Tilam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 October 2014

Padma, demikianlah wanita paruh baya itu mencoba mengenalkannya pada semesta sejak tangisan pertamanya bergaung di sudut-sudut rumah kayu yang tak lagi mampu bertanding dengan waktu itu. Hari ini, di antara kelopak-kelopak kecil itu kembali hadir bulir-bulir air mata yang kejatuhannya disambut lantai tanah merah penyanding kayu-kayu usang itu. Begitu erat ia memeluk gadis kecilnya, seakan tak rela berbagi buliran air mata itu dengan tanah merah yang cemburu dalam diam.

“Apa yang telah terjadi, Padma-ku?”
Padma kecil bergeming. Ditatapnya rupa ibunya, setiap ukiran masa yang tertinggal di wajah itu, ia mengingat janjinya yang telah ia langgar.
“Bolehkah aku berjanji lagi? Maaf telah menyisakan air mata untukmu lagi, Bu.”
“Baiklah. Kali ini, ceritakan.” Tangannya mengusap-usap dahi gadis kecil yang berpeluh itu.
“Tuning yang memulai semuanya. Ia katakan bahwa bapaknya akan kembali esok pagi, lalu kawan-kawan kembali membicarakan kita, menghina kita. Aku benci, Bu.”
“Jangan kau simpan benci itu, Padma. Jangan juga kau simpan pertanyaan mereka itu untukku.”
“Di setiap kesalahan, haruskah selalu ada yang disalahkan, Bu? Tidak bisakah kita saling bertukar pikir tentang batas-batas kebenaran dan kesalahan? Aku lelah…”
“Padma-ku…” Helaan nafasnya sedikit mengangkat rusuk-rusuk yang tampak jelas di bawah balutan kulit legam itu.

Padma, demikianlah wanita itu mengenalkannya pada seluruh laki-laki kampung di lereng gunung itu. Setidaknya, ia telah mencoba. Bersamaan dengan itu, telah diterimanya sekian penolakan yang terkadang turut menggiring cacian. Gadis kecil itu telah menjelma gadis cantik yang sempurna secara rupa. Hanya saja, penduduk desa itu begitu mengultuskan nilai-nilai adat mereka, sepakat menggunakan horizon yang sama untuk memandang Padma. Walau bagaimanapun ibunya berkeras usaha, di mata mereka Padma adalah gadis yang hadir dengan cara yang salah, jika dibiarkan menjadi anggota keluarga, hanya akan menambah kesialan. Namun waktu terus bergesa, seakan ada yang memburunya.

Padma, demikianlah kata yang tersemat di kepala surat itu, bermuara pada pertanyaan tentang kabarnya. Diikuti dengan beberapa patah kata.
“Neem me niet kwalijk. Semua sudah berakhir kini, kita akan berkumpul kembali.”
Bibir tua yang mulai mengeriput tepiannya itu hanya bisa bergetar, tak ada lagi air mata yang tersisa untuk pengirim surat itu. Diambilnya secarik kertas, dibubuhinya sepatah kata.
“Genoeg.”
Terduduk ia mengosongkan pandangannya, melayangkan pikirannya jauh pada masa yang berlalu demikian lama. Saat itu, sang gadis, sedang menikmati dunia yang baru dikenalnya.

Padma, demikianlah kata yang tanpa hentinya terdengar di desa ini suatu hari setelah upacara pemakaman adat untuk seorang pembesar yang tamak di kampung itu. Dari pesan yang disampaikan mulut ke mulut, seluruh penduduk kampung merasa bahwa gadis itu telah menghina mereka. Padahal, Padma hanya mengantarkan Tuning, setelah lebih dulu membujuknya, untuk mendatangi upacara bagi sosok yang telah menanamkan janin empat bulan di kandungannya itu. Semua menolak kedatangan keduanya, upacara pemakaman adat kali ini adalah milik seorang pembesar, umumnya orang seperti mereka tidak diperkenankan untuk menghadirinya. Padma mengetahui hal itu, namun Padma mengetahuinya lebih jauh, ia paham betul bahwa Tuning mungkin hanya akan mengalami penolakan di hari itu, namun sang bayi dalam kandungan, ia akan mengalami penolakan semasa hidupnya. Padma ingin semua orang yang ada di sana berhenti berpura-pura saling tidak tahu tentang ketamakan pembesar itu. Saat seseorang yang hadir menyinggung mengenai keluarganya, Padma mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak ingin didengar oleh orang-orang itu. Ia pun pergi.

“Apa lagi yang kau perbuat, Padma?” Sosok rapuh itu tidak pernah bosan bertanya mengenai kabar putrinya yang entah dari mana sampai juga pada telinganya yang tinggal di pinggiran tersebut.
“Entahlah.” Kedua tangan Padma memijat-mijat pundak tua yang kelelahan, ia menghela nafas panjang.
“Sering kukatakan, janganlah jadi terlalu pandai, Padma. Penduduk di sini tidak terlalu menyukainya, terlebih lagi para pemuda itu, mereka jadi takut memperistrimu. Semua akan menjadi rumit, dan kau akan kehilangan banyak kesempatan untuk membiarkan kebahagiaanmu jadi sederhana.” Tubuh yang tadi memunggungi Padma itu, kini berbalik, menatapnya lekat-lekat.
“Telah kudefinisikan sendiri arti bahagiaku. Mungkin memang bukan di lereng gunung tempatnya sekuntum padma, Ibu?” Dahi Padma mengernyit, menanti respon yang mungkin diucapkan dari mulut ibunya.
“Maksudmu, Padma?” Hanya rasa bingung yang tampak lugas dari raut wajahnya.
“Telah kutemukan musim hujanku, Ibu. Kutinggalkan kolam berlumpur ini. Aku akan segera menikah dan berpindah ke kota” Tampak secercah warna dari balik raut datar Padma saat itu.
“Aku sangat mengenalmu, Padma. Jika itu keputusanmu, aku hanya mampu mendoakannya. Jagalah kuntum demi kuntummu.”
Keduanya terduduk saling menatap, menghimpun hening. Mulai berjalanlah dua kisah beda alur dalam ruangan itu.

Tilam, demikianlah nama yang tertera pada surat yang ia terima dengan tangannya yang semakin hari semakin habis dimakan usia itu. Sudah sejak lama kisahnya bukan lagi tentang Padma, sang putri tercinta. Namun, siapakah yang masih mengingat nama kecilnya itu? Dibukanya surat itu perlahan.
“Telah kutemukan putri kita. Akan kutebus kesalahanku padamu, Tilam. Sudahkah Padma bercerita padamu tentangku? Zorg goed voor jezelf.”
Kata demi kata dalam surat itu menambah kerapuhannya. Tubuh renta itu rebah pada lantai tanah merah yang bersanding dengan kayu usang, di mana seluruh kisah ini diberi kesempatan untuk bermula.
“Nee!”

Cerpen Karangan: Alvina
Blog: memorvin.blogspot.com

Cerpen Tilam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Brother, I Am Sorry

Oleh:
Pagi itu seperti biasa, aku berangkat sekolah tanpa senyuman, itu mungkin telah menghilang sejak seorang gadis yang dekat denganku yang bernama Gita secara tiba-tiba menjadi kekasih kakakku, dan juga

Jujur

Oleh:
Brengsek… kau memang brengsek. Baru kusadari malam ini. Betapa bodohnya aku selama ini percaya dan menelan mentah-mentah seluruh bualan dan rayuan menjijikkanmu. Akh,kupegang kening yang tak panas ini, tapi

Senyum Dibalik Hujan

Oleh:
Tanggal dua puluh satu Januari pukul setengah tujuh malam. Anna sudah selesai berpakaian rapi. Setelah berpamitan pada ibunya, Anna meluncur menuju rumah makan herbal, tempat favorit Anna dan kawan-kawannya

Kekurangan

Oleh:
“Mikaaaa!! Main yuk!” Teriakan beberapa gadis berumur lima belas tahun terdengar sampai ke ruang duduk rumah megah tersebut. Aku menoleh pada Mika yang langsung bangkit. Tetapi mengernyit ketika menemukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *