Tompel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

“Dua puluh lima tahun lalu? Tidakkah Bapak ingat?” katanya kepadaku.
Ah, usia mengikis memoriku. Aku bahkan sudah lupa kapan aku lahir. Hal terakhir yang aku ingat adalah hari wafatnya istriku. “Oh, jadi Ibu sudah tiada,” pemuda itu tampak sedih.

Siapa lelaki ini? Ada petir apa yang membawanya tiba-tiba ke sini? Pemuda rapi berdasi itu datang menggunakan sedan mewah. Dia tidak kelihatan jijik duduk di dalam gubukku. Gubuk yang juga menjadi gudang hasil temuanku, harta karun dari perburuanku sehari-hari. Ya, aku Wadi si pemulung abadi. Aku sudah memulung sejak masa presiden Soeharto hingga masa presiden sekarang yang aku tidak peduli lagi siapa. Aku tiada memiliki keturunan, dan istriku, Imah berpulang kepada-Nya dua tahun yang lalu. Gubuk ini sudah menjadi teman, pelindung sekaligus saksi segala kehidupanku sejak aku bujangan, beristri, dan menduda hingga kini. Ribuan tambalan dari kain, kayu, plastik, kaleng, dan sebagainya mempercantik dinding dan atap gubuk ini.

Walaupun rapuh fisiknya, gubuk ini tak pernah rubuh. Entah keajaiban apa yang menjaganya. “Kalau foto ini Bapak ingat?” pemuda itu menunjukkan foto seorang bayi yang sudah lama tidak aku lihat. Seperti baru berganti pelumas baru, mesin dalam otakku mulai berputar kembali. Baju bayi itu memberikan rangsangan memoriku. Sebersit ingatan muncul begitu saja atas apa yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.

Ya saat itu, aku sudah bersama istriku selama sepuluh tahun. Tak berbeda denganku, istriku juga adalah seorang pemulung. Penantian kami akan seorang anak hampir pupus. Kami tidak punya biaya untuk memeriksakan ke dokter jikalau ada keganjilan di salah satu raga kami. Dalam hati, kami berbesar hati, karena Tuhan mungkin tidak mengizinkan kami memelihara hamba-Nya dalam kemiskinan yang kami jalani. Sehari-hari berdua, makan pun hanya dua hari sekali, dan tidak jarang sehari sekali. Tidak terbayang jikalau kami nanti memiliki anak.

Pada suatu minggu, sesaat setelah salat subuh dan menyeruput segelas air hangat, kami berdua berangkat “kerja”. Kami tidak mempunyai hari libur. Pemulung yang berlibur harus siap membuat dirinya berpuasa sehari penuh. Aku dan istriku tidak pernah memulung bersama. Aku memulung ke barat dan selatan, istriku ke utara dan timur karena itu akan memperbesar peluang kami mendapatkan harta karun tak terduga. Kami senang menyebut pekerjaan kami sebagai perburuan harta karun. Selain terdengar lebih menyenangkan dan seru, itu bisa sedikit meringankan beban kami secara psikologis.

Setiap hari aku selalu melewati sebuah panti asuhan. Aku senang melihat kepolosan anak-anak panti yang bermain tanah, saling kejar-kejaran, dan belajar bersama di dalam kelas. Niat hati ingin mengadopsi salah satu dari mereka, namun aku sadar akan keterbatasanku. Pemilik panti tentu tidak akan membiarkan anak asuhnya hanya mendapat kasih sayang orangtua tanpa kecukupan materi. Untuk mengobati rasa ingin ku memiliki anak, aku dan istriku hampir setiap minggu akan bertemu dengan pemilik panti membawa buku-buku hasil pulungan. Sejenak kami lalu bercengkerama bersama anak-anak panti membacakan buku-buku “baru” mereka.

Selain buku, yang sering kami temukan dan bawa adalah botol, beling, kaleng, dan kardus. Tidak sekali dua kali aku atau istriku juga menemukan benda-benda aneh setiap kami memulung. Hp rusak, sebungkus ayam goreng restoran Amerika yang utuh, kompor, panci, sekardus pakaian bekas sudah pernah aku bawa pulung. Akan tetapi, pada hari minggu itu, aku menemukan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan.

Dari sebuah bak sampah, di jalan antara dua buah perumahan yang sering aku singgahi, aku mendengar suara tangis bayi. Suara tangis bayi ini sangat menggetirkan. Tidak ada orang dewasa yang mengerti bahasa bayi, termasuk diriku, tetapi aku sangat yakin bayi ini seperti berteriak minta tolong. Aku lalu membongkar sampah-sampah di bak sampah tersebut dengan tangan telanjang. Aku sengaja tidak menggunakan kait yang biasa aku gunakan, karena aku takut melukai bayi itu. Tidak berapa lama, aku bisa mencapai dasar bak sampah itu dan menemukan bayi tersebut di dalam sebuah kardus.

Pergi sendiri, pulang berdua. Istriku menggaruk-garuk kepalanya. Bingung melihat diriku bersama bayi itu. Bayi itu masih terus menangis tak henti di gendonganku. “Sebuah jawaban dari Tuhan,” kata istriku dengan senyuman. Istriku lalu meminta bayi itu dariku agar digendongnya. Saat dia menimangnya, air mata pun mulai membasahi pipinya dan jatuh ke wajah bayi itu. Ajaibnya, bayi itu lalu berhenti menangis setelah ditimang istriku.

Sambil menimang, istriku berkata, “Cup, cup, Iwa, jangan nangis lagi ya. Iwa kan anak Ibu yang baik..” Iwa, dari kata Imah dan Wadi, nama yang spontan diberikan istriku kepada bayi itu. Istriku lalu menelanjangi Iwa, dan memandikannya dengan air hangat. Saat memandikan itu, istriku menemukan sebuah tompel besar di betis kirinya. Tanda lahir Iwa yang akan membedakannya dari siapa pun.

Selanjutnya, istriku memutuskan untuk tidak memulung untuk sementara waktu, karena dia harus mengasuh Iwa. Aku pun menjadi satu-satunya pemberi nafkah untuk kami bertiga. Sayangnya, seperti yang sudah diduga, kebutuhan Iwa selangit. Karena ketiadaan ASI, kami harus membeli susu formula yang mahal. Kami juga membelikan Iwa pakaian, selimut, peralatan mandi dan lainnya. Di bulan pertama merawat Iwa, tabungan kami setahun habis untuk menambal kekurangan finansial. Setelah enam bulan merawat Iwa, seluruh tabungan kami seumur hidup habis. Setahun kemudian sejak Iwa bersama kami, kami sudah berhutang lebih banyak daripada simpanan yang sudah kami habiskan.

Akhirnya aku putuskan untuk berbicara kepada istriku agar Iwa dititipkan ke panti asuhan. Istriku marah besar saat mendengar permintaanku. Dia mencaciku berkata aku berhati binatang, berpikiran busuk dan tidak bertanggungjawab. Kemarahan itu tidak mereda sampai datang hari dimana, tidak ada lagi orang yang bisa kami hutangi, dan tidak ada lagi makanan yang mampu kami beli. Pada saat itulah, Iwa kembali menangis. Suara tangisan Iwa persis seperti suara di hari pertama aku menemukannya. Suara tangis bayi meminta tolong.

Dengan berat hati, Iwa pun kami titipkan di panti asuhan di mana kami biasa memberikan buku. Istriku menangis sejadinya saat harus melepaskan Iwa untuk terakhir kalinya dari gendongannya. Untuk terakhir kalinya juga, kami berdua meraba tompel pada betis kiri Iwa. Tompel yang akan mengingatkan kami selalu kepadanya. Setelah meninggalkan Iwa di sana, istriku memutuskan untuk tidak pernah menengoknya di panti asuhan itu. Dia pun memintaku untuk tidak melakukannya.

Enam bulan kemudian, kami mendapat kabar bahwa Iwa sudah diadopsi oleh sebuah keluarga, dan itu awalnya cukup memukul batin istriku, karena dia tidak sempat memeluk “anaknya” sebelum dibawa pergi lebih jauh lagi. Namun hari terus berganti hari lain dan akhirnya istriku pun bisa kembali ceria. Kami pun mulai menata hidup kami kembali dengan membayar hutang-hutang yang sudah menumpuk.

Hingga tiga tahun yang lalu, istriku mulai sakit keras. Di saat sakit itu, dia sudah tidak bisa berdiri lagi apalagi berjalan. Dia hanya berbaring tak berdaya. Aku yang tak berkemampuan hanya bisa menyuapinya obat generik dan makanan seadanya. Di hari-hari akhir sebelum kepergiannya, istriku memintaku untuk mencari Iwa. Sudah belasan tahun kami tidak membicarakan tentang “anak” kami yang hilang. Tiba-tiba saja dia meminta hal itu, amat bisa aku maklumi.

Aku pun mulai mencari Iwa dimulai dari bertanya alamat keluarga yang mengadopsi Iwa ke panti asuhan. Dengan keras betuliskan alamat, uang sedikit, serta kenekatan, aku lalu berangkat ke kota untuk mencari Iwa. Aku titipkan istriku kepada tetangga yang mau merawatnya selama aku pergi. Namun saat sampai di kota, aku hanya mendapat kekecewaan, ternyata keluarga Iwa sudah pindah ke luar pulau. Aku lalu kembali berhutang untuk pergi ke luar pulau mencari Iwa.

Pencarianku tidak berakhir saat menemukan rumah baru keluarga Iwa, karena Iwa ternyata sedang sekolah di luar negeri. Aku lantas hanya mendapat cerita dari sang pengadopsi tentang apa saja yang sudah Iwa lalui bersama keluarga itu selama dua puluh tahun ini. Dari keterangan mereka, aku menyimpulkan bahwa Iwa diadopsi oleh keluarga mapan yang bertanggungjawab. Aku bangga membuat keputusan yang tepat dua puluh tahun lalu. Aku lalu memutuskan untuk pulang dan menceritakan hal tersebut kepada istriku. Istriku tampak senang mendengar Iwa bisa hidup dengan bahagia walau keinginannya untuk bertemu Iwa tidak kesampaian, karena beberapa hari setelah itu, istriku meninggal.

Pemuda itu lalu menarik celana panjangnya yang bagian kiri hingga terlihat betisnya. Di saat itulah, aku melihat tompel. Tompel yang sangat besar yang hanya pernah aku lihat dimiliki oleh seseorang. “Ya, saya Iwa, Pak,” kata pemuda itu. “Anak dari Pak Wadi dan Ibu Imah.” Oh, sungguh hatiku tidak keruan. Aku bahagia setengah mati walau ada sedikit kekecewaan karena Iwa datang terlambat. “Bapak mau ikut saya ke kota?” tanya Iwa kepadaku.
“Di sana, saya akan meminta orang untuk merawat Bapak agar Bapak bisa menikmati hari tua.”

Aku lalu tersenyum dan menyentuh pipi Iwa. Dengan mata berkaca-kaca aku berkata, “Inilah hidupku, anakku. Aku sengaja mengeluarkanmu dari hidupku tidak agar kamu membawaku bersamamu kelak. Aku sudah senang kau bahagia sekarang.” Iwa kemudian memelukku. Dia memelukku yang berpakaian compang-camping dan bau ini dengan erat tanpa ada rasa jijik. Dia pun mulai menangis tersedu-sedu sambil terus mengucap terima kasih berulang kali.

Setelah mengobrol cukup lama, Iwa pun memutuskan untuk kembali ke keluarganya yang sekarang. Cukup berat langkahnya untuk meninggalkanku. “Maaf saya tidak bisa pulang cepat. Saya sungguh bersalah tidak bisa menemui Ibu di hari-hari terakhirnya,” ucapnya di depan pintu. “Tidak apa-apa. Bapak akan menceritakannya sendiri ke Ibu nanti,” jawabku diiringi senyuman.

Iwa pun berlalu setelah itu bersama deruman mesin mobilnya. Sesaat kemudian, hujan turun dengan derasnya. Aku kembali sendiri, di gubuk ini. Gubuk yang telah menjadi saksi hidupku. Aku pandangi foto yang ditinggalkan Iwa. Fotonya dua puluh lima tahun yang lalu. Aku lalu berbaring di atas ranjangku memandangi foto itu sambil terus tersenyum, sementara angin di luar terdengar semakin kencang. Kilat mulai membelah langit, diikuti petir yang menggaung dan membahana. Gubukku yang reot tiba-tiba bergemuruh dan bergetar-getar, aku bisa merasakannya. Getaran itu semakin lama semakin kencang, namun aku tetap tidak mempedulikannya. Aku bahkan tidak menghindar saat atap gubukku rubuh menimpa diriku.

Cerpen Karangan: Tamon
Saya hanya penulis lepas yang terkadang bosan saat bekerja di kantor. Kebosanan tersebut saya luapkan dalam bentuk tulisan-tulisan.

Cerpen Tompel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dia Tak Sama

Oleh:
Dentingan piano lagu Für Elise karangan Ludwig van Beethoven selalu ku dengar setiap ku memasuki rumah sepulang sekolah. Ya gadis anggun yang tengah melentikkan jarinya ke material putih hitam

Masa Remaja

Oleh:
Di masa remaja, mereka masih bisa meluangkan waktu mereka untuk bermain, tertawa bahagia besrsama teman seusianya. Mereka bisa pergi ke Mall kapan saja dengan teman-temannya. Tetapi tidak dengan Aku,

Ayah Maafkan Aku

Oleh:
Namaku Fitria, panggil saja dengan panggilan Fitri… Kini aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama, tepatnya aku kelas VII. Sejak kecil aku buta, aku mempunyai seorang ayah yang bernama

I Love U Mom

Oleh:
Namaku Rachel. aku memanggil mamaku adalah mami. Aku sangat sayang mamiku. Mami sudah baik sama aku. Bahkan, ngelahirin aku. Kadang-kadang aku memang suka marah. Tapi, aku tetap sayang Mami.

Kejutan

Oleh:
Namaku Dena. Setiap hari minggu aku selalu bangun pagi. Walaupun aku masih duduk di bangku SD mamaku sudah mengajarkanku untuk bangun lebih awal dan membantu bersih-bersih rumah. Setelah semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Tompel”

  1. Nanda Insadani says:

    Wah, cerpennya sederhana tapi mengena. Bagian akhirnya bagus!

  2. Nisa says:

    Mbrebes mili baca cerpennya. :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *