Tuhan, Aku Tak Ingin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 July 2014

Semua bermula di sore itu, sore tanpa senja, awal dari perpisahan yang abadi. Ketika sayup lafadh-lafadh indah mengalun merdu di setiap rumah suci-Mu, bergema menelusup ke dalam lubuk hati dan merambat hingga ke seluruh alam semesta, pertanda ashar telah menjelang, semuanya perlahan terungkap saat kecupan hangat bunda menyentuh kalbu. Aku tak mengerti waktu itu yang akan terjadi padaku, dan selanjutnya dan aku tak tahu bahwa itu kecupannya yang terakhir.

Ada yang seketika menetes di wajahku ketika beliau melambaikan tangan dan perlahan hilang dari pandanganku. Aku tak tahu dari kejadian ini akan berbuah perpisahan, merenggut semua kebahagiaan, hangatnya kebersamaan dan semuanya.

Aku tak habis pikir begitu tega beliau meninggalkanku di sini, berselimut sunyi sehingga harus sendiri ku jalani hari-hari dengan nuansa berbeda. Aku tak tahu sampai kapan semua ini akan berakhir, menjalani alur kehidupan tanpa tokoh sentral dalam hidupku, agaknya tanpa mereka semua aku tak akan dapat merajut benang sutra kehidupan dengan baik sebagaimana yang mereka impikan sejak dulu.

Diri ini seakan terikat kuat oleh semua peraturan-peraturan, kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang membuatku seakan tak dapat bergerak bebas sedikit pun, hati kecilku meronta, menjerit-jerit setiap saat mencoba menahan semua rasa rindu yang selalu menyelimuti. Tak ada yang dapat kulakukan disini kecuali bermunajat kepadanya di setiap lima waktuku.

Malam menjelang menyebar selimut hitam pekat. Sunyi menghias pada sepertiga malam. Semua mata terlelap, terbuai oleh mimpi-mimpi indah. Namun aku masih terjaga di antara angin yang mulai menelusup kulit, entah mengapa aku tak bisa memaksakan kelopak mataku untuk berpejam dan menyambut mimpi-mimpi indah.

Di emperan masjid aku lihat kabut perlahan memudar, bulan semakin jelas terlihat masih setia menemani jutaan taburan gemintang. Seketika butiran-butiran cairan lembut menghambur keluar, lantaran terbesit dalam pikiranku kepada mereka; semua keluargaku tercinta. Mungkinkah saat ini mereka semua tengah merasakan hal sama seperti yang aku rasakan sekarang, menahan rindu yang setiap waktu semakin membuncah.

Gurat cahaya kuning keemasan mulai merambat ke seluruh celah-celah bumi. Ada pemandangan yang membuat rindu ini seakan mencekikku, ketika kulihat teman se kamarku tengah berbahagia menyambut kedatangan orangtuanya, hatiku terasa teriris, pedih. Kenyataan ini sungguh tak adil bagiku. Aku iri padanya, ia mempunyai orangtua yang mengerti anaknya, setiap saat selalu ada untuknya. Tetapi aku?, mungkin aku akan terus berteman dengan kesunyian.

Ternyata memang berat menjalani semua ini tanpa dekapan hangat keluarga, aku akui itu. Dulu, aku mengira semuanya mudah, tetapi kenyataannya, aku tak sanggup melawan kelengggangan ini. Memaksaku melupakan kenangan indah masa lalu dan menanamkan kemandirian.

Sebulan telah lelah kulalui, akhirnya tiba saatnya aku untuk pulang sekedar melepas kerinduan yang telah lama terpendam. Mulai terbayang jelas di benakku; sesungging senyum indah bunda saat menyambutku pulang. Setelah sampai di depan pagar rumah, aku terheran melihat orang-orang memadati rumah dan bendera kuning yang berjejer rapi di pagar. Hati ini mulai gelisah; apa yang terjadi.

Sesak dadaku mendengar lantunan sendu ayat suci al-qur`an di sertai tangisan-tangisan yang beradu, berjuta pertanyaan muncul, menumpuk dalam hati; akankah?. Segera kuterobos kerumunan orang-orang yang mulai berdesakan. Tubuhku lemas, butiran air mataku terus membanjiri ketika kulihat ayah terbaring tak bernafas, aku lihat bunda terkulai lemas di samping ayah dan setelahnya aku tak ingat.

Seminggu setelah kepergian ayah, bunda mulai sakit-sakitan. Mungkin rasa tak rela masih menghantuinya, beliau terbaring lemas dan dililit selang-selang infus. Gelisah menggerogoti.
Tuhan, aku tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya!

Aku sudah lama menunggu bunda sadar ditemani sederet kursi kosong. Tiba-tiba dokter keluar tergopoh-gopoh dengan stetoskop yang masih setia melingkar di lehernya.
“Keluarga ibu Fatimah?”
Lamunanku buyar seketika, segera kubangkit dari tempat dudukku.
“Saya anaknya, Dok. Bagaimana keadaan ibu saya?”
Aku lihat dokter menarik nafas panjang dan menelan ludah.
“Saya tidak tahu pasti keadaan ibu anda, tapi ibu anda telah sadar dan selalu memanggil nama Andi”
“Boleh saya melihatnya, Dok?”
“Silahkan, asalkan jangan buat pasien tertekan batinnya”

Dengan segera aku menyambar daun pintu yang di atasnya terpampang tulisan ICU. Suara bunda terdengar masih memanggil nama mendiang ayah.
“Bunda, ini aku anakmu, Ian”
Perlahan bunda menoleh kepadaku.
“Nak, tadi bunda bertemu dengan ayahmu di suatu tempat yang indah. Ayahmu mengajak bunda tinggal bersama di tempat itu”. Ucapnya meringis menahan sakit.
“Mungkin bunda tak akan lama lagi, Nak. Kamu yang sabar”.
“Bunda, jangan berkata seperti itu, bunda harus kuat”
“Kamu yang sabar, Nak… kamu yang sabar”

Aku lihat tubuhnya semakin lemas dengan mata yang perlahan terpejam dan akhirnya tak bergerak lagi. Dokter yang dari tadi termangu di sampingku dengan segera memeriksa bunda. Tak lama kemudian Dokter menatapku sejenak lantas menggelengkan kepala. Aku mengerti akan maksudnya. Ada perasaan ketakrelaan yang mulai muncul menggerogoti tubuh. Kusambar tubuh bunda, air mataku semakin tak terbendung. Terlintas begitu saja kenangan-kenangan bersamanya, perih hati ini ketika ingat aku selalu mengecewakannya dan selalu membuat persaan dan hatinya terluka. Aku banyak berdosa kepadanya. Aku tak sempat membahagiakan keduanya dan tak dapat membalas semua kebaikan pengorbanan mereka selama ini. Bila saja dapat kuputar ulang waktu yang telah jauh bergulir, pasti aku akan memperbaiki semuanya dan membahagiakan keduanya.

Dulu, saat aku dimasukkan ke penjara suci, hidupku sengsara karena harus mendekam dalam ruang hampa kasih sayang, menjalani semua tanpa dekapan hangat keluarga dan setelah aku pulang malah lebih parah lagi. Kini aku tak dapat merasakan harmonisnya keluarga untuk selamanya.

Saat ini aku hanya bisa berdoa dan terus bersabar. Mungkin semua ini hanya cobaan untuk menguji kesabaranku saja, atau mungkin di balik semua ini, Tuhan tengah mempersiapkan rencana paling sempurna untukku suatu saat nanti. Entah kapan.

Cerpen Karangan: D Hasany Achmad
Facebook: Sany Acdovic

Cerpen Tuhan, Aku Tak Ingin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terimakasih Ya Dira

Oleh:
Namaku Bugi, cantik, imut, pintar dan baik lagi itulah ciri-ciriku. Eh kepedean sorry ya, aku emang orangnya gitu, keceplosan maksudnya. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dira. Orangnya pintar, cantik

Kegelapan

Oleh:
Hari masih pagi, Qiyan telah bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Jam dinding masih menunjukkan pukul enam. “Yan, sepagi ini? Tumben nih” tanya mama setelah melihat Qiyan

Gadis Itu

Oleh:
Akulah wanita penjelajah waktu, wanita yang melihat kejadian-kejadian dari masa lalu hingga masa depan. Akulah pengawas kejadian dari masa lalu hingga masa depan, aku berusaha untuk mengetahui apa yang

Warna dalam Sebuah Karya

Oleh:
Tak terasa telah sebulan Ayah meninggalkan kami semua. Ia adalah sosok Ayah, Pemimpin, dan Seniman bagi kami. Mama sangat terpukul atas kepergian Ayah. Ayah meninggalkan 5 orang anak yaitu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *