Ujian Lima Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Musim panas telah merambah ke Kota Senja. Kelima sahabat itu perlahan mengelap keringat di dahi mereka masing-masing. Ah, tak ada yang lebih menyenangkan selain singgah ke Cafe Bang Didi, pikir mereka. Cafe itu menjual es krim yang sangat enak, terlebih harganya yang pas di kantong para remaja sekolah. “Dhan, gimana nih? Kamu tega ngelihat kami kepanasan? Istirahat dulu bentar, kek!” ujar salah seorang di antara mereka, Elang. Ridhan, remaja yang ditanya itu justru nyengir saja. “Kalian ini, baru berjalan 100 meter aja sudah ngeluh! Payah!” ujar Kenan. Kelima sahabat itu tertawa sambil terus berjalan dengan semangat menuju Cafe Bang Didi.

Adnan, Dimas, Ridhan, Kenan dan Elang adalah lima sahabat. Mereka saling mengenal saat masuk SMA, SMA Negeri Senja. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Adnan Samudera dengan sikapnya yang sabar dan bertanggung jawab, Dimas Rananda yang agak pendiam tapi baik, Miko Sandi Ridhan Dirgantara atau Dhan yang humoris, Kenan Pradiko yang usil dan Elang Tio Putra yang dianggap sadis tapi pendiam. Meskipun berbeda-beda karakter, mereka tidak pernah bermusuhan sampai hampir 3 tahun belakangan ini.

“Cafe Muda ala Bang Didi”. Terlihatlah banner di atas Cafe. Spontan, kelima sahabat itu berebut untuk segera memesan es krim. Memang, saat-saat jam pulang sekolah ini, Cafe Bang Didi selalu ramai, oleh remaja-remaja SMA seperti mereka tentu saja. “Bang Didi! Bang, Dhan dulu kaya biasanya ya! Es krim coklat pake taburan coklat juga!” Ridhan yang sampai lebih dulu, tentu saja lebih dulu memesan daripada temannya. “Eh, gak mau! Bang, Adnan duluan geh! Es krim vanila pake potongan melon!” Adnan yang biasanya paling sabar, justru yang paling tidak sabar, karena sudah kehausan dan kepanasan. Elang, Kenan dan Dimas juga berebut. “Hei! Kalau kalian berlima gak mau diam, ntar Bang Didi gak buatin es krim nya nih!” Bang Didi yang pusing menghadapi mereka, spontan agak membentak sambil bercanda. Kelima anak kemarin sore itu serentak diam sambil sikut menyikut satu sama lain. “Hehe, iya bang, ok! Kami udah haus banget sih, jadi gak sabar nih!” Dimas angkat bicara. Bang Didi geleng-geleng kepala. “Nih, udah siap! Selamat menikmati, ya!” Bang Didi membawakan baki berisi lima es krim beraneka rasa. Kelima sahabat segera menyantapnya hingga tandas. “Makasih, ya bang! Udah seger lagi nih, hehe. Kami pulang dulu, Assalamu’alaikum!” Adnan mewakili teman-temannya berpamitan dengan Bang Didi. “Waalaikumussalam! Hati-hati!”

Januari, 2016
Memasuki awal tahun, kelima sahabat semakin sibuk belajar. Maklum, kelas 12 sudah benar-benar harus mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam ujian. “Ken, ada film baru enggak? Aku mau, dong!” Ridhan, yang sedari tadi sudah selesai mengerjakan latihan soal ujian, menyikut Kenan yang baru selesai mengerjakan latihan soal. “Hei, kamu ini film saja! Belajar, belajar!” Duh, kena omel lagi sama Dimas, pikir Ridhan sambil membuka bukunya kembali. Kenan tertawa kecil. “Nih, aku ada film baru lagi. Tapi, sehabis lulus ujian aja ya aku kasih ke kamu!” “Huh, ya udah deh. Aku tunggu janjimu ya, Ken!” Kenan melirik sambil mengangguk. “Hei! Kalian ini berisik sekali, sih! Aku jadi gak bisa konsentrasi, tau!” Adnan membentak mereka. Ridhan, Elang, Dimas dan Kenan tentu kaget dengan sikap temannya. Ada apa dengan Adnan? Tidak biasanya marah. Adnan kan paling sabar, belum pernah seperti ini, pikir mereka. “Nan, kamu kenapa? Jangan marah-marah, kami gak berisik banget, kok! Ntar kamu cepet tua lho kalau marah!” canda Ridhan. Namun, yang dicandai justru mendengus sebal dan beranjak pergi meninggalkan mereka. “Dia kenapa sih? Gak biasanya. Aku coba ajak ngomong deh nanti.” ujar Dimas. Yang lain mengangguk setuju.

Pulang sekolah..
“Adnan, tunggu aku! Aku mau ngomong sama kamu!” Adnan malah mempercepat langkahnya. Dia kenapa? Heran, malah seperti ngejauh, pikir Dimas yang tak berhasil mengejar Adnan.
“Assalamu’alaikum, Adnan pulang!”
“Waalaikumussalam! Nah, begitu kan lebih baik. Kamu itu udah gak ada waktu buat main-main sama teman-teman kamu itu. Dengar kata Ayah, jangan bandel! Sampai nilai-nilai kamu jelek, Ayah gak akan toleransi apa-apa lagi! Pindah kamu ke Inggris ikut Ayah kerja!” Adnan hanya menunduk saja. Pikirannya berkecamuk hebat. Saat-saat terakhir ini harusnya ia manfaatkan untuk belajar bersama mereka. Namun, Adnan bisa apa? Ayah dan Ibu tidak pernah percaya kalau ia belajar bersama teman-temannya, bukan bermain-main. Demi mengejar cita-citanya untuk kuliah tetap di Indonesia agar tetap bisa dengan mudah bertemu mereka lagi, Adnan mau tidak mau mengikuti perintah orangtuanya. Tapi Adnan tidak berani memberitahukan ini pada teman-temannya.

Februari, 2016
Adnan masih bersikap dingin pada teman-temannya. Begitu pula Dimas sekarang. Ketiga teman yang lain juga kaget dengan sikapnya. “Aku harus pulang sekarang, gak ada waktu lagi! Assalamu’alaikum!” Dimas mempercepat langkahnya menuju rumah. Ketiga temannya yang lain menjawab salamnya sambil menatap bingung.

“Assalamu’alaikum, ibu, Dimas udah pulang!”
“Waalaikumussalam, iya nak masuk. Maafin ibu ya, kamu jadi enggak bisa lagi kumpul sama teman-teman kamu, ibu masih sakit. Kalau ibu udah sehat lagi, ibu aja yang jualan, nak. Ibu gak mau ngerepotin kamu,” Ibu Dimas mmengelus kepala anaknya. Dimas tersentuh. Hatinya ingin sekali bisa berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatnya, namun ia harus memprioritaskan ibunya yang tengah sakit. sepulang sekolah, Dimas harus berjaga dan berjualan di warung sekaligus menjaga ibunya. Ayahnya 5 bulan lagi baru akan pulang bekerja. Tapi, Dimas tidak ingin membuat sahabat-sahabatnya khawatir. Dimas ingin diam saja.

Akhir Februari, 2016
Ketiga sahabat itu kehilangan diri dua orang sahabatnya yang lain. Kali ini, Elang pun ikut-ikutan berubah sikap dan menjauh. “Elang, kamu kok udah beresin buku? Kita kan mau belajar Kimia, nih!” Kenan menegur Elang. “Maaf, aku gak bisa sama kalian lagi. Aku enggak tau sampai kapan, tapi kuharap kalian bisa mengerti, ya! Assalamu’alaikum!” Elang berlari meninggalkan sekolah. Kenan yang belum sempat bertanya kenapa, justru hanya terdiam. Ridhan tertunduk. Hatinya bimbang, apa yang sudah terjadi dengan sahabat-sahabatnya itu.

“Assalamu’alaikum, dek, Kak Elang pulang!”
“Waalaikumussalam, hore kakak udah pulang! Bu, kakak udah pulang, bu!”
Gadis kecil berusia tujuh tahun itu melonjak girang di ranjang. Elsa namanya, adik Elang. Akhir-akhir ini, Elsa sakit. Dokter bilang, Elsa sakitnya cukup serius. Leukimia. Kanker sel darah putih. Harus dirawat di rumah sakit sebenarnya. Namun apa daya, keluarga Elang bukanlah keluarga yang berkecukupan. Elsa hanya dirawat di rumah. Beruntung, para tetangga kasihan dengan kondisinya dan membelikan obat seadanya. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu berjualan sayuran keliling. Elang tak tega melihat penderitaan Elsa yang kadang menjerit kesakitan karena penyakitnya.

“Kak, Elsa kapan sembuhnya ya? Gak enak minum obat terus, pahit. Elsa mau sekolah lagi, seperti kakak. Kakak rajin sekolah, Elsa gak bisa apa-apa. Tapi kakak mau ya, ngajarin Elsa berhitung sama menulis? Biar tulisan Elsa bagus seperti Kak Elang!” Tanpa sadar, Elang meneteskan airmatanya. Elang haru. “Dek, gak boleh ngomong gitu, ya! Semua udah ujian dari Allah. Kita harus bisa sabar, menerima semuanya. Iya, kakak janji kok sama Elsa. Pulang sekolah, kakak langsung pulang ke rumah. Kakak temenin Elsa belajar, ya. Tapi Elsa minum terus obatnya, gak boleh males. Ok?” Elsa mengangguk senang. “Tapi, kak. Maafin Elsa ya, gara-gara Elsa, kakak jadi gak bisa sama sahabat-sahabat kakak itu. Apalagi Kak Dhan yang super lucu. Elsa senang deh, Kak Dhan bisa buat kakak ketawa terus kalau lagi main kesini.” Elang tak kuasa menahan tangis. Dipeluknya erat tubuh mungil adik kesayangannya itu. Maafin aku, aku gak bisa kasihtau hal ini ke kalian, ujar Elang dalam hati.

Maret, 2016
“Pertama Adnan, kedua Dimas, ketiga Elang. Terus siapa lagi yang akan berubah seperti itu? Ken, jangan sampai kamu juga seperti mereka ya! Aku gak mau, Ken,” Ridhan merengkuh bahu sahabatnya. Kenan diam. Ada bimbang di hatinya. Sebenarnya dia juga tidak bisa lagi berkumpul bersama Ridhan. Ada suatu masalah yang harus ia selesaikan. “Maaf, Dhan. Aku bukannya mau berubah seperti mereka. Aku gak ada maksud apa-apa buat menjauh. Tapi maaf, aku gak bisa cerita ke kamu. Aku juga harus pulang, gak boleh ke mana-mana lagi, termasuk belajar bareng kamu. Maafin aku, Dhan, aku…” Ridhan menatap Kenan tajam. “Maksud kamu apa, sih? Kamu juga mau seperti mereka, ngejauh dari aku juga? Kenapa? Apa salah aku? Kenapa persahabatan kita hancur begini? Kalian pergi tanpa alasan, aku gak ngerti. Terserah kamu, Ken. Kalau memang kamu mau pergi juga, silakan. Aku gak akan melarang kamu. Itu hak kamu.” Ridhan beranjak pergi dari kelas. Kenan menatapnya dalam-dalam. Ah, Dhan. Andai kamu tau alasanku, tapi aku gak bisa, ujar Kenan dalam hati.

“Assalamu’alaikum, Kenan pulang,”
“Waalaikumussalam, kamu udah pulang, nak? Ganti baju dulu, ya. Terus sholat, makan. Ibu udah siapin makan siang buat kamu.”
“Ibu gak perlu repot-repot siapin makan siang buat Kenan. Kenan udah biasa kok, nyiapin makan sendiri, beres-beres sendiri. Semua udah serba mandiri. Toh kalau ibu gak pulang juga, Kenan gak masalah. Ibu kan memang sibuk kerja terus.” Kenan masuk kedalam kamar. Ibunya tertunduk sedih. Apa karena sibuk bekerja, dan pulang sekali dalam bulan ini, Kenan jadi marah, merasa tak diperhatikan? Ibu Kenan bertanya-tanya dalam hati.
“Kenan gak suka ibu kerja terus-terusan. Sampai gak pulang akhir-akhir ini. Kasihan Adek Kiki, cuma Kenan yang jagain. Kenan juga sekolah, kalau belum pulang, Dek Kiki sendirian. Ibu tega!”
“Ibu kan cari uang, nak. Buat kamu, buat Kiki. Ayah udah gak ada, siapa lagi yang mau cari uang?”
“Tapi hidup kita gak perlu mewah, bu! Ibu udah cukup kerja harian langsung pulang ke rumah, ngurusin aku sama adek. Terserah ibu mau dengerin Kenan apa enggak. Kenan capek terus-terusan konflik sama ibu.” Kenan pergi ke balkon kamarnya. Rasanya ingin berteriak marah. Ibunya tidak pernah mengerti. Apa yang dicari? Harta, harta, harta! Kenan sebal, seandainya Ibunya bisa mengerti. “Maafin aku, Dhan. Aku gak bisa cerita tentang ini.”

April 2016, Ujian Nasional. Kelima sahabat memilh jalannya masing-masing. Menyendiri, tidak berkumpul seperti dulu lagi. Tidak lagi berkumpul di Cafe bang Didi. Tidak lagi pergi ke bukit saat senja, sambil belajar bersama. Kenangan itu hilang.

September, 2016. Kelima sahabat melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Berada di universitas berbeda. Tak ada yang menyatukan mereka saat ini.

Mei, 2022.
Bunyi sepeda motor menderu di depan rumah. Adnan menghela napas. Ah, sudah lama tidak menginjakkan kaki ke kota ini, pikir Adnan. Dia berhasil bekerja di perusahaan perkebunan ternama. Namun, Adnan pindah ke cabang perusahaan di Kota Senja. “Nak, Ayah bangga sama kamu!” Ayah dan Ibu memeluk Adnan. Adnan tersenyum hangat.

Bus berhenti di Halte Senja. Dimas keluar sambil membawa beberapa kantung bingkisan. “Aku kangen ibu. Semoga ibu suka sama mukena dan sajadah ini”. Dimas berhasil menggapai cita-citanya, menjadi seorang perwira TNI, dan dipindah tugaskan di Kota Senja. “Assalamu’alaikum bu, Dimas pulang!” “Waalaikumussalam, Dimas, anak ibu!” Ibu memeluk Dimas erat. Mereka larut dalam percakapan.

Kereta Listrik berhenti di Stasiun Senja. Elang keluar dari kereta, kemudian bergegas naik angkutan umum ke TPU. Terlihat gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama adiknya, Elsa. “Assalamu’alaikum, Elsa sayang. Maaf ya, kakak baru bisa ke sini. Kakak sibuk, sayang. Masih banyak proyek mesin di perusahaan kakak. Maaf juga, kakak gak bisa jagain Elsa dengan baik, ya. Kakak harap, Elsa di sana baik-baik aja.” Elang menangis di depan makam adiknya. Akhir bulan oktober, Elsa meninggal. Elang berhasil menjadi teknisi mesin di perusahaan mobil. Elang pindah ke cabang perusahaan di Kota Senja untuk menemaini ibunya.

Sebuah taksi menderu di depan rumah Kenan. Kenan keluar berpakaian putih. Ia berhasil menjadi dokter umum dan bekerja di Rumah Sakit Kota Samudera. Namun, Kenan bermaksud membuka klinik di rumahnya, Kota Senja. Hubungannya dengan sang ibu membaik.

Landasan Udara Senja. Ridhan turun dari pesawat. Ia berhasil bekerja di perusahaan tambang di Kota Benua. Ia ditugaskan ke Kota Senja dan menetap sebagai kepala cabang perusahaan tersebut. Apa kabar kalian? Ridhan teringat sahabatnya.

Pagi ini, Ridhan memutuskan untuk pergi ke bukit senja. “Sudah enam tahun lamanya. Apa kalian masih mengingat bukit ini?” Ridhan berbicara sendiri sembari bersandar di pohon akasia. “Ridhan!” Ridhan menoleh ke arah suara yang memanggi namanya. Ada Adnan dan Dimas di sana. Elang dan Kenan berlari kecil kearahnya menaiki bukit. Ridhan kaget, sempat tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Mereka berpelukan bahagia. Haru rasanya. Kelima sahabat itu bercerita tentang karir mereka, kemudian menjelaskan alasan kepergian masing-masing. Mereka lega. Takdir mempertemukan mereka. Di kota yang sama tempat mereka menjalin persahabatan.

Cerpen Karangan: Delvina Damayanti
Facebook: Delvina Damayanti

Cerpen Ujian Lima Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Cintaku (Katakan Cinta)

Oleh:
“Sudah menunggu lama tuan bawel” suara itu menghentikan lamunanku memandangi langit sore penuh keindahan, Pandanganku yang begitu lepas tanpa hambatan apapun membuat jiwaku begitu tenang, dan dia yang aku

Sepupuku Idolaku

Oleh:
“Suci.. Suci..” Suara itu terdengar keras di telingaku. Dengan kesal aku membuka mataku dan menemukan Ibuku sedang menatapku. “Apa sudah pagi?” Tanyaku pada Ibu. “Ini masih sore, masih pukul

Ketika Sahabat Menjadi Musuh

Oleh:
Pagi itu, Rachel bangun dengan semangat 45.. ia mandi lalu berpakaian, pagi itu dia memakai tank top pink berbalut cardigan warna abu abu dan celana pendek berbahan kain, selesai

My Scary Holiday

Oleh:
Hari ini hari pertama libur sekolah. Di rumahnya anggun, Anggun, Novi, Feby, Fuji, Fepi, Reni, Stevi dan Via sedang berbincang mengenai libur sekolah. “guys, enaknya kita ngapain ya kalo

Menerima

Oleh:
“Felly! Sini sayang!,” seru Mama dengan melabaikan tangannya saat acara pesta berbeque keluarganya. Dengan senyuman lebar, Felly berjalan ke arah Mamanya. Memeluk Papanya dan juga Adik laki-lakinya yang telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *