Tulip Maron

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 May 2018

Siang itu aku masih setia menemaninya. Di ruangan yang penuh aroma lavender seakan menyeruak hingga ke benakku.
Sudah 14 bulan dia masih terbaring di sini. Dia sakit namun tetap memberikan senyuman yang memukau untukku, senyumannya terlihat sangat manis layaknya seperti madu Lebah yang hinggap di ranting pohon durian di belakang rumahku.

Jam dinding mulai berdetak, aku lihat waktu menunjukkan pukul 13:38 WIB. Aku pun langsung memberikan segelas air putih untuknya serta sepotong roti keju yang dibungkus dengan kertas berwarna hijau toska. Lalu setelah itu aku berikan obat untuknya sembari aku menatapinya dengan pandangan yang lemah.

Aku tetap berada di sampingnya, aku ambil kotak kardus hingga aku jadikan sebagai pengipas ketika itu seraya cuaca yang sangat gerah yang aku rasa. Lalu ia mengambil kotak kardus itu dari tanganku, hingga dengan mata nanar ia memegang tanganku.
“iya ayah, ada apa gerangan?” ujarku.
“Sewaktu ayah dulu masih muda, darah mengalir dengan kencangnya nak, emosi selalu memuncak. Ayah selalu menginginkan banyak hal yang lebih, seperti ayah pengen punya ini, pengen punya itu, ikutan ini, ikutan yang itu, pengen pakaian mode ini dan pengen pakaian mode itu. Pokoknya semua ayah inginkan pada waktu masih muda”.
“ayah dulu selalu mengoleksi baju-baju, banyak punya topi, kacamata yang mengkilat hitam warnanya” ujarnya sambil tersenyum sedikit malu-malu kepadaku.

“Tak heran jika ayah dulu suka tebar pesona sama teman-teman di sekolah. Ada teman yang selalu memuji ayah, dan memuji aksesoris yang ayah pakai ketika itu, ayah juga selalu mendapatkan rangkaian bunga dari teman-teman cewek ketika itu. Tapi bunga yang paling indah ayah terima yaitu bunga dari ibumu, sebuket Tulip Maroon”.

“Dulu ketika sekolah ibumu selalu memberikan ayah hadiah, ibumu sangat pintar merangkai keterampilan bunga dan ibumu juga pernah berikan ayah sebuah asbak rok*k yang diukirnya dengan tanah liat. Pokoknya ibumu pencinta kesenian, tak seperti ayah yang hanya selalu bisa menerima berbagai pemberian darinya”.

“Nenekmu sangat menyukai ibumu, ibumu yang rajin membuat berbagai macam kue kering, kue Basah sampai brownies yang menjadi kesukaanmu hingga sampai saat ini nak. Ibumu juga seorang taylor yang sangat handal menjahit berbagai mode pakaian pada musim itu”.
“Tapi sayangnya, ibumu telah tiada, ia selalu berpesan ke ayah, jagalah putra semata wayang kita dan tuntunlah sikapnya agar menjadi anak yang sholeh” ujar ayah sembari meneteskan air mata dihadapanku dengan nada yang sedikit parau.

Waktu pun telah sore, tiba-tiba nenek menghampiri kami di kamar yang Spring bed nya berwarna abu-abu. Nenek merangkul kami dalam beberapa menit waktu. Nenekpun menangis ketika menatapiku. Matanya yang melemah seakan tak berdaya untuk melihat kami ketika itu. Aku pun berusaha menahan air mataku hingga pipiku menjadi kemerahan.

Lalu, aku melangkah untuk menutup jendela tua di kamar itu dan aku menoleh ke luar hingga aku melihat senyum ibuku sambil memegang sebuket Tulip Maron. Aku pun memandangnya dengan air mata kerinduanku padanya. Hingga ia menghilang dalam waktu sekejap. Aku pun tetap menoleh ke arah luar rumah, aku melihat putik-putik bunga kembang sepatu warna merah sudah mulai muncul. Aku mengira esoknya bunga kembang sepatu itu akan memekar indah, meskipun bunga tulip maroon ku hilang dibawa oleh angan-angan di langit yang kelabu dikala itu.

Cerpen Karangan: Akmal Khairi
Facebook: Akmal Khairi Zein

Cerpen Tulip Maron merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Dibalik Pena Nenek

Oleh:
Mentari telah bangkit meraih angkasa. Burung-burung bersenandung merdu penuh makna. Terlihat sesosok wanita tua sedang asik memandang ke arah langit. Tersenyum anggun namun penuh arti. “Nek! Nenek! Lala berangkat

Identitas Gula

Oleh:
Aku tercipta dari sebuah makhluk besi besar, mengkilap jika terkena cahaya matahari. Bersama adik-adiku yang berjumlah ribuan, bahkan milyaran. Terkumpul dalam sebuah bak raksasa yang sungguh teduh suhunya. Dari

Apakah ini Mimpi?

Oleh:
Malam itu terasa sangat mencekam. Saat hujan turun, kudengar suara tangisan Adly, adik sepupuku. Dia terus menangis tanpa henti, saat itu ia berumur dua bulan, ia hanyalah seorang bayi

Tekun Awal Yang Sukses

Oleh:
Burung berkicauan, di antara hempasan gelombang yang tinggi menerpa pantai. Nama ku fachri aku hanyalah anak seorang nelayan, penghasilan ayahku tidak terlalu tinggi, tapi kedua orangtua ku tetap berusaha

Pesan Dari Ayah

Oleh:
Pagi-pagi sekali aku dibangunkan oleh ayahku. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 03.30. “ada apa yah? Pagi-pagi kok sudah membangunkanku” ucapku dengan wajah yang masih mengantuk. “ayo ikut ayah, bantu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *