The Stranger (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

“Hai.” begitulah sms pertamaku kepadanya.
“Hai juga, ini siapa?” balasnya.
“Ini Alen, anak kelas 7-D temennya si Dodo.” balasku.
“oh, dapet nomor dari siapa?” tanyanya.
“dari si Pipit.”jawabku singkat.

Sejak dari situ kami pun smsan setiap saat yang membuat aku nyengir-nyengir sendiri sampai tidak sadar kalu gigiku kering. Oiya, aku tinggal di Srimenanti hanya dengan Mamaku, sedangkan Papaku di Tangerang mencari nafkah untukku, Adikku, dan Mamaku. Tak butuh waktu lama, aku pun jadian dengannya tapi hubungan kami tak bertahan lama. Dikarenakan ada “Musuh Dalam Selimut.” alias “Cepu..” Ah sudahlah, jangan bahas lagi. Saat yang ditunggu-tunggu pun datang, “LIBURAN..” Liburan saat ini aku memutuskan untuk ke Encle, Tangerang. Tempat di mana aku bersekolah di Madrasah waktu itu. Tak terasa sudah bertahun-tahun lamanya aku tak ke sana.

Ku lihat sangat banyak yang berubah mulai dari gang-gangnya sampai ke penduduknya. Dan aku sudah tak ingat lagi wajah-wajah temanku dulu. Aku hanya ingat si Ipan yang dulu bersungut saat aku menendang bola sampai melambung ke pabrik. Aku hanya seminggu menginap di tempat pamanku yang berada di sana. Dan sisanya aku habiskan bersama Papaku tersayang. Walaupun hanya di Mess aku sudah sangat senang apabila di dekat Papaku. Dan kemudian aku diajak sepupuku ke rumahnya dan ternyata ada kabar tak mengenakkan dari Lampung. Entah aku tidak mengerti bagaimana bisa tetapi yang ku tahu Mama dan Papaku bercerai.

Sungguh aku belum mengerti apa itu perceraian, yang ku tahu hanya mereka akan berpisah, aku sangat terpukul mengetahui kabar tersebut, ku pandangi Papaku, aku tak pernah melihat Papaku semurung itu. Entah bagaimana kabar Adikku di sana bersama Mama. Hatiku bercampur aduk antara bingung, marah, sedih. Semua sanak saudaraku di tangerang berkumpul di tempat sepupuku saat itu. Dan sepertinya semua orang di situ sedang memperhatikanku yang kelihatan bingung. Dan akhirnya Papaku memutuskan untuk pulang ke Lampung bersamaku. Sepanjang perjalanan aku berpikir, “Apakah aku akan berpisah dengan Adikku, Papaku atau Mamaku?” hatiku bercampur aduk. Dan tak ku sadari air mataku menetes, ku bayangkan Adikku yang sekecil itu harus berpisah dengan salah satu orangtuanya, harus menjadi anak Broken Home.

Sesampainya di Lampung, kami menginap di tempat Bibiku yang berada di desa Pulau Panggung, Lampung Utara. Aku hanya terduduk lesu di kursi yang agak kusam sambil melihat para sanak keluargaku berunding dengan Papaku, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Seumur hidupku aku tak pernah sebingung ini. Ingin bertanya tapi aku tak mau memperburuk keadaan nantinya.

Dan seminggu kemudian Papaku pergi ke Kalianda, Tanah Kelahiranku. Untuk menjemput Adikku, entah bagaimana ceritanya Mamaku dan Adikku bisa sampai sana. Aku berdiam diri di ruang tamu masih kebingungan, dan sepupuku yang seumuran dengan Papaku pun menghampiriku, “Alen tinggal di rumah Kakak aja ya?” pintanya. Aku hanya mengiyakan permintaannya tanpa menanyakan maksudnya.

3 hari kemudian, Papaku kembali lagi ke Pulau Panggung bersama Adikku.
“Alen, Papa sama Mama kan pisah, kamu mau gak pindah sekolah di sini aja?” Tanya Papaku.
“nggak ah Pa.” itu kali pertamaku menolak permintaan Papa.
“aku udah punya banyak temen di sana Pa.” sambungku.
“justru itu, di sana di daerah yang agak jauh dari jalan raya aja kamu dapet banyak temen kan? Apalagi di sini yang deket sama jalan raya.” terang Papaku. Di sini memang banyak pemukiman yang mengikuti sepanjang jalan raya.
“ya udah Pa, tapi di mana?” tanyaku.
“nanti Kak Ma’el, yang nentuinnya.” jawab Papaku.
Seling beberapa hari kemudian, aku datang ke sekolah lamaku untuk mengurus surat pindah dan yang lainnya. Ku lihat teman-temanku memandangiku dengan heran.

“kamu pindah len?” Tanya Raka teman sebangkuku.
“iya ka.” jawabku.
“jangan lupain kami ya len.” ujarnya sambil memegang pundakku.
“gak usah lebay.” kataku sambil tertawa dan melepaskan tangannya dari pundakku.
“gak bakal lah ka.” sambungku sambil nangis ngeraung-raung (nggak lah).
“ya udah saya cabut duluan ya.” kataku lagi.
“oke, hati-hati ya len, jaga diri, kalau jatoh bangun lagi ya.” kata Raka. Itulah kata-kata yang ku ingat, simple tapi maknanya sangat tinggi.

Lalu aku pun langsung berangkat lagi ke Sekolah baruku yang berletak di Kecamatan Abung Tinggi, Lampung Utara. Nama sekolahku adalah SMPN 1 Abung Tinggi, tidak terlalu terkenal dan banyak anak ugal-ugalan di sini. Setelah mengurusi tektek-bengek surat pindah dan segala macam syaratnya. Kami pun berpulang lagi ke Pulau Panggung, ke tempat Kak Ma’el. Ku lihat Papaku masih murung di sana. Dan aku kemudian mengasuh Adikku mengajaknya bermain.

“Mama mana bang?” ujar adikku sambil menatapku. Aku bingung harus menjawab apa, hatiku terasa disayat-sayat mendengar Adikku bertanya seperti itu.
“Mama lagi kerja dek, makanya adek jangan nakal ya.” jawabku perlahan sambil membendung air mata.
“Mama manaaa?” Tanya adikku lagi sambil menangis. Aku tak kuasa mendengarnya menangis sambil menanyakan hal itu kepadaku. Aku bingung harus menjawab apa? Sedangkan aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi.

Seminggu kemudian, Papaku pun harus melanjutkan pekerjaannya di Tangerang. Lalu ia berpamitan kepada sanak saudaranya dan kepadaku dan Adikku.
“Papa kerja dulu ya, Nak? Kamu jangan nakal di sini, jagain adek ya, sayang?” pamit Papaku. Aku hanya terdiam sambil menganggukkan kepalaku saja. Dia lalu mencium pipiku dan Adikku.
“El, saya titip Alen sama Naila ya?” kata Papaku sambil memberi uang kepada Kak Ma’el.
“Iya ma (“Mama.” adalah seperti panggilan keponakan kepada Paman/Bibi di keluargaku).” katanya sambil mengambil uang yang diberikan.
Aku pun berlalu ke kamarku, aku tinggal sekamar dengan anaknya sepupuku, Reza. Kami hanya berbeda 1 tahun, aku yang lebih tua. Kami tidak banyak mengobrol, aku menjadi sosok yang pemurung sejak saat itu.

“Teeeeetttt.” suara bel sekolah berbunyi. Aku berjalan dengan lunglai menuju ke kelasku, 81. “bruk!” ku jatuhkan tasku ke atas meja.
“Anak baru ya?” Tanya siswa yang duduk di sampingku. Tak ku jawab pertanyaannya, hanya ku anggukkan kepala saja.
“dari mana?” tanyanya lagi. Dan lalu ku tunjuk jariku ke atas dan berkata, “Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberaniiii (lagu Dragon Ball).”

Dan orang tadi hanya nyengir kuda mendengar jawabanku. Sedangkan orang yang duduk di depan tertawa cekikikan seperti kambing keselek kaktus. Tak banyak yang spesial di hari itu, ku panjat pohon yang berada di depan kelasku, ku lihat wajah sekolah baruku ini dari atas. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang gadis yang menuju ke kelasnya (ku rasa). Seperti biasanya, aku bertindak layaknya detektif yang sedang menangani kasus pencurian jemurann (eh?). Setelah ku selidiki ternyata namanya adalah “Kartika Ramadona..” Seorang gadis tingginya sebatas telingaku, rambut terurai sampai pertengahan punggungnya (saat itu), parasnya yang menawan membuatku tak hentinya berpikir “bidadari dari mana kau?”

Walaupun sangat kecil kemungkinanku mendapatkan hatinya, tapi itulah aku, tak pernah menyerah sebelum peperangan. Setelah ku selidiki lagi ternyata dia adalah pacar anak Pak RT di desaku (nah lo). Dan ku dengar-dengar ternyata dia sudah sekian tahun berpacaran dengan anak Pak RT tadi. “Aldi Nugraha R.” saingan pertamaku dalam hal asmara satu ini mempunyai perangai Formal, rapi, dan dia juga jago dalam hal yang berhubungan dengan musik. Pernah terlintas dalam pikiranku untuk mengikuti seleranya, tapi itu bukan gayaku. Maka dari itu, aku memutuskan mencari waktu yang pas, tidak saat ini.

Ku jalani sehari, 2 hari, 3 hari, sebulan, 2 bulan, 1 semester. Seiring berjalannya hari demi hari, bulan demi bulan, penampilanku semakin urak-urakan dan pergaulanku sudah bisa dibilang “kelewatan..” aku masih tak bisa menerima keadaanku saat itu. Sampai-sampai beberapa kali Guruku mengajukan Surat Panggilan kepada wali muridku. Dan sejak saat itu, keluarga yang mengurusku dan Adikku mulai terlihat “Wujud Aslinya..” Sudah tak bisa lagi ku ceritakan dalam cerita ini, mulai dari “Pilih Kasih.” sampai “Child Abuse.” telah ku lewati dengan pasrah. Mau bagaimana lagi? Inilah hidup, tak selamanya kita harus berada di atas seperti masa-masaku sebelumnya. Dan semua ini ku terima sebagai “Senjataku.” di masa mendatang nanti.

“Len, kamu masuk lokal berapa?” Tanya Arsi, teman sekampungku.
“Saya di 93 si, kamu?” tanyaku balik.
“di 91, kamu peringkat berapa di kelas kemaren?” tanya Arsi.
“21 si, kamu?” tanyaku lagi.
“Pfftt.” Arsi menahan tawanya sambil berlalu dan pergi menjauh.
Aku masih duduk sendirian di depan ruang guru, mengantre untuk diberikan peringatan karena aku saat itu hanya naik kelas untuk percobaan.

“Alana Alen Okta.” panggil guruku.
“Saya Bu.” kataku sambil mengangkat meja (eh?) tangan maksudnya hehehe.
“Sini dulu kamu!” panggilnya, panggilannya itu melebihi panggilan malaikat izrail di telingaku saat itu. Aku pun berjalan lunglai menuju ke arah Ibu wali kelasku tadi.
“3 bulan pertama di kelas 9 ini, kamu Ibu awasi, kalau tingkah kamu masih tetap seperti kelas 8 kemaren, Ibu gak segan-segan mengajukan surat keluar.” Ancam Ibu Siti, wali kelasku.
“Duaarrr!!!” bagai disambar petir aku mendengar ancaman Ibu Siti. Masih dengan tatapan kosong aku menunduk. Tak ku hiraukan Ibu Siti yang mengoceh di depanku. “haruskah aku pindah sekolah lagi?” hatiku penuh dengan kekelaman.

Aku lelah dengan semua omong kosong ini, aku merasa menjadi anak paling sial di dunia ini. Sampai-sampai aku merasa menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. Namun, apa boleh buat “Nasi Sudah Menjadi Bubur.” kita hanya tinggal menambahkan kaldu, kecap, kacang goreng, irisan ayam goreng, dan taburi daun bawang, maka semuanya menjadi lebih enak. Aku harus bisa memperlurus keadaanku ini, demi Adikku, Papaku, dan Masa Depanku.

“Teeettt!!! Teeettt!!” suara bel sekolah terdengar seperti terompet sangkakala di telingaku. Masih dengan wajah lesu, aku berjalan ke dalam kelasku dan tiba-tiba langkahku terhenti, aku masih tak percaya atas apa yang aku lihat saat itu. Kartika sekelas denganku? dan ditambah lagi aku tak ada pilihan lain duduk tepat di depan mejanya karena aku sudah berjanji dengan Ahmad, teman sekampungku kalau kita akan duduk bersebelahan.

“Len oy, sini oy!” panggil Ahmad dengan tampang cengengesan melihatku seperti itu. Aku pun berjalan menuju mejanya.
“Kenapa harus di depan, Mad?” tanyaku penuh heran sambil menunjukkan wajah melas.
“sekali-kali oy kita jadi anak teladan, hehehe.” katanya cengengesan sambil petantang-petenteng.
“ya udah.” kataku lesu. Padahal dalam hati aku bahagia sekali bisa sangat dekat dengan bidadariku. (hehe)

Entah mengapa semenjak memasuki kelas 9 ini aku merasa agak semangat menjalaninya, apakah karena ada dia? Entah aku tak peduli, yang terpenting aku bisa memperbaiki keaadaanku. Seperti biasanya, pada pelajaran Bahasa Inggris aku yang menguasai kelas dan membungkam para juara kelas yang berada di situ (ada sekitar 4 orang). Dan aku tak pernah bersombong ria, tetap ku bagikan jawabanku saat ada PR. Tak seperti orang jago lainnya, biasanya mereka di saat-saat seperti itu agak menurun tingkat pendengarannya. Dan hanya bisa mendengar saat dipanggil guru.

“oy, Kartika udah putus ya sama Aldi?” tanya seorang siswi yang tak jauh dari kelasku. Segera aku dengan sigapnya bersembunyi di balik dinding dan menguping pembicaraan siswi tadi.
“iya gosipnya kayak gitu, sayang banget ya udah sekian tahun pacaran malah putus.” jawab siswi lain yang sedang berkumpul juga di situ.

Rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin, tapi ku tahan aku tidak mau teriakamku terdengar sampai ke medan peperangan di Gaza. Aku masih tidak yakin dengan gosip itu, lalu pada malam harinya ku selidiki di mana tempat biasa Aldi nongkrong bersama teman-temannya. Tak sengaja di depan warung ku lihat ada beberapa anak-anak yang berkumpul di situ, ku dekati dan ku pertajam penglihatanku di malam yang gelap saat itu. “Kena kau!” batinku sambil nyengir setan melihat Aldi yang sedang memetik gitar. Ku tegapkan langkahku, aku tak mau terlihat lemah oleh mereka.

“coy!” panggilku. Aldi sepertinya tak mendengar suaraku.
“Coy!!” panggilku lagi. Aldi malah celingak-celinguk.
“Saya?” tanyanya sambil menunjuk dadanya.
“iya, apa kabar Al?” tanyaku. Bodohnya aku menanyakan hal itu.
“B..Baik, ada apa?” Tanyanya heran sekaligus curiga dengan tingkahku.
“denger-denger kamu putus ya sama pacar kamu?” tanyaku langsung ke intinya.
“iya, kenapa?” ujarnya. Nah loh!
“nggak, heran aja sampe gosipnya merembet ke kelas.” timbalku sambil memalingkan wajah.

Tak digubrisnya jawabanku, Dia hanya melanjutkan lagunya yang terpotong oleh percakapan konyol tadi. Segera ku tinggalkan mereka, sepanjang perjalanan ke rumah aku menyusun strategi untuk mendapatkan perhatian dari Kartika, tapi bagaimana? Hanya 1 jalan yang bisa ku tempuh “TINGKATKAN PRESTASI!!” bagaikan ada angin kegelapan menyelubungi pikiranku. “mana mungkin aku bisa begitu?” batinku. Semenjak dari situ, aku mulai giat membaca buku, menjawab soal-soal di situ walaupun belum ku pelajari di sekolah namun ku cari jawabannya di buku tersebut. Alhasil, aku selalu mendapat nilai bagus, dan tak mengecewakan.

Tibalah hari kenaikan kelas, ku lihat para siswa dan siswi berjejer duduk di depan kelas dan sepertinya ada yang salah dengan salah satu juara kelas kemarin, ku lihat wajahnya pucat melihatku. Tak ku pedulikan langsung saja aku berangkat ke tempat tongkronganku di luar pagar. Ku panjat dinding yang membatasi sekolahku dengan pemukiman warga, mungkin sudah ribuan kali aku memanjat keluar-masuk lingkungan sekolah lewat dinding itu. Ku lihat teman-teman tongkronganku yang ugal-ugalan, mereka melihatku sambil cengengesen. “cieee…” salah satu dari mereka memulai pembicaraan dan anak-anak yang lain tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundakku.

“Apaan sih?” kataku sambil tersenyum heran.
“kamu belum tahu len?” tanya Ahmad yang ternyata berada di situ juga.
“tahu apaan?” tanyaku balik.
“entar kamu tahu lah.” kata anak-anak yang lain sambil bersahutan menepuk keningku.

Saking kerasnya mereka tertawa bercanda ria, ternyata mereka telah memancing perhatian Pak Karim, Satpam sekolahku yang sering kali mengejar kami yang selalu “lompat pagar..” Kocar-kacir para teman-temanku tadi, ada yang lari nyungsruk ke rumpun bambu, ada yang bersembunyi dalam sumur, ada yang berlompatan memanjat dinding, ada yang tiarap bagaikan tentara. Dan aku hanya bersembunyi sebentar di balik rumpun bambu dan membuka bajuku.

Lalu aku ikatkan menutupi celana sekolahku lalu berlari ke arah aliran air yang tak jauh dari situ dan berjongkok di pinggirnya sambil menutupi separuh badanku, dan bertingkah seperti warga yang sedang BAB di situ sambil mengawasi Pak Karim yang sedang menangkap beberapa temanku. Aku tertawa cekikikan melihat dari kejauhan. Setelah situasi ku anggap aman, ku bukalah penyamaranku tadi, dan memanjat dinding untuk masuk ke sekolah lagi. Ku pandangi temanku yang berada di kantor, sedang dihakimi oleh Kepala Sekolah, aku segera menjauh dari situ agar tak diadukan oleh mereka.

“Sekarang adalah pengumuman Juara kelas 93!!!” suara dari Toa memecah lamunanku. Segera aku mendekati sumber suara.
“Juara 3, dimenangkan oleh.. Dhea Pramesty (seingatku).” Ujar Ibu Siti dengan semangatnya. Aku melangkah jauh, tak yakin kalau namaku akan disebut.
“Juara 2, dimenangkan oleh.. Marjuli.” Langkahku terhenti sejenak aku mulai heran mengapa juara bertahan bisa tergeser kedudukannya, tapi aku masih cengengesan melihat si Marjuli berjalan. Dia bisa dibilang “Lelaki Tomboy.” gayanya layaknya sang permaisuri (cucok cyiiinn). Ku lanjutkan langkahku menjauh dari keramaian, dan ku dengar yang mengumumkan juara tadi bukan lagi Ibu Siti, Melainkan Pak Tris, Guru Bahasa Inggrisku. Aku tetap melangkah jauh dari situ.

“Dan inilah wajah baru dari juara 1 semester ini, Alena Alen Okta!!” Seperti yang terjadi 8 tahun lalu. Sekejap langkah dan napasku terhenti, badanku mematung dengan kaki kanan seperti ingin melangkah, aku masih tak percaya atas apa yang ku dengar. Namun aku tidak lagi berlari seperti waktu kenaikan kelas 2 SD dulu, ku putar arah langkahku menuju ke sumber suara lagi. Ku dengar sorak-sorai para teman tongkronganku yang ada di kerumunan siswa lainnya maupun yang sedang dihakimi di kantor tadi (Pfftt).

Tak pernah aku merasakan sebangga ini sebelumnya, aku masuk ke barisan para juara kelas. Aku masih nyengir kuda melihat teman-temanku berlompat kegirangan bagai kera diberi makan.
Lalu Ibu Siti memberikan hadiah bertuliskan “Juara 1..” aku curiga kalau isinya bom, ah segera ku buang jauh-jauh pikiran konyolku tadi. Lalu, Ibu Siti menjabat tanganku.
“coba kamu dari dulu gini, len.” ujar Ibu Siti. Aku hanya nyengir tidak karuan, lalu aku teringat sesuatu, mataku mencari-cari ke kerumunan siswa dan siswi.

“Bingo!” ku lihat sesosok Bidadari tersenyum melihatku. Aku masih saja nyengir sampai-sampai tak sadar kalau gigiku ada selembar kulit cabe (eh?).
Hari itu sangat spesial bagiku, yah seperti yang ku bilang sebelumnya Inilah Hidup, “BERPUTAR..”

Cerpen Karangan: Mr. X
Facebook: Adam McLawless

Cerpen The Stranger (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan di Sore Hari

Oleh:
Jadi sore itu hujan, aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16.31 sudah lewat 1 menit dari waktu masuk lesku. Hujan nampaknya belum ingin berhenti. Aku akhirnya memutuskan

Liburan di Rumah Sakit

Oleh:
Hari ini kebahagianku bertambah. Mama menawariku wisata ke pantai Bali karena aku mendapatkan peringkat pertama di sekolahan. “Asyik, besok aku ke Bali jadi besok aku bisa bercerita ke teman-teman

Keluarga Nina Alexy

Oleh:
Nina begitulah aku dipanggil, sejak kecil aku diasuh oleh kakek dan nenekku, mereka sangat mencintaiku begitu pun aku sangat mencintai mereka. Sudah lama sekali aku tak bertemu ibuku, kakek

Sebab Akibat

Oleh:
“Busyet dah! Udah jam setengah delapan?!” Teriakku ketika melihat jam dinding yang tepat berada di depan pandanganku ketika baru saja bangun. Reaksi ini pasti akan ku lakukan mengingat waktu

Cinta Mengenal Rasa Bukan Usia

Oleh:
Hari ini hari pertama MOS, tapi gue ke sekolah bukan sebagai peserta melainkan sebagai kakak OSIS yang memang sebagai panitia acara MOS tahun ini. Kenalin nama gue Anatasya, kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *