Traadisikah ini?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Baginya, dunia baru merupakan awal hidup baru, dan mungkin menjadi awal dari kebahagian serta semangat baru, atau bahkan merupakan masalah baru dan kesedihan yang akan terjadi lagi. Itulah yang selalu terpikir oleh temanku ini gadis remaja sepertinya. Ya, dia gadis usia 17 tahun, yang masih duduk di bangku SMA. Hidupnya tak lagi bahagia, penuh kehampaan selalu bertanya mengapa semua bisa terjadi, “apalah salahku ya Tuhan” itu yang selalu dia pertanyakan. Hidupnya seakan akan hancur seketika, hingga membuat salah satu anggotanya bersalah bahkan aku juga merasa sedih jika teringat semua kejadian itu. Namun, sangat berbeda dengan kehidupan dia satu tahun yang lalu.

Satu tahun yang lalu, dimana dia selalu riang gembira memasuki sekolah barunya, mengenal dunia barunya. Saat itulah dia menemukan harapan baru, memulai mimpi-mimpi baru yang ingin diraihnya. MOPDB telah dimulai, itu artinya hari pertama dia masuk sekolah barunya. Harus berangkat pagi, rambut ditali menjadi dua, memakai kartu peserta yang sangat besar, memakai pita berwarna kuning. Itulah sederet peraturan yang harus dia lakukan dan taati, pagi-pagi dia sarapan pagi dan pamit kepada orangtuanya saat mau berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah, dia mengikuti MOPDB dengan semangat. Awalnya ada kesan kurang suka dengan MOPBD karena para seniornya terlihat jahat, dan setelah makan siang selalu dibimbing mentalnya. Namun dia selalu tak merasa takut, dan dibuatnya enjoy saja. Selama satu minggu dia mengikuti MOPBD, kegiatan itu ditutup dengan demo ekstrakurikuler. Berbagai macam ekstrakurikuler ditampilkan, salah satu yang menarik perhatiannya adalah pencak silat. Ya, pencak silat yang dari dulu ia dambakan, ingin bergabung menjadi salah satu anggota pencak silat. Ia begitu sangat berharap bisa ikut ekstrakurikuler tersebut. Lalu, ia daftar kepada salah satu kakak kelas lalu ia diterima baik oleh kakak kelas itu dan diberi jadwal latihan.

Sesampainya ia pulang, ia memberitahu kepada orangtuanya bahwa ia ingin mengikuti ekstrakurikuler pencak silat. Awalnya orangtuanya tidak mengizinkannya, namun dia menyakinkan orangtuanya. “Yah, aku ingin ikut ektra pencak silat. Boleh ya yah” tanyanya. “Kamu itu cewek kok pakek ikut pencak silat” jawab ayahnya, “Tidak apa-apa yah aku ingin ikut, aku janji nilaiku tidak turun walau aku ikut pencak silat” jawabnya meyakinkan. “Ya sudah kalau gitu, boleh kamu ikut” jawab ayahnya, “Terima kasih yah”.

Hari yang dinantinya telah tiba, Jumat 31 July 2015 dimana dia pertama kali latihan bela diri, saat itu dia dan teman-teman yang ikut latihan memperkenalkan diri satu sama lain. Ia tampak begitu bahagia, saat itu dia wanita satu-satunya dia ekstrakurikuler tersebut. Awal ikut latihan dia tampak terkejut dengan model latihannya. Dia yang tidak pernah lari lama harus bisa lari dia yang tidak bisa kayang, roll belakang, spliit, keep, mental yang penakut, dan selalu kawatir dipaksa harus bisa, dan berusaha sampai bisa dan harus jadi pemberani. Awalnya hampir dia putus asa, tapi dia dikuatkan oleh para sahabatnya dilatihan mereka kekuatannya.

Telah berjalan berbulan-bulan dia latihan, dia sangat enjoy dan nyaman bersama anak-anak latihan, baginya mereka adalah saudara sendiri. Di tempat latihan dia kenal dengan pelatih pria yang tampan dia bernama Peto Alam, Peto selalu memberi perhatian lebih terhadap siswa wanitanya itu. Itu yang membuat gadis remaja ini sangat nyaman, dan tak ingin meninggalkan latihan. Tapi alasan dia tetap bertahan di tempat latihan, karena dia memang ingin menjadi atlit silat. Peto hanyalah penyemangat dalam hidupnya.

“Lama sekali Ren kamu latihan, sampai hampir magrib begini. Nanti keburu pak Rian datang, kamu belum siap-siap untuk les” kata ayah Renna dengan nada yang marah, saat Renna sampai dirumah “Iya yah, tadi aku dari sekolah jam lima, jadi wajar kalau sampai rumah jam setengah enam” jawab Renna dengan nada pelan.

Setelah selesai mandi, makan, dan menyiapkan buku untuk les pak Rian telah datang. Lalu Renna mulai les dengan pak Rian, meskipun Renna merasa lelah tapi dia tetap les karena dia tidak ingin disuruh orangtuanya keluar dari tempat latihan. Itu alasan Renna meskipun selelah apapun dia, dia tetap belajar mengerjakan tugas sekolah karena nilainya harus bagus agar dia tetap boleh mengikuti latihan. Setelah les selesai Renna siap-siap untuk tidur, tapi sebelum tidur dia terbiasa untuk berdoa terlebih dahulu.

Suatu hari Renna pulang telat karena dia harus sambung (fight untuk mengukur kemampuan) terlebih dahulu, ayahnya langsung marah-marah dan Renna langsung mandi dan beberes untuk menyiapkan les dengan pak Rian. “Lapar ta, tidak usah makan pak Rian dari tadi sudah menunggu” kata ayah Renna saat marah, karena pulang telat “Iya yah” jawab Renna dengan sedih karena sebenaarnya dia lapar dan capek setelah latihan. Setelah itu Renna les dengan pak Rian, tidak minta maaf pak Rian malah marah dengan Renna karena tidak bisa mengerjakan soal, setiap Renna bertanya soal yang tidak bisa bukannya pak Rian mengajari caranya namun pak Rian justru tanya balik kepada Renna, dan menyuruh Renna mengerjakan sendiri. Sebenarnya hati Renna sedih dan ingin sekali menyerah, tapi teman-teman latihan Rennalah yang membuat Renna kuat menghadapi semua itu, mungkin semua akan indah pada waktunya. Saat Renna sedih Peto sms Renna dan Renna semakin senang rasa sedihnya telah hilang.

14 September 2015 untuk pertama kalinya Renna mengikuti pertandingan pencak silat sekabupaten Sidoarjo, Renna berlatih dengan keras dan dia berharap dia bisa memenangkan perlombaan itu. Dan tanpa disangka Renna memenangkan perlombaan itu, Renna sangat bahagia dan dia terasa tidak percaya karena bisa memenangkan lomba itu. “Selamat ya Ren, hebat kamu” ucapan selamat dari temannya Rahman, “Iya terimakasih ya rahman selamat juga untuk kamu, kamu juga menang kita sama-sama hebat Rahman” sahut Renna.

Setelah merayakan kemenangannya Renna pulang dan tanpa memberitahu ayah ibunya bahwa dia sudah selesai bertanding, dan memenangkan perlombaan. Hari demi hari dilalui Renna bukan semakin baik, namun semakin buruk pasalnya orangtua Renna semakin melarang Renna untuk mengikuti latihan silat. Setiap pulang latihan Renna selalu dimarahi, namun Renna menyikapinya dengan senyum karena dia selalu ingat kata pelatihnya “Dek, meskipun orangtuamu marah sama kamu, kamu diam aja jangan pernah membentak atau memotong perkataan mereka, meskipun kamu benar kamu diam saja biarkanlah orangtuamu memarahimu, mereka tidak tau apa yang kamu lakukan selama di latihan, dengarkan saja dek kalau mereka marah sama kamu, kamu harus kuat calon pendekar tidak mudah menyerah dek” itu yang selalu dia pegang oleh Renna, semakin dia diam saat dimarahi pasti orangtua Renna secara perlahan menyadari bahwa inilah yang diajarkan selama di latihan. Sopan santun, tidak berani dengan orangtua, selalu kuat saat badai datang yang perlu dilakukan hanya berdoa dan membuktikan bahwa apa yang dialakukan Renna adalah benar.

Desember, adik dari kakeknya Renna datang namanya mbah Bejo. Mbah Bejo mengetahui bahwa Renna ikut latihan silat, mbah Bejo tidak suka Renna ikut pencak silat karena dia takut Renna dianggap menjadi wanita yang kuat dan diunggul-unggulkan keluarga besarnya mbah Bejo tidak mau posisinya digeser oleh Renna dia ingin tetap dia yang dihormati dan disegani. Sehingga mbah Bejo mencari cara agar Renna tidak menyelesaikan latihannya hingga menjadi pelatih. Setelah berfikir mbah Bejo menemukan cara agar Renna tidak melanjutkan latihannya.

“Ren, Renna” panggil mbah Bejo, “Iya mbah, ada apa” jawab Renna dan mendatangi mbah Bejo “Kamu ikut latihan silat itu untuk apa? Ndak usah kamu lanjutkan, sudah keluar saja” bujuk mbah Bejo agar Renna keluar dari latihan “Aku enggak mau keluar mbah, bentar lagi selesai latihanku kurang sembilan bulan lagi” jawab Renna “Kamu katanya mau jadi guru kamu harus fokus sama masa depanmu Ren, silat itu masa depannya belum terjamin. Apalagi di dalam tradisi keluarga besar kita anak perempuan tidak diperbolehkan untuk ikut atau mempelajari ilmu bela diri, karena tugas para perempuan hanya mengurus suami dan memasak jika ingin karir dan bekerja boleh saja tapi jangan terlalu sibuk, tetap melaksanakan kewajibannya” tegas mbah Bejo dengan mengatasnamakan tradisi “Aku tidak peduli tradisi mbah, selama ini aku sudah nurut dengan semua aturan, tidak boleh sering-sering main dengan teman-teman, tidak boleh kelayapan malam, berpuasa senin kamis, trus sekarang aku juga harus nurut lagi tidak boleh ikut latihan pencak silat, tradisi macam apa ini mbah, hanya anak laki-laki saja yang dibebaskan sedangkan anak-anak perempuan dikekang dituntut untuk hanya di rumah, bagaimana bisa ini terjadi. Kalau begini terus lalu kapan para perempuan di keluarga besar kita menjadi maju, tidak ditindas oleh para lelaki” jawab Renna dengan nada tegas karena dia sudah suntuk dan jenuh dengan segala macam aturan “Kamu itu beraninya ngomong seperti itu, kita ini orang jawa masih kental dengan tradisi kamu harus menghormati tradisi para leluhur kita atau jika kamu melanggar kamu akan dihukum cambuk aku tidak mau ini terjadi kepadamu Renn kita semua sayang kamu” jawab mbah Bejo “Sekalipun aku dicambuk mbah, aku tidak takut demi memerdekakan hak para perempuan untuk berkreasi dan tidak terikat dengan tradisi, aku akan tenang jika semua kaum wanita telah merasakan kebebasan. Para wanita juga punya hak untuk bahagia dan mengatur hidupnya sendiri, tradisi boleh saja dilakukan dan dilaksanakan tapi tradisi tidak diperuntukan melanggar hak-hak para wanita di keluarga ini” jawab Renna “Ya sudah jika kamu sekarang tidak ingin mematuhi lagi tradisi kita, mbah juga tidak akan membantumu lagi dalam kesulitan” kata mbah Bejo kepada Renna. Malam itu menjadi malam yang menyedihkan untuk Renna dimana dia sudah susah payah bertahan di tempat latihan agar menyelesaikan latihannya, namun harus ditentang.

Malam telah berlalu kini Renna harus bersiap-siap ke sekolah sambil ia masih memikirkan kejadian tadi malam. Lalu kuhampiri dia yang duduk di bangkunya “Ren, ada masalah?” tegurku “Lud, aku sedih aku ditentang oleh mbah Bejo aku tidak boleh latihan lagi Lud” jawab Renna dengan wajah sedih “Mungkin, ini hanya cobaan Renn kita selagi masih jadi siswa dalam latihan pasti banyak rintangan dan cobaannya, mungkin ini salah satunya Renn” jawabku menenangkannya “Tapi Lud mbah Bejo mengatasnamakan tradisi Lud, dimana tradisi itu harus ditaati dan dilaksanakan jika ada yang melanggar maka harus dihukum” jawab Renna “Apa hukumannya Renn?” tanyaku penasaran “Hukum cambuk” jawab Renna dengan singkat “Apa, yang benar saja Renn lalu bagaimana ini” jawabku terkejut, dalam hati kuberkata tradisi macam apa ini aturan yang aneh dan sangat kuno “Kamu tenang saja Lud, tekadku sudah bulat aku akan tetap menyelesaikan latihanku sampai menjadi pelatih dan mengajak para wanita di keluargaku untuk ikut berlatih bela diri, sekalipun nyawaku taruhannya aku tidak masalah Lud yang terpenting tujuanku untuk menjadi pelatih silat dan menyebarluaskan tempat latihan serta mengajak para wanita untuk belajar ilmu bela diri asli indonesia sudah terwujud, aku akan pergi dengan tenang Lud” jawab Renna yang membuatku terkejut “Tapi Ren, aku tidak bisa melihatmu pergi dan meninggalkan kita semua Ren” jawabku tapi sebelum Renna menjawab guru sudah datang ke kelas kami, lalu kami semua harus kembali ke tempat duduk kami masing-masing.

Hari demi hari telah berlalu Renna tetap mengikuti latihan dan tidak menghiraukan aturan tradisi di keluarga besarnya, dia tetap mengikuti berbagai kejuaraan-kejuaraan bela diri di kabupaten bahkan di tingkat nasional sudah dan Renna menjuarainya. Uang yang diberikan Renna selalu ditransfer kerekening orangtuanya, Renna hanya ingin membantu perekonomian kedua orangtuanya. Tidak hanya itu berbagai kejuaraan akademik pun juga telah diraihnya seperti membuat puisi lomba cerdas cermat PKN dan masih banyak lagi. Kini nama Renna telah terkenal dan tentu di sekolah dia selalu dipuji bapak dan ibu guru. Bahkan kini tempat latihan Renna juga banyak para wanita yang ikut latihan Renna semakin senang, apalagi dia dipuji oleh Peto pelatihnya yang membuat dia selalu tampak ceria “Hebat kamu Renn, bisa mengajak mereka untuk latihan ilmu bela diri” puji Peto “Ah, mas Peto bisa saja aku hanya ingin menyebarluaskan ilmu bela diri ini kepada para wanita agar mereka bisa membela dirinya” jawab Renna dengan tersipu malu.

17 Januari 2016 dimana hari yang paling bersejarah pasalnya Peto menyatakan perasaannya kepada Renna, dan Renna sangat terkejut ia tidak menyangka bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Lalu mereka menjalin hubungan mereka tampak begitu bahagia termasuk aku, aku adalah orang yang mendukung hubungan mereka berdua aku sangat senang mereka menjalin hubungan pacaran.

4 Oktober 2016 dimana berbagai macam konflik muncul dan tak kalah mengagetkan adalah hukuman yang dijatuhkan kepada Renna. Saat ini keluarga besar Renna berkumpul dan membahas tentang hukuman Renna “Bagaimana Renn, kamu tidak mau melepaskan latihanmu ini” tanya mbah Bejo “Tidak mbah, aku akan tetap lanjut apalagi sekarang para wanita sudah banyak yang ikut berlatih ilmu bela diri” jawab Renna “Tapi nduk, kamu nanti bakal kena hukuman” kata ayah Renna “Yah, tidak apa-apa jika ini resikonya aku berani mengambilnya yah” kata Renna “Tapi, kami yang tidak iklas Renn” jawab ibu Renna “Tidak apa-apa bu, lagian tidak sampai matikan” jawab Renna “Tapi, kita harus menunggu mbah Harun sebagai leluhur kita” kata mbah Alang wakil ketua leluhur “Tidak usah, langsung saja ini tidak bisa menunggu lama-lama” kata mbah Bejo “Tidak bisa mbah, bagaimanapun juga kita harus menunggu mbah Harun kita harus menghormati dia” Kata mbah Alang “Sudahlah tidak perlu itu, dua hari lagi kita harus melakukan hukuman itu” Desak mbah Bejo “Tapi mbah, dua hari lagi adalah hari pengesahanku jadi pelatih” kata Renna “Kita tidak peduli Renn, itu sudah menjadi resikomu” kata mbah Bejo. Lalu setelah pertemuan itu mereka kembali kekamar masing-masing dan beristirahat, sedangkan Renna dia tidak bisa tidur tapi ia berusaha untuk tidur dan beristirahat akhirnya dia bisa tidur.

Keesokan harinya Renna bertemu dengan Peto dan membicarakan masalah yang tadi malam, Renna menceritakan secara detail apa yang akan terjadi dua hari kemudian. Dan betapa terkejutnya Peto dengan apa yang akan terjadi kepada Renna, dan Peto bertekad akan membantu Renna semampu dia. Peto tak peduli walaupun Renna telah memberitahukan bahwa jangan ikut campur dalam urusan keluarga Renna. Namun, Peto tetap ingin membantu walaupun dia juga akan menerima hukumannya.

Dua hari kemudian, saatnya tiba segala macam persiapan untuk hukuman Renna telah disiapkan mbah Bejo sangat sibuk dan bahagia karena Renna tidak akan menggeser posisinya dia akan selalu berkuasa dan dihormati di keluarga besarnya. Sedangkan Renna telah siap-siap untuk menghadiri pengesahannya menjadi pelatih dan sebelum itu dia menulis surat terlebih dahulu dan ditaruh di meja belajarnya. Lalu saat semua persiapan hukuman telah selesai Renna dipanggil dan Renna bilang akan menghadiri pengesahan terlebih dahulu “Mbah, aku akan menghadiri pengesahan dulu, setelah itu aku akan kembali lagi ke sini untuk menjalankan hukumanku malam nanti” kata Renna “Tidak bisa Renn, kamu harus menjalankannya sekarang” kata mbah Bejo, dari kejauhan ada Peto yang lari terburu-buru dan ia meminta ijin kedua orangtua Renna dan mbah Alang lalu mereka mengijinkannya, namun saat Renna mau diajak pergi mbah Bejo menghalanginya “Memangnya kau siapa nak membawa Renna semaumu saja” kata mbah Bejo “Saya akan membawa Renna untuk menghadiri pengesahannya mbah” kata Peto “Kamu membantu Renna mengulur ulur hukuman, itu tandanya kamu juga akan dihukum karena kekacauan ini karena kau” bentak mbah Bejo “Iya mbah, saya akan mendampingi Renna walaupun saya akan dicambuk juga saya rela mbah” kata Peto. Lalu akhirnya mereka semua lari dari rumah sekencang-kencangnya dan mbah Bejo berusaha mengejarnya namun ia kehilangan jejak mereka.

Akhirnya, Renna dan Peto telah sampai di tempat acara dan Renna langsung baris di barisan teman-temannya. Setelah itu dia berhasil dan sudah disahkan menjadi pelatih dan mendapatkan atribut pelatih, betapa bahagianya dia dan dia memeluk Peto mereka saling berpelukan dan meneteskan air mata.

Selesai acara pukul 22.00 WIB mbah Bejo berhasil menyusul mereka dan menyeret mereka untuk kembali ke rumah Renna, seketika teman-teman Renna terkejut dan mereka juga mengikuti Renna termasuk aku, karena jujur saja aku tidak tega melihat Renna dan Peto diperlakukan seperti itu. Lalu kami semua berlari mengikuti mereka. Dan sampailah di rumah Renna, Renna dan Peto kemudian sudah berdiri dan siap-siap untuk dicambuk. Mereka saling berpegangan tangan dan saling melirik dan mbah Bejo dengan kerasnya mencambuk Renna “AAAAAUUUUWWWW…” teriak Renna dengan keras lalu mencambuk Peto dengan kerasnya dan Peto hanya menahan sakit dan sambil menangis mendengarkan tangisan Renna. Akhirnya mereka berpegangan tangan dengan erat dan sampai darah mereka bertetesan dari punggung mereka, tapi mereka tetap bertahan.

Tiba-tiba mbah harun datang dan menghentikan hukuman itu “Cukupppp… apa-apain ini atas izin siapa kalian melakukan ini, apa kalian tidak lagi menghormatiku sebagai ketua tradisi sebagai leluhur? Tega-teganya kalian menghukum cicit kesayanganku Renna, apa yang telah dia perbuat?” kata mbah Harun dengan sangat marah “Ampun mbah, dia sudah melanggar tradisi kita dengan mengikuti latihan bela diri dan pacarnya juga membantunya” kata mbah Bejo “LANCANGGG!!! Kamu Bejo dimana ada tradisi bahwa wanita dilarang mengikuti latihan bela diri” kata mbah Harun dan sambil menusukkan sebuah keris kepada mbah Bejo “Itu sebagai hukuman bagimu karena kamu sudah melangkahi tradisi ini dan tidak menghormatiku sebagai leluhur” kata mbah Harun. Lalu mbah Bejo bersimbah darah dan kesakitan lalu mereka semua dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit ternyata mbah Bejo kekurangan darah dan harus ada darah yang didonorkan, kebetulan darah Renna cocok untuk mbah Bejo. Lalu Renna ingin mendonorkan darah untuk mbah Bejo, namun tidak diperboleh oleh para dokter dan anggota keluarga karena Renna juga pendarahan. Namun Renna tetap memaksa akhirnya transfusi darah pun dilakukan, dan Peto tidak mau ketinggalan dia juga mendonorkan darah untuk Renna. Alhasil Renna dan Peto meninggal karena kehabisan darah dengan kondisi bergandengan tangan, dan mbah Bejo pun masih tetap hidup.

Seluruh keluarga berduka, apalagi mbah bejo sangat merasa bersalah. orangtua Renna pun sangat terpukul mengapa mereka tidak bisa membela anaknya sendiri, lalu dengan tidak sengaja ibu Renna menemukan surat Renna di meja belajar Renna yang berisi:

“Ayah, ibu maafkan Renna jika selama ini Renna suka membuat ayah dan ibu merasa khawatir. Ayah, ibu Renna sangat menyukai ilmu bela diri pencak silat, Renna ingin sekali mengembangkan budaya ini karena hanya ini yang dapat Renna lakukan untuk membanggakan Indonesia. Selama ini Renna ikut pertandingan tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, dan uang hasil pertandingan sudah Renna transfer di rekening ibu. Sekalipun Renna harus pergi hari ini jangan tangisi Renna, karena Renna sudah pergi dengan tenang. Cita-cita Renna menjadi pelatih silat sudah tercapai dan para wanita juga sudah banyak yang belajar ilmu bela diri. Ayah, ibu Renna sayang kalian dan keluarga,”

Seketika mereka langsung menangis dan menyesali karena mereka sempat melarang Renna ikut latihan bela diri. Aku pun juga merasa sangat terpukul dua saudaraku harus pergi secepat ini, semoga mereka tenang disurga, jasa Renna tidak akan pernah terlupakan. Jangan menganggap keputusan kalian yang selalu terbaik, arena belum tentu itu terbaik untuk orang lain.

Cerpen Karangan: Hana Kireina
Facebook: Hana kireina
Sekolah di SMAN 4 SIDOARJO, hobby adalam menululis cerpen. rata-rata cerpen yang aku buat berdasarkan pengalaman pribadi, namun ada bagian-bagian yang diberi tambahan

Cerpen Traadisikah ini? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Leria

Oleh:
“Jadi, Anda adalah tuan Radiskh yang dulu pernah menjadi hakim di kerajaan?” tanya Leria agak terkejut setelah ayahku banyak bercerita pada gadis itu tentang masa lalunya. Ayah mengangguk. Seketika,

Lentera Tak Berujung

Oleh:
Kenyataan mungkin terbalik dengan keinginan. Jalan kehidupan yang tak selalu indah membuat kenyataan itu jauh dari yang diinginkan. Kehidupan memang berliku-liku, kadang pasang kadang surut. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan.

Ringgit dan Rupiah

Oleh:
“Kang, mau sampai kapan kita seperti ini?” “Aku malu tinggal bersebalahan terus-terusan dengan ibu?” “Aku malu dengan saudara-saudaraku yang semuanya udah punya rumah sendiri Kang?” Itulah perkataan yang masih

Bidadari Kecil

Oleh:
Aku seorang single parent. Aku mempunyai seorang putri yang sangat cantik, dia kebanggaanku, pelipur laraku, suka duka ku jalani bersama, ya… walaupun usianya baru menginjak 5 bulan, tetapi dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Traadisikah ini?”

  1. cahayabolang says:

    wah. mirip y sama pengalamanku. Author hebat y. mengesankan. btw bneran author asli sidoarjo. brarti kita tetangga donk wkwkwkwk. semangat trus thorrr. ku tunggu karya selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *