Ibu aku minta dibuatin rendang hehehe, udah ya Mas nanti lagi, udah bel nih.” ucap Adriana sambil mengenakan jas putihnya, dengan setelah rok berwarna biru donker dipadu dengan kemeja berwarna biru muda, ia melangkahkan kaki, namun baru beberapa langkah, ia berhenti, dan tanpa sadar mata mereka saling bertemu.

“Nana,” ucap wanita itu, Adriana segera berbalik mempercepat jalannya, wanita itu berlari mengejar Adriana.
“Nanaa, kamu ke mana saja, Mama kangen sama kamu.” ucap wanita itu sambil memeluk lengannya.
“Maaf anda salah orang, lepaskan saya!” ia mencoba melepaskan pelukan, namun pelukan wanita itu begitu kuat, dengan sekuat tenaga Adriana mencoba melepaskan genggaman wanita itu, seketika tubuhnya lemah, tiba-tiba seorang lelaki melerai mereka berdua, lalu merebut Adriana dari pelukan wanita itu.

“Suster!!” ucap lelaki itu, seketika dua orang suster segera membawa wanita itu.
“Kamu gak apa-apa..” sebelum Hakim meneruskan ucapannya tubuh Adriana mendadak lunglai.
“Farah!” ucap Hakim terkejut seketika Hakim membopong Adriana menuju kantornya sembari sesekali menoleh ke arah wanita paruh baya yang meronta-ronta itu.
“Terasa hangat tangannya,” gumam Adriana sambil membuka matanya.
“Sudah enakan Farah?” Adriana terduduk lalu pandangannya kosong, mata Hakim menangkap trauma hebat yang pernah melanda Adriana seakan kembali.
“Aku di sini Farah, tenanglah,” Hakim mengecup kening wanita itu, tiba-tiba Adriana berteriak, dengan sigap Hakim segera memeluk wanita itu.
“Aku di sini, ku mohon tenanglah, aku di sini menjagamu.” Adriana terus menangis.

“Aku mencintamu Farah.” Adriana menggenggam erat jas putih lelaki itu, ia menangis sejadi-jadinya, seolah semua lukanya kembali hadir menghantuinya ia tumpahkan semuanya ia terus menangis, seolah peta sejarah kelam dirinya bangkit merobek semua hatinya. Ia tak bisa membayangkan, jika Hakim harus menerima dirinya seperti ini, dengan traumanya ini. Dengan lembut Hakim mengusap kepala gadis itu, setelah hampir satu jam Adriana menangis ia tertidur, Hakim pun segera merebahkan wanita itu di tempat tidurnya.

Sasaat ia melihat hp-nya, tersadar sudah hampir 20 call dari Rasydan, ia melihat banyak sms dari kakak kekasihnya itu, tiba-tiba hp-nya berbunyi ia lihat Rasydan mengiriminya pesan. “Hp Adriana tidak aktif, dia bersamamu?” Hakim segera membalas pesan lelaki itu. “Adriana tiba-tiba pingsan, sepertinya ia kelelahan, insyaallah nanti ketika dia bangun, saya antar pulang.” ia mengusap rambut wanita itu, lalu kembali terduduk sambil memegang tangan Adriana.

“Aku tahu siapa kamu Farah, aku tahu bagaimana perasaanmu, dan aku akan siap menerima kamu apa adanya, sungguh jangan pernah khawatir.” Hakim mengecup punggung tangan Adriana dengan lembut.

Bersambung

Cerpen Karangan: Hayyatul Hikam
Facebook: Hayyatul Hikam

Cerpen The Secret of Adriana (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Cinta

Oleh:
“cepatlah Lisa! nanti kita bisa ketinggalan bus..” ajak Ara yang terburu-buru. Karena hari ini kami hampir kesiangan berangkat ke sekolah. “tunggu sebentar ra.. aku ambil bando merahku dulu..” ucapku

Cerita Hati

Oleh:
30 Desember 2015 di sini aku mulai cerita baruku dan memulai hidup baruku dengan suamiku. Aku bernama Putri dan suamiku Yohan kami mempunyai perbedaan agama dan status, aku seorang

Seberkas Cahaya Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini ulang tahunku yang ke sebelas. Tak seperti ulang tahunku yang telah lalu, kali ini aku merasa senang sekali karena pagi ini dibangunkan Ibu. Sehabis mandi, lekas kupakai

Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “The Secret of Adriana (Part 1)”

  1. Yanto says:

    Maaf admin Cerpenmu. Mohon untuk cerpen of the monthnya lebih teliti lagi dalam memilihnya. Memang dalam media apapun penilaian suatu cerpen terkesan subjektif tergantung sudut pandang editornya. Tapi ini menentukan kualitas keseluruhan media tersebut.
    Saya melihat kesalahan tulis, diksi, cara penyampaian cerita dan Konsistensi kualitas cerpen dari hasil hasil karya sebelumnya sepertinya tidak menjadi lagi point penilaian yah?

    • moderator says:

      Terimakasih yanto atas masukannya ^_^ kami akui memang keputusan kami dalam penentuan Cerpen Of The Month memang tidak selalu bisa membuat puas semua pihak, kami akui sisi subjektifitas kami juga masih sangat tinggi, kami mohon maaf apabila cerpen pilihan kami di mata mas yanto kurang layak untuk dinobatkan sebagai Cerpen of The Month 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *