Tombak Dalam Surat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

Terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan ditambah dengan tingkat pendidikan tinggi tidak membuatku merasa bangga. Sifat kedua orangtuaku yang sangat amat berbeda membuatku sukar untuk berbagi cerita. Sosok Ibu yang memiliki sifat penyayang dan penyabar adakalanya tertutup oleh pribadi Ayah yang sangat kaku bahkan tak jarang berlaku kasar terhadap Ibuku. Kali pertama aku merasakan sakitnya hati ketika Ibu diperlakukan bak wanita jal*ng oleh Ayah kandungku. Entah permasalahan apa yang membuat Ayahku murka hingga tega mencaci-maki dan menendang Ibuku. Air mata tak lagi bisa terbendung. Di usiaku yang ke 6 tahun, aku tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi Ibuku.

Masa kecilku tidak seceria layaknya usia sebaya. Aku menderita Leukimia. Hari-hariku dipenuhi dengan ketakutan akan kematian. Rumah sakit seperti rumah kedua untukku. Jarum suntik serta obat-obatan keras dengan dosis tinggi seolah akrab dengan tubuhku. Beberapa terapi yang menyakitkan secara rutin kujalani.
Sempat aku merasa berada di tempat yang jauh nan indah. Banyak pepohonan rindang dengan bunga bermekaran seiring irama kicauan burung. Benar-benar merasa sangat tenang. Sebuah pintu berdiri kokoh dibalik rindangnya pepohonan. Dengan rasa penasaran, kubuka perlahan daun pintu dan seperti ada seseorang yang menarikku masuk ke dalam pintu misterius itu. Memasuki lorong yang sangat gelap hingga ku merasa seperti terbang. Begitu ku membuka mata, aku melihat Ibu dan Ayah sedang menangis di sampingku. Beberapa dokter dengan cekatan mengecek kondisiku dan membiarkanku terdiam beberapa saat. Alat-alat medis yang penuhi tubuhku dicabut satu per satu. Aku berhasil melewati masa kritisku.

Air mata lantas menetes ketika kudapati Ayah memeluk Ibu dengan erat di depanku. Semenjak kejadian itulah perubahan sifat dan sikap Ayahku berangsur membaik. Tidak lagi menggunakan nada tinggi ketika berbicara dan juga memilih untuk diam ketimbang harus memukuli Ibuku saat tersulut amarah. Sosok Ayah seperti itulah yang sebenarnya aku idamkan selama ini. Hikmah besar yang kurasakan selepas masa kritisku. Aku berharap agar Ayah tetap seperti ini sampai kapanpun.

Terhitung seminggu menuju hariku. Ini adalah kali pertama aku merayakan hari ulang tahun. Kado terindah dari kedua orangtuaku bukanlah sebuah barang mewah atau bahkan lebih dari itu. Sosok laki-laki dengan usia yang tak beda jauh denganku dijadikannya kado untukku. Mengetahui kelemahanku yang tak pandai bergaul, bagiku inilah kado terbaik yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Hari-hariku tak lagi terasa monoton. Dengan kompak, aku melakukan beberapa hal yang memang dibutuhkannya kerja tim. Candaan selalu ada dan keceriaanku mulai tumbuh semenjak adanya Irga dalam hidupku. Namun satu kejanggalan yang kurasakan. Terlihat jelas perbedan perlakuan antara aku dengan Irga oleh Ayah. Tiada lagi kesetaraan pengasuhan, yang ada justru kesenjangan. Ditambah perlakuan kasar terhadap Ibuku kembali nampak dari diri Ayah. Saat itu menjadi saat yang paling mengejutkan untukku. Sempat tak percaya tapi ini nyata. Melihat Ibuku berlumuran darah yang tergeletak di lantai bersama 2 orang pria yang berdiri di samping jasad Ibu yang tak lain adalah Ayah dengan memegang balok kayu dan pisau yang berada digenggaman Irga anak yang diadopsi oleh Ibuku. Entah apa yang sebelumnya terjadi aku tak tahu.

Masih sering terbayang wajah Ibuku meski beberapa tahun silam sudah pergi meninggalkanku. Hubunganku antara Ayah dan Irga masih sama seolah tiada masalah. Aku mencoba menerima semua yang telah lalu meski memang sangat berat kurasa. Usia remaja menuju pada kedewasaan diri membuatku lebih tenang menghadapi segala sesuatu. Terlebih masalah asmara. Terlihat dari binar matanya, senyum wajahnya dan sifat hangatnya mengingatkanku pada sosok yang sangat aku cintai. Ketika bersamanya aku merasa seperti sedang berada di masa lalu saat bersama Ibu. Brina, sosok wanita yang berhasil membuatku nyaman. Pribadi yang santun dengan pengetahuan luas dan latar belakang sederhana telah membuatku jatuh hati.

Untuk masalah yang kuanggap pribadi, aku memilih untuk bungkam dari siapapun itu termasuk Ayah dan saudara tiriku. Mereka juga tidak pernah menanyakan hal itu padaku. Memang aku terlihat sangat berbeda dengan Irga. Mungkin aku terlihat lebih sederhana dibanding dengan Irga meskipun kami tinggal dan hidup bersama dalam waktu yang lama. Begitupula soal asmara. Menurutku, Irga adalah seorang pria yang terlalu mudah untuk mengambil keputusan. Hingga menimbulkan banyak masalah terutama dengan para wanita yang telah diselingkuhinya. Rajutan kisah kasih antara Irga dengan sekian banya wanita tak sampai bertahan lama.

Seperti kebanyakan pasangan kekasih, aku menghabiskan masa-masa dimana seorang pria mengajak kekasihnya jalan-jalan menikmati suasana kota atau menonton film kesukaan mereka dengan obrolan ringan seiring langkah bersama. Aku sangat menikmati tiap detik bersama Brina. Sedikit gurauan berhiaskan gelak tawa menjadikan hari-hari lebih berwarna. Tak lama lagi, usiaku hampir ideal untuk menikah. Setelah banyak pertimbangan, aku yakin Brina pantas menjadi pendamping di hidupku. Namun masih kusimpan dalam hati. Menunggu saat yang tepat untuk melancarkan semua keinginanku. Sorotan mata Brina dari kejauhan begitu terpancar indah. Segera kubuyarkan lamunan akan masa depan.

Dengan sedikit kecanggunggan, aku menyampaikan kepada Ayah mengenai apa yang menjadi keinginanku untuk menjalin ikatan lebih serius bersama Brina. Pembicaraan formal yang bersifat sakral membuatku semakin penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Ayah untukku. Dirasa hati berkecamuk penuh teka-teki. Ucapan singkat penuh makna membuat gundahku sirnah seketika. Restu yang kudamba akhirnya kudapat juga. Rangkaian kata kutulis malam itu. Ketika hati bahagia dan mata tak mau menutup. Hatiku berdebar kencang saat berusaha menerka tentang jawaban Brina yang akan diberikannya padaku di hari esok.

Seperti biasa. Aku menghabiskan hariku bersama Brina. Percakapan mulai terasa serius ketika ku menyinggung masalah usia. Dari tatapan matanya seolah Brina mengetahui apa makna dari perkataanku. Semua itu benar adanya. Belum ku mengatakan isi hati, Brina terlebih dulu mengiyakan apapun yang aku inginkan. Sontak bak patung yang baru saja dipahat. Aku terpaku dan lidahku kelu. Tak sabar rasanya menunggu minggu depan untuk bertemu keluarga Brina, wanita yang sangat aku cintai. “Ibu, andai Ibu ada di sisiku saat ini alangkah lebih bahagianya aku Bu”. Umpatku dalam hati

Senyuman lebar dari sepasang suami istri menyambut kedatanganku bersama dengan Ayah dan Irga. Prosesi pertemuan antar 2 keluarga menjadikannya ikatan sementara sebelum menikah. Cincin sebagai simbol ikatan pertunangan antara aku dengan Brina. Pandangan Brina tak terlepas olehku. Hal itulah yang membuatku sedikit menjadi salah tingkah. Detak jantungku tak lagi berirama. Kebahagiaan yang luar biasa hingga berhasil mengubahku dari pria berhati tenang menjadi pria dengan kondisi hati tak karuan.

Keberangkatanku menuju Negeri Tirai Bambu membuat diriku sedih serta gembira. Di satu sisi, aku gembira karena berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan bersama dengan Irga. Namun di sisi lain, perasaan sedih terbesit ketika harus meninggalkan orang yang aku cintai yaitu Ayah dan Brina. Segera kutepis kesedihanku agar pikiran fokus untuk pendidikan yang akan menunjang jenjang karir di masa depan. Sebelum kepergianku, bersama Brina telah kupersiapkan semuanya. Mulai dari gedung sampai undangan. Setibanya ku di Indonesia aku akan menikah dengan wanita pujaan hatiku.

Tak seperti biasanya, Irga tidak ada di kamarnya pagi ini. Ah, mungkin memang ada tes untuk pekerjaan karena memang kemarin sempat cerita kalau saja ia mencari kerja dan menunggu untuk melakukan beberapa tes. Pekerjaan rumah yang biasanya kukerjakan bersama dengan Irga kini harus aku kerjakan sendiri. Saat membersihkan kamar tidur Irga, tak sengaja ku melihat kondisi laci yang terbuka. Kebiasaan lama Irga yang sangat ceroboh. Disela lembaran buku terdapat sesuatu yang membuatku penasaran. Sebuah amplop putih bermotifkan hati berwarna hitam. Dalam amplop itu kudapati undangan pernikahanku dengan Brina yang sebagian terbakar tepat pada namaku. Sempat timbul tanya mengenai maksud dari semua ini. Terasa sakit bak tombak yang tertusuk ke dadaku setelah kuketahui isi surat itu. Segera ku bergegas untuk kembali sebelum semuanya terlambat.

“Tak cukupkah aku menderita karena kehilangan seorang wanita yang sangat kucintai? Lalu mengapa semua ini kembali terjadi?!” Teriakku dalam diam. Ingat disaat itu, ketika kupasangkan cincin sebagai pengikat hati. Saat melihat senyuman bahagia yang terlontar dari bibirmu membuatku ingin menggantikan sosok Irga saudara tiriku yang kini menjabat tangan penghulu dan tengah mengucap sumpah mati di depan para wali juga saksi. “Begitu mudahnya kau mengambil semua orang yang aku cintai. Tak cukupkah dengan membunuh Ibuku? Senangkah hari ini?”. Entah apa yang akan ia perbuat untuk menghancurkan hidupku.

Tingggal 1 atap bersama dengan wanita yang masih berstatus tunangan namun tak mungkin kumiliki ditambah dengan seorang pria perenggut kebahagiaan yang tak lain adalah adikku. Kemesraan diumbar begitu saja seolah ku telah tiada. Cukup! Aku tak kuasa lagi menahan semua ini. Sampai kapan aku menjadi tawanan. Aku seorang manusia tapi tak pernah dimanusiakan. Perlakuan seperti anjing rumahan yang selalu patuh akan perintah majikan. Amarah menguasai diriku. Ingatan lama kembali muncul seolah menjadi jiwa baru yang tumbuh. Balok kayu dan pisau menjadi saksi kemurkaanku terhadapmu. “Bagaimana? Apa sekarang kau bisa merasakan apa yang aku rasakan? Orang yang kau cintai seorang Ayah dan Istrimu hasil dari merebut tunanganku kini tiada lagi di sisimu!” Dengan ini rasa dendamku untukmu terbayar sudah.

Status terdakwa sebagai pembunuh melekat dalam diriku. Di balik jeruji besi, disinilah tempatku. Aku merasa lebih nyaman hidup di tempat ini ketimbang harus tinggal di rumah mewah yang penuh dengan kemunafikan. “Ibu, maafkan aku yang tak becus menjalankan amanahmu untuk selalu berbuat baik kepada siapapun yang menyakitiku”. Pada dasarnya aku merasa sedih juga sakit akan kenyataan yang sungguh pahit. Demi membalaskan dendam yang ada, nyawa Ayah dan Brina menjadi kosekuensinya. Tangan yang awalnya tiada dosa kini sudah berlumur darah oleh amarah. Aku tak menyebut ini kesalahan tapi sebuah balasan. Dan biarkan aku tenang menunggu kematian yang menyakitkan.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Tombak Dalam Surat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penggemar

Oleh:
Sebuah rasa. Mencintai itu tak seperti teori, mencintai jauh dari rumus ataupun hafalan. Namun selalu ada ujian yang menghampiri. Aku mencintainya, mencintai orang yang selalu ada di sampingku, sahabatku.

17 Lembar

Oleh:
Mega merah mulai menampakkan warnanya. Semua orang mulai berlindung ke gubuknya untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Panji, seorang pujangga berkepala batu ini.

Gadis Mawar Putih

Oleh:
Kuncup mawar mulai bermekaran di musim semi seperti sekarang ini. Tak hanya mawar, penyejuk hati lainnya seperti melati, sedap malam dan sakura-sakura desa pun ikut andil dalam menyemarakkan musim

Andai Kau Tahu

Oleh:
“bukannya gue udah bilang, lo itu nggak usah berhubungan dengan gue lagi. Gue muak harus bersahabatan selama belasan tahun dengan orang munafik kaya elo. Sialnya lagi, elo pura-pura manis

Flower On Piano

Oleh:
Namaku Kezia. Panggil saja Zaza. Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga broken home. Aku tidak tahu ayah dan ibuku berada di mana. Yang jelas aku tidak mendapatkan kasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *