(Tutup) Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 November 2017

Kala itu dini hari, ketika fajar belum hadir menyambut pagi terdengar suara lantunan doa dari seorang gadis. Dimintalah kepada Yang Maha Kuasa berkah kehidupan dan kesembuhan dari bundanya. Reza selalu menyempatkan waktu untuk memanjatkan doa di waktu itu sebelum mentari bersinar di pagi hari. Kali ini ibunya memang sedang tidak sehat, sering sakit-sakitan, tapi Reza belum sempat untuk pulang ke rumah menemui keluarga dan terutama ibunya.

Dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Dia adalah jagoan kedua orangtuanya. Dia telah meraih banyak prestasi mulai dari akademik maupun non-akademik seperti tari. Ya benar dia menyukai seni terutama menari karena sejak kecil dia sudah menari klasik Jawa. Apalagi dengan prestasinya ia mampu menimba ilmu di perguruan tinggi favorit sehingga orang-orang terheran-heran bagaimana bisa seorang anak pedagang sayur di pasar tradisional bisa sekolah tanpa biaya sepeser pun. Namun bukan itu cerita yang disampaikan.

Suatu hari, seperti biasa Reza sibuk dengan kegiatan kampusnya. Ia mengikuti kegiatan seni tari dan juga aktif di sebuah organisasi mahasiswa bahkan memegang jabatan penting di sana. Bahkan hingga tak sempat untuk memberi kabar pada keluarga di rumah. Memang terkadang hari-hari seperti ini yang membuat si Reza sangat sibuk hingga melupakan bahwa ada seseorang yang menunggu kabarnya saat itu. Padahal jika diperhatikan jarak antara kampus sampai rumahnya hanya berkisar 3-4 jam, namun untuk menyempatkan pulang tidak bisa.

Tiba-tiba berderinglah telepon si Reza…
“Halo, kak Reza”
“Iya, dek gimana?” jawab Reza
Reza dihubungi oleh adeknya Galuh, anak kedua
“Anu.. kak, mamah masuk rumah sakit lagi” jawab Galuh
Seperti petir di siang bolong, kabar dari Galuh tentang orangtua mereka.
“mamah kenapa lagi luh? Gimana keadaannya sekarang?” tanya Reza dengan bingung
“mamah tekanan darahnya rendah dan harus diopname kak… mamah pingsan” jawab si Galuh dengan nada yang sedih
Reza pun bingung, pagi itu memang ia sedang ada rapat untuk persiapan sebuah acara seni di kampusnya dan dia menjadi koordinator acara. Sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh fakultasnya. Kebingungan pun melanda pikirannya, disaat itu tidak mungkin seorang koordinator meninggalkan tugasnya karena memang rapat kali ini memang untuk keberlangsungan acara seni tersebut. Pada akhirnya dia melanjutkan rapat hingga selesai.

Waktu menunjukkan pukul 12.24, rapat selesai dan adzan pun berkumandang, segera ia mengambil air wudlu untuk melaksanakan ibadah. Kemudian dia meminta agar diberikan kesembuhan pada ibunya itu paling tidak mendengar suara mamanya.

Selepas ibadah, Reza mendapat panggilan dari nomor telepon Galuh.
“Halo…” dengan suara lirih
“Iya? Mamah? Mamah sudah baikan? Mamah sudah sehat? Mamah gak papa kan?” tanya Reza sambil menangis
“Iya, sayang. Mamah gak papa. Ini lagi sama papah sama adek” kata Mama Reza dengan suara yang pelan.
“Reza, pulang ya mah, Reza minta maaf. Gak bisa ngabarin keluarga satu minggu yang lalu, ternyata mamah sakit. Reza pulang ya mah” kata Reza.
“Mamah sekarang sudah di rumah nduk, dek Reza langsung pulang ke rumah ya” kata Papa Reza lewat telepon Galuh.

Dengan semangat, Reza segera berkemas untuk persiapan pulang karena memang hari sabtu tidak ada perkuliahan dan waktu setengah hari yang dihabiskan dengan rapat. Dia bergegas meninggalkan kota Yogyakarta menuju ke Demak. Dipilihlah bus sebagai kendaraannya untuk pulang ke rumah. Saat itu perasaannya campur aduk, di lain sisi dia senang karena Sabtu dan Minggu itu tidak ada kegiatan yang menyita waktunya sehingga dia bisa pulang, namun di lain sisi dia merasa gelisah dan tak tenang karena memikirkan keadaan mamanya yang sakit.

Matahari semakin turun, menunjukkan senja di sore hari. Segera setelah dia turun dari bus dan menuju ke rumah dengan berjalan kaki. Ya jarak dari halte bus sampai rumahnya jalan kaki hanya 5 menit. Reza terburu-buru karena ingin segera bertemu keluarganya terlebih lagi mamanya yang sedang sakit. Namun, dia melihat sesuatu di gapura kampungnya. Dia melihat bendera kuning berkibar di depan rumah dan tenda biru sudah terpasang. Banyak tetangganya yang berdatangan di rumahnya. Menangis sejadi-jadinya gadis itu di depan keramaian warga. Dia menyesal tak dapat menemui mamanya di akhir waktu dan tak sempat bercerita banyak padanya tapi bagaiamana lagi waktu tak dapat diulang, hingga penyesalan akhirnya datang.

Cerpen Karangan: Aldhi Wahyu Pratama
Facebook: ALdhi Wahyu Pratama

Cerpen (Tutup) Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepenggal Kisah

Oleh:
Kakiku melangkahi dedaunan kering yang keemasan diterpa sinar. Mataku jelalatan menyapu setiap sudut yang ku pandang. Hatiku penasaran, bertanya tempat apa ini? Sisi hatiku yang lain merasa ini tak

The One

Oleh:
“Jalan pake mata napa sih, jadi jatoh kan barang gue semua!” “Sorry deh, sini gue bantuin beresin. “Sorry sorry aja bisanya, gak usah deh. Cowok kayak lo mah cuma

Di Balik Doa

Oleh:
Hari ini mulai ku tulis sebuah alur hidupku yang banyak melibatkan air mata. Tentang pahitnya menghadapi kenyataan yang sebenarnya harus selalu aku lewati, Memohon agar dapat diberikan umur yang

Cinta Yang Lebih Besar

Oleh:
Mataku menatap lesu ke arah luar jendela kamar, memandangi dedaunan yang menunduk tertimpa setetes demi setetes air hujan. Petir saling sahut menyahut bergemuruh di langit, tidak ada panas menyengat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *