Trouble of Sisters (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

Rambut hitam terurainya, hidung mancung bak putri bangsawan, kulitnya yang putih seputih salju, dan kaki jenjangnya yang bagaikan gadis remaja 17 tahun. Dia adalah Emely, penyanyi cilik profesional yang sudah terkenal di kota London. Suaranya yang khas, membuat semua orang menyukai penampilannya. Tapi, satu yang membuat dirinya memiliki cukup banyak haters di kota London sendiri. Sifat angkuh dan keras kepalanya itu. Dia selalu mengutamakan kepopulerannya daripada hal lain yang lebih penting.

Seperti ketika Emely dipanggil oleh produsernya bahwa ia harus mendatangi acara kompetisi penyanyi cilik London. Tentu saja Emely tak menolaknya karena honor yang ia dapatkan dua kali lipat dari acara yang ia hadiri sebelumnya. Tapi bukan itu yang ia incar, jika pendapatan lebih besar, maka waktu ia tampil pun lebih panjang yang artinya wajah tak asingnya lebih sering tersiar di layar kaca.

“Kak, aku dapat panggilan dari Mr. Ken. Ia bilang aku harus datang untuk menyanyi di acara pembuka dan penutup di kompetisi penyanyi cilik London,” ujar Emely sembari memainkan ponselnya. “jadi gaun mana yang harus aku pakai ke sana?” Tanya Emely mengakhiri kalimatnya. Kakak perempuannya, Evelyn, langsung menatap Emely dengan heran.
“Kau tak ingat? 15 menit lagi Kakak harus pergi ke Los Angeles! Kau tak mau mengantar Kakak? Kakak tidak pergi sehari dua hari, tapi 2 minggu!” Pekik Kak Lyn, panggilan rumahnya.

“Ya, aku tahu. Kakak kan bisa meneleponku ketika sudah sampai. Mr. Carter hadir 24 jam untuk mengantarmu. Helikopter pribadi Papa siap terbang jika kau ingin kembali ke London. Kelly, dokter langganan kita akan datang ketika kau terluka di sana. Begitu saja repot.” Ucap Emely.
“Bukan itu masalahnya! Apa kau tak akan melewatkan saat terakhir Kakak di London hingga 2 minggu lagi? Kau akan menyesal!” Kata Kak Lyn. “kau selalu begini, Emely. Bisakah kau luangkan waktu untuk keluarga sebentar saja?” Tanya Kak Lyn.

“Untuk apa aku menyesal? Toh, kita akan bertemu lagi. Oh, dan soal luangkan waktu bersama keluarga, aku juga berpengaruh di keluarga kita,” kata Emely berlagak seperti bos.
“Uuhh…. Baik, terserah kau. Pesawatku terbang …. 10 menit lagi! Tak ada gunanya berdebat denganmu. Nikmatilah penampilan spesialmu di sana. Semoga kau tak menyesal nantinya,” ujar Kak Lyn. Ia menarik kopernya. Emely hanya menahan amarah. Ia memang tak berani melawan kakak perempuannya itu. Evelyn sebenarnya sangat menyayangi Emely, tapi semenjak nama Emely dibincangkan hangat oleh publik, ia menjadi agak kasar pada adiknya yang semenjak itu pula menjadi sangat egois.

Ketika Emely sampai di acara kompetisi penyanyi cilik London dengan gaun polkadot pinknya, saat itu pula ia tersadar kata-kata kasarnya tadi menyakiti hati kakaknya. Sekarang mungkin kakaknya tak akan membelikan gaun pink dengan renda di pinggang yang ia lihat ketika di Los Angeles. Emely sangat menyukai gaun itu lebih dari apa pun. Ia coba menghubungi kakaknya, tapi rupanya pengusaha muda 22 tahun itu tak menjawab panggilan Emely. Yup, Evelyn marah lagi.

Dua minggu berjalan, Emely sangat menunggu kepulangan kakaknya. Sepi sekali tanpa Evelyn di rumah. Emely pun menjemput Evelyn di bandara dengan antaran Mr. Carter. Papa dan mama Emely sangat sibuk pulang-pergi New York-London dan hampir tak ada waktu untuk Emely dan kakaknya. Emely menunggu di mobil dengan heran, harusnya Kak Lyn sudah mendarat sekarang. Tapi tunggu, pengeras suara dari sudut dinding di kanan atas bandara mengumumkan dengan nada tergesa-gesa dan syok. Emely khawatir.

“Pengumuman, pesawat EuropAir dari Los Angeles tujuan London dengan nomor penerbangan G7096H, mengalami kecelakaan di atas ketinggian 700 meter. Diduga pilot mengalami keterbatasan penglihatan. Terima kasih. Mohon ketenangannya. Pihak berwajib akan menangani segera.”

Emely tak percaya dengan pendengarannya. Bukan, itu bukan pesawat kakaknya, kan? I..Itu pasti mimpi, kan? Emely mencubit pipinya, aww… Rupanya sakit. Ia tak sedang bermimpi.
Mr. Carter berusaha menenangkan Emely yang menangis sejadi-jadinya. Ia menjadi salah satu keluarga korban yang paling, paling, paling sedih! Emely sudah membawa sekotak kado yang dibungkus olehnya sendiri untuk kakak tercintanya sebagai tanda minta maaf tentang tragedi 2 minggu lalu. Ia juga sudah menghias kamarnya berharap Evelyn ingin memaafkannya.

Kriingg!! Kriiingg!! Siapa yang menelepon di keadaan seperti ini? Rupanya Mr. Ken, produser Emely. Ia memekik dari telepon sampai menghentikan tangis Emely.
“Emely? Kaukah itu? Ya Tuhan! kau terlambat 30 menit di wawancara penting kita! Wartawan sudah menunggu sambil marah dan mereka marah denganku! Cepatlah datang! Uang sudah menunggu di depan kita!” Pekik Mr. Ken.
“Aku tak peduli! Kakakku sedang di keadaan berbahaya, mister. Pesawatnya jatuh. Aku tak bisa datang,” kata Emely sambil sesenggukan.

“Benarkah? Keadaan yang sangat menyedihkan. Aku turut sedih, tapi kau sudah berjanji akan datang. Aku juga tak peduli dengan Kakakmu! Sekarang, datang atau kita putuskan kontrak kita,” ancam Mr. Ken. Emely sadar, ternyata produser yang ia kira baik dan sangat menyayanginya, ternyata hanya menginginkan uang. Emely terdiam sebentar.
“Ya, aku putuskan kontrak kita,” ujar Emely mantap. Mr. Carter yang ternyata sedari tadi mendengarkan, langsung terkejut. Ia menggeleng pada Emely, tapi Emely tak menghiraukannya dan tetap pada pendiriannya. Semenjak perkataan kakaknya, ia sadar ternyata karirnya harus digeser dengan kasih sayang pada keluarga.

“A.. Apa kau yakin dengan perkataanmu? Aku tak menganggap ucapanku tadi serius, loh,” kata Mr. Ken yang sepertinya agak kaget dengan jawaban Emely.
“Ya, aku yakin dengan ucapanku dan sampai jumpa. Akhiri semua urusanku di dunia maya. Terima kasih, mister. Aku tahu ternyata seperti apa kau selama ini,” ucap Emely sambil mengakhiri teleponnya. Secepat itu karirnya berakhir. 1 menit 14 detik. Ia lanjutkan lagi kesedihannya setelah menutup telepon.

Ketika kembali ke rumah, papa dan mama sudah datang dan memeluk Emely dengan hangat sambil menangis sama seperti Emely. “Papa? Mama? Bukankah kalian sedang ada di New York?” Tanya Emely di pelukan kedua orangtuanya itu.
“Pesawat kami mendarat satu jam setelah pesawat Kakakmu yang…” Mama Emely tak melanjutkan ucapannya dan malah menangis. Rupanya mereka sudah tahu.
“Sudahlah, sayang. Sekarang hanya satu harapan kita, semoga Evelyn salah satu dari korban selamatnya. Lebih baik kita menghidupkan tv, mungkin ada kabar kelanjutan dari tragedi ini,” kata ayah berwibawa. Mereka menyetel tv dan benar, berita jatuhnya pesawat itu langsung hadir.

Reporter tv mengucapkan berita dengan sangat baik. Ia mampu menipu penonton dengan nada gembiranya. Rupa-rupanya, seluruh korban …. TAK SELAMAT!! Isak tangis keluarga Klaverine meluap. Apalagi Emely yang sangat galau. Percuma hiasan kamar yang ia dekor. Semuanya tak berguna! Tapi kabar mengejutkan tiba-tiba terdengar setelah kabar yang di bawakan reporter sebelumnya.

“Kabar mengejutkan dari penyanyi cilik Emely Anneve Klaverine. Produsernya Mr. Kennedy mengungkapkan bahwa kontrak antaranya dan Emely telah terputus. Masih belum terkuak bagaimana bisa penyanyi cilik bersuara emas ini hengkang dari dunia musik. Kita tunggu saja kabar dari penyanyi cilik ini.” Ucap sang reporter. Emely dari tadi khawatir dengan komentar orangtuanya soal keputusan besar yang ia buat sendiri ini.

“Jadi kau sudah tahu, sayang. Mr. Ken itu penipu. Dia mengambil hampir setengah dari penghasilanmu selama ini. Keputusan yang sangat baik. Ya, sebelum dia merampas semua kerja kerasmu, sayang,” kata mama mengusap kepala Emely. Hah, Emely lega sekali. Tapi ternyata perkiraanya terhadap Mr. Ken itu benar.
“Ya, ucapan Mama benar. Rencananya kami akan memberitahu setelah pulang, tapi kau sudah tahu duluan, ya. Tapi bagaimana bisa, dan apa kau yakin soal keputusanmu kabur dari dunia musik, sayang?” Tanya papa. Emely mengangguk dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

2 tahun berlalu sudah sejak tragedi meninggalnya Kak Lyn. Jasadnya masih belum ditemukan dan itu menambah kesedihan keluarga Klaverine. Emely benar-benar menghapus karir dari kehidupan besarnya. Ia menjadi gadis layaknya anak perempuan biasa. Sekarang, hampir semua penggemar Emely tak mengenal wajah tenarnya dulu. Perubahan besar sangat dirasakan keluarga Emely semenjak perusahaan besar yang dibangun oleh keluraga Klaverine hancur dan bangkrut. Orangtua Emely memutuskan untuk pindah ke Berlin di mana Emely seperti hidup di desa damai yang sangat sepi, tak ada yang mengenalnya walaupun 2 tahun yang lalu ia menjadi bintang cilik yang sangat sukses.

Hari pertama di Berlin, hari pertama juga Emely bersekolah. Sekolahnya pun berbeda, sekolah umum, bukan privat di mana tempat anak-anak terkenal dan beruang mendapatkan ilmu.
“Sayang, semoga suka bersekolah di sana, ya. Papa akan mengantar menggunakan motor,” kata mama masih di keadaan terpuruk. Mr. Carter tak ada lagi. Ia mengundurkan diri walaupun bukan dengan alasan masalah yang menumpuk di keluarga tempat ia bekerja, tapi orangtuanya pun sedang sakit di kota kelahirannya. Oh ya, Emely juga menjadi anak penurut yang tidak egois semenjak mulainya kehidupan sederhananya di Berlin.

“Iya, mama. Emely tahu Berlin tempat yang cocok untuk Emely bersekolah,” kata Emely senyum terpaksa. Ia pun meninggalkan rumah sewanya tempat ia menghabiskan hidup di Berlin. Rumah yang sederhana. Sesampainya di sekolah itu, Emely langsung dilirik oleh anak-anak yang akan menjadi teman-temannya. Tapi seorang anak perempuan, Gladys, adalah yang paling tertarik dengannya, sekaligus teman sebangkunya.

“Jadi kau ini dari London, ya? Tempat ratu Ebilazeth tinggal,” kata Gladys ketika di kantin. Emely tertawa kecil.
“Mungkin maksudmu Ratu Elizabeth,” kata Emely. Gladys mulai menjadi alasan Emely suka Berlin. Walaupun sekolah umum, Emely sungguh suka tempat ini, tempat di mana ia bisa diterima tanpa ejekkan-ejekkan yang selalu mengenai dirinya. Ia pun dapat dengan leluasa mendapatkan teman baru. Tak ada yang ingin berteman dengannya di tempatnya bersekolah dulu mungkin karena keegoisannya, tapi tempat ini sangat berbeda.

“Aku tahu, aku hanya ingin menghiburmu. Kau terlihat murung. Pasti ada alasan kau pindah, kan? Apa, apa? Katakan!” Bujuk Gladys.
“Sudahlah, kau akan mengerti jika kau tinggal di London,” kata Emely.
“Itu rumit, bukan. Sudahlah, aku tak mau tahu. Oh ya, apa kau suka menyanyi?” Tanya Gladys sambil menyeruput es tehnya. Emely yang sedari tadi sibuk membaca novel, langsung menghentikan membacanya.

“ya, jika kau suka. Mungkin kau bisa ikut pentas menyanyi di gedung kontes Amazure. Hadiahnya cukup besar, satu trophy, satu piagam, dan uang sebesar 15.000 dollar! Wow, uang yang sangat banyak, ya. Ehh, entahlah, kami kan menggunakan euro. Apakah uang itu banyak?” Tanya Gladys.
“Hei, hei, Emely. Apa kau sadar? Aku ini bicara padamu,” kata Gladys sambil mengguncangkan badan Emely.
“Nngg… Ya, maafkan aku. Aku tadi memikirkan sesuatu,” kata Emely.

“Jadi kau suka menyanyi?” Tanya Gladys.
“Mmhh…. Tidak. Aku paling benci menyanyi. Sudahlah tak usah bicarakan itu,” kata Emely yang mengingat masa lalunya.
“Ya, baiklah. Aku pun lebih memilih menari salsa daripada menyanyi. Kau tahu suaraku ini seperti ….. Kaleng alumunium jatuh,” ujar Gladys memelankan suaranya. Mereka pun melupakan tentang pentas menyanyi tersebut. Tapi Emely masih kepikiran tentang hal itu. Ia jadi seperti memutar balik otaknya ke masa lalu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Livia Rossayyasy
Facebook: Livia Rosayyassy
Instagram: @liviarssy

Cerpen Trouble of Sisters (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sayap Bidadari (Part 2)

Oleh:
Malam pun tiba. Hawa dingin semakin menyelimuti siapapun yang tengah tertidur nyenyak. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menemani udara malam. Burung-burung malam mulai berkicau, suara jangkrik mulai terdengar lebih keras

Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu

Oleh:
Mentari telah memancarkan sinarnya, menyambut milyaran manusia. Seberkas cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamar mampu menyilaukan mata seorang lelaki muda yang biasa disapa Raka. Pemandangan nan indah yang

Eyang Uti

Oleh:
Aku masih mengingatnya ketika beliau mulai menyisiri rambut-rambut keriting tebalku. Beliau dengan lembutnya menyuruhku duduk di depan meja rias. Aku menurut, sambil memperhatikan setiap langkah jari lentikknya. Beliau menurunkan

Papaku Over Protective

Oleh:
Terik mentari mengusirku dari tepi jalan dan membuatku celingukan mencari tempat untuk berlindung. Aku sedang menunggu Papa menjemputku. Seperti biasa, kemanapun pergiku pastilah Papa yang selalu siap mengantar-jemputku. Pernah

Setumpuk Mutiara Kasih (Part 1)

Oleh:
Setiap aku bilang cinta, yang paling sering teringat hanya satu. Cintaku padaNya. Mungkin selama ini aku hanya berpacu pada dunia, yang hanya memberiku kebahagian sesaat, yang membuat aku jenuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *