Tong Tong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 29 October 2013

“Tong.. tong..”, bunyi gong kecil dari kejauhan. Terlihat seorang pria separuh baya yang sedang mengayuh gerobak kecil dengan box berisi jajanan di hadapannya melewati jalan di depan deretan rumah. Gedebug.. gedebug.. suara langkah dan teriakan memanggil-manggil ibunya begitu jelas di telinga dari radius 3 meter. Anak-anak kecil yang sedang asik bermain egrang berlari berhamburan menuju rumah mereka.

Tini kecil yang sedang asik bermain pun ikut-ikutan berlari pulang ke rumah. Langkah kakinya langsung lurus menuju dapur menemui emaknya yang sedang menggoreng pisang. Dia memegangi tangan emaknya sambil melompat-lompat kecil dengan mata yang berbinar-binar. Seperti sedang mencoba mengambil hati emaknya karena menginginkan sesuatu yang sudah menunggu di luar sana.

“Mak, aku belikan itu ya?”, ucap Tini sambil cengengesan pada emaknya.
“Itu apa?”, jawab emaknya sedikit menoleh.
“Itu yang tong tong itu”, jawabnya
“Itu jamu, pahit!”, jawab emaknya singkat dengan pandangan tidak bergeser dari penggorengan di depannya.

Tini terdiam mendengar jawaban emaknya, tertunduk dengan wajah datar dan bibirnya yang sengaja dimonyongkan. Dia terlihat sedih dan kecewa dengan jawaban emaknya, tapi sengaja tidak mau bertanya lagi karena emaknya pasti akan memberikan jawaban yang sama. Tini memilih melangkahkan kakinya berbalik arah dengan gontai menuju teman-temannya.

Baru sampai di depan pintu rumahnya Tini melihat teman-temannya yang sedang mengerubungi pak penjual tong tong. Teman-teman Tini memegangi jajanan dengan contong yang berwarna-warni, ada contong yang berwarna merah muda, hijau dan kuning. Mereka memakan jajanan yang dibeli dari pak tong tong itu dengan sangat lahap dan menikmati.

Dengan wajah cemberut Tini berbalik lagi ke arah dapur menemui emaknya untuk yang kedua kalinya. Kali ini raut mukanya seperti ingin menangis tapi memberanikan diri untuk bertanya lagi pada emaknya.

“Mak, kok disana banyak yang beli tong tong itu? Kata emak kan pahit”, ucapnya
“Karena mereka tidak tahu kalau itu pahit, kalau mereka tahu pasti besok tidak akan beli lagi”, jawab emaknya dengan nada sedikit ketus.

Tini memang masih kecil usianya baru menginjak 5 tahun, belum bisa membedakan mana ucapan yang jujur atau bohong. Dia hanya melihat kejadian dan percakapan yang ada di sekitarnya. Apa yang masuk dalam otaknya itulah yang mencerminkan lingkungan dan orang-orang di sekitar bocah berusia 5 tahun tersebut.

Malam hari setelah kejadian tong tong itu, di rumah mungil itu emak Tini terlihat sibuk mondar-mandir di kamar Tini. Dia membawa baskom dan handuk kecil menuju kamar Tini. Handuk kecil itu dicelupkan ke dalam baskom berisi air, dia peras lalu dia usapkan pada kening putri kecilnya yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Ternyata si Tini kecil diam-diam membeli es tong tong itu dari uangnya sendiri. Dan sekarang badannya panas menggigil, terkulai lemas di atas tempat tidur.

“Bukannya emak tidak mau membelikan kamu es tong tong itu nak, tapi dari kecil jika kamu meminum es itu badanmu akan panas dan menggigil. Itulah sebabnya emak melarangmu membeli jajan itu”, jawab emaknya dengan tatapan berkaca-kaca, tangannya mengusap-usap rambut putri kecilnya.

Kadang kejujuran yang pahit memang lebih mudah untuk disembunyikan dan sulit diungkapkan, tapi selalu lebih baik daripada sebuah kebohongan.

Cerpen Karangan: Dina Az Zakie
Blog: www.rumahdongeng.tumblr.com

Mandiri
Punya cita-cita
Bisa diandalkan

Cerpen Tong Tong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roda Terus Berputar

Oleh:
Hal yang menyedihkan terjadi pada akhir tahun 2010 sampai tahun 2011, tepatnya ketika aku kelas 4 SD. Dimana semua hal indah yang kumiliki hilang perlahan. Seperti air laut yang

Aku Dia Tak Sama

Oleh:
Dentingan piano lagu Für Elise karangan Ludwig van Beethoven selalu ku dengar setiap ku memasuki rumah sepulang sekolah. Ya gadis anggun yang tengah melentikkan jarinya ke material putih hitam

Mencari Rumah

Oleh:
Entah, sudah untuk keberapa kali aku diajak Ayah untuk melihat-lihat rumah. Kami sekeluarga memang berencana untuk pindah dan mencari rumah baru. Sebelumnya kami menempati apartemen kalibata city di daerah

Ke Rumah Presiden

Oleh:
Adik perempuanku selalu belajar dengan rajin. Ingin bertemu Presiden, katanya. Walaupun baru kelas III SD, setiap aku bangun pagi buta untuk belajar, Adik ngotot ingin belajar juga. Ketika aku

Sweet Seventeen Kelabu

Oleh:
Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai. Perlahan air mataku meleleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri. Pikiranku mulai melayang-layang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *