Titik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Langkah buram sudah kumulai saat aku terlahirkan di dunia, kalian mungkin tidak menyangka bagaimana aku bisa hidup tanpa kedua tangan, wajahku tidak setampan lelaki yang kau temui sepanjang langkah, teman teman mengejekku “Monster” panggilan yang pas untuk orang sepertiku ini.

Hari ini begitu cerah aku duduk di samping ibu di kursi pajang yang terbuat dari kayu, itu saja kayunya sudah mulai lapuk, tak sengaja lidahku berkata, “Bu, bila disuruh memilih di antara aku dan kak rian, siapa yang ibu pilih!”
“Ibu, tidak akan memilih salah satu di antara kalian berdua, menurutku kalian sama saja, meski kamu rio mempunyai kekurang fisik atau buruk rupa tapi kamu tetap anak ibu, anak yang ibu sayangi” ibu mengelus rambutku matanya meneteskan air mata.
“Dengar tu rio, kamu tuh jangan lemah seperti itu, tunjukkan dirimu. meski kita ini hidup dalam kesukaran ditambah ayah yang pergi tidak jelas” sambar kak rian dari dapur, dapur kami berdekatan dengan ruang tamu tidak ada pintu pembatas, jadi terlihat jelas kakakku yang sedang memasak di dapur.

Hari ini ibu kami tidak bisa memasak karena tangannya sakit, saat mengambil kayu di hutan ibu terpeleset ia berusaha berdiri dalam keadaan tangan kiri tak berdaya, memang mencari kayu di hutan adalah perkerjaan sehari harinya untuk menafkahi kedua anaknya.

“Bu, cuman ini yang ada sekarang” kak rian menujukkan sepiring nasi goreng kepada ibu
Ibu memegang tangan kak rian dengan pelan “ini sudah cukup, untuk berdua”
“Ibu tidak makan?” tanyaku
“Makanlah, aku sudah kenyang”
“Makan apa ibu tadi?” aku bertanya lagi.
Ibu tidak menghiraukan pertanyaanku, ia pergi ke rajang yang hanya beralasan tikar untuk membaringkan dirinya, mungkinkah di sana ia menangisi nasib kami berdua hanya saja ia tidak mau melihatkan kepada kami.

“sudahlah dek, kita makan saja. Nanti kita cari kayu ke hutan, lalu kita jual dan kita belikan makan untuk ibu” bisik kak rian di kupingku
“baiklah”
Kakak rian menyuapiku, setelah makan kami pergi ke hutan untuk mencari kayu. Untung saja hutannya tidak terlalu jauh dari rumah, kalau jalan dari rumah ke sini perkiran 167 langkah, kakakku mencari kayu dan memotongnya menjadi kecil kecil menggunakan parang sedangkan aku bertugas mengumpulkan kayu menjadi satu ikat, untuk mengumpulkanya menjadi satu saja aku butuh tenaga yang luar biasa, bagaimana tidak, aku menedang kayu itu menggunakan kaki untuk mencapai tujuanku tadi.

Selesai sudah tugasku, kak rian membawa kayu dan aku membawa rumput untuk makan kambing tetanggaku, disamping mencari kayu bakar kami juga menyambi perkerjaan itu yang gajinya sehari Rp 5000,- lumanya untuk menambah ekonomi ibu.

Akhirnya impian kami terkabulkan membelikan makan untuk ibu, setelah sekian lama kami berjalan menjual kayu bakar, yang hasilnya telah dibelikan seperempat kg beras untuk makan ibu, “Allahamdullilah” ucapan kami setelah medapatkan beras untuk makan ibu dan 5 tahu untuk lauk.

Cerpen Karangan: Ismia Choirumi
Facebook: Ismia Choirumi

Cerpen Titik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sun

Oleh:
Ayus berjalan tergopoh-gopoh menghampiri rumahnya. Keadaannya sungguh mengenaskan. Luka lebam menghiasi sekujur tubuhnya, bahkan setetes darah keluar dari sudut bibir tipisnya. Pakaiannya hampir tak terlihat seperti pakaian mahal bermerk

Kartu Nama

Oleh:
“Hei, pada minggir semua. Jangan main di jalan raya”, hardik seorang pengemudi mobil ke sekumpulan remaja yang sedang bermain di tengah jalan. Begitulah keadaan yang setiap hari terjadi pada

Inikah Keluarga?

Oleh:
Kupandang langit yang lengkap dengan bulan dan bintang. Aku bertanya pada sendiri, “Ikatan mana yang paling berharga? Apakah itu keluarga atau apa?”. Diriku kembali diam, melanjutkan perjalanan pulang. Kubuka

Kisahku

Oleh:
Seingat aku waktu itu umurku 13 tahun. Dimana aku baru saja beranjak dewasa, masa dimana seseorang sedang mencari jati diri mereka yang kebanyakan dihabiskan tuk belajar ataupun hang out

Burung Kertas

Oleh:
Pagi ini kembali kulihat kak Devan tengah membenahi motornya yang sudah usang terkoyak usia, hal itu terlihat dari beberapa bagian motor yang terbuat dari besi yang kini sudah berubah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *