Toko Roti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

Pada suatu hari ada seorang anak yang mempunyai sebuah roti, anak itu sangat suka sama roti itu. Bahkan dia memakannya dengan perlahan karena tidak ingin roti itu cepat habis. Anak itu mendapat roti dari ayahnya yang seorang penjual roti, namun untuk mendapatkan roti itu anak itu harus berjalan beberapa ratus meter untuk bertemu dengan ayahnya dan meminta roti. Anak itu setiap hari berjalan kaki dari rumahnya ke toko roti ayahnya dengan senang hati, meski tak jarang ayahnya membawakan anaknya roti. Semakin hari semakin sayanglah anak kepada ayahnya yang selalu menyediakan roti, begitu juga sebaliknya sang ayah juga bertambah-tambah sayang dan bahagia karena di tengah jam sibuknya berjualan roti ayah itu sempat bertemu dengan anaknya. Namun ayah itu selalu berpesan kepada anaknya, jika pulang jangan sampai terjatuh dan roti yang dibawa menjadi kotor.

Hingga pada suatu ketika saat anak itu berjalan pulang dari toko ayahnya anak itu tersandung batu dan jatuhlah dia beserta roti, anak itu sakit namun masih melihat roti itu dan segera mengambilnya, namun roti itu menjadi kotor dan penuh dengan tanah. Anak itu melanjutkan perjalanan sembari menahan sakit dan mencoba membersihkan roti itu. Sesampainya di rumah, anak itu segera menelepon ayahnya dan memberitahu apa yang terjadi. Ayah segera pulang dan melihat kondisi anaknya yang sedikit luka dan juga roti yang sudah kotor itu.

Ayah segera mengeluarkan kotak p3k dan segera merawat anaknya. Namun tetap menasihati anaknya agar berhati-hati. Ayah sekali lagi melihat roti kotor yang tergeletak di meja, lalu dia mengambilnya dan membuangnya. Namun anak yang kakinya sakit itu segera berdiri dan dengan tertatih dia menuju roti yang dibuang ayahnya. Dengan marah anak itu mengatakan bahwa ayahnya jahat, namun ayahnya memeluknya dan mengatakan bahwa besok di tokonya ada banyak roti yang bisa dipilih dan dimakan, hanya perlu berjalan lagi ke toko. Anak itu terdiam namun tetap marah, ditinggalkan ayahnya sendirian di ruang dapur dan merenung di kamarnya.

Pagi datang anak itu bangun dan mencoba berdiri, tapi kakinya masih sakit bahkan agak sedikit lebih sakit karena perasaannya hari itu masih marah dengan ayahnya. Namun anak itu ingat janji ayahnya jika di toko ayahnya terdapat banyak roti dan karena roti adalah kesukaannya maka anak itu segera mencoba bangkit lalu mengambil telepon dan segera menelepon ayahnya dan meminta maaf. Sang ayah mengatakan pada anaknya bahwa dia sudah memaafkan dan menyuruh anak itu kembali lagi ke toko rotinya dan mengambil lagi roti yang anak itu sukai. Anak itu menjadi senang dan segera melangkah ke toko ayahnya, namun kali ini dia harus berjalan dengan menahan sakit.

Jarak perjalanannya sama, cuma hambatan yang dialami lebih berat. Namun karena janji ayahnya akan roti yang baru dan juga rasa bersalahnya kepada ayahnya maka anak itu tetap melanjutkan langkahnya. Meski harus berkali-kali berhenti karena sakitnya, namun anak itu tetap melanjutkan langkahnya. Waktu terus berputar dan kini anak itu telah berada di toko ayahnya ketika malam datang.

Ayah segera menyuruh anak itu memilih roti, sesudah memilih roti anak itu berkata kepada ayahnya jika dia tidak bisa berjalan pulang karena kakinya masih saki. Lalu sang ayah segera menggendongnya dan mereka bersama-sama pulang. Sesampainya di rumah, ayah itu segera mengobati kaki anaknya dan merawat anak itu hingga sembuh. Dan mengatakan kepada anaknya bahwa dia bisa mengambil roti lagi di tokonya, namun tetap berpesan agar jangan jatuh. Sesudah itu ayah memeluk anaknya dengan erat, dan anak itu membalas pelukan ayahnya.

Cerpen Karangan: Ariel Kristant
Facebook: Ariel Kristant

Cerpen Toko Roti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Cahaya Harapan Si Gadis Buta (Part 2)

Oleh:
Beberapa hari berikutnya… “Zah… Zizah…”, panggil Kak Raka. “Ada apa Kak…”, tanyaku. “Kamu akan segera bisa melihat Zah…”, ucap Kakakku seraya menggoyangkan tubuhku. “Benarkah Kak…?”, ucapku sangat senang. “Benar

Penantian Pak Tua

Oleh:
Hujan deras di malan hari. Deru ombak memecahkan kesunyian. Tiupan angin semakin menjadi-jadi. Suatu kondisi seakan-akan ingin merobohkan sebuah rumah tua yang berdiri di pinggir pantai, namun itu tak

Rumah Tak Bertuan

Oleh:
Ada yang berbeda kali ini Pak solihun membawa serta anaknya. Menyisir jalan kampung yang sangat sunyi. Ini masih subuh, matahari pasti belum bangun. Jalan remang-remang itu masih menyisakan suara

Krayon Merah untuk Tessa

Oleh:
Diam, memeluk kedua lutut dan mendongakkan kepalanya ke atas langit menerawang menatap mega merah yang menghiasi langit sore. Tessa, gadis kecil dan manis berumur 8 tahun dengan rambut ikal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *