Tuhan.. Mengapa semua ini terjadi? Apa salahku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2013

Jam menunjukan pukul 12.00 siang, matahari pun makin lama makin menyengat dan terasa sangat panas, siang ini aku tertidur di ranjang tempat tidurku. Saat aku terlelap di tempat tidur ada seseorang laki-laki yang setengah baya memanggil namaku, “RAYA” seperti biasa dengan nada suara cemprengnya itu adalah salah satu ciri khas untuk membangunkanku walaupun beliau tau ia takkan bisa membangunkanku yang tertidur sangat lelap itu, seperti tidak sadarkan diri (meninggal), yah beginilah kebiasaan ku sejak Ibuku meninggalkanku tuk selama-lamanya, dulu semasih beliau hidup aku sangat rajin sekali, aku selalu bangun pagi tuk membantu Ibu, tapi kini semua takkan mungkin terjadi lagi, hidup aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu, sifat yang selama ini ceria kini semua hilang akan keadaan wajah muramnya tersirat lagi.

Laki laki itu kembali membangunkanku “Raya bangun, kamu gak bisa terus begini? terimalah kenyataan bahwa Ibumu tidak akan kembali lagi untuk kita?” yakinkan Ayah pada aku, aku yang bersembunyi di balik selimut sejak tadi mulai membuka selimut perlahan, terlihat wajah muram lebam di mataku mungkin karena hampir semalam aku menangis hingga pagi “Aku hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa Ibu sudah tiada” bentak aku dengan menarik alis keatas, perlahan air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi ku, Ayah pun mendekati ku di usapnya rambutku dengan lebut sambil berkata “Tapi kamu harus ikhlas nak, Ayah juga sedih dengan keadaan ini” di sisi lain aku yang hanya bisa menangis tak kuat menahan keadaan ini “Sekarang kamu harus kuat, yakinkan pada diri kamu bahwa kamu harus tegar dengan keadaan ini, buatlah Ibumu bangga dengan kehidupanmu yang sekarang, Ya?” yakinkan Ayah padaku lagi “Sekarang kamu siap-siap ya?” tanya Ayah yang sejak tadi di sampingku “Kemana?” jawabku sambil menghapus air mata dengan nada sedikit sek-sekan “Kesekolahlah, kamu sudah seminggu loh tidak berangkat sekolah?” gurau Ayah padaku “Oh iya aku lupa, ya sudah aku siap-siap dulu ya yah?” kata-kata Ayah tadi meyakinkanku, segeralah aku mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.

Setelah semua telah selesai semua aku langsung berangkat sekolah, dengan tekat kuat di hatiku ini yang membuat aku sekarang lebih merasa baik dari yang tadi, aku pun berpamitan dengan Ayah seorang insan yang sangat ku sayang di dunia ini perlahan aku berjalan mundur dengan wajah masih menghadap Ayah aku tersenyum padanya, Ayah pun menoleh senyuman pada ku, terlihat wajah ceria tercurah di mukanya. “Sekarang aku tidak merasa sedih lagi, ternyata masih ada yang menyayangiku selain Ibu” gurau batinku, ku langkahkan kaki ku menyusuri jalan yang lumayan sedikit jauh dari rumahku.

Sesampai di sekolah, dari kejauh terdengar ada seseorang laki-laki memanggil namaku, “RAYA..” perlahan suara itu makin lama makin mendekat dan mulai mendekat, seketika datanglah seorang anak laki-laki yang bernama Andie memanggil namaku, oh iya Andie itu adalah kekasihku sudah hampir dua tahun menjadi pacarku “Kamu kenapa baru masuk?” tanya laki-laki itu padaku, di sisi lain aku hanya melamun menggingat semua kejadian yang baru saja aku terima “Hello.. Kok kamu diam saja si? Jawab dong pertanyaanku” sentak Andie padaku. “Oh,iya sorry aku tadi melamun” jawabku sentak sambil mengusap air mataku lagi, Andie menghela nafas panjang dan di keluarkan melalui mulutnya “Kamu kenapa ko nangis?” tanyanya heran “Nggak.. Nggak apa-apa kok?” terbatah-batah, wajah muram pun tersirat lagi di mukaku “Oh ya sudah kamu jangan sedih lagi ya?” bujuknya sambil menghapus air mata yang ada di pipiku, adegan ini seperti di sinetron-sinetron dimana pacarnya menghapus air mata yang keluar dari kedua bola mata pacarnya itu hehe…

Langkahku pun ku lanjutkan sedikit berbincang-bincangku dengannya sekitar sepekan ini aku tak bertemun Andie kangen juga ya? Sesekali aku tertawa saat Andie membuatku ceria kembali, tapi semua itu seketika sirna saat Andie mengatakan bahwa ia akan pindah ke luar kota dan akan meninggalkan sekolah ini, dan daerah ini terutama aku. Suasana hening sejenak.

Andie kembali menghela nafasnya dan dikeluarkan melalui mulutnya perlahan “Maaf mungkin ini untuk terakhir kalinya kita bertemu” kata-kata Andie membuat penderitaanku semakin menambah “Mungkin ini saat-saat terakhir kita bersama karena kita tak akan bertemu lagi, maafkan aku ya kalau perkataan aku tadi membuat kamu sedih, tapi aku harus bilang, sebelum aku pergi” gugamnya padaku, bibirku terbungkam tak sedikit kata terlontar di bibirku ini.

Lagi-lagi aku hanya bisa menangis dengan keadaan semua ini, hatiku pun hancur ”Tuhan.. Kenapa semua orang yang ku cinta satu persatu pergi ninggalin aku? Kenapa begini? Kenapa semua ini terjadi? Kenapa? KENAPA?” jerit batin ku lagi. “Mungkin sebaiknya kita putus saja ya? Karena kita gak mungkin bertemu lagi, jadi aku mohon kamu ngertiin aku ya?” aku hanya diam saja, Andie pun menggelus-ngelus rambutku, aku hanya tersenyum dan menggangut-nganggut pelan “Padahal sebenarnya aku gak mau kamu pergi Andie aku… Aku sudah cukup kesepian dengan kepergian Ibuku tapi sekarang kamu juga akan pergi?” rintih hatiku lagi “Die, aku ke toilet dulu ya?” aku pun langsung menuju toilet,aku menanggis tak kuat menahan semuanya “TUHAN KENAPA SEMUANYA PERGI NINGGALIN AKU? APA SALAHKU? KENAPA SEMUA TEGA NINGGALIN AKU? MULAI DARI IBU.. DAN SEKARANG ANDIE? AKU GAK KUAT HIDUP SENDIRIAN DI DUNIA INI!!” aku berteriak di toilet itu, aku menanggis tersedu sampai-sampai terdengar keluar.

Seketika anak-anak yang berada di luar toilet pun heran melihat wajahku yang lebam sekali “Kamu kenapa..?” tanya salah satu temanku, “Ih.. Si Raya kenapa yah? Mukanya lebam gitu” bisik teman-teman di belakangku, seakan tak perduli dengan perkataan anak-anak tadi, aku langsung berjalan menuju kelas “RAYA.. Kamu gak apa-apakan?” maaf aku mau pergi sekarang, semua surat-surat kepindahan sekolah telah ku selesaikan dan sekarang aku mau pergi Raya selamat tinggal bye.. Bye..” teriak Andie dari kejauhan, saat Andie berkata itu aku pun langsung menoleh ke belakang, rupanya Andie sudah masuk kedalam mobil dan baru saja berjalan “Heuft, inikah jalan hidupku? Belum saja aku mau mengucapkan selamat tinggal padanya tapi Andie telah pergi.. Selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal bahagia disana ya…?”

Malam ini bintang menyembunyikan sinarnya, angin silih berganti menerpaku membuat aku merasa kesepian dan lebih merasa kesepian, sesekali terlintas bayang-bayang tentang Andie merasuk kedalam fikiranku seolah aku berada di dekatnya saat ini… Heuft… Inilah kisah hidupku tanpa seseorang yang ku cintai mungkin ini suratan jalan takdirku yang harus ku lalui

Cerpen Karangan: Syifa Fauzia
Perkenalkan nama aku Syifa Fauzia, aku sekarang berusia 14 tahun, oya sebentar lagi aku ulang tahun lho yang ke 15 tepatnya tanggal 29 April besok, aku mulai menyukai menulis cerpen sejak aku tahu bahwa talentaku terdapat di sana. Oya, maaf ya teman-teman kalau ceritanya kurang menarik atau apapun itu, maklum baru pertama kali mengirimnya:D

Sebelum dan sesudahnya terima kasih:)

Cerpen Tuhan.. Mengapa semua ini terjadi? Apa salahku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Anak Saleh

Oleh:
Sebut saja namaku Delon dan adikku Denis. kami berdua adalah Kakak beradik yang kembar tapi kami saling menyayangi. Kami dari keluarga terbilang miskin karena orangtua kami kerja jadi tukang

Si Hitaf

Oleh:
Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan hatiku. Di sebuah kegelapan gubuk dengan berjuta kemalangan di dalamnya kisahku bermula. Tempat aku dan keluarga kecilku bertahta dan mengarungi

I Need You

Oleh:
Namaku Kennie, seorang gadis remaja yang bersekolah di SMPN XX-1, sekolah favorit di sebuah kota kecil di wilayah Jawa Timur. Kata teman-temanku, hidupku yang bergelimang harta dan uang ini

Saat Saat Kita Bersama

Oleh:
Namanya Elicia Fitra Andryna biasa ku panggil Elic, dia yang selalu menyemangatiku di mana-mana, dialah sahabat sejatiku, aku selalu kasihan padanya dia selalu diejek oleh temannya. Suatu hari.. “Hei,

Aku Sangat Menyesal

Oleh:
“Ih, kakak Ndeso, banget sih! masa Slime sama Squishy aja gak tau!” ejekku kepada kakak sulungku, Nadifa, masa sama Slime dan Squishy aja gak tau? Huh Norak banget! “Nadine!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *