Tragedi Roy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

“Maafkan aku ayah, aku tidak akan mengulanginya lagi!” jerit Roy sambil meratap kesakitan. Melihat hal tersebut, Sang Ayah bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi menyiksa Roy tanpa ampun.

Roy adalah seorang anak penderita autis, sejak lahir dia sudah ditinggal Ibunya yang meninggal ketika melahirkan Roy. Sejak saat itu, Sang Ayah mulai depresi dan temperamen karena ditinggal Istrinya tercinta. Bahkan dia menganggap Roy sebagai anak pembawa sial. Tidak hanya karena Roy terlahir menjadi anak penderita autis, tapi juga Ayahnya Roy menganggap Roy telah menyebabkan Ibunya meninggal.
Setiap hari Ayahnya selalu memarahi Roy. Bahkan kesalahan kecil sekalipun yang diperbuat Roy, tanpa ampun Ayahnya akan memukuli dan menyiksa Roy. Setiap hari kehidupan Roy bagaikan berada di neraka.

Pada suatu hari, tanpa sengaja Roy menjatuhkan sebuah gelas. Melihat hal tersebut, kontan menyulut kemarahan Ayahnya Roy. Dengan muka merah padam, Ayahnya membuka sabuk yang ia pakai dan memakainya untuk menyiksa Roy. Tubuh Roy yang kecil pun tersungkur. Dengan nada memelas, Roy memohon ampun pada Ayahnya.
“Ampuni aku ayah!” ujar Roy mengerang memohon ampun.
Namun Ayah Roy tidak menghiraukan teriakan Roy, dia menyeret Roy ke kamarnya lalu membantingnya ke lantai. Lalu dia berkata.
“Dasar anak pembawa sial, kamu tidak akan mendapat makan malam!” ucap Ayahnya sembari membanting pintu kamar Roy.
Sementara Roy hanya bisa menangis terisak-isak. Tubuhnya serasa sakit sekali. Mungkin ada beberapa tulang rusuknya yang patah. Tapi Roy tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berbaring di atas lantai kamarnya.

Pada tengah malam, Roy keluar dari kamarnya. Perlahan dia berjalan menuju dapur. Tapi tanpa disangka, Sang Ayah yang sedang tertidur mendengar suara langkah Roy. Dia pun terbangun dan bergegas menuju dapur. Ketika tiba di dapur, Sang Ayah melihat Roy sedang menyiram tubuhnya sendiri dengan minyak tanah. Dengan tatapan sayu, Roy memandang kepada Ayahnya dan berkata.
“Aku hanya ingin BEBAS dari Ayah!” Ucap Roy.
Kemudian Roy memantik korek api yang dia pegang dan membakar tubuhnya sendiri. Tubuhnya Roy terbakar sangat hebat. Hingga akhirnya Roy tewas pada saat itu juga. Pada malam itu, Roy mendapatkan KEBEBASAN yang dia inginkan, tapi harus ditebus dengan rasa sakit.

Tangisan seorang bayi yang baru lahir menggaung di sebuah Ruang Klinik. Roy kini terlahir kembali menjadi seorang bayi. Kemudian seorang Pria yang merupakan ayahnya menggendong bayi tersebut dan berbisik ke telinga sang bayi.
“Kamu pikir kamu bisa BEBAS dariku ROY?” ucapnya sembari tersenyum sinis.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: www.facebook.com/algi.azhari
Blog: algigemini.blogspot.com
Orang yang bahagia bukanlah yang memiliki semuanya, tapi orang yang bersyukur atas semua yang dia miliki.

Cerpen Tragedi Roy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 2)

Oleh:
“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah. “Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.

Bidadari Bermata Bening

Oleh:
Namaku AZILA MARCELLA di lumajang. Aku terlahir di keluarga kaya raya dan dipandang terkenal karena nenekku punya gudang beras. Setiap minggunya banyak orang miskin yang ngantri di rumah. Aku

Mayat Berkebaya

Oleh:
Ikan ikan kecil yang bersembunyi di balik bebatuan satu persatu mati akibat racun yang ditebar Rasikin, anak kampong sebelah ini acap kali memakai cara itu untuk menangkap ikan, sungai

Mimpi

Oleh:
Aku terjatuh, terjatuh di tempat yang tidak aku tahu, tak sekalipun aku ke sini, tak juga orang ku kenali, nuansanya pun begitu sejuk di bawah hembusan angin dan pepohonan

Kuntilanak Penguji Iman

Oleh:
Malam itu jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Risty masih berkutat di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran terlihat berserakan di mana-mana. “Huaahhh, udah jam segini tapi materi pelajarannya masih banyak. Mana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *