Titik Terang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 March 2018

“Panas sekali pagi ini.” kata Laura dengan letih sambil merapikan sekumpulan barang yang ia bawa.
“Panas pagi baik untukmu Nduk, kata orang-orang ‘Baik untuk kulit’.” kata Nenek Laura yang umurnya sudah masuk lima puluh tahun.
Laura berbalik untuk melihat Neneknya “Iya sih nek, tapi gak biasanya jam 7 begini sudah terik. Toh, Aku juga sudah keling gak peduli mau kulitku baik.” muka Laura mengerut.
“Tidak boleh berbicara seperti itu nduk, walaupun kulitumu hitam, kesehatanmu itu lebih penting.” kata Nenek menasihatiku, nafasnya naik-turun karena letih.

Suara denting bel SMP 59 terdengar jauh sampai ke telinga Laura.
Laura tersentak, ini hari senin ya?.
“Nek, aku pergi ke sana dulu ya!” kata Laura, nadanya cepat.
“Iya… jangan lama ya Nduk.”

“KEPADA SANG MERAH PUTIH, HORMAT… GRAK!” lantangan sang Komandan upacara itu sangat keras, sampai-sampai mata Laura terkunci memandang orang itu. Karena, tidak biasanya sang komandan upacara adalah seorang wanita.
Seluruh siswa SMP mengangkat tangan mereka dengan sikap hormat, Laura ingin mengangkat tanganya, tapi yang ia lakukan hanya menggaruk alisnya karena ragu.

Matahari semakin terasa dekat saat upacara hampir selesai, tangan Laura melindungi wajahnya dari silauan matahari. Sejurus sebuah topi tampak terlempar keluar pagar, Laura mengambil topi itu sambil kebingungan, ia menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang satu-satunya tidak memakai topi dan melihat ke arah Laura. Laura membaca-baca omongan anak laki-laki itu, “Pakai!” kata yang mungkin didengarkan olehnya. Laura memakai dan memasukkan rambutnya yang panjang ke dalam topi yang diberikan anak laki-laki itu.

“Terima kasih.” bisik Laura, walaupun suaranya kecil anak laki-laki itu terlihat bisa membaca kata yang dilontarkan Laura.
Anak laki-laki itu mengacungkan jempolnya.

Seluruh siswa SMP 59 pergi ke kelas masing-masing, Laura dan Anak laki-laki itu berjalan menjauh. Beda arahnya, Beda pula tujuanya.

Seumur hidup Laura, ia tidak pernah melihat anak laki-laki yang sangat baik dan mencemaskan dirinya selain Neneknya.

Laura dibesarkan oleh Neneknya sejak lahir, orangtuanya meninggal saat ia masih berusia dua tahun. Saat Laura bertanya penyebab kematian orangtuanya, Neneknya selalu berkata bahwa orangtuanya meninggal karena kecelakaan dan jatuh terkubur dalam di jurang. Tetapi, entah mengapa Laura tidak percaya akan jawaban Neneknya itu. Menurutnya jawaban itu tidak ada dasarnya dan juga tidak ada bukti satupun seperti koran ataupun kabar tentang kematian kedua orangtuanya. Namun, Neneknya juga menyangkal jawaban Laura tersebut. Karena, keturunan keluarga Laura tidaklah banyak. Andai orangtua Laura memang sudah ditemukan, pasti tidak mudah bagi Aparat untuk menemukan keluarga Laura yang tersisa.

Hidup Laura serba tidak berkecukupan, pendapatan Neneknya tak menentu, sehingga membuatnya harus membantunya mencari uang tambahan. Laura pernah bersekolah walaupun hanya sampai kelas 4 SD. Namun, Laura terlahir jenius, tidak hanya kritis, kemampuan otodidaknya tidak boleh diremehkan, pada saat Laura berumur 11 tahun ia pernah memenangi juara catur tingkat umum dengan hanya mempelajari dasar dan dibekali intuisi yang kuat. Tapi, baginya mengurus Neneknya lebih penting dari apapun.

Kejadian tadi pagi masih menghantui pikiran Laura. Ia berbaring di lantai sambil memegang topi sekolah Anak laki-laki itu, hal itu membuatnya mengingat kembali waktu ia masih belajar dan bermain di Sekolah Dasar, baginya menjadi anak yang berkehidupan normal merupakan impianya, walau takdir berbicara lain, Laura tidak pernah putus asa dan menerima apa adanya.

“Nduk… Sini bantu Nenek sebentar,” Kata Nenek dari arah dapur.

Sejurus kemudian Laura pergi menuju dapur, “Nduk, tolong belikan Nenek garam di toko ya, bilang tagihanya ditambah saja.” kata Nenek sambil menambahkan kayu bakar di bawah panci yang panasnya menggigit kulit.
“Baik nek,”

Laura berlari kecil menuju toko kelontong di sekitar rumahnya, warna jingga masih menghiasi langit, suasana sekitarnya sangat sepi hingga suara TV di dalam tempat makan terdengar jelas.

Laura memasuki lorong jalan pintas yang sempit, sesaat setelah ia keluar dari lorong itu, ia mendengar suara benda jatuh berkali-kali dari arah belakangnya, sontak ia penasaran akan hal itu, pelan-pelan ia mendekati sumber suara dan mengintip dari balik dinding, betapa terkejutnya Laura karena melihat tiga orang anak SMP sedang memukul seorang anak SMP yang lain.

Laura terdiam, bingung apa yang harus ia lakukan. Anak yang dipukul itu terlihat tak berdaya karena diserang oleh tiga anak sepantaranya sekaligus.

“Tolong…” desah suara anak itu.
Tiga anak itu memandang remeh-temeh,
“Hahaha, mau minta tolong sama siapa lu,”

Salah satu dari ketiga orang anak itu menarik kerah baju anak SMP yang sudah babak belur, “Kau tahu dari mana ayahmu mendapat uang jajanmu itu! Korup-”
Dugg! Anak itu memukul bagian mulut salah satu anak berandalan tadi, “Diam! Kalian tidak tau apa-apa tentang ayahku! Punyaku adalah hakku! Ingat itu!”

Laura terkejut, anak yang babak belur tersebut adalah anak laki-laki yang memberinya topi tadi pagi.

“Kenapa diam saja! Kalian berdua cepat hajar!”
Kedua anak berandalan itu mengangguk dan hendak mendekati anak yang babak belur tadi. Namun, sejurus kemudian, sebuah batu melayang tetapi tidak mengenai salah satu anak berandal itu.

Laura memunculkan dirinya, Anak laki-laki itu terkejut, “Pergi! Mereka bertiga tidak sebanding denganmu!”
“Jangan ikut campur! Ini urusan kami berempat!” kata salah satu anak berandalan itu.
Laura diam saja sambil menghampiri kedua anak berandalan yang hendak menyerang anak laki-laki yang ia kenal tadi, sejurus Laura memukul tengkuk salah satu anak berandalan itu dan membuatnya terbaring kesakitan dan anak beradalan lain yang hendak menyerang Laura ditendang olehnya dibagian vital: Selangkangan.

Anak berandalan yang masih sadar berdiri dan tampak bersiap-siap menyerang Laura. Badannya yang setara dengan anak kuliahan tampak mustahil bagi Laura untuk mengalahkanya. “Kau tampak cerdik bocah kecil! Tapi kekuatanmu itu bukan apa-apa bagiku.”

Laura mengambil batu yang ia lempar tadi dan mendekati anak berandalan itu perlahan. Anak berandalan memandang remeh Laura sambil tertawa sinis. Sejurus kemudian Laura melempar batu itu ke arah wajah anak berandalan itu. Namun, batu itu hanya melewati wajah anak berandal itu dan membuatnya terkejut. Laura mengembangkan kedua tanganya dan menepuk tangannya ke arah wajah anak berandalan, sontak badan anak berandal itu hilang keseimbangan dan terjatuh, dengan cepat Laura mengambil tanganya dan mengunci engsel lengan si anak berandal tersebut. “Sudah cukup! Kami menyerah! Kalian berdua ayo pergi!” gumam anak berandal tersebut sambil berlari menjauh.

Laura menghela napasnya dengan cepat, anak laki-laki itu mendekatinya “Itu tadi tidak bisa dipercaya, kau memukul mereka dan yang terakhir itu sangat-”
“Kau baik-baik saja?” sela Laura sambil merapikan bajunya.
“Ini hanya luka kecil, diludahi juga sembuh.” kata anak laki-laki itu sok kuat.
Laura tertawa kecil, “Baiklah kalau begitu,”

“Siapa namamu? Kenalin aku Gibralt.” sambil menawarkan tangan kananya.
Laura membalas menggengam tanganya, “Gibralt ya. Namaku Laura, orang yang kau berikan topi tadi pagi.”
“Pantas saja kau tampak familiar. Dengan begini kita berdua impas tapi tampaknya tidak sebanding dengan yang tadi.”
“Tadi itu bukan apa-apa kok.” kata Laura merendah.

“Yang terakhir itu bagaimana bisa? Tiba-tiba saja kau menepuk wajahnya dan membuat badan besarnya terjatuh.” tanya Gibralt penasaran.
Matanya menoleh ke arah ke kiri karena mencoba mengingat sesuatu. “Itu… Aku melihatnya di film detektif yang pernah aku tonton.” kata Laura.
“Maksudmu Sherlock Holmes? Ya ampun, jadi yang tadi itu hanya gerakan yang kau tiru di film?! Kamu benar-benar nekat.”
“Tapi, pada akhirnya itu berhasil kan,” kata Laura, wajahnya memerah.

Tiba-tiba Laura terbelalak, “Oh iya! Aku disuruh membeli garam di toko.”
Laura berlari menjauh meninggalkan Gibralt, “Laura! Terima kasih!” teriak Gibralt.
Laura mengacungkan jempolnya.

Hari mulai gelap.
Laura masuk ke dalam rumahnya sambil membawa sebungkus garam. Suasana suram, lampu teplok tidak dinyalakan. “Nek… Nenek ada di dalam?” kata Laura sambil meraba-raba dinding karena suasana di ruangan itu tidak diterangi cahaya sama sekali. Sejurus Laura menggesekkan korek api dan menyalakan sebuah lampu teplok. Laura mencari-cari Neneknya di seluruh ruangan, hingga ia terkejut melihat Neneknya terbaring di lantai dan mukanya bercucuran keringat.

“Nek…!’ Teriak Laura dan tanpa sengaja menjatuhkan lampu teplok ke tanah.
“Nek… Ada apa?! Nenek sakit?!”
Sang Nenek mencoba mengatakan sesuatu, namun setiap kata yang ia keluarkan tidak dapat dimengerti oleh Laura.
Laura membopong Neneknya ke dalam kamar.

Tetesan air mulai terdengar dari luar rumah, mulanya sedikit, lama-kelamaan hujan mulai deras, angin yang mulanya sepai-sepoi tiba-tiba saja dapat mematahkan ranting pohon. Rasa cemas yang dirasakan oleh Laura tercampur aduk oleh suasana suram dari luar rumahnya.

Laura tak dapat menahan isakan tangisnya, “Nek… Apa ada yang bisa Laura lakukan?”
Nenek Laura hanya menggelengkan kepala dan mengusap rambut Laura.

“Laura panggil tetangga ya nek,” kata Laura sambil menghapus air mata yang telah membasahi dagunya.
“Ti-tidak usah,” ujar Nenek dengan suara tersengal.
“Tapi, nek-”

Mendadak, Nenek Laura menggepalkan tangannya dan mengarahkannya ke mulut. Laura terkejut karena Neneknya mengeluarkan darah saat batuk. “Kita harus ke dokter nek! Keadaan Nenek semakin parah!” kata Laura, matanya membelalak melihat darah di tangan Neneknya.
“Tidak usah, kita tidak akan sanggup membayarnya” Kata Nenek sambil menutup tangannya yang terbercaki oleh darah.
“Kalau begitu kita ke puskesmas ya nek, uangnya biar Laura yang cari.”
“Kamu, mau cari uang di mana?”

Laura memasukkan tanganya ke dalam kerahnya dan menggenggam sesuatu, saat tangannya dikeluarkan, sebuah kalung emas dengan ukiran nama Laura di kotak kalung berbuai-buai.
“Jangan Nduk! Sudah berkali-kali kubilang jangan hendak kau jual kalung itu!” gumam Nenek marah pada Laura.
“Mau bagaimana lagi nek?! Ini satu-satunya barang yang bisa dijual,”

Nenek Laura mengepal tangannya lagi dan terbatuk-batuk hingga tanganya terbungkus oleh darah.

“Ada sesuatu hal yang harus kuberitahu Nduk.” kata Nenek, suaranya serak.
“Sesuatu hal? Apa itu nek?”
“Nenek rasa ini memang bukan waktu yang tepat untuk memberitahukanmu, uhuk uhuk! Tapi kurasa nenek harus memberitahumu cepat atau lambat.”

Air mata Laura bercucuran lagi. “Soal apa nek?”
“Tentang kalung yang nduk pakai,”
“Kalung ini? Memangnya kenapa dengan kalung ini nek?” Tanya Laura sambil merengek.
“Kalung itu merupakan pemberian orangtuamu, coba nduk lihat di bagian belakang namamu.”

Laura membalik kalung yang ia genggam, Ia melihat huruf-huruf besar yang bertulis: DS & IP FOR LAURA.

“Itu adalah nama ayah dan ibumu nduk,”
“Maksud nenek, ini pemberian orangtua Laura sebelum meninggal?”

Suasana hening beberapa saat. Nenek Laura menghela napas “Orangtuamu tidak mati.”
Mata Laura terbelalak menatap kalung. “Apa itu benar nek?! Nenek tidak bohong kan?
“Kali ini Nenek mengatakan yang sebenarnya.” Uhuk uhuk!

“Nenek…!” Teriak Laura, menyaingi suara hujan deras yang mengetuk genting rumahnya.
“Aku bukan nenekmu nduk,” kata Nenek dengan nada pelan.
“Apa? Laura tidak dengar nek!”

Nenek Laura mengambil buku yang ada di dalam bantalnya. “Bacalah buku ini nduk,”
Laura mengambil buku yang dipegang neneknya. “Buku? Buku apa ini nek?”

Kesadaran Neneknya lambat laun memudar, tubuhnya melemah.

“Jangan tinggalkan Laura nek…!” Teriak Laura, air matanya mengalir lebih deras.

Petir menghambar bumi secara acak,
Hujan deras berubah menjadi badai. Laura berjalan tak tentu arah sambil memegang buku yang diberikan neneknya. Air matanya bercucur menyatu bersama air hujan.

Suasana di sekitar sangat sepi seperti biasa. Rumah-rumah tertutup rapat, lampu jalan yang kedap-kedip menjadi petunjuk Laura untuk berjalan.

“Seseorang… Kumohon tolong nenekku…!”

Perlahan penglihatannya kabur, tubuhnya mulai tergopoh-gopoh hingga akhirnya terjatuh.

Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di hadapan Laura. Seseorang tampak keluar dari mobil tersebut dan menggendognya masuk ke dalam mobil.

Laura jatuh pingsan.

Mata Laura terbuka dengan perlahan, ia melihat seluruh ruangan yang besar, terbaring di tempat kasur besar yang empuk, ia bahkan dapat melihat laut diterangi cahaya pagi di luar jendela yang besar dan tiap tepi maupun sudut ruangan dipenuhi barang dekoristik dan barang mewah lainnya.

Tiba-tiba suara gagang pintu yang diputar mengalihkan pandangan Laura.
“Lho, kamu sudah bangun ya Laura?”
Mata Laura membelalak, “Gibralt?”
Laura langsung teringat hal yang dialaminnya semalam: Saat Menolong Gibralt, neneknya meninggal, hingga ia jatuh pingsan di tepi jalan sambil memegang buku.

“Buku? Buku! Apa kau melihat buku pemberian nenekku? Teriak Laura, Hingga suaranya bergema seperi kata tertumbur ke dinding.
“Buku? Maksudmu buku yang ada di meja itu,” kata Gibralt sambil menunjuk ke arah meja yang berada di samping kiri Laura.
Laura langsung mengambil buku itu. Namun, ia tidak langsung membuka sampul buku itu karena takut.

“Kau bilang itu buku pemberian nenekmu kan?” kata Gibralt sambil menaruh nampan yang ia bawa di meja.
“Buka saja, mungkin saja isinya penting.”
Laura tampak ragu beberapa saat, hingga beberapa saat kemudian, ia membuka sampul buku itu. Laura mulai membaca kata per kata:

Gadisku tersayang, Laura.

Mungkin saat kau membaca buku ini aku telah tiada.
Aku harap kau mau memaafkanku atas apa yang telah kulakukan kepadamu. karena kesalahan pribadiku sendirilah yang membuatku membuat catatan ini. Mungkin seharusnya aku mengatakannya sejak awal bahwa orangtuamu masih hidup.

Pada saat kau masih berusia dua tahun, kau diambil atau lebih tepatnya diculik oleh orang yang tak dikenal dari penitipan anak. Aku menyelamatkanmu dari penculik itu dengan selamat walapun aku mendapatkan luka yang cukup serius di tubuhku.
Kupikir akan lebih baik jika aku yang merawat dan membesarkanmu dengan status sebagai nenekmu. Karena orangtuamu sangat tega meninggalkan dirimu di tempat penititipan anak.
Namun, tetap saja aku tidak bisa membuatmu bahagia karena keadaan diriku yang tidak berkecukupan begini.

Setiap hari, bersamamu rasanya lebih baik daripada hidup sendirian sebatang kara.
Sekali lagi maafkan aku karena selalu membohongimu tentang kematian orangtuamu dan keegoisan diriku ini.
Aku mencintaimu Laura. Hidup atau mati pun akan terus begitu.

Mata Laura berkaca-kaca setelah selesai membaca buku pemberian neneknya itu.

“Laura, kau menangis?” Tanya Gibralt
Laura mengusap kedua matanya, “Ya, sedikit.”

Tak lama kemudian dua orang yang tampaknya sepasang suami-istri masuk ke ruangan.

“Kau sudah siuman ya gadis kecil,” kata sang wanita dengan ramah.
“Apa kalian tahu di mana nenekku sekarang?” tanya Laura, nadanya cepat.
“Nenekmu sudah meninggal. Kata dokter ‘karena penyakit Brokitisnya sudah parah’.” ujar pria yang ada di samping wanita.

Laura tampak sedih dan murung. Ia memasukkan tangannya ke dalam kerah baju dan mengeluarkan kalung emas yang bertuliskan namanya.

“Itu kan,” mata wanita itu membelalak, terpaku melihat kalung emas yang Laura genggam.
“Itu? apa bu?” kata Gibralt, kedua orang dewasa itu adalah orang tuanya.
“Ya, tak salah lagi ma!” kata pria yang reaksinya sama persis dengan istrinya.

“Ka-kau Laura kan?!” kata sang wanita, seperti tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Iya, itu namaku.” Kata Laura bingung.

Suasana berubah menjadi bahagia dan dramatis.

Ternyata Laura adalah anak kandung dari kedua orang tersebut, dan Gibralt adalah adik kandungnya sendiri. Ibunya bernama Irene Purnama dan ayahnya Denta Septa.

Tahun demi tahun telah Laura lewati. Ia seringkali berziarah ke tempat neneknya dan selalu memberi doa. Laura selalu berkata terima kasih dan memaafkan neneknya atas semua yang telah beliau lakukan. Tujuannya sebagai anak yang biasa dan memiliki keluarga terwujud.

Cerpen Karangan: Jibraltar
Facebook: facebook.com/amin.syam.96

Cerpen Titik Terang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Yang Pergi dan Kembali

Oleh:
“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi

Antara Kita

Oleh:
“kringg…kringg” jam wekerku berbunyi, aku mulai mengangkat tubuhku yang terbaring menjadi duduk. “mimpi apa ya aku semalem?” gumam ku. Seketika suasana mnjadi sepi ktika ku ingat mimpiku malam tadi.

Alexandria

Oleh:
Dentuman keras membangunkanku dari tidur. Saat kubuka mata, kurasakan rumahku bergetar keras. Satu-satunya cermin mendiang ibu juga hancur berantakan. Lamat-lamat terdengar suara gemuruh jerit tangis menjadi satu dalam shimphony

Aku Ingin Melakukan Hobiku, Mama

Oleh:
Aku Dina. Aku feminim dan mempunyai hobi berdandan. Aku selalu menonton video di YouTube tentang makeup. Dan aku juga suka browsing di Google tentang hal-hal yang berbau makeup. Aku

Lantunan Sendu Melodi Biolaku

Oleh:
Mungkin aku memang tak sempurna. Sedari kecil tak ada yang mau menerima kekuranaganku. Tak terkecuali orangtuaku sendiri. Bahkan nama indah yang kupunya bukan pemberian mereka. Namaku Angelica Melodi. Nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *