Tuhan Izinkan Dia Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu akankah semua ini akan terjadi padaku? Aku menatap jendela kaca yang menjadi pemisah kami. Di dalam sana terbaring bayi kecilku dengan segala peralatan yang menempel di tubuh kecilnya agar dia sanggup bertahan lebih lama.

Aku hanya bisa menyentuhnya di balik kaca dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Terbesit di benakku seandainya saja dia terlahir dari wanita lain akankah dia hidup lebih baik? 18 tahun yah sekarang usiaku 18 tahun dan aku adalah seorang ibu. Mendengar usiaku pasti semua orang tahu apa yang terjadi pada masa laluku yah benar aku hamil di luar nikah saat aku masih duduk di bangku SMU.

Hari itu. Ya hari itu seandainya aku menuruti perintah ibuku mungkin ini tak akan terjadi tapi apalah gunanya menyesal toh nasi sudah jadi bubur. Saat itu 2 bulan sebelum aku menjalani ujian nasional aku ikut ke pesta ulang tahun temanku yang diadakan di sebuah resort di pinggir pantai. Aku sudah minta izin pada kedua orangtuaku, ayah yang sibuk dengan pekerjaannya mengiyakan saja tapi ibu yang tinggal terpisah denganku karena sudah memiliki keluarga baru di luar negeri sana melarangku pergi apalagi sambil acara menginap segala.

“Sara kamu kan anak perempuan tak baik menginap di luar bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu.” itulah kata yang diucapkan ibuku saat itu tapi aku mengabaikan ketidaksetujuan ibuku dan tetap datang ke pesta itu. Orang yang mengadakan pesta itu adalah temanku yang bernama Bella dan dia merupakan sahabat terbaikku jadi tak enak kan kalau tidak datang. Pesta itu berlangsung meriah ditambah lagi dengan kehadiran kakak Bella dan teman-temannya yang berumur 4 tahun lebih tua dari kami.

Pesta berlangsung hingga larut malam, karena lelah aku nemutuskan tidur dulu di kamar yang telah disediakan. Aku tidak mengunci pintu karena Bella yang akan tidur denganku malam itu belum juga datang. Aku tak ingat dengan apa yang terjadi malam itu karena ketika aku bangun aku sudah tertidur tanpa sehelai benang pun dengan seorang pria yang sama-sama tel*njang denganku tidur di sampingku.

Aku hendak menjerit tapi pria itu membungkam mulutku agar diam. Pria itu bangun dan segera mengenakan pakaiannya dan meminta maaf padaku atas kekhilafannya meniduriku. Saat itu aku masih sangat syok dan tak bisa memikirkan apa pun selain menangis. 2 bulan setelah kejadian itu aku tak pernah menikirkannya dan fokus pada ujian akhirku. Saat ujian aku tiba-tiba merasa mual dan pusing tapi sebisa mungkin aku menahannya sampai ujianku selesai. Setelah ujian selesai aku tidak bisa menahan diriku lagi dan akhirnya, semua gelap.

Aku terbangun di tempat asing dan tiba-tiba seseorang menamparku dan memaki ke arahku. Aku menatap orang itu yang ternyata ayahku sendiri. Aku menatapnya bingung sekaligus marah tapi sepertinya dia terlihat lebih marah. Ayah mengguncang-guncang tubuhku dan menanyakan siapa b*jingan yang telah menghamiliku. Aku mencerna apa yang ayah katakan ‘hamil’, aku terperanjat tak percaya mendengar bahwa aku hamil. Aku merasa duniaku runtuh seketika mendengar bahwa aku hamil dan tanpa dikomando air mataku turun seketika diikuti oleh tangisan sedihku.

Aku tak tahu harus berbuat apa dengan keadaanku ini membayangkan apa yang terjadi setelah ini pun aku sungguh takut. Aku tak bisa memberitahukan hal ini pada Aldan, laki-laki yang harus bertanggung jawab pada bayiku. Dokter bilang usia kandunganku masih 2 bulan dan itu berarti masih rawan terjadi keguguran. Ayah dan ibuku marah dan kecewa atas apa yang terjadi padaku bahkan ayah yang serumah denganku tak pernah mau menyapaku.

Aku tak tahu setan apa yang merasukiku hingga aku meneguk obat peluruh kandungan dan yang terjadi aku kembali masuk rumah sakit tapi sialnya aku sama sekali tidak keguguran. Ayah semakin murka padaku karena aku berani mencoba membunuh calon bayiku sendiri bahkan dia mengataiku bukan manusia. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan saat ini, aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi cobaan ini. Usia kandunganku menginjak bulan keempat aku dapat merasakan getaran-getaran kecil di perutku. Aku merasa sangat takut karena sadar bahwa di dalam perutku sekarang ada makhluk hidup yang tak pernah aku inginkan. Aku tak pernah bertemu siapa pun setelah aku tahu tentang kehamilanku.

Ayahku terus memaksaku mengatakan siapa ayah bayiku tapi aku tetap bungkam dan mendiamkannya. Hari itu aku memeriksa USG calon bayiku, aku dapat melihat janin dalam kandunganku dan juga dapat mendengar detak jantung dari janin itu. Aku hanya bisa menangis antara benci dan haru aku tak tahu apa yang aku rasakan terhadap janin itu. Tanpa aku ketahui ternyata di luar ruang dokter Aldan ada di situ nemperhatikanku.

Saat aku selesai diperiksa dokter Aldan menarikku untuk bicara. Aldan terlihat panik atau marah aku tak tahu persis apa yang dia rasakan. Dia melihat perutku yang sedikit menonjol dan bertanya mengapa aku tidak menggugurkannya. Aku melotot tak percaya dari sekian banyak kata yang bisa dia ucapkan kenapa hanya kata itu yang dia ucapkan padaku. Aldan menarik napas berat dan meminta maaf padaku atas apa yang menimpaku juga maaf karena dia tak bisa bertanggung jawab atas bayi yang ku kandung.

Dia mengatakan dia baru saja bertunangan dengan kekasihnya dan mereka akan segera menikah setelah kekasihnya ke luar dari rumah sakit. Aku hanya diam tak merespon apa yang dia katakan jauh di lubuk hatiku aku ingin dia bertanggung jawab pada bayiku tapi aku sadar diri apa yang terjadi di antara kami hanyalah kesalahan. Seorang wanita paruh baya mendekati kami dan langsung memukuli Aldan membabi buta. Ternyata ibunya Bella mendengar parcakapan kami tadi dan marah pada putranya. Aku tak dapat bereaksi apa pun dan perlahan pergi dari ibu dan anak itu.

Aku berjalan tanpa arah dalam hatiku aku kembali menyesali apa yang telah terjadi ‘seandainya’ ya hanya itu yang kata itu yang bisa aku gumamkan. Aku berjalan serampangan hingga sebuah mobil hampir saja menabrakku, sang pengemudi mobil yang ternyata ayahku sendiri marah akan kelakuanku yang akan mencelakakan diri sendiri dan juga bayiku. Setelah pertemuan tak sengaja di rumah sakit itu orangtua Bella datang ke runahku dan mengatakan bahwa Aldan akan bertanggung jawab atas bayi dalan kandunganku. Ayah menyetujuinya sedangkan aku hanya diam dan dapat aku lihat raut wajah tak suka dari Aldan.

Kandunganku hampir menginjak 7 bulan dan sekarang aku tinggal bersama keluarga Bella karena ayah tak bisa mengurusku dalam keadaan hamil besar seperti ini sedangkan ibuku dia tak pernah mau menghubungiku lagi setelah tahu aku hamil di luar nikah. Di keluarga Bella hanya Bella dan ibunya yang welcome terhadapku sedangkan ayahnya dan Aldan terang-terangan membenciku.

Hidupku sekarang terasa bagai di neraka, aku tinggal dengan orang asing yang mendiamkanku, perutku yang semakin membesar dan terkadang menyakitiku ditambah lagi gunjingan tetangga membuatku ingin mati saja. Setiap hari aku berdiam diri di kamar dan dilarang ke luar kecuali periksa kandungan. Malam itu aku merasa perutku sakit sekali, aku berusaha membangunkan Aldan yang tidur di sampingku tapi dia malah menepis tanganku dan kembali tidur. Aku tak kuat lagi menahan rasa sakit di perutku dan berjalan ke luar untuk mencari pertolongan tapi ternyata tidak ada satu orang pun di rumah karena mereka sedang makan malam di luar.

Dengan sisa kekuatanku aku tertatih-tatih menuju klinik yang hanya berjarak 5 menit dari rumah itu. Aku berjalan perlahan dan terhunyung-hunyung karena menahan sakit tanpa bisa menghindar sebuah mobil menabrakku dan membuat aku ambruk seketika. Aku dapat mendengar riuh orang di sekitarku, inikah akhir dari hidupku? Di sisa-sisa kesadaranku aku mengelus perutku merasakan kehadiran bayi malangku inikah akhir hidup baginya juga. Aku merasakan mataku mulai berat dan semua gelap.

Aku mengerejapkan mataku dan melihat ruangan putih beserta berbagai selang menempel di tubuhku dengan refleks aku menyentuh perutku yang sudah rata. Apa ini mimpi tanyaku dalam hati, seseorang datang mendekat ke arahku dan tersenyum melihatku. Aku tak mengenal orang itu dan ketika orang itu menanyakan keadaanku yang dapat ke luar dari mulutku adalah kata ‘bayi’.

Orang itu terdiam sambil menunduk, perasaanku jadi tidak enak apa terjadi sesuatu pada bayiku rasa sakit tiba-tiba menyerang tubuhku membuatku melengguh sakit. Orang asing itu segera memanggil dokter dan dokter segera memeriksaku. Dokter mengatakan keadaanku sudah stabil dan memanggil pria asing itu dengan nama Adam. Aku menarik jas dokter itu dan menanyakan bayiku tapi seperti Adam tadi dokter pun hanya bisa menunduk.

Dia menyuruhku untuk segera sembuh saja baru nanti memikirkan bayiku. Aku merasakan perasaan tak enak tentang bayiku ini aneh memang bayi yang tak pernah ku hendaki kehadirannya sekarang begitu ku cemasi dan ku rindukan.

Seminggu sudah aku terbaring di rumah sakit, keluarga Bella dan ayahku datang setelah aku dirawat selama 2 hari oleh pria asing bernama Adam itu. Aku menanyakan tentang bayiku dan semua hanya diam menunduk tanpa berkata apa pun. Aldan yang biasanya cuek padaku sekarang mau merawatku tapi ketika ku tanyakan tentang bayiku dia hanya akan diam dan memalingkan wajahnya.

Aku tak tahan lagi melihat kelakuan mereka semua, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan bayiku tapi kenapa semua orang menyembunyikannya dariku. Aldan duduk di samping ranjangku dan sesekali melihat ke arahku, aku kembali menanyakan bayiku dan dia hanya diam saja aku mengatakan seburuk apa pun kabar bayiku aku ingin tahu keadaannya. Aku memohon padanya untuk membawaku menemui bayiku dengan air mata yang mengalir deras dari mataku. Aldan memelukku dan menyuruhku untuk berhenti menangis serta berjanji untuk membawaku menemui bayiku.

Dan di sinilah aku sekarang di balik kaca tempat bayiku tertidur dengan berbagi alat yang menempel di tubuh kecilnya. Air mataku terus mengalir menyaksikan keadaan bayiku bahkan aku tidak bisa menopang kedua kakiku untuk berdiri dengan benar. Aldan memelukku dari belakang agar aku tetap bisa melihat bayiku. Aldan berbisik padaku bahwa dokter bilang keadaan bayiku masih kritis sekarang dan hanya keajaiban Tuhan yang sanggup membuatnya bertahan. Aku hanya bisa terisak mendengarnya, dapat ku rasakan Aldan pun menangis di belakangku.

Sekarang kami orangtua yang tak pernah menghendaki kehadirannya dan sempat mencoba membunuhnya hanya bisa menangis dan meratap melihat dia bayi kecil kami dalam keadaan sekarat. Aku menatap sedih pada bayiku dan berdoa semoga Tuhan mengizinkan dia hidup dan berkumpul bersama kami, mengizinkan kami untuk menjadi orangtua yang baik untuk menebus kesalahan kami di masa lalu padanya.

3 bulan sudah waktu berlalu semenjak dia lahir dan selama itu pula aku setiap hari berdiri di belakang kaca untuk melihatnya. Bayi itu bayi laki-laki kecil kami diberi nama Javran. 3 bulan bukanlah waktu sebentar bagiku untuk menunggu bayiku kembali ke pelukanku setiap hari aku menangis meratapi nasib bayi malangku. Aldan pun setiap hari menemaniku dan menguatkanku bahwa Tuhan pasti menjaganya dan membiarkan dia hidup.

Hari ini setelah penantian panjang kami akhirnya aku bisa memeluk bayiku untuk pertama kali, menyentuh kulitnya dan merasakan aroma tubuhnya. Tangis haru tak bisa ku bendung ketika melihat dia membuka matanya dan menatap ke arahku. Bukan hanya aku tapi Aldan dan seluruh keluarganya serta Ayahku juga ikut menangis menyambut bayiku, bayi yang tak pernah diharapkan sekarang menjadi bayi yang begitu diinginkan dan diperhatikan.

Aku memperhatikan bayiku yang memang sangat mirip dengan Aldan. Aku memeluknya dan menciumnya tak lupa aku mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhan karena membiarkan bayiku tetap hidup. Aldan merangkulku dan menyentuh bayi kami dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena bayi kami sanggup bertahan dan juga sanggup menyatukan orangtuanya dan orang-orang terdekat kami.

The End

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: Min Hyu Na

Cerpen Tuhan Izinkan Dia Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Long Live (Part 1)

Oleh:
Namaku Samantha Olivia Robertson tapi biasa dipanggil Sammy. Umurku 9 tahun. Dan aku tinggal di Manhattan sebuah kota di Amerika. Tapi semenjak kedua orangtuaku bercerai aku tinggal di Jakarta,

Mama, Lihatlah Aku Di Sini

Oleh:
Tanggal 19 Desember 2013. Hari ini pun sama dengan hari kemarin. Aku yang seorang anak tunggal Ayah dan Mama. Ayahku bekerja sebagai pekerja kantoran, sedang Mamaku adalah seorang editor

Rindu Yang Tak Pernah Lekang

Oleh:
Aku selalu menulis di diary hitamku yang sehitam mimpi-mimpiku. Sehitam rindu yang tak pernah lapuk, seiring zaman yang semakin kejam memenjaraku dalam kesunyian. Selalu ku tulis di akhir halamanku:

Sajak Cinta Ralin

Oleh:
Asal kau tahu saja Senyum mu itu adiktif. Aku kecanduan. By: Your Forever Admire Begitulah Ralin sekitar enam bulan terakhir ini ia gencar sekali mengirimi tulisan tulisan semacam itu

Perjuangan Risma Ayu

Oleh:
Di sebuah sekolah elit di Jakarta, ada murid miskin yang bisa bersekolah di sana karena mendapat beasiswa, ia bernama Risma Ayu dan ia adalah anak yang sangat pintar. Sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *