Topeng Dibalik Wajah Cantiknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 December 2017

Betapa senang hatiku hari ini ayah membelikanku buku gambar baru, lengkap dengan pensil warna, penghapus dan juga penggarisnya. Aku tahu ayah sangat sayang aku. Tapi aku merasa kasih sayangnya padaku itu terlalu berlebihan. Sejak ibu meninggal setahun yang lalu. Aku sangat dimanjakannya. Semua keinginanku diturutinya.

Sikap ayah padaku itu membuat kakakku cemburu. Ia merasa tidak diperhatikan ayah. Bahkan sudah dua bulan ini kakak tidak pernah bicara dengan ayah dan aku. Setiap pulang sekolah dia selalu mengurung dirinya di kamar dan hanya akan keluar apabila ia merasa lapar saja.

Suatu hari saat dia pulang sekolah aku merasa heran kali ini sikapnya ramah, dia menyapaku. Aku merasa senang. Apalagi setelah mataku dimanjakan oleh kucing lucu berbulu lebat yang saat itu dibawanya. Katanya kucing itu pemberian dari temannya. Sebagai kado ulang tahun kakakku yang ulang tahunnya tepat hari ini.

“maaf ya kak aku lupa, bahwa hari ini kakak ulang tahun” ucapku pada kakak
“udah gak apa-apa, kakak ngerti kok kamu pasti sibuk” jawab kakakku lembut
“oke begini saja, kakakku yang cantik mau kado apa dari adikmu yang lucu ini? Kalau tak mau jawab tuliskan saja!” tanyaku sembari menyerahkan buku dan pulpen padanya. Saat itu aku sedang mengerjakan pr.
“kakak tidak minta apa-apa dari kamu, dua hari ini kakak akan mengikuti persami, jadi kakak hanya ingin kamu menjaga kucing ini saja” ucap kakakku sambil menyerahkan kucing di pangkuannya padaku.
“ok, kak” ucapku enteng sambil membawa kucing itu ke dapur untuk memberinya makan.

“dah” ucapku melepas kepergian kakak. Aku merasa sangat sedih. Hari-hariku akan sangat sepi. Setelah ditinggal ayah yang dinas keluar kota, lalu bi Ijah pembantuku yang pulang kampung karena ibunya sakit, sekarang giliran kakakku yang pergi meninggalkanku karena mengikuti persami di sekolahnya. Ah, aku benar-benar sepi, aku kesepian. Tapi hobi menggambarku setidaknya bisa melawan sedikit rasa sepi itu.

Entah kenapa sejak perginya kakakku perilaku si Keti kucing kakakku itu berubah jadi liar. Setiap malam suara berisik itu selalu terdengar. Suara perabotan rumah yang pecah akibat kucing itu. Kucing itu selalu berlarian kesana-kemari tak jelas seperti sedang mengejar tikus padahal tak ada tikus sama sekali di rumah ini. Dia juga suka menyerang setiap benda yang bergerak. Termasuk ketika aku menggambar. Dia menggit tanganku yang sedang memegang pensil, aku tidak marah, amarahku baru bangkit setelah tahu selain menggigit tanganku dia juga menginjak gambarku dengan kakinya yang kotor. Amarahku meledak tidak ada ampun lagi, aku pun melempar kucing itu keluar rumah padahal saat itu di luar cuaca sedang hujan lebat.

Pagi yang indah di hari minggu tiba, aku bangun, membereskan tempat tidur lalu mandi. Setelah berpakaian aku pun sarapan. Setelah itu aku berniat menggambar ulang hasil karyaku yang dirusak kucing berengsek tadi malam untuk tugas sekolah besok. Saat akan menggambar aku baru ingat si Keti belum di kasih makan tapi saat itu aku belum ingat bahwa si Keti sudah aku lempar keluar semalam. Aku pun pergi kedapur. “meng meng meng… meng meng meng…” panggilku. Tapi kucing itu tak muncul juga. Akub pun memutuskan untuk menggambar kembali. Dua jam berlalu. Ingatanku pun kembali. Aku telah melempar kucing itu semalam. Lalu aku ingat kakakku. Dan karena kucing itu persaudaraan kita bisa kembali rusak.

Tepat jam 10 pagi aku keluar meninggalkan rumah aku mencari si keti. Setiap rumah di komplek ini aku kunjungi aku menanyakan si Keti. Aku menyebutkan ciri-ciri yang dimilikinya tapi tak seorangpun yang melihatnya, keluar dari komplek aku memasuki perkampungan hal yang sama aku lakukan dan sama tak ada yang melihat si Keti. Aku merasa lelah mencarinya tapi rasa bersalahku mendorongku untuk tidak menyerah. Sampai aku tiba di suatu tempat. Aku berada di hutan. Suasana sudah gelap dan aku tidak tahu jalan pulang. Aku pun pingsan tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mata. Aku sudah berada di rumah sakit. Aku melihat ada ayah yang sudah tertidur menungguku. Ternyata sudah dua hari aku terbaring di sini. Kata ayah Aku ditemukan pingsan oleh mang uu di hutan dan dia juga yang membawaku ke sini. Ayah juga memberi tahuku bahwa kata dokter faktor utama aku pingsan adalah karena aku kelelahan dan dokter juga menemukan ada virus rabies yang sedang menyebar di tubuhku. Virus yang akan terlihat gejalanya setelah 2-3 minggu atau satu tahun. Dan penyebabnya adalah kucing gila milik om ku yang seharusnya dibawa ke dokter hewan tapi kakakku malah membawanya ke rumah. Aku mulai menaruh rasa curiga pada kakakku dalam pikiranku “untuk apa dia membawa kucing sakit ke rumah?” “ah mungkin dia lupa, atau tak sengaja” aku pun menepiskan segala prasangka negatif pada kakakku itu. Karena aku yakin dia telah berubah. “Tenang, om sudah membereskannya” ucap omku sembari memperlihatkan gantungan kunci motornya. Gantungan kunci itu adalah ekor si keti. Ternyata eh ternyata setelah aku lempar keluar malam itu si keti pulang ke rumahnya dan omku pun segera membawa si Keti ke dokter hewan dan kata dokter itu, penyakit si Keti sudah tak mungkin disembuhkan jadi dia dibinasakan.

Nada sms hpku yang saat itu dipegang ayahku berbunyi dan ternyata itu pesan dari kakakku. Hatiku sangat senang karena aku merindukannya. Aku mengambil hp itu dari tangan ayah, lalu aku pun membaca isi pesannya. “Gimana? Sakit? Rasa sakit yang lo alami sekarang gak sebanding dengan penderitaan gue selama ini.” Sontak setelah membaca pesan itu hatiku pun hancur. Hancur hatiku, hancur pula kepercayaanku. Aku tak sangka kakak yang aku sayangi selama ini ternyata memakai topeng. Topeng di balik wajah cantiknya. Aku masih tak percaya dia sengaja melakukan itu agar aku mati. Dan kasih sayang ayah kembali padanya seperti dahulu. Betapa marahnya ayah yang juga membaca pesan itu. Tapi marah itu ia tahan. Karena dia sayang sama anaknya. Lalu dia menyuruh kakak untuk pindah sekolah dan tinggal di rumah nenek.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kartono Anwar
Blog / Facebook: Kartono-Bilang.blogspot.com / Kartono Anwar Nasution
Penulis: Kartono Anwar, dari Garut Jawa Barat
Email:
anwar_kartono[-at-]yahoo.com
pangerankartono[-at-]gmail.com

Cerpen Topeng Dibalik Wajah Cantiknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

23 (Dua Puluh Tiga)

Oleh:
Seiring bunyi deru kipas laptop yang semakin keras agak memekakkan telinga dalam suasana yang tenang di malam hari ini diiringi dengan ringkikan suara jangkrik yang ada di luar kamar

Kenangan Terakhir

Oleh:
Namaku Bila, aku adalah anak sematawayang. Ya, aku senang sekali menjadi anak sematawayang karena aku dapat bermanja-manja dengan kedua orangtuaku. Orangtuaku pun selalu memenuhi keinginanku, sangat bersyukurlah aku dengan

Kaukah Ayah?

Oleh:
Aku hidup di antara seorang malaikat tak bersayap dan dua orang pendekar yang menjagaku. Aku bahagia memiliki mereka. Sudah hampir belasan tahun aku tidak merasakan kehadiran sosok ayah. Aku

Badai Itu Telah Berlalu

Oleh:
Embun pagi telah sisakan kedinginan yang hadirkan oksigen kesejukan. Ayam-ayam tak lagi terdengar berkokok melainkan mengais tanah, mencari nafkah. Sejauh itu, kutilang bersiul dengan riangnya. Hmm, andai saja aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *