Ulang Tahun Aninda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 June 2016

Bruk! Aninda menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil mendesah. Lewat jendela, ia melihat tetes-tetes hujan di luar dengan pandangan kosong. Sepinya!
Dipandangnya foto yang terletak di meja kamarnya. Foto yang begitu indah. Aninda kelihatan cantik sekali. Itulah sebabnya Aninda senang sekali pada foto itu.
Tapi aneh, kali ini Aninda merasa benci pada foto dan bingkai itu! Ya, foto dan bingkai itu adalah hadiah Paman Teguh pada ulang tahunnya yang lalu. Foto itu, Paman Teguhlah yang memotret.
Huh, Paman Teguh! Bencinya Aninda padanya! Walau Paman Teguh sering datang. Sering memotret Aninda. Tapi Paman Teguh sering bilang, dia tidak suka pesta ulang tahun! Peringatan ulang tahun sih boleh boleh saja. Tapi, kalau kemudian yang diharap dari pesta itu hanyalah kado, wah itu sudah menyimpang. Katanya
Huh, siapa pula yang mengharapkan kado! Aninda tak pernah mengharapkan kado dari teman-temanya. Dia hanya senang bila rame-rame berkumpul dengan teman-teman. Nyani bersama. Bagi-bagi kue. Makan bersama… Itu saja!
Dan pesta ulang tahun, dia merasa menjadi putri. Semua memanjakanya!
Lebih-lebih dengan gaun Cinderella! Tapi itulah yang di cela Paman Teguh. Pesta ulang tahun membuat anak manja! Dan pakaiann Cinderella? Seperti sandiwara saja, katanya! Oh, bencinya! Bencinya!

Tapi Aninda lupa, betapa matanya berkejap-kejap gembira ketika mendapatkan kado boneka indah dari meta, temanya yang kaya. Dan betapa pandanganya meremehkan, ketika membuka kado dari Ika, yang hanya berisi buku-buku tulis!
Aninda tak tahu, hal seperti itulah yang tidak disukai Paman Teguh! Aninda menjadi membeda-bedakan teman, hanya berdasarkan pada hadiah yang pernah mereka berikan!
Dan justru menjelang ulang tahunya yang kesepuluh ini, Paman Teguh mengacaukan segalanya! Dua hari yang lalu suratnya datang untuk ayah. Katanya kakek sakit. Dia juga pesan untuk Aninda katanya di ulang tahun nanti Paman Teguh akan memberikan hadiah senilai 500 rupiah.
Dan… entah apa lagi yang diceritakan, hingga. Ayah dan Ibu kemarin berangkat ke tempat Paman Teguh. Huh! Memangnya Paman Teguh tak dapat merawat kakek sendiri? Dan kenapa Ayah dan Ibu harus pergi mendadak ke sana? Sampai sekarang belum pulang lagi! Padahal besok hari ulang tahun Aninda! Huh, bencinya Aninda pada Paman Teguh!

“Aninda! Sudah sore! Mandi dulu,” Terdengar suara Lisa, kakak Aninda, yang melongok ke kamar.
“Hu-uh, kapan Ayah dan Ibu pulang kak?” omel Aninda.
“Lo, Ibu kan sudah pesan, pulangnya sampai kakek sembuh betul. Dan kita harus baik-baik jaga rumah!” Jawab kak Lisa.
“Tapi, besok sore kan Aninda ulang tahun!”. Aninda merajuk.
“Alaa, tak usah ulang tahun dulu kenapa, sih!”
“Tidak bisa! Pokoknya kalau Ibu belum pulang, Kak Lisa yang buat ulang tahun untuk Aninda!”
“Hei, enak saja! Tidak bisa! Aku sedang banyak ulangan di sekolah! Aku harus banyak belajar!” Kilah Lisa.
“Tapi Aninda sudah membuat undangan untuk teman-teman!” Aninda mulai merengek
“Ha? Tapi baru kau buat kan? Belum kau bagi?” Tanya Lisa.
Aninda menggeleng.
“Bagus kalau begitu undangan tak usah kau bagi!” Kata Lisa. “Kali ini kau tak usah ulang tahun dulu!”
“Kak Lisa ini bagaimana, sih?” Kata Aninda hampir menangis.
“Alaa, ninda! Kak Lisa kan juga tak pernah ulang tahun!”
Hu-uh, jengelnya Aninda. Mau rasanya menangis dan menjerit sekuat-kuatnya.

Hari ulang tahun Aninda tiba. Namun cuaca tak begitu cerah. Sekeruh wajah Aninda hari ini! Tadi di sekolah ia tak banyak bicara. Demikian juga sesampai di rumah. Aninda jengkel! Aninda benci! Marah, kecewa! Semua campur aduk!
Tak ada ucapan selamat ulang tahun! Tak ada peluk dari Ayah. Tak ada ciuman dari Ibu. Tak ada tawa riang teman-temanya. Oh sepinya! Lebih sedih lagi karena sampai hari ini Ibu dan Ayah belum pulang juga! Parahkah sakit kakek?
Sore hari hujan semakin deras. Senja menjelang. Aninda menuju ke kamarnya. Enggan rasanya nonton televisi. Enggan juga rasanya belajar. Ia lebih senang tiduran di kamarnya.

“Aninda!” tegur Kak Lisa tiba-tiba sudah di pintu kamar. “Kok sedih amat, sih! Baru tidak ulang tahun! Mau ucpan selamat dari Kak Lisa?”
Dewi mendekat dan mengecup kedua pipi Aninda. “Selamat Ulang tahun, adikku sayang!” Katanya. Aninda diam saja. Ah, Kak Lisa kok rasanya selalu seperti hanya main-main.
“Oh ya, ini ada surat dari Paman Teguh untukmu!” kata Lisa sambil memberikan sebuah amplop besar kepada Aninda
Ketika Kak Lisa meninggalkan kamar, Aninda segera membuka surat Paman Teguh. Huh, kartu bergambar indah. Ada uang lima ratus rupiah tertempel di situ. Huh, apa pula ini. Dan selembar melayang jatuh. Aninda memungutnya dan membaca.

Aninda yang manis,
Walau Paman Teguh lupa tanggalnya, tapi di bulan Desember ini Paman mengucapkan selamat ulang tahun padamu!
Semoga panjang umur. Tambah pinter! Tercapai cita-citamu! Tambah cantik, tambah manis, tambah lembut, tambah baik hati; dan di sayang teman! Tidak ngompol lagi! (Eh, sudah tidak ngompol kok, ya!)
Cium sayang dari Paman Teguh, paman tidak sempat memilih hadiah kali ini, tapi paman penuhi janji paman untuk menghadiahimu 500 rupiah. Nanti kalau Kakek sudah sehat, dan Paman tidak sibuk tugas, Aninda akan Paman ajak ke Dunia Fantasi, Kata Ibu, Aninda masih ingin ke sana. Nah, simpanlah uang yang 500 untuk uang masuk nanti!
Oh, ya Ayah, dan Ibumu belum bisa pulang, karena Kakek harus operasi, Mudah-mudahan segera sehat, dan Ayah Ibu Aninda bisa segera pulang.
Salam!

Air mata Aninda meneters. Ada sedikit rasa haru di hatinya. Paman Teguh rupanya masih memerhatikan ulang tahunnya. Paman yang tadih amat dibencinya! Huh, enak saja Paman hanya kasih uang 500 rupiah! Rasakan nanti di Dunia Fantasi! Akan Aninda minta Paman membelikan karcis untuk semua permainan!

Cerpen Karangan: Yudisurya
Facebook: Yudi surya
Nih cuma iseng aja , tpi gmna menurut kalian :v

Cerpen Ulang Tahun Aninda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Mimpi

Oleh:
Menyeramkan. Malam ini mimpiku menyeramkan. Memang sekarang aku sedang berada di rumah sakit, papaku opname. Papa, cepat sembuh Pa. Aku bermimpi indah tapi setelahnya mengerikan. Aku takut. Karena terasa

Hanya Salah Paham

Oleh:
Hatiku terasa sesak. Kakiku tak dapat berdiri lagi. Aku melihat Syadha, sahabatku. Bukannya gembira melihatnya, aku malah menangis. Bagaimana tidak? Aku seperti bermimpi. Sahabat yang dulu kupercaya, sudah berubah.

Kura Kura dan Monyet

Oleh:
Ada seekor kura-kura dan monyet sedang bertengkar untuk mempertahankan kehormatan. “hai monyet daripada kita bertengkar mendingan kita berlomba” kata kura-kura “ya sudah kamu mau berlomba apa dengan ku” kata

Pergi ke Jakarta

Oleh:
Kita perkenalkan diri dulu, yuk! Namaku adalah Luisa. Aku tinggal di Provinsi Jawa Timur dan di Kota Surabaya. Aku mempunyai 2 adik. Nama adik pertama adalah Laila dan adik

Menang Kalah Itu Biasa

Oleh:
“Siapa lagi yang jadi penggeraknya?” Tanya Kak Ajeng. Kak Ajeng adalah KKN (Kuliah Kerja Nyata) berasal dari UMM (Universitas Muhmuhammadiyah Malang). Kak Ajeng dan teman KKN lainnya datang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *