Titip Rindu Buat Ayah


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 24 July 2013

Menjadi siswa kelas X semester 2 di SMA Negeri 2 Ngawi tidaklah mudah, apalagi menjelang UAS seperti ini. Pikiran dan tenaga seakan terkuras habis hanya untuk berkutat dengan tugas, ulangan bahkan penjurusan. UAS dengan 3 mapel per hari selama seminggu, cukup membuat ku khawatir.
“Ayah, aku berangkat dulu ya, doain UAS-nya lancar” ku kecup kening keriputnya seraya tersenyum padanya.
“Ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk mu nak” ucapnya sambil mengusap lembut kepalaku. Tak lupa, aku juga berpamitan dengan ibu, wanita paruh baya yang penuh kasih sayang.

UAS sudah berjalan 4 hari, pikiran ku mulai kacau, ayah jatuh sakit. Ibu segera mengambil inisiatif untuk membawa ayah ke rumah sakit naik becak motor. Aku hanya bisa menunggu di rumah, karena ibu tidak mengizinkan aku ikut. Besok masih UAS, setidaknya aku mencoba untuk belajar, namun sia-sia pikiran ku tertuju kepada ayah. Ku putuskan untuk menunggu kepulangan mereka di depan rumah. Tiba-tiba tukang becak yang tadi mengantar orangtuaku datang menghampiri.
“Dik, tolong bajunya ayah disiapin, bawa air botol mineral, tikar sama kunci, saya disuruh ibu menjemput adik untuk ke rumah sakit, ayah adik ada di UGD” ucap tukang becak.
“Ba.. baik pak” aku gugup. Jantung ku berdetak tak karuan. Aku panik menyiapkan segala yang harus ku bawa ke rumah sakit. Perasaan ku campur aduk, Tuhan. Tak butuh waktu lama, aku segera mengunci pintu dan naik becak.

Aku membuang jauh-jauh pikiran kalut ku, setelah kudapati ayah terbaring lemah dibantu alat pernafasan, ayah menoleh ke arah ku. Aku tak mampu berkata apa-apa, kurasa air mata yang mengalir cukup mewakili perasaan ku. Sedih lega? Entahlah.
“Jangan menangis nak” segera ku hapus air mata yang mengalir di pipiku. Di saat itu pula, dokter dan para perawat segera memindahkan ayah ke kamar pasien. Kulihat ibu juga mengusap air matanya, kami segera menyusul ayah.
Ibu sedang ke apotek untuk menebus resep dokter, kini tinggal aku yang menemani ayah. Suster baru saja memberikan botol kecil untuk tes urine. Aku membantu ayah ke kamar mandi. Ku papah dia, sambil memegang selang infus. Ayah telah selesai, dan menyuruhku untuk mengantarkan botol kecil berisi urine itu ke laboratorium. Ayah masih harus menjalani rontgen untuk mengatahui penyakit apa yang dideritanya. Ayah selalu mengeluhkan sakit perut dan sesak nafas.

Dokter memberitahukan hasil tes laboratorium kepada ku dan ibu, ayah menderita kelainan jantung dan infeksi saluran pencernaan menyeluruh. Ya Allah, bagai disambar petir di siang bolong kami mendengarnya. Ingatan menghampiriku, bahwa ayah tidak pernah makan teratur 3x sehari, dia sering melalaikan sarapan. Setiap pagi dan malam selalu minum kopi pahit buatan ku atau ibu. Oh iya, ayah ku juga seorang perokok aktif, seolah dia tidak bisa hidup tanpa rokok. Tanpa kusadari, gaya hidup ayah yang kurang sehat dan teratur membuatnya harus menderita seperti ini. Air mata lagi-lagi membasahi pipiku.

Sabtu, 8 Juni 2013 ada acara senam bersama menteri BUMN, bapak Dahlan Iskan. Aku meminta izin kepada wali kelasku tidak mengikuti acara wajib itu, karena ayahku masuk rumah sakit sejak hari jum’at kemarin sore.

Sudah 2 malam ayah menginap di rumah sakit ini. Minggu siang ini begitu terik, ibu sedang sholat dhuhur di mushola rumah sakit. Dengan sabar aku menemani ayah di dalam kamar berwarna putih gading ini. Kulihat mata ayah terpejam, namun aku tahu dia sedang menahan kesakitan. Tangan kirinya dialiri 2 botol infus. Hidungnya dipakaikan alat bantu pernafasan. Ku selimuti tubuhnya, lalu kubisikan kalimat.
“Ayah, janji ya, ayah harus sembuh. Ayah harus sehat” ku remas tangan kanannya, air mataku menetes.
“iya” ucapnya dengan suara parau. Ternyata ayah menyadari ucapanku tadi, dia membuka mata, dan tersenyum padaku.

Sore ini aku harus pulang, untuk mengambil beberapa barang. Ibu bahkan menyuruhku untuk tidur di rumah saja. Mengingat UAS ku masih 2 hari lagi. Besok senin masih ada 3 mapel untuk UAS. Ibu juga sudah ditemani bibi ku. Tapi firasat ku tidak tenang, ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Sesuatu yang mengharuskan ku untuk tetap berada di samping ayah. Ku coba untuk mengalihkan firasat aneh ini untuk belajar, akan tetapi aku malah tidak fokus sama sekali. Segera ku ambil air wudu, dan sholat ashar. Aku berdoa untuk kesembuhan ayahku, perasaan sedih ku mendesak keluar. Membentuk aliran sungai kecil yang semakin deras mengalir. Kulipat mukena dan kuambil tasbih. Kulantunkan dzikir dengan air mata yang masih mengalir. HP ku berdering. Ada nama bunda di layar hp ku. Ku usap air mata, lalu ku angkat telfonnya.
“Hallo, assalamu’alaikum ibu”
“Iya, wa’alaikumsalam, nduk ayah kritis, tolong kamu kesini naik becak motor, uangnya ada di meja rias ibu” Aku bisa mendengar, ibu menahan suara tangisannya. Ku tahan gejolak yang menyesakkan dada. Ku hembuskan nafas, dan terus beristighfar.

Kupandangi sosok yang telah menemaniku selama 16 tahun. Kita pernah bercanda di senja seperti ini. Kau menerbangkanku ke langit. Lalu menjatuhkanku di pangkuanmu, “anak ayah hebat” ucapmu.

Dokter sedang berunding dengan ibu, mereka sedang mengupayakan rujuk ke rumah sakit lain. Perawat baru saja selesai mengecek tensi ayah, dan mengganti infus. Bibi yang kini menemani ayah, menyuruhku makan sebungkus nasi pecel. Aku menggeleng pelan, bagaimana mungkin aku makan di saat ayah kritis seperti ini. Bibi menyerah juga untuk memaksa ku makan.

“Hasilnya bagaimana bu?” ku angkat bahu ku, dan menoleh ke belakang.
“Dokter menyarankan utuk merujuk ayah ke rumah sakit lain karena alat-alat di sini kurang lengkap, namun mengingat tensi ayah yang kurang stabil, hal itu sangat beresiko. Mereka takut terjadi sesuatu saat di perjalanaan nanti” ku peluk ibu, bahu ku ikut terguncang oleh tangisannya. Aku tahu ibu, sedang butuh sandaran untuk menghadapi cobaan ini.
“Lalu bagaimana bu?” Tanya ku lemah.
“Kita harus menunggu sampai besok, tunggu sampai keadaannya membaik dan tensi ayah stabil”
“Jika memang begitu, kita hanya bisa menunggu sambil berdoa yang terbaik buat ayah, bu. Oh iya, ibu harus makan, ibu butuh energi” ku serahkan bungkusan nasi pecel, tapi dia hanya menggeleng pelan. Dengan sabar, bibi membujuk ibu untuk makan. Aku izin kepada mereka untuk keluar sebentar. Ku rasa aku butuh udara segar, menenangkan hati dan pikiran.

Langkah ku terhenti di depan mushola yang sudah sepi. Ku ambil air wudu. Airnya yang dingin, begitu menyejukkan. Aku merasa sedikit tenang. Ku langkahkan kaki memasuki mushola bercat hijau muda. Ada tumpukan Al-Qur’an di atas rak kayu bersama mukena dan sajadah. Ku ambil salah satu mukena untuk menunaikan shalat tahajud. Setelah selesai, kurogoh saku celana ku. Mulailah aku berdzikir dengan tasbih pemberian ayah. Lagi-lagi air mata ku deras mengucur. Ku tarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ku raih salah satu Al-Qur’an, lalu kulantunkan huruf-huruf arab itu dengan derai air mata. Aku berdoa untuk kesembuhan ayah, agar dia bisa melewati masa kritis, agar kami bisa bersama-sama lagi. Seolah malam ikut merasakan kesenduan dalam setiap doa-doa yang kulantunkan. Angin tak terdengar hembusannya, hanya jangkrik dan katak yang saling bersahutan. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 00.15 dini hari. Kuputuskan untuk kembali.

Sebelum masuk, aku sempat berpapasan dengan perawat yang selalu mengecek tensi ayah. Kini bibi yang terjaga, ibu sudah terlelap. Kurasa dia sudah terlalu lelah. Ku ambil selimut berwarna merah delima dari dalam tasku, dan kuselimutkan padanya. Bibi segera berdiri dari kursi di samping kasur. Dia menyuruhku untuk duduk di sana, sedangkan bibi duduk di bawah bersama ibu.
“Ayah, harus sembuh ya, ayah kan sudah janji. Biasanya kalau ayah pulang kerja ayah selalu bawain makanan buat aku, ya biarpun itu permen. Makanya ayah cepet sembuh ya, nanti kita beli permen yang banyak” dari nada suara ku aku mencoba untuk ceria, padahal air mata menetes dari kedua mataku. Melihat ayah yang mulai menggigil lagi, aku segera mengganti kompres di dahinya. Tubuhnya demam, ku genggam tangan ayah, lalu kubisikan sesuatu di telinganya.

“Aku mencintaimu ayah”

Sejak tadi malam, aku dan bibi tidak tidur. Aku terbiasa insomnia, dan sering begadang bersama ayah. Sekarang mata ku bengkak karena sering menangis, cekungan hitam di bawah mata ku sudah mirip mata panda. Bibir pucat karena kurang makan juga memperburuk wajahku. Setelah shalat subuh, aku merasa segar kembali.

Harapan agar keadaan ayah membaik dan bisa segera di rujuk ke rumah sakit lain hanya tinggal harapan. Keadaan ayah justru memburuk, dengan segala resiko yang sudah ibu rundingkan bersama dokter, ayah akan langsung dirujuk.

Jam sudah menunjukan pukul 12 siang, aku sibuk memfotocopy surat-surat dokter yang harus dibawa. Tante menyuruhku menemaninya makan siang di warung depan rumah sakit. Dia punya penyakit mag, jadi tidak boleh telat makan. Aku tidak bisa menolak, lalu memesan es teh. Saat tante akan membayar, gelas yang ku pegang jatuh. Perasaan ku tidak enak.

Ambulance yang akan mengantar ayahku tidak kunjung datang. Menurut dokter, 2 ambulance sedang mengantar pasien ke rumah sakit lain juga. Kami hanya bisa pasrah menunggu kedatangan ambulance. Kami bahkan sudah mengemasi barang-barang sejak tadi. Om ku sejak tadi menuntun ayah untuk mengucapkan La illah ha’ilallah dengan sabar.
Tiba-tiba ayah ku mengerang, dia menggigil lagi. Seolah-olah dia ingin mengucapkan kata, yang tercekat di tenggorokannya. Dengan penuh susah payah ayah mengucapkan sesuatu.
“la.. ill.. la.. ha’.. i.. la..llah” seiring selesainya kalimat itu, ayah menghembuskan nafas terakhirnya, jantungnya pun berhenti berdetak tepat di Hari Senin, 10 Juni 2013 pukul 15.00 WIB.
“innalillahi wa inna ilaihi roji’un” ucap om ku dengan takzim lalu memanggil dokter dan perawat.
Tangis ku pecah, lolongan panjang menyayat hati. Aku berangkulan dengan ibu dan menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak histeris memanggil nama ayah menghebohkan seluruh rumah sakit. Lutut ku seolah tidak mampu menahan tubuhku. Kurasakan tubuhku melemas dan semua menjadi gelap.

Saat aku bangun, aku sudah ada di dalam mobil om ku. Aku sempoyongan memasuki rumah yang sudah penuh dengan orang-orang. Keadaan ku kacau balau. Mereka iba dengan keadaan ku, salah satu dari mereka memberi ku sebotol air. Ada yang memeluk ku sambil memeberi kata-kata penyemangat.
“Ayah mengajarkan aku agar tidak menangis menghadapi dunia. Tapi satu hal yang tidak diajarkannya, bagaimana cara menahan rindu untuknya?” Tanya ku menuntut.
“biarkan waktu yang menjawab nak, cobalah untuk bersabar, karena sekarang kamu hanya berdua dengan ibumu. Kalian harus saling menguatkan” ucap tante dan membelai kepala ku. Ku hapus air mata, lalu ku ambil hp, mengirimkan berita duka kepada wali kelas, ketua kelas, ketua umum mayapada (pecinta alam) dan ketua umum tifA (jurnalistik).

Jenazah ayah ku tiba di rumah duka pukul 15.35 WIB. Berbarengan dengan datangnya wali kelasku SMP Negeri 1 Ngawi, SMA Negeri 2 Ngawi dan teman-temanku dari ekskul jurnalistik tifA. Ibu sedang memandikan jenazah ayah, dan aku dilarang untuk ikut memandikan ayah. Di ruang tamu aku melihat jenazah ayah yang terbujur kaku mulai dipakaikan kain kafan.

Sehabis magrib jenazah ayah siap untuk di shalatkan dan pukul 18.35 WIB akan dikebumikan. Teman-teman dari ekskul mayapada (pecinta alam) tiba, bersamaan dengan teman-teman SD dan SMP ku. Rumahku sudah penuh sesak, apalagi setelah pemberangkatan jenazah ayah ke pemakaman. Lagi-lagi aku tidak diizinkan ikut.

Aku terlalu lelah menghadapi hari yang panjang ini. Sehabis isya, ku putuskan untuk tidur. Mungkin karena aku tidak tidur semalam suntuk aku langsung terlelap.

Hari Rabu aku baru masuk lagi ke sekolah. Aku harus ikut UAS susulan, masih ada 6 mapel. Sejak hari jum’at aku tidak pernah memegang buku, untuk ulangan susulan ini aku hanya bergantung pada ingatan ku. Bahkan aku tidak fokus untuk mengerjakannya.

Aku tidak bisa menyempatkan membantu tifA lomba mading sekolah, atau membantu MFCC #2 (Mayapada Fun Climbing Competition #2). Aku sudah disibukkan dengan urusan 7 hari wafatnya ayah.

Aku merenung di samping makam ayah. Mengingat bahwa sekarang yang mengambil raport ku adalah ibu, bukan ayah lagi. Mengingat bahwa bulan ramadhan ini adalah ramadhan pertama tanpa ayah. Mengingat bahwa aku dan ibu hanya tinggal berdua tanpa ayah.

“Ragamu bisa pergi. Tapi kenangan bersamamu telah membatu di hati. Bagaimana aku bisa lupa, jika kau adalah bagian nyawaku?” Kutaburkan bunga mawar di atas makamnya, kukirimkan selalu doa untuk ayah.
Sebenarnya, tak ada ayah dan anak yang pernah ingin meninggalkan atau ditinggalkan. Tapi Tuhan selalu punya cara sendiri. Dan yakin, itu baik.

Cerpen Karangan: Acci
Facebook: https://www.facebook.com/yumi.miharu1
twitter: @dek_acci

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Kisah Nyata Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Titip Rindu Buat Ayah”

  1. kusnita sari says:

    SeDiH bNgEt…
    BkIn NaNgIsZs…
    Eeee

Leave a Reply