The Secret of Adriana (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah.
“Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.
“Ini..” ucap wanita itu, Rasydan mengambil amplop yang diserahkan wanita itu perlahan ia buka.
“Coba Mas lihat yang nomor 1, namaku Mas, Farah Adriana, lulus tes beasiswa kedokteran di UI!!” ucap Farah, Rasydan tersenyum.
“Kamu senang?” ucap Rasydan menggoda.
“Ih, ya senanglah Mas, aku seneng banget, banget pake banget, banget,” Rasydan tersenyum melihat kebahagiaan adiknya itu, di matanya Farahlah satu-satunya orang yang bisa membahagiakannya, tiba-tiba ia mengelus kepala Farah dengan lembut.

“Selamat ya Dek,” ucap Rasydan, Adriana tersenyum ia memegangi tangan lelaki itu.
“Mulai sekarang, Kakak harus membahagiakan dirimu, karena aku sudah bahagia,” Rasydan menjitak kepala adiknya itu. “Hhh, justru mulai hari ini aku akan terus membuatmu dan Ibu lebih tersenyum lagi Farah,”
“Kak, sepertinya kau harus segera menikah,” ucap Adriana.
“Haha, aku terlalu sibuk membahagiakan keluargaku, jadi mana sempat aku menikah,”
“Huuuuu..”
“Pak,” tiba-tiba ada yang memanggil Rasydan.

“Udah Kakak mau kerjakan proyek ini, doakan cepat selesai, biar bisa buat persiapan kamu kuliah,” Adriana mengangguk.
“Dan, untuk menikah juga ya Kak,”
“Huus, kamu masih kecil,”
“Ih, ya buat pernikahan Kakaklah,”
“Adriana…” ucapnya ditekan dan sebelum lelaki itu kembali menjitaknya.

Adriana segera melesat pergi, Rasydan memandang wanita itu yang berlari kecil itu dengan senyum yang mengembang ia baru sadar wanita cerdas yang dipungutnya lima belas tahun yang lalu itu kini menjelma menjadi seorang wanita dengan segala potensinya, “Tak ku sangka, kau sudah sebesar ini Adriana,” gumam Rasydan. Pekatnya malam menemani Rasydan dengan secangkir teh yang dibuatkan oleh ibunya, ia memang bukan penikmat kopi, seperti lelaki lainnya.

“Buk, Adriana mana?” ucap Rasydan.
“Dia tidur cape mungkin dari tadi menyiarkan kebahagiaannya kepada pak lurah, pak Joko satpam seberang hingga Bu Kasem depan,” ucap Bu Mus tersenyum.
“Gak, nyangka Adriana sudah sebesar ini.” ucap Rasydan, Bu Mus tersenyum memandang ke langit, bayangan pekarangan rumah sederhana itu pun terbias dengan sinar rembulan yang kebetulan begitu terang malam itu, setelah berdehem sebentar ia menyandarkan dirinya pada kursi.

“Ibu inget, pas dia minta ingin sekolah seperti kamu, sampe dia ngikutin kamu ke sekolah, kamu tahu le, saat itu ibu benar-benar gak ada uang, buat modal dan makan kita aja susah, kamu aja sekolah pakai beasiswa dan bantuan pakaian dari pak lurah, Ibu inget banget, akhirnya dengan terpaksa dia kamu ajak ke sekolah,” Rasydan terkekeh ringan sambil mencoba menyamankan kakinya yang begitu pegal sehabis mengkoordinator para buruh bangunan tadi siang, dengan sisa-sisa kekuatannya ia memijit ringan kakinya, matanya menerawang membayangkan hari-harinya yang begitu berwarna, belum lagi dia harus memperhatikan Adriana yang bermain sendirian di lapangan sekolahnya.
“Haha, akhirnya juga dia bosen kan Bu.” ucap Rasydan, mereka saling terdiam, memasuki pikiran masing-masing.

Adriana kembali berdiri sambil bersandar pada pohon mangga itu tangannya ia lipat, dilihatnya wanita itu penuh ragu, masih teringat kejadian kemarin siang yang begitu membuatnya seakan lemah, ia tak tahu, yang jelas merasa terdapat dua perasaan dalam dirinya, benci dan kebingungan, bagaimanapun kata-kata Bu Mus teringat jelas. “Farah, mungkin kamu begitu membencinya, namun ketahuilah semenjak dua tahun yang lalu ketika ia bertemu denganku, ia terlihat bahagia menemukanmu bersamaku, ia berterima kasih Nak, ia juga memintaku menjagamu ia ingin bekerja, Nak, ia ingin membahagiakanmu.” mata Adriana menerawang jauh teringat bagaimana Bu Mus menceritakan bagaimana wanita itu selalu menanyakan kabarnya, tak lupa ia memberikan sejumlah uang kepada Bu Mus.

“Titip ini buat Adriana,” namun seakan hati Adriana keras. “Dia tidak mencintaiku, Bu, dia membuangku, aku ingat kejadian itu, jika dia mau membahagiakanku seharusnya dia membawaku malam itu seharusnya..” Bu Mus menarik napas lalu terpejam sejenak.
“Dia pel*cur Farah.” ucap Bu Mus, sedetik kemudian Farah terdiam tubuhnya seakan tak bisa bergerak, tangannya yang tengah digenggam Bu Mus bergetar.
“Entahlah, Ibu rasa kau sudah cukup dewasa untuk tahu akan hal itu, aku juga tak memahami pikiran wanita itu, tapi Ibu cukup memahami bagaimana jadinya jika kau hidup dengannya, ia mengakui dirinya yang materialistis, glamor semuanya bak candu untuknya,” Farah terdiam, ia menatap nanar Bu Mus, air matanya seakan turun tanpa ia sadari.

Adriana menghela napas panjang sambil memandang wanita yang tengah melamun dari kejauhan, seketika sebuah perasaan yang menyelubungi hatinya, Adriana pun merogoh hp di dalam saku bajunya, “Dan, bisa kita bertemu sebentar?” Adriana beranjak berjalan meninggalkan wanita yang tengah menatapnya dari kejauhan dengan mata yang sayup. “Aku tak tahu pasti, yang jelas salah seorang teman wanita itu membawa dia ke sini, dengan kondisi seperti itu.” jelas Danu, Adriana terus mengamati hasil lab yang ditunjukkan kepadanya.

“Dia hanya depresi berat Adriana,” ucap Danu sambil melirik memperhatikan wanita itu.
“Wajar baginya mengalami hal itu kau tahu sendiri, bagaimana…” Belum sempat lelaki itu menyelesaikan ucapannya Adriana memandang tajam ke arah lelaki itu.
“Aku di sini bukan untuk membahas itu.” ucap Adriana sambil menahan amarah, ia pun membanting datar map di tangannya ke atas meja, lalu beranjak menuju ke arah pintu keluar, seketika Danu memegang tangan wanita itu. “Aku mengerti Adriana, aku tak bermaksud…” Adriana melepaskan genggaman lelaki itu dengan perlahan lalu memandang lelaki itu dengan senyum sinis dan pergi.

Angin sore terus melambai rambut wanita itu, wanita yang tengah terduduk sambil memandangi Adriana yang tengah berjalan menjauhinya, “Kau sudah sebesar itu Adriana,” gumam wanita itu matanya berkaca-kaca, ia ingin menangis namun seakan dirinya terlalu kotor untuk menangis, tiba-tiba memori itu datang kembali, mengingatkannya akan ide gilanya yang ia utarakan kepada Vega.

“Kau akan melakukan An? Hei.. Seberapa pun besar kesalahanmu dengannya kau tidak seharusnya seperti ini. Kau punya dunia An, kau…” sebelum Vega meneruskan kalimatnya.
“Aku hanya ingin membayar semua kesalahanku di masa lalu Veg, aku ingin ia, Ibu dan Kakaknya bahagia sebelum aku pergi,” sesekali ia meringis menikmati sedikit-demi sedikit virus putih yang mulai menjalar di tulang-tulang. Vega menatap sendu wajah teguh namun rapuh di mata sahabatnya itu.

“Tapi kau butuh berobat An…” Anita tersenyum.
“Aku sudah terlalu egois selama ini Veg..” Anita memperbaiki posisi duduknya, dengan gemetar ia mengambil obat yang kini ada di tangannya lalu meminumnya.
“Aku hanya ingin kau mengabulkan satu keinginanku itu.” ucap Anita, Vega pun menatap dengan beribu pertanyaan besar atas keputusan wanita itu.

Lelaki itu menatap layar laptopnya, matanya tertuju kepada laptop hitam itu, namun pikirannya melayang, bagimanapun rekayasa ini harus ia sembunyikan dari Adriana, ia tahu ini adalah suatu kebohongan namun empatinya memaksanya untuk mengiyakan kesepakatan itu, Danu memutar kursinya, ia sadar tak seharusnya ikut campur dalam permasalahan wanita itu, namun, “Arghhh!!” ia mengacak-acak rambutnya, mencoba mencari solusi yang diminta Anita, ia ingat bagaimana Anita memohon dengan sangat padanya. “Ku mohon pertemukan aku dengannya dok. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya.” ucap wanita itu mulutnya bergetar. “Aku tak bisa berjanji nyonya, tapi akan ku usahakan.” Ucap Danu sambil tersenyum.

Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, matanya terpejam ia coba mengambil obat penahan rasa sakit dalam laci kamarnya, namun seakan ia tak mampu bergerak, tubuhnya gemetar keringat dingin membanjiri kulitnya, ia mengerjapkan matanya menahan rasa sakit yang begitu menyayat tubuhnya, “Inikah waktuku?” dengan sekuat tenaga ia pun menggapai bel biru di dekat selang infusnya, ia tak lagi memikirkan obat yang tergeletak memandang dirinya dengan penuh empati, yang ia pikirkan adalah wanita itu, anaknya, ia ingin melihatnya walau hanya semenit, tidak bahkan sedetik tiba-tiba matanya buram.

“Nyonya, nyonya!” ucap lelaki yang tiba-tiba masuk.
“A, ad, dri, ana..” ucap Anita dengan terbata-bata menahan sakit yang menguasai dirinya, tiba-tiba pandangannya gelap, ia seakan tak bisa menggapai apa pun, seolah rasa sakitnya hilang, berlari meninggalkannya dalam kegelapan yang suram.

Adriana terpaku, matanya yang tertutup kacamata hitam masih memandang batu nisan itu, masih tersisa sebulir air mata di pelupuk matanya, Danu menepuk pundak wanita itu. “Maafkan, aku, aku menyembunyikan hal ini, yang harus kau ketahui, bahwa selama ini, ia tahu kau selalu memandanginya, ia memintaku untuk berpura-pura memasukkan ke dalam daftar pasienku, ia ingin bertemu denganmu di akhir hidupnya,” Adriana terdiam, matanya kosong, hatinya hampa.

“Penyakit itu telah menggerogoti hidupnya beberapa tahun belakangan ini, dan,” Danu menghela napas sedalam mungkin lalu melirik wanita yang tengah termangu di sampingnya. “Selama ini ia tak pernah menikmati hasil jerih payahnya, ia menabungnya untuk,” sebelum ia meneruskan ucapannya, Adriana berbalik lalu berjalan pergi, Danu memegang tangan wanita itu. Adriana memandang lelaki itu dengan senyum di bibirnya. “Aku mengerti Danu, terima kasih untuk semuanya.” Danu memandang wanita yang kini berjalan mendahuluinya, sekali lagi ia menghela napas mencoba meresapi bau kamboja yang mulai berjatuhan secara perlahan.

“Dear Adriana. Apa kabarmu sayang? Ahh, mungkin tak pantas bagiku memanggilmu sayang, aku bukanlah seseorang wanita yang baik, aku meninggalkanmu dalam sebuah kesempitan hidup, aku tahu hal itu Adriana, aku menyadari diriku yang begitu egois, dan sekarang ketika aku terjatuh, tiba-tiba menemuimu, aku sadar wajar bila, kau akan pergi menghindariku. Ada rasa sakit memang, seolah rasa sakit yang ku derita begitu ringan dibanding pandanganku padaku waktu itu, namun Adriana tahukah kau? Semenjak hari ketika aku membuangmu, aku merasakan kehilangan yang luar biasa dalam hati ini, namun karena keegoisanku aku harus pergi.”

“Aku harus pergi meninggalkanmu, mengapa? Karena hidupku keras Adriana, aku harus melewati persembunyian, demi persembunyian agar aku tidak ditangkap polisi karena menipu Ayahmu, padahal sungguh, aku hanya mengambil harta yang telah menjadi kesepakatan antara kita berdua, tidak lebih. Tadinya aku berniat mambawamu, namun mungkin karena pikiranku yang egois aku meninggalkanmu, namun ketahuilah setelah aku tersadar aku mencarimu. Namun ternyata aku tak menemukanmu, hingga bertahun-tahun lamanya aku terus menyisihkan sebagian besar penghasilanku berharap aku bisa bertemu denganmu.”

“Aku berharap bisa menyayangimu, aku berharap bisa memberikan kebahagiaan yang pernah ku renggut darimu, hingga akhirnya aku menemukanmu dalam sosok remajamu. Aku selalu memandangimu dari kejauhan tak berani aku mendekatimu, hingga akhirnya aku bertemu dengan Bu Mus. Aku terus menanyakan kabarmu, mungkin kau juga tak peduli, toh sekarang kau punya Bu Mus kan? Hingga akhirnya penyakit mengerikan ini mendatangiku. Keinginanku untuk bertemu denganmu semakin kuat, namun aku takut, sungguh aku terlalu takut menemuimu, dan kau mendapati diriku dalam keadaan hina seperti ini, yang ada aku akan membuatmu malu bukan?”

“Akhirnya satu-satunya jalan ku tempuh menyamar sebagai pasien rumah sakit jiwa, agar akau dapat melihatmu di akhir penantianku. Ya aku tahu hidupku mungkin tidak lama lagi, hingga aku menulis surat ini, aku tak tahu apakah sore esok aku masih bisa melihatmu memandangku di balik pohon mangga lagi? Namun sungguh, aku ingin sekali bertemu denganmu dengan tatapan hangat sebelum tiba waktuku.”

Adriana masih termangu, air matanya yang tak lagi terbendung begitu hangat mengalir deras, ia pun mengusap air matanya lalu terdiam menatap hampa layar laptopnya. Malam semakin larut angin semakin tersendu mengalun perlahan. Tiba-tiba hp-nya berdering, seketika ia melihat deretan pesan yang dikirim Danu padanya.
“Aku sudah menyalurkan bantuan atas nama nyona Anita ke beberapa yayasan yatim piatu.” ia menghela napas sambil memejamkan matanya, ia berharap ada celah di mana ibunya dapat melihat kasih sayangnya yang hilang kini kembali datang.

The End

Cerpen Karangan: Hayyatul Hikam
Facebook: Hayyatul Hikam

Cerpen The Secret of Adriana (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingat Alas Lupa Kaki

Oleh:
“Koran. koran..” Suara Jale yang tiap hari lantang terdengar di sepanjang jalan perempatan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Tentu saja bukan karena keinginannya Jale seperti itu, namun apa

Ke Mana?

Oleh:
Aku selalu bermimpi punya seorang teman. Yang jelek juga gak apa apa, dekil juga gak masalah, bahkan yang bodoh pun bakal gua terima. Tapi dari banyaknya spesies manusia, gak

Me and My First Love in Cold Day

Oleh:
Hari ini aku agak tidak enak badan. Aku tetap bersekolah. Ayah dan Ibu pergi ke luar kota untuk menjalankan bisnisnya. Sesampainya di kelas aku langsung duduk di bangku yang

Cerpen Yang Tak Berguna

Oleh:
Setiap hari aku selalu membuat cerpen, sudah beribu-ribu cerpen yang kubuat tetapi ada saja kakakku yang tidak suka dengan semua cerpenku, namanya Zanet dia itu selalu memarahi aku karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *