Undangan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Dear langit jingga…

Sore itu ku melihat wanita cantik itu tertunduk lesu seolah ingin menyembunyikan wajahnya dari dari dunia. aku tak mengerti ia kenapa? Sesekali tampak ia menatap langit senja, genangan bulir air matanya pun tak tertahankan lagi, dihempaskannya semua keluh kesahnya kepadaku.

Lirih….!!! begitu lirih tangisan wanita ini, tangisnya bagai mengiris-iris hatiku. oh ibu… hentikanlah! Ini hanya secarik kertas, TIDAK! ini bukan hanya kertas, ini undangan, Undangan pernikahan ayahku.

Oh tuhan… ayah apa kau tidak lihat ibuku masih sangat cantik dan segar, wajahnya hanya tampak sedikit agak kusam karena banyaknya beban di pikirannya. Mengapa kau begitu tega ingin menggantikannya? Dan dia istri barumu, Apakah kini aku harus memanggilnya ibu juga? apa pantas dia dipanggil ibu? Aku tahu, wanita yang kini kau nikahi hanya satu dari ribuan wanita yang kau bawa ke rumah dan tanpa rasa berdosa kau kencani, Teriakan dan tawa nakal wanita-wanita itu seolah menjadi racun di hati ibuku. Jika tidak karena wanita itu telah hamil olehmu mana mungkin ayah ingin menikahinya dan meninggalkan harta ibuku yang selama ini membuatmu masih dapat bertahan hidup.

Oh tuhan… hidupku sangat berantakan.

Tapi tuhan tak mungkin meninggalkan kami setelah begitu banyak cobaan hidup yang telah kami lalui. tuhan memberi titik cerah padaku dan ibuku, setelah aku wisuda kini aku bekerja di RSJ CINTA WARAS jaraknya sekitar 10 kilo dari tempat tinggal kami yang baru, memang agak jauh aku memilih bekerja di sana agar aku dapat memantau dan merawat ayah setiap hari. Setelah bayinya lahir ayah digugat cerai oleh istrinya, tuntutan demi tuntutan hidup mulai menimpanya, ayah dililit hutang dan dikejar-kejar oleh rentenir itu membuatnya depresi dan gila namun, walau bagaimanapun dia tetaplah ayahku. Sementara ibu kini sudah kembali menemukan semangat hidupnya, kini ia membuka usaha toko bunga.

Ibu… terimakasih kau telah mengajarkan tentang sabar dan menghargai hidup, dan ayah… kau mengajarkanku tentang warna-warni kehidupan, kami mencintaimu ayah cepatlah sembuh.

Cerpen Karangan: Rada Keyopta
Blog / Facebook: rada Keyopta
Saya sangat senang menulis, semua cerpen cerpen karya saya murni ide gagasan dari saya sendiri, dan diangkat dari kisah nyata

Cerpen Undangan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Warisan Duka

Oleh:
Malam pekat tanpa rembulan, mendung hitam menggantung di langit senja sejak tadi. Hujan seperti tercurah dari langit. Hatiku seperti mendung itu, sedari tadi aku menahan sesak di dalam dada

Maafkan Aku Terlahir Perempuan

Oleh:
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak

Kakak Sayangi Aku

Oleh:
Suara dentingan sendok makan mewarnai suasana pagi ini, menjelang berangkat ke sekolah aku telah terbiasa selalu sarapan. “Ibu, aku berangkat.” Itu suara kak Indra membuatku harus cepat-cepat menyelesaikan sarapanku.

Ke Mana Dia Pergi

Oleh:
Ruangan besar yang tertata rapi masih terasa sesak sekali. Udara terasa hangat sekali di dalam walau di luar terlihat hujan begitu lebat. Berkali-kali telunjuk tanganku hanya mengetuk-ngetuk meja dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *