Tuhan Memang Suka Begitu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 February 2016

Aku masih bimbang. Jika ku curi motor ini, tentu dosaku tak akan segan menghantarkanku menuju neraka. Tapi jika tidak, kapan lagi aku bisa punya motor dengan keadaan seperti ini. Aku ringkih, penuh dosa, tak bisa berbuat banyak, payah, dan satu lagi hal yang mendasari niatku: aku miskin materi. Yang perlu kalian tahu, aku sangat bersyukur bisa memiliki seorang putra seperti Syukri. Dia adalah matahariku di saat siang, dan bulanku di saat malam. Dialah alasanku mengapa aku masih dapat bertahan di tengah karang yang dihantam desiran ombak kehidupan secara bertubi-tubi. Dengan kehidupan yang seperti ini, dia masih saja kelihatan bahagia dan selalu bersyukur. Ternyata doa yang ku siratkan dalam namanya betul-betul dikabulkan oleh Tuhanku.

“Sudahlah, Pak. Syukri tetap bisa ke sekolah, kok. Teman Syukri kan baik-baik…”
“Ternyata banyak pelajaran yang Syukri dapat dari kehidupan kita yang seperti ini, Pak! Sudah selayaknya Syukri bersyukur setiap waktu…”
“Semoga Bapak mendapat pekerjaan yang bagus di sana. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, Pak…” Kadang, tanpa ku sadari, pipiku dingin karena dilintasi oleh air mata jika mengingat kata-katanya. Padahal aku tak ingin anakku merasakan susah seperti yang aku rasakan dulu. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.

“Ini, Mas…” Seorang wanita cantik dengan kacamata bening yang memperindah matanya menyodorkan selembar uang padaku.
“Mas tukang parkirnya, kan? Ini ambil, buruan. Terima kasih sudah menjaga motor saya yang kuncinya tertinggal. Hehe…” Tawanya yang seperti dipaksa itu meningkatkan denyut nadiku. Aku pun terpaku menatap wajahnya yang merona dan perawakannya yang penuh pesona. Aroma parfum ini seperti pernah ku cium sebelumnya. Oh…

“Duh, Mas ini kenapa sih? Saya sudah telat loh, Mas. Apa lima puluh ribu ini nggak cukup?” Itu lebih dari cukup, Mbak. Ya ampun, aku hanya bisa menjawabnya dalam hati. Sepertinya ia mulai kesal dan pergi meninggalkanku. Tapi di saku seragam petugas parkirku mengintip selembar kertas biru yang disodorkan wanita itu tadi. 39 tahun. Tidak, aku tak boleh jatuh cinta lagi. Aku hanya perlu memikirkan bagaimana masa depan Syukri nantinya. Ini bukan zamanku lagi untuk mengarungi samudra asmara.

“Memang rezeki itu nggak ke mana…” Ujar Kang Septo, pemilik kios rok*k yang berdekatan dengan lahan parkir supermarket ini.
“Namanya Ismi. Dia adalah bungsu dari Haji Mul, orang terkaya di kecamatan ini. Katanya, beliau memiliki perternakan sapi di Surabaya. Tak hanya itu, warung baksonya bertebaran di beberapa penjuru Sumatra. Juga…”
“Hentikan, kang…” Kang Septo pun menuruti kataku. Matanya seakan menunggu bibirku bergerak membuat sederet kata.
“Temani aku… menuju rumah Haji Mul itu…” Percayalah. Semua ini demi sang buah hatiku. Tak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan yang peluang keberhasilannya nyaris seratus persen. Lagi pula, Syukri pernah bilang bahwa aku awet muda. Wajahku di foto tahun 98 sama dengan tahun ini. Tuhan memang suka begitu.

“Mas…”
“Ya?”
“Sudah tiga bulan kita pacaran, tapi kita nggak pernah ke rumah kamu…”

Aku membisu. Udara malam ini dinginnya sangat menusuk kulitku. Maklumlah, hanya Ismi yang mengenakan jaket. Aku hanya mengenakan kemeja biasa yang ku beli ketika masih di kampung. Ismi tak menunggu jawabanku. Malah, tangannya semakin erat melingkari pinggangku. Aku tak tenggelam sedikit pun. Di pikiranku hanya ada Syukri yang sedang tertawa riang.
“Kalau Bapak kesepian di sana, Bapak cari istri baru lagi saja!” Celotehnya ketika ku telepon seminggu yang lalu.
“Benar juga! Dan kamu jadi punya Mama baru!” Aku membalas dengan sedikit bumbu canda. Ia diam. Entah tak dengar atau berpikir sesuatu, aku tak tahu.
“Tapi, Syukri tak akan pernah menganggapnya sebagai Mama Syukri. Mama Syukri hanya satu…”

Rani, kau dengar itu? Anakmu sangat menyayangimu. Maafkan aku. Aku belum bisa membuat hidup anak kita menjadi lebih baik. Dia justru ikut memikul beban yang harusnya ku pikul sendiri. Dia selalu tegar, bahkan di saat hari kepergianmu menghadap Tuhan. Ia bukan tak sedih, tapi ia mahir menyembunyikan kesedihannya. Yakinlah bahwa ia akan menjadi orang nomor satu nantinya.

“Bagaimana kabar anakmu, Mas?” Ismi membuyarkan lamunanku.
“Baik…”
“Kapan ya aku bisa berjumpa dengannya?”
Ia, Ismi. Aku juga tak sabar ingin menikahimu. Aku ingin mengirimkan motor untuk Syukri. Ku dengar, ayahmu mengoleksi motor bebek di garasinya. Barangkali tak ada keraguan padanya untuk memberikan beberapa motor itu pada menantunya.

“Sampeyan serius?”
“Iya, Kang. Insya Allah, hidupku akan membaik jika menikahinya…”
“Aku bukannya tak mau membantu. Tapi aku juga lagi krisis…”
“Ya pinjam untuk maharnya sajalah, Kang…”
Kang Septo menggelengkan kepala. Ia tak beranjak dari kursinya. Ternyata rumah kang Septo tak seperti yang ku bayangkan. Sederhana, materialnya kebanyakan dari kayu dan papan, lantainya juga semen biasa. Tapi mau gimana lagi, aku hanya berani meminta pinjaman dari dia saja.
“Kamu hanya memikirkan hartanya. Bagaimana soal Haji Mul?”
“Ternyata beliau buta, Kang,”

Tentu Kang Septo terkejut dengan apa yang aku katakan barusan. Aku pun menjelaskan bahwa Haji Mul buta karena melihat kilat yang sangat terang di malam hari. Tak logis bagi Kang Septo, tapi aku pernah membaca di sebuah buku, hal itu memang dapat terjadi. Itu terjadi tiga bulan yang lalu, sehari sebelum aku menjalin hubungan dengan Ismi. Tentu ini membuatku mudah dalam melangkah bersama Ismi. Beliau tak perlu melihatku sehingga kemiskinan materiku dapat tersamarkan. Ternyata Tuhan masih mau membantuku walau niatku salah untuk menikahi Ismi. Ya, Tuhan memang suka begitu.

“Bapak sebenarnya kerja apa di sana?”
“Alhamdulillah, Bapak diterima di sebuah perusahaan susu. Jadi, entar kamu siap-siap aja untuk menerima motornya…” Aku tersenyum.
“Pak, Syukri sayang sama Bapak…”

Aku menganggukkan kepala walau ku tahu Syukri tak dapat melihatnya karena kami hanya berbicara lewat handphone. Dalam seumur hidupku, inilah pertama kali Syukri berkata seperti itu padaku. Tak ku sangka, akhirnya aku berhasil dalam perantauanku ini. Ismi, kau pembawa rezeki. Maafkan aku jika aku terkesan memanfaatkanmu. Tapi inilah aku. Seorang ayah, jika telah terlahir anaknya ke dunia, maka sisa umurnya dipergunakan hanya untuk membuat kehidupan darah dagingnya tersebut lebih baik dari hidupnya yang dulu.

“Syukri, Mas?” Ismi menghampiriku.
“Iya…”
“Mas…”

Aku terkejut. Jemari Ismi menggerayangi dadaku. Duduk bersebelahan dengannya membuat ia menyandarkan kepalanya di bahuku dengan mudah. Aroma parfum yang sangat khas itu masuk menelusuri saluran pernapasanku. Ya, seperti parfum Rani. “Apakah kau tidak berniat ingin menambah momongan lagi, Mas?” Maafkan aku jika terlalu pasif, Ismi. Aku tahu, kau pasti mencintaiku. Kala ku lihat senyumanmu sebulan yang lalu, yaitu saat acara resepsi pernikahan kita, aku yakin itu adalah senyuman bahagia. Aku heran, kenapa kau tak mengeluh karena aku seorang duda yang sudah memiliki anak? Apa yang kau pikirkan? Kau masih muda dan ranum. Wajahmu juga begitu aduhai. Tubuhmu pun tak kalah seperti model fashion show.

“Jika kau tidak berniat, aku sih tak apa, Mas. Tapi…”
“Aku berniat, sayang!” Matanya yang indah itu memandangiku. Bibirnya bergetar. Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. Aku pun bisa merasakan napasnya yang hangat itu. Bulan dan bintang pada malam ini akan menyaksikan pasangan pengantin muda yang akan… oh, tidak.

Mengapa orang baik selalu ditimpa kemalangan dan ditindas oleh kesedihan. Ku lihat bendungan di mata Ismi seperti sudah jebol. Begitu derasnya air mata itu mengalir setelah dokter mengatakan, “Maafkan saya, tapi sepertinya sel telur dalam tubuh istri Bapak bermasalah. Tak dapat dibuahi…” Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik kerah dokter itu dan berteriak, “Apa maksud anda!?” Tentu itu tak membuat keadaan membaik. Hanya saja aku tak ingin hati dan perasaan Ismi menjadi hancur.
“Bagaimana kalau kita pergi liburan ke Bali?”

Aku berusaha membuat Ismi melupakan segala kesedihannya. Sepuluh hari yang lalu, Haji Mul menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit umum. Menurut dokter, beliau keracunan. Aku juga berpikir begitu, tapi siapa yang meracuninya? Tak mungkin dia salah pilih makanan. Hak kepemilikan usaha-usaha Haji Mul pun jatuh ke tangan Ismi, putri bungsunya sebab si sulung sudah tiada lagi di dunia ini. Ya, tangan Ismi tanganku juga. Aku pun dengan leluasa mengirimkan uang kepada Syukri melalui rekening peninggalan Haji Mul kemarin.

Tak hanya pas untuk kebutuhannya, tapi juga berlebih. Tentu Syukri bahagia di sana. Ia tak akan merasa kesepian. Jika bosan, ia bisa pergi dengan motornya dengan isi dompet yang berisi ATM. ATM yang isinya dapat membeli sebuah motor baru. Akhirnya, doaku dikabulkan oleh Tuhan. Tak ada alasanku untuk tidak bersyukur dan bertakwa pada-Nya. Tuhan selalu penuh dengan kejutan dalam rencana dan kehendak-Nya. Benar, Tuhan memang suka begitu. Sepertinya Ismi sudah mulai melupakan kesedihannya. Ia mulai kembali bergaul dan bersosialisasi dengan tetangga dan teman-temannya. Hatiku sejuk saat melihatnya tertawa dengan lepas tanpa beban. Dalam tiga minggu, ia sudah dapat menghapus dukanya. Atau bisa kita sebut, menyembunyikan lukanya.

“Mas, bagaimana kalau kita ajak saja Syukri?”
“Ke Bali? Tak usah…”
“Bukannya ia sedang libur semester?”
Benar juga apa yang dikatakan Ismi. Walaupun di sana ia berkecukupan, bukan berarti ia terbebas dari kesepian. Lagi pula, Ismi belum pernah sekali pun bertemu dengan Syukri.
“Kang Septo ajak juga, ya, Mas?”

Akhirnya, ini adalah hari dimana aku akan bertemu matahariku setelah setahun terbenam di lain penjuru. Aku, Ismi, dan Kang Septo sudah menunggu di terminal ini setengah jam yang lalu. Kami berniat ingin menyambutnya. Ku pandangi wajah Ismi sesaat. Ia kelihatan sangat bahagia. Ia bisa mengasuh seorang anak, barangkali itu yang ia pikirkan. Tapi sepertinya Ismi dan Syukri hanya terpaut delapan tahun. Juga, Syukri sudah kelas dua SMA. Aku ragu mereka bakal cocok menjadi pasangan ibu dan anak.

“Kenapa busnya belum sampai juga, Mas?”
“Entah. Mungkin terjebak macet…” Keringatku mulai menetes.
“Kalau begitu Ismi permisi pipis sebentar ya, Mas…”
Aku mengangguk seraya mengeluarkan senyuman manisku. Terminal sudah dipenuhi banyak orang. Bus-bus juga sudah banyak yang datang, tapi bus yang membawa Syukri tak kunjung tiba.

“Kang, kenapa kok wajahnya gelisah gitu?”
Kang Septo mengarah pandangan ke arahku dengan sinis.
“Aku bermimpi…” Aku memfokuskan pandanganku terhadap Kang Septo.
“Haji Mul bertamu ke rumahku, dengan pakaian yang begitu bersih dan putih. Ia tersenyum dan menepuk pundakku, dan mengatakan kalau…” Pupil Kang Septo bergetar.

“…Hati-hati dalam menilai menantu nanti, Sep. Jangan sampai kau bernasib sepertiku. Dicelakai menantu sendiri…” Apa maksudnya itu? Apakah itu sungguh Haji Mul? Tak mungkin aku mengakui pada Kang Septo bahwa akulah yang membutakan dan meracuni Haji Mul. Tidak. Hanya Tuhan saja yang boleh tahu.
“Mas! Lihat, ada kerumunan! Ada apa itu?” Aku tersentak. Ismi mengejutkanku. Aku pun menoleh ke arah kerumunan tersebut. Sepertinya ada masalah serius. Ismi pun menarik tanganku untuk beranjak dan menuju kerumunan tersebut.

“Saya tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Tapi, Bus jurusan Aek Kanopan ke Medan dengan nomor pintu 091 mengalami kecelakaan. Masih belum jelas bagaimana kecelakaannya. Namun malangnya, dan sekali lagi maafkan kami…” Orang-orang di kerumunan ini tegang tak terkecuali aku. Itu adalah bus yang membawa Syukri. Jantungku serasa ingin melompat ke luar. Napasku seperti selesai dikejar anjing. Ismi pun mengeratkan genggamannya.
“…seluruh penumpang beserta sopir tewas di tempat…”

Tubuhku mati rasa. Tangan kegelapan seperti mencekik tenggorokanku. Tubuhku pun seperti dililit kobra pemangsa kebahagiaan. Lagi-lagi sebuah kejutan yang tak pernah diinginkan. Atau ini hukuman? Ah, Tuhan memang suka begitu.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani

Cerpen Tuhan Memang Suka Begitu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Purnama Rengganis

Oleh:
Ini sudah lebih dari setengah jam tetapi laki-laki itu masih saja berdiam diri. Ia tersenyum sesekali atau sekedar berkedip. Memandangku dari ujung rambut hingga kaki. Aku sudah terbiasa dengan

Membagi Cinta

Oleh:
Jika Aku bisa memilih, Aku lebih baik dicintai daripada harus mencintai. Maafkan Aku.. Pagi itu ibu memintaku untuk mengantarnya ke pasar, baru kali ini Dia memintaku untuk mengantarnya. Biasanya

Beautiful Life (Part 1)

Oleh:
Sama seperti kalian semua… Aku terlahir sebagai anak perempuan, normal dan sehat. Aku tumbuh di keluarga yang berada. Papaku adalah seorang politikus dan ia bergabung dengan salah satu partai

Warna Warni Pelangi

Oleh:
Pernahkah kalian melihat pelangi? Jika sudah, apa yang kalian katakan? Sangat indah, bukan? Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Penuh dengam warna. Warna-warni yang menghiasi birunya langit,

Kakek Zein Pelupa

Oleh:
Senja merupakan gadis kecil yang hanya tinggal dengan Kakeknya saja yaitu Kakek Zein. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di Desa Pelangi. Kakek Zein sudah sangat tua, oleh karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Tuhan Memang Suka Begitu”

  1. DindaRianti says:

    Fantastic! cerpen anda makin bagus aja.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *