Tiga Cinta Satu Muara (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 November 2015

Hujan mengguyur Semarang sore itu. Dua bidadari kecil asyik bercengkerama bersama sang Bunda di teras rumah. Dingin memang, tapi canda tawa menghangatkan suasana. Satu per satu perbincangan mengalir. Tentang cita-cita, sekolah, liburan, tayangan televisi, sampai tentang keluarga kecil yang kini mulai terpecah belah.

Seorang wanita tiga puluh tujuh tahun bernama Dyah, terkungkung status dan kenyataan yang tak sejalan. Paras cantik, tinggi semampai, kulit kuning langsat, karir mantap sebagai seorang dosen, dan sekarang sedang manjalani pendidikan S3 di Universitas Diponegoro. Siapa mengira kisah cintanya begitu menyakitkan. Tiga belas tahun menikah dengan pria idola kampus, jenius, tapi dicampakkan. Hati wanita mana yang tak sakit? Menghidupi dua putri cantik seorang diri, ditinggal suami tanpa dinafkahi.

“Bunda, kapan Ayah pulang?” pertanyaan yang seringkali diucapkan si sulung Nabila. Seribu jawab pun Dyah lontarkan. Berkilah ini itu, tetap menjaga jalinan kasih di batin anak dan Ayah walaupun dirinya tak tahu pasti kapan suaminya kembali.
“Sabar, Ayah pasti pulang. Makanya, Nabil sama Nissa harus rajin berdoa agar Ayah sehat, dilindungi Allah, dimana pun Ayah berada. Ya, nak?” dengan senyum getir, Dyah berusaha kuat demi kedua buah hatinya.

Ia mengerti, apa yang terjadi tak luput dari kesalahannya di masa lalu, memilih tetap tinggal di Kota Semarang bersama Ibundanya dan adik-adiknya sedangkan sang suami bekerja di Jakarta. Tentu saja, saat itu ia berada pada kebimbangan. Di satu sisi, ia tak mau menjadi anak durhaka, tidak menuruti permintaan Ibundanya yang tengah dirundung duka karena kepergian sang Ayah ke alam baka. Di sisi lain, ia pun seorang istri yang baru membina rumah tangga, dan seharusnya ia pun berbakti kepada sang suami. Suami jarang pulang, nafkah pun kurang. Ingin menyalahkan, tapi diri tak luput dari kesalahan. Ah… Dyah hanya mampu berpasrah kepada Yang Maha Kuasa.

“Sabar, sabar terus… memangnya Ayah gak kangen kita ya Bun?” Nabil memanyunkan bibirnya sembari menggulung ujung jilbabnya.
“Ayah pasti kangen, nak. Tapi Ayah sibuk. Nanti juga pulang… atau nanti kalau Nabil dan Nissa sudah libur sekolah, kita yang kunjungi Ayah ya?”
“Asyiiik!!” seru Nabil dan Nissa sambil tersenyum cerah.
Kemana? Jika Ayah tak pulang, kemana aku harus mencari? Di Jakarta… alamatnya pun aku tak tahu.

Adalah hal yang manusiawi bagi seorang perempuan yang bukan lagi gadis perawan, membutuhkan kasih sayang dalam sentuhan. Sang suami, hanya pulang ketika Idul Fitri tiba. Itu pun hanya beberapa hari saja. Tak ada quality time yang sempurna untuk keluarga kecil ini.

Rabu menjelang, aktivitas berjalan seperti biasa. Nabil dan Nissa bersekolah, sementara Dyah pergi ke kampus untuk memberi kuliah setelah mengurus Ibundanya di rumah. Enam SKS harus rampung hari ini. Hanya bersama teman Dyah bisa menumpahkan keluh kesahnya. Sebagai teman baik, Fachry, yang juga seorang dosen dan menjalani pendidikan S3 teknik kimia bersama Dyah di UNDIP, rela mengorbankan waktunya untuk sekedar memberi bahu sandaran.

“Gimana? Apa kamu masih mau diperlakukan seperti ini sama suamimu?” tanya Fachry siang itu, memecah keheningan setelah setengah jam ia duduk bersama Dyah di dalam mobilnya, di parkiran kampus. Dyah masih terisak. Sesak. Itu yang ia rasakan saat ini. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi suaminya baik melalui telepone, SMS, bahkan e-mail. Hasilnya? Nihil. Ia berharap sang suami memberi respon positif untuk pulang mengunjunginya dan anak-anaknya. Tetapi, selalu balasan dingin yang ia terima. Entah ia mengatakan sibuk atau apa.
“Aku gak tahu Fachry… Aku bingung. Anak-anakku masih butuh dia,” Dyah menyeka air matanya.
Kasihan Dyah… seharusnya, bukan seperti ini pernikahan yang ia jalani. Baj*ngan tengik lelaki yang menyia-nyiakannya!

Fachry merangkul Dyah, membiarkannya membenamkan wajah di dada bidangnya. Hangat sekali simpati ini bagi Dyah. Fachry sadar, ia menyayangi Dyah apa adanya. Wanita ini, begitu terluka dan hanya kasih sayang yang dapat membasuh lukanya. Dikecupnya ubun-ubun Dyah, walaupun jilbab menutupi tiap helai rambutnya yang hitam berkilau.
“Berhentilah Dyah… Kamu terlalu lelah memikul beban ini seorang diri,” ujar Fachry.
“Fachry… Apa semua lelaki itu sama? Mudah jatuh cinta, mudah juga melupakan?” Dyah kini menatap mata Fachry dengan lekat.
“Tidak. Mungkin tidak semua demikian…” jawab Fachry lembut.

Tanpa sadar, dua pasang mata menelikung rasa. Tak ada lagi status, tak ada lagi batas, tak ada lagi malu, tak ada… selain kecupan-kecupan lembut saling berbalas di bibir, kening, pipi. Fachry tak kuasa mengecup jejak-jejak air mata yang membasahi wajah Dyah. Wanita ini terlalu cantik, terlalu letih, dan disayangkan jika disia-siakan.
“… Dyah…”
“…”
“Maafkan Aku,” Fachry menjauhkan dirinya dan memalingkan wajah. Ia khawatir terlalu jauh. Apa jadinya jika ia sama dengan baj*ngan tengik yang mencampakkan Dyah? Bagaimana istri dan anak-anaknya di rumah?

Dyah menunduk. Ia tahu, ia pun salah. Tapi, kelembutan Fachry adalah kelembutan yang hangat. Ia tak pernah nyaman berbagi dengan teman lain sejauh berbagi dengan Fachry.
“Maaf Fachry. Aku hanya wanita biasa. Aku tak bisa menahan diri,” Dyah bergegas membuka pintu mobil.
…Ah, sial! Bodoh jika membiarkan Dyah berlalu!

Fachry bergelut dengan batinnya sendiri. Jujur saja, Dyah lebih cantik dari istrinya di rumah. Belum lagi, Dyah wanita yang cerdas, bukan Ibu Rumah Tangga biasa. Fachry menarik lengan Dyah, membalikkan tubuhnya, dan menciumi bibir tipis Dyah berkali-kali. Tak ada penolakan, selain pagut balasan. Tak peduli cinta, noda, status, keluarga, ikatan, komitmen, agama, dosa hanya dua insan yang menikmati hasrat ragawi, manusiawi, yang tak luput dari kobaran nafsu berbalut asmara merdu.
Tapi… Benarkah? Asmara?

Jumat pagi di Jakarta Kota, Alan merenungi segala memori yang terlintas dalam benaknya. Di benaknya, muncul wajah Dyah, Nabil dan Nissa yang lama tak bersua dengannya. Sedang di pelukannya, tertidur lelap istri keduanya, Ambar. Andai kini yang dipeluknya adalah si cantik Dyah, betapa rindu dirinya mengecup lesung pipit cinta pertamanya. Tapi, entah seberapa murni rasa rindu yang datang melanda. Sayang seribu sayang, Ambar memang bukan wanita berpendidikan tinggi, saleha dan sangat cantik seperti Dyah. Tetapi, kini wanita kedua yang hadir dalam hidup Alan, adalah wanita yang tunduk pada suaminya. Ambar dan Dyah memang tak sebanding dalam hal status, pendidikan, ekonomi, karir, fisik… bukan semua kategori itu yang menjadi idaman Alan.

Sepuluh tahun yang lalu, saat Alan merantau ke Jakarta berbekal ijazah magister manajemennya, Alan mencoba berpikir logis. Dirinya hanya laki-laki biasa yang butuh pendamping di setiap suka dukanya. Sedangkan sang istri, bersikeras untuk tetap tinggal dan membiarkan suaminya berjuang seorang diri, mencari pekerjaan baru yang layak setelah dirinya di PHK dari salah satu perusahaan swasta di Semarang. Dulu, Dyah hanya mau menunggu sampai suaminya pulang. Ia tak mau tahu bagaimana suaminya mengurus pakaian, menyiapkan makan, memasak air hangat untuk mandi. Sejak Alan sudah bekerja di salah satu multinational company dengan gaji dua puluh empat juta rupiah per bulan, Dyah semakin sering menghubungi Alan walaupun setiap menghubungi Alan, hanya dua pertanyaan yang Dyah lontarkan, “Kapan Ayah pulang ke Semarang? Ayah sudah transfer uang belum?” itu saja.

Alan merasa menjadi laki-laki tanpa harga diri setiap Dyah mengeluh karena uang separuh gajinya per bulan yang ia kirimkan dianggap terlalu kecil dan selalu Dyah kembalikan. Tak sebanding dengan pendapatannya sebagai dosen dan wirausahawati dalam kosmetik. Alan mulai berubah, tak lagi memikirkan tanggung jawab sebagai seorang suami. Sedangkan Ambar, tak pernah rewel dalam keuangan.

Alan membelai Ambar yang kini dikenangnya rangkaian masa lalu mereka. Dulu, Ambar hanya gadis belia, berumur sembilan belas tahun, lebih muda sembilan tahun dari Alan. Ia gadis periang yang tinggal di rumah samping kost Alan. Setiap pagi dan sore, Alan selalu mampir ke kantin yang di buka orangtua Ambar di garasi rumah mereka. Ambar selalu melayani dengan ramah, dan tak jarang Alan meminta Ambar sendiri yang memasak menu pesanannya. Rasa masakan dari tangan wanita tentu saja jauh lebih nikmat, pikirnya. Ah, sedangkan Dyah, tak pernah ada untuk memberinya hidangan lezat sekalipun itu hanya tahu dan tempe goreng saja.

“Ayah? Sudah bangun dari tadi ya?” Ambar mengerjapkan matanya. Ia baru sadar cahaya matahari sudah menembus jendela kamar. Terlalu lelap, sebab sunah rasul semalam.
“Belum lama kok Bunda,” Alan tersenyum sambil mengecup kening istrinya.
“Hm… Sebentar ya, Bunda siapkan air untuk Ayah mandi,” Ambar bergegas mengenakan kimono satinnya dan menuju kamar mandi.
Ambar… Istriku… Aku mencintaimu…

Ambar sudah menghidangkan nasi goreng dan telur dadar di meja makan. Alan memeluk istrinya dari belakang. Pelukan pagi yang begitu mesra di hadapan putra-putri mereka. Ayu dan Bagus, sepasang anak kembar mereka, berumur enam tahun, sangat senang melihat Ayah Bundanya berseri bahagia.
“Ayo Ayaaah, kita makaaan!” Ayu menarik kemeja Ayahnya agar ia duduk dan sarapan bersama.
“Iya, iya sayang… sarapan yang banyak ya,”

“Ayah, hari ini aku latihan tae-kwon-do di sekolah. Minggu depan ada pertandingan. Ayah sama Bunda datang yaa!” ujar Bagus bersemangat.
“Iya, nak. Nanti Ayah datang sama Bunda,” Alan menggenggam telapak tangan putranya. Begitu mirip wajah Bagus dengan dirinya. Putra tunggal yang sangat ia dambakan sejak lama kelahirannya.
“Ayo ah, kita sarapan dulu. Nanti terlambat semua nih berangkatnya kalau ngobrol terus,” kata Ambar.
Betapa membahagiakannya keluarga kecil ini. Sepasang suami istri penuh kasih sayang, menikmati pagi bersama putra-putrinya tercinta.

Dyah menjalani hari-harinya dengan lebih riang. Sempat ia lupakan rencananya untuk mencari keberadaan Alan di Jakarta. Lebih baik menunggu Alan pulang lebaran nanti. Kini, ia sudah mempersiapkan bahan ajar mengenai Biogas. Diliriknya jarum jam pada arloji pemberian Fachry yang kini ia kenakan. Arloji kulit ini cukup mahal. Baru pertama kali ada lelaki selain suaminya yang memberi hadiah semahal ini hanya dalam rangka merayakan keberhasilan Dyah atas presentasi jurnalnya minggu lalu.

“Hey…” sepasang tangan kekar yang sudah dikenalinya melingkar di pinggang Dyah.
“Ssst! Apa-apaan Kamu?! Nanti ada yang lihat!” Dyah meronta, melepaskan tubuhnya dari kedua tangan Fachry.
“Parkiran kan sepi. Lagi pula, aku kangen tahu…” ujar Fachry. Dyah dapat merasakan pipinya panas dan bersemu. Dyah menunduk malu dan bergegas menuju gedung kampus setelah mengunci mobilnya. Fachry melangkah mengikuti Dyah dari belakang.
Fachry… Kau terus membuat hatiku senang… Benarkah Aku dirindukan?

Menit demi menit berlalu. Tiga SKS telah rampung untuk pembahasan mengenai Biogas Lemak Sapi. Sepanjang waktu, Dyah merasa takjub akan dirinya sendiri. Rasa percaya dirinya hari ini sangat tinggi, hingga dapat menghidupkan kegiatan diskusi di ruang perkuliahan. Fachry dengan sabar menunggunya di Parkiran. Ah… sudah tak tahan ia melepas rindu pada si cantik Dyah.
“Lama yah nunggunya?” Dyah menepuk pundak Fachry. Senyum manisnya membuat Fachry makin mabuk kepayang.
“Gak juga sih. Ngobrol di mobil yuk,” Fachry menuntun Dyah untuk masuk ke mobil sedannya. Segera Fachry menyergap tubuh Dyah dengan peluk mesranya.

Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…
“Ah! Siapa sih?!” Fachry mengambil ponselnya yang bergetar di dashboard.

Mama
Calling…

Fachry segera menekan tombol reject. Ia tak mau waktunya terbuang sia-sia.

“Siapa yang telepon?” tanya Dyah.
“Istriku,”
“Kenapa gak diangkat dulu?”
“Ah, biar saja. Aku mau memanfaatkan waktu kita berdua cuma untuk kita sayang,” Fachry kembali memeluk Dyah dan mengecup mesra bibirnya hingga gairah mulai sampai ke ubun-ubun. Di sibaknya jilbab putih Dyah.

Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…
“Ah! Mau apa sih dia?!” Fachry benar-benar jengkel sekarang. Ia tak bisa konsentrasi mengg*muli wanita cantik di hadapannya.

Mama
Calling…

“Angkat saja dulu. Mungkin penting,” Dyah berusaha tampak sabar walau hatinya juga kesal. Fachry pun mengangkat telepon dari istrinya.
“Ada apa Ma?”

“Hah?! Kok bisa Ma? Mama itu bagaimana sih! Mama di rumah ngapain aja?! Sampai Reyhan kayak gitu!”

“Ya sudah, Papa pulang sekarang!”

Fachry tampak kesal. Dyah bingung, tak tahu apa yang terjadi pada istri dan anak Fachry
“Ada apa? Kenapa Kamu kesal?” tanya Dyah berhati-hati.
“Aku harus pulang sekarang. Besok saja kita lanjutkan. Reyhan jatuh dari sepeda katanya. Harus dibawa ke rumah sakit karena lukanya parah, mungkin perlu dijahit,” ujar Fachry.
“Oke, aku mengerti. Semoga Reyhan cepat sembuh ya…” Dyah tersenyum dan segera mengenakan jilbabnya, merapikan kerah kemejanya yang agak berantakan.
“Maaf ya sayang…” Fachry mengecup kening Dyah sebelum akhirnya Dyah turun.
Dyah hanya mampu menatap mobil Fachry yang melaju pergi menjauh.
Bagaimana pun, ia suami orang. Dia bukan suamiku, bukan milikku…

Dyah begitu resah. Fachry tak kunjung pergi dari benaknya. Ia begitu bimbang. Adakah cinta yang bersemi di hatinya untuk Fachry? Atau ini hanya pelarian namanya?
“Bun… Kok belum bobo?” Nissa membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan sang Bunda di ranjang.
“Bunda belum ngantuk, nak… Nissa sekarang bobo ya,” Dyah mengelus punggung Nissa.
“Bunda kangen sama Ayah ya?”
“Hm… Iya, Bunda kangen,”
Ah, rasanya barusan adalah dusta yang nyata. Alan tak lagi menempati hati dan pikirannya. Hanya Fachry.
“Aku juga kangen Ayah,” kata Nissa dengan wajah polosnya. Gadis kecil delapan tahun itu masih membutuhkan Ayahnya. Apa mungkin Fachry dapat menjadi Ayah bagi putri-putrinya yang lebih baik dari Alan? Ini gila.

Lelah, dan hal paling menyenangkan untuk menghilangkannya adalah pulang ke rumah, berpeluk manja pada istri tercinta, bercengkrama dengan si kembar Ayu dan Bagus. Bahkan, baru membayangkannya saja Alan sudah merasa sedikit lebih segar. Sore yang macet di Jakarta kota. Tentu saja, semua orang berkendara pulang dari kantornya menuju rumah. Sambil menunggu antrean kendaraan panjang maju, Alan menyalakan ponselnya.

2 New Messages
Bunda Dyah

Dibukanya satu per satu SMS dari istri pertamanya. Alan begitu terkejut membaca isi SMS itu.

From: Bunda Dyah
“Fachry, aku rindu peluk kamu. Besok ku tunggu seperti biasa :)”

Alan mengernyitkan kening, mencoba berpikir jernih. Alan dan Dyah saling mengenal teman-teman satu sama lain. Ia mencoba mengingat, adakah teman dekat Dyah yang bernama Fachry? (Siapa Fachry? Apa yang mereka lakukan?)
Alan segera membuka SMS kedua dari Dyah. Rasa penasaran dan terkejut memicu adrenalin.

From: Bunda Dyah
“Maaf Ayah, tadi salah kirim, untuk teman dekat. Kapan Ayah pulang?”
Ada keraguan dalam benak Alan. Tak tahu lagi apa yang harus ia katakan untuk membalasnya. Alan segera memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Antrean kendaraan yang tadinya padat merayap sudah mulai melaju perlahan.

Ambar menyambut Alan dengan kerinduan yang menumpuk. Segera disuguhkannya secangkir teh manis hangat dan sagu keju kesukaan Alan. Ayu dan Bagus pun berlarian memeluk sang Ayah.
“Ayah, Ayah, gambarku dapat 90 nih yah,” Ayu menyodorkan buku gambar ke tangan Ayahnya.
“Aku yah, aku juga. Kata Bu Guru, gambar pemandanganku warnanya rapi,” Bagus tak mau kalah, segera memamerkan buku gambarnya. Sang Ayah segera memangku kedua putra putrinya dan melihat hasil karya mereka.
“Wah… Ayu kok bisa gambar laut dan terumbu karang. Yang kuning ini, ikan apa?” tanya Alan.
“Ih Ayah, ini si Fugu, ikan yang di aquarium kita tahuuu…” Ayu manyun sebal. Dia berharap Ayahnya mengenali ikan piaraan mereka dalam gambar Ayu.

“Oh, maaf, maaf, Ayah kira ikan di laut. Kalau Bagus, gambar gunungnya kok abu-abu?”
“Iya, Ayah. Kan abis meletus, ketutup debunya wedus gembel. Kaya yang di TV loh Ayah,” ujar Bagus. Alan terus bercengkrama dengan kedua buah hatinya. Bahagia menyelimuti hati Ambar yang menyaksikan ketiga cinta di hadapannya. Tanpa ada yang tahu, berapa lama kebahagiaan itu tetap terjaga.

Rasa takut menggempur batin Dyah. Ah, tamat sudah riwayatnya. Dyah mengutuk dirinya sendiri atas kecerobohannya. Bagaimana jika Alan curiga dan tahu selama ini dirinya telah menodai ikrar suci mereka dimana saksinya tak hanya manusia, tetapi para malaikat dan juga Allah. Dyah mengunci kamarnya, menjauhkan diri dari pandangan putri-putrinya. Ia menangis dalam ketakutan dan keputusasaan. Tak kunjung ada balasan SMS dari Alan. Berkali-kali ia mencoba menelepon Fachry, tak jua ada sahutan selain suara operator mengalihkan ke voice mailbox. Dyah tak peduli, Nabil dan Nissa, bergantian dengan Ibundanya mengetuk pintu kamar untuk mengajaknya makan bersama. Dyah terus menangis dalam keheningan, hingga matanya terpejam.
(Alan… Aku bersalah. Aku tak mampu menjaga kehormatanmu. Aku lemah…)

Bersambung

Cerpen Karangan: Rin Kameko
Facebook: https://www.facebook.com/rin.kameko
Penulis memiliki nama pena Rin Kameko. Beberapa karya tulis dapat dilihat di coretan-rin.blogspot.com atau facebook account https://www.facebook.com/rin.kameko
Salam Karya.

Cerpen Tiga Cinta Satu Muara (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaan Yang Hilang

Oleh:
Hari ini aku bangun pagi pagi sekali karena hari ini ayahku berulang tahun yang ke 34, aku adalah anak tunggal, aku mengetuk pintu kamar ibuku dengan sangat pelan takut

Ulang Tahun Bunda

Oleh:
Pagi yang cerah… “Kring… Kring… Kring…” seperti biasa bel alarm Niki berbunyi keras tepat pada pukul 05.00. Niki langsung terbangun dari tidurnya dan berfikir sejenak. “Ini tanggal berapa yaa?”

Belajar Lebih Baik

Oleh:
Seorang gadis yang sangat cantik, tinggi dan berkulit putih, dia bernama Amalia Widiastuti. Dia tinggal sebuah kota di Jawa Timur yaitu Surabaya. Dia tinggal bersama bapak dan ibunya, bapaknya

Anakku Yuda Yang Lucu

Oleh:
Ini kejadiannya hari Selasa, tanggal 13 Agustus 2013, tapi sayangnya aku tidak lihat sendiri karena Senin malam aku pergi untuk menjalankan tugas Ronda Malam Selasa di kampung asalku di

Sepatah Maaf dari Papa

Oleh:
Peluh menetes di dahiku. Sungguh siang hari yang panas. Matahari melotot, teriknya membakar kulitku. Suara klakson menjerit bersahut-sahutan dari kendaraan di jalan raya, motor saling serobot, angkot berhenti seenaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *