Ulang Tahun Bapak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 May 2021

Hari ini katanya adalah hari ulang tahun bapak. Aku hampir tak pernah mengingatnya. Bukan, bukan karena Aku abai. Tapi lebih tepatnya ragu. Kebanyakan, anak kecil mulai penasaran dengan identitas orangtua dan anggota keluarganya. Termasuk diriku yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Buk… bu’e laire tanggal piro?” tanyaku
“Ibuk ki gampang ilingane Din, enem… enem… enem..” sembari mengisyaratkan keenam jemarinya
Aku mengrenyitkan dahi
“Tanggal 6 bulan 6 tahun 62” lanjutnya
“Ooo…” Aku masih berusaha mengingat.
“La kalau Bapak?” tanyaku lagi
“Kalau tanggal lahir Bapak itu…” beliau diam sejenak
“Mbuh lah, takok bapak wae” Jawab Ibu sembari melirik ke arah kamar tidur Bapak
“Loh, Ibuk kok gak ngerti?” protesku bingung
Ibu menghela napas panjang sambil memandangi anak ke empatnya yang berkedip penuh harap
“Ndisik kui ning KTP ne bapak tulisane Agustus, terus ganti KTP anyar ulane yo melu ganti. Sing ajeg iku mung tahune… 1956”

Mbak Rois yang sedang pulang liburan dari pondok berinisiatif merapikan lemari buku Bapak. Aku dan mbak Mila kebetulan ingin membantu. Bukan membantu ding. Lebih tepatnya ngerepotin. Haha. Walhasil kami langsung nimbrung membaca setiap judul demi judul buku Bapak. Sebagian besar bertuliskan huruf hijaiyyah yang kelak setelah mondok di pesantren, kami menyebutnya kitab.

Sejurus kemudian kami menemukan itu. Beberapa kertas berbentuk persegi panjang, agak tebal dengan foto dan cap jempol di pojok kanan bawah. Agak usang memang.
“Kartu Tanda Penduduk Indonesia” Aku membacanya terbata
Banyak pertanyaan kami lontarkan kepada mbak Rois.. Ini milik siapa? Apakah ini Bapak dan Ibu? Bapak kok terlihat beda wajahnya?

Ternyata itu adalah KTP Bapak dan Ibu tempo dulu. Ada juga yang versi terbaru.
Terbesit dalam benakku untuk memperhatikan kolom tanggal lahirnya.
Wallaaaaa…
Semua BEDA!
Yang sama hanya tahunnya saja.
“Benar kata Ibu” batinku
“Mengapa bapak melupakan tanggal lahirnya sendiri?”

Beberapa waktu berlalu. Saat itu hari libur tapi bukan Minggu. Betul, Satu Januari. Kalau tidak salah tahun 2008. Aku memakai kaus kuning bergambar kartun kesayangan Dora the Exsploler bersama keponakanku Nadia yang masih balita.

“Bapak… ayo jalan-jalan” pintaku sambil memandangi pohon sawo yang semakin tinggi

“Iki sek rame ratane… ngko sek yo nduk” tolak bapak sambil duduk di atas dipan bambu halaman
“Bapak.. ndek biyen cilik e piye?” Entah kenapa Aku ingin menanyakan itu

Bapak bukanlah bapak yang suka berkisah. Bukan pula bapak yang mudah mendeskripsikan sosoknya. Jadi Aku tidak berharap beliau akan berbagi cerita yang super seru ini.

“Bapak itu anak paling cilik. Biyen… Mbok’e (sapaan bapak kepada ibunya) nglambini anak e nganggo goni”
“Goni?” sangat asing ditelingaku
“Goni itu yang biasanya digunakan untuk wadah gula. Sejenis sak (karung) tapi warnanya coklat. Kadang disebut juga dengan kadut” terang bapak
Aku sungguh masih belum sepenuhnya paham. Oke lanjut.

“Mbiyen.. wong iku yo klambine kui nduk. Goni. Siji tok. Gak nduwe salin” Aku tercengang
“Kalau bajunya Bapak dicuci yo wudo”
Aku dan bapak tertawa bersamaan.
Sungguh kenelangsaan yang terasa seperti lawakan.
“Nyucinya gak pakai sabun loh nduk”
“La terus gimana?”
“Digodok” jawab Bapak singkat
“Loh kok baju direbus?”tanyaku masih penasaran
“Ya… harus direbus, memang caranya begitu. Mben tumone mati”
Aku bergidik geli. Aku paham betul dengan hewan bernama tumo atau kutu itu. Ia kerap kali hinggap di rambut sebagai parasit. Tapi kalau di baju?
Oh no!

“Itulah nduk, kehidupan Bapak waktu kecil. Tidak seberuntung dirimu sekarang yang makanan, pakaian, dan pendidikannya tercukupi.”
Bapak menutup kisahnya dengan petuah tentang pentingnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Berusaha untuk hidup lebih baik dan layak tentunya. Setelah itu Aku percaya, bahwa umur bapak sudah tidak muda. Tahun 1956 bapak lahir dalam keadaan Indonesia yang masih belum tertata. Rakyat hidup seadanya meski telah merdeka. Sangat maklum jika ibunya bapak tak ingat kapan beliau melahirkan putra bungsunya.
Bapak, bisa jadi bukan sedang lupa. Tapi Bapak tidak pernah tahu kapan ulang tahunnya.

Tadi sore Aku mendapat kiriman foto tumpeng dari mbak Rois, ia bilang itu tumpeng dari salah satu perusahaan rokok ternama Indonesia yang kebetulan menjadi mitra kerja Bapak. Mbak Nurul juga tak ketinggalan update status di akun facebooknya.

“Apa bapak ulang tahun?” batinku
Sontak Aku cek di kartu keluarga
Dan menemukan tanggal 10 September 1956
Aku tertegun,
“Jadi mana yang benar?”

Tanya bapak saja

Cerpen Karangan: Dina Zubaidah
Blog / Facebook: Dinaa Addnan

Dina Zubaidah, gadis kelahiran Tuban yang akrab dipanggil Dina memiliki hobi mencari hal-hal baru lewat buku dan travelling. Ia aktif berbagi pengalaman hidup di Fb: Dinaa Addnan dan channel youtube Dina Zubaidah.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 8 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com Maaf kakak sempet off beberapa hari karena harus bolak balik ICU, ada anggota keluarga yang sakit meski pada akhirnya harus berpulang… stay safe ya guys!

Cerpen Ulang Tahun Bapak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aila, Mama dan Bunga Matahari

Oleh:
Gadis remaja berlari kecil memasuki rumahnya. Matanya memancarkan kebahagiaan tak terkira. “Mama! Mama!” panggil gadis itu. Mendengar suara putrinya, seorang wanita paruh baya menghampiri ruang tamu. Ia menggeleng gelengkan

Citaku Dalam Sakitku

Oleh:
Duniaku, terasa sangat berbeda dari yang lainnya. Duniaku yang kelam, sunyi, dan lara. Aku selalu bermimpi di setiap detikku, berangan setinggi mungkin bersama penyakitku. Ya, paru-paruku meradang sejak aku

Petaka Di balik Ibu

Oleh:
Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, berkeliling sepeda di sepanjang persawahan desa dengan penuh sukacita. Dari mulai berangkat sampai sekarang menuju rumah, pikiranku tak bisa fokus menikmati udara segar di pagi

Maafkan Aku

Oleh:
Tok… tok.. tok… Aku berdiri di depan pintu kamar Kakakku. Arka namanya. “Buka aja, gak dikunci..” Aku membuka pintunya. Kertas berserakan memenuhi meja belajar Kakakku. Dia sedang duduk dan

Pelangi terakhir

Oleh:
“Ariiiinnn!” teriak mamah membangunkanku, “Ayo, bangun nanti kamu terlambat,” dengan malas ku angkat tubuhku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku putri kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamaku bernama Indra,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *