Tinta Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 March 2017

Pepohonan mengibas-ngibaskan ranting seraya mengamatiku tajam. Aku termenung dalam dekapan kesengsaraan yang kini menderaku. Dedaunan berjatuhan pelan, kadangkala mengenai kepalaku yang sedang semrawut. Di bawah pohon beringin ini yang begitu rindang, aku seperti dibuat nyaman olehnya. Acap kali aku bertengger di atas batu hitam yang teronggok bisu di bawah beringin ini, aku selalu teringat semua kejadian-kejadian itu. Aku kacau, tak jarang aku mencurahkan isi hatiku kepada burung-burung yang lalu-lalang meraba pepohonan.

“Doni! Cepat ke pasar, persediaan makanan sudah habis!” ungkap majikanku sambil melemparkan uang ke muka lantai.
“Siap, Nyonya,” jawabku pelan dan langsung menurut.

Yang aku tahu selama ini, majikanku adalah seorang binatang buas yang terkadang jinak. Terkadang ia berhati malaikat, tetapi bisa menjadi iblis yang terkutuk. Nyonya Merry hidup sendiri, menurut cerita Bi Minah yang sudah merawatku hingga sekarang, seseorang yang dengan sukarela membesarkanku yang yatim piatu, tuturnya Nyonya Merry telah ditinggalkan suaminya yang gugur dalam tugas. Suaminya meupakan seorang tentara yang ditempatkan di daerah konflik. Mungkin ia berhati keras karena dulu jarang mendapat perhatian dari suaminya itu.

Aku kembali dengan membawa barang belanjaan yang begitu banyak, tulang-tulangku serasa remuk membawa belanjaan sebanyak itu. Ketika membuka pintu, rumah terlihat sepi. Hanya suara perempuan menangis pelan yang kudengar. Di pojok sebelah kanan, di kursi goyang dekat akuarium. Nyonya Merry rupanya kembali menduka, setiap tanggal 6 ia selalu menangis di situ, tepat di situ. Terpajang potret-potret suaminya yang memakai seragam tentara lengkap. Suaminya terlihat gagah, senyum bahagia mengembang dari bibir Nyonya Merry yang berdiri di sampingnya. Mereka bergandengan tangan, sungguh serasi menurutku. Setiap Nyonya Merry menangis, foto-foto itu selalu dipandanginya. Namun ada satu foto yang tertutup kain hitam, tak ada yang boleh membukanya.

“Nyonya, ini belanjaannya.”
“Taruh saja di situ,” ungkapnya tersendat-sendat menahan tangis.

Sebenarnya aku merasa kasihan dengannya. Ia hidup sendiri, hanya aku dan Bi Minah yang setia menemaninya. Guratan duka terlihat sangat menggores lubuk hatinya. Nyonya Merry jarang ke luar rumah, saban hari ia memenjarakan dirinya di rumah megah ini. Orangtuanya dulu, adalah seorang yang kaya raya, begitulah cerita dari Bi Minah. Pernah suatu hari aku dan Nyonya Merry duduk bersama di dekat kolam. Ia menceritakan semua yang ia rasakan, kesepian dan kehilangan. Ia hanya punya satu hal yang paling berharga, harta karunnya, ya harta karun yang selalu disebut-sebutnya itu. Aku tak paham dengan celotehannya itu.

“Aku hanya punya harta karun!”
“Harta karun seperti apa Nyonya?” tanyaku penasaran.
“Mmmm..” Dia hanya membisu.

Nasibku tak jauh berbeda dengannya, aku juga hidup sebatangkara. Mengabdikan hidup di rumah janda tua yang ditinggal mati suaminya. Kami di sini bagaikan terkurung di dalam sangkar. Sangat jarang canda tawa yang ada di rumah ini. Hanya keluh kesah dan duka yang menyelimuti rumah ini.

Hari ini, aku tidak melihat Nyonya sejak pagi. Biasanya ia duduk di kursi goyang itu di sela-sela harinya yang malang. Namun hari ini kursi goyang itu hanya terdiam tak bergeming. Aku menanyakannya pada Bi Minah, ia juga tak melihatnya. Aku melanjutkan untuk membersihkan perabotan rumah, aku terhenti ketika memandangi foto Nyonya Merry dan suaminya. Kebahagiannya seakan terenggut, senyumnya tak pernah mengembang lagi. Kini, sayap-sayap kehidupannya telah patah, terombang-ambing di atas angin.

Hingga malam larut Nyonya masih tak terlihat, aku berniat menilik ke kamarnya. Pernah sekali aku masuk ke kamarnya, di dalamnya penuh dengan foto-fotonya sewaktu masih muda. Pintu kamarnya tertutup. Aku membukanya perlahan, tak terkunci. Aku terkejut! Mulutku menganga lebar, darahku seakan berhenti berdesir. Mataku tak berkedip, di depanku telah tercecer darah segar yang mengalir dari atas kasur. Aku panik, aku segera memanggil Bi Minah.

Bi Minah menangis histeris. Dengan ketakutan aku mendekat. Pisau dapur telah merobek tangan Nyonya Merry. Pisau itu masih dalam genggamannya walau tak erat. Secarik kertas terbuka di sampingnya, lalu aku membacanya.

“Doni, maafkanlah saya. Saya telah terpuruk dengan semua ini, saya sudah tidak tahan. Maafkanlah saya, saya tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu. Kau adalah anakku, harta karunku selama ini, jika tidak percaya bukalah foto itu. Foto yang selalu tertutup. Kau akan tahu dari sana, aku titipkan engkau kepada Bi Minah. Selamat tinggal anakku, selamat tinggal dunia.” Begitulah isi kertas itu, aku terkejut dan tak percaya.

Aku bergegas mengambil foto itu. Aku membuka kain penutupnya. Terlihat Nyonya Merry dan suaminya, namun ada yang berbeda. Nyonya Merry menggendong seorang bayi dalam pangkuannya. Tepat di tangan sebelah kiri bayi itu, ada tompel. Aku melihat tanganku, sama persis dengan bayi dalam foto ini. Aku memeluknya yang telah bersimbah darah.

Setelah kejadian itu, aku selalu merenungi hidupku. Mengabadikan semua hal yang kualami. Di atas kertas dengan menggoreskan tinta hitam.

Cerpen Karangan: Harry Handika
Facebook: Harry Handika
Biodata Penulis:
Nama Asli: Harry Handika
Alamat: Desa Tunggulpayung Blok 2 RT 10 RW 2, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Email: harryhandika8[-at-]gmail.com dan harryh366[-at-]yahoo.com
Id Line: harryhandika
Nomor Telepon: 089668149646
Pengalaman Penulis: Penulis menjadi utusan Provinsi Jawa Barat dalam FLS2N 2016 Se-Indonesia, dalam bidang Cipta dan Baca Cerpen, di Manado, Sulawesi Utara. Menjadi Juara terbaik 1 penulisan cerpen dan Juara terbaik 1 pembacaan cerpen dalam event FLS2N 2016 Se-Jawa Barat, di Tasikmalaya, Jawa Barat. Menjadi juara terbaik 1 penulisan cerpen sekaligus juara terbaik 1 pembacaan cerpen dalam Lomba dan Festival FLS2N 2016 Se-Kabupaten Indramayu. Menjadi juara 4 penulisan cerpen dalam FLS2N 2014 Se-Kabupaten Indramayu. Menjadi pendiri sekaligus ketua Kelompok Sastra Riloz Indramayu. Penulis telah menulis beberapa cerpen di antaranya, Hilang Di Balik Pintu, Semut-Semut Bunuh Diri, Pemuda Dua Ribu Rupiah, Bir Cebol, Aku dan Tinta Hitam, Pemimpi Dalam Amplop, Sang Penakluk Singa Jantan, Senja Menanti, dan karya-karya cerpen lainnya.

Cerpen Tinta Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cempaka

Oleh:
Dengan buru-buru cempaka memakai sepatu bututnya yang sudah rusak dan dekil itu, sambil memekai sepatu cempaka melirik emaknya yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Sementara itu bapaknya sedang

Kebaya ini Untuk Nenek

Oleh:
“Dea… Dea… Dea, nak di mana kamu?”. Terdengar suara wanita tua yang memanggil namaku. Tak lama akupun menjawab panggilan nenek. “Aku di sini nek”. Yah wanita tua itu adalah

Bukan Ibu Cinderella

Oleh:
Malam ini begitu tenang, setenang tetesan mata air di puncak gunung. Namun tenangnya malam ini tak setenang hatiku. Di malam 7 hari kepergian almarhumah bundaku. Bunda yang amat aku

Harapan Untuk Ibu

Oleh:
Fyuh! Nilai, nilai, nilai. Kenapa kau terus membuatku dimarahi orangtuaku? Hasil ulangan MTK-ku yang di bawah 6 membuatku tidak diberi uang saku selama 3 hari. Sudah biasa sebenarnya, tapi

Selamat Hari Ayah

Oleh:
Hari kemarin tanggal 12 November bertepatan dengan Hari Ayah. Hari dimana peran seorang ayah adalah seorang pahlawan untuk keluarganya, hari dimana sosok seorang ayah adalah lelaki tangguh yang tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tinta Hitam”

  1. Yizri Rumalutur says:

    I like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *