Understand

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 July 2017

“Fel! Lo sekarang ada di mana?,” tanya Billy saat Felly hendak keluar dari mobilnya.
“Kenapa emang?,” tanya Felly sebelum ia menjawab pertanyaan dari Billy.
“Lo semalem nggak nginep di studio, kan?!,” tanya Billy.
“Kenapa emang?,” tanya Felly sama dengan sebelumnya.
“Di meja kenapa ada banyak alkohol? Lo semalem habis minum?,” tanya Billy.
“Bram kali!,” kata Felly.
“Bram dua hari yang lalu berangkat ke China. Kakeknya meninggal dan baru hari ini bakalan balik!,” kata Billy.
“Hallo, hallo, Felly! Felly! Sh*t! Mati lagi!,” decah Billy kesal setelah ia mendapati panggilan terputus. Kebiasaan Felly mematikan telepon sepihak.

Billy terdiam. Ia menatap suasana studio yang begitu kotor. Banyak kaleng alkohol dan juga cemilan ringan dan juga kacang serta kulit kuaci yang berserakan ada di mana-mana. Billy mengacak rambutnya. Hatinya bergumam bahwa pelakunya adalah band lain yang kemungkinan salah ruangan. Karena ruangan Pro Techno tidak pernah terkunci. Mengingat, Felly sebagai kapten selalu menginap atau bahkan pulang lebih larut ketimbang lainnya.

“Bruak!,” sebuah gebrakan pintu berhasil membuyarkan konsentrasi Billy.
“Lo darimana ngos-ngosan begitu?!,” tanya Billy dengan mengangkat satu alisnya.
Felly hanya menggelengkan kepalanya. Ia berjalan cepat ke arah ruangannya. Membuka ruangan itu. Dan benar dugaannya. Billy terbelalak saat melihat Riska tengah tergeletak menjijikkan di sana.
“Lo sejak kapan ada di sini?,” tanya Felly tegas.
“Baru aja. Dan gue nggak tahu kalau di sini ada Riska,” jelas Billy.
“Ya udah angkat dia. Gue akan nyiapin mobil. Kita bawa ke rumah sakit,” kata Felly tegas seraya ia meninggalkan studio dan berlari ke parkiran mobil.
Billy menganggukkan kepalanya. Ia pun menggendong Riska dan membawa ke mobil Felly. Dengan cepat, Felly menjalankan mobil merah kesayangannya ke Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di sana, Felly menautkan alisnya saat seseorang yang memutuskan untuk menangani sahabatnya. Orang yang seharusnya memeluk Felly dan Orang yang seharusnya menjadi tameng untuk Felly yang rapuh saat ia menutupi dirinya dari baja untuk menyembunyikan kerapuhannya.
“Di mana Riska?,” tanya Bram dengan berlari kecil menghampiri Felly dan Billy yang masing terduduk untuk menunggu keputusan dari Dokter yang menangani Riska. Sahabat, sekaligus rekan kerja mereka.

Beberapa menit terlewati hingga Dokter itu keluar dari ruangan Riska dan menjelaskan bagaimana kondisi Riska. Billy dan Bram yang tengah menunggu seketika menghampiri sang Dokter dan menanyakan lebih lengkap bagaimana kondisi Riska untuk kedepannya. Berbeda dengan Felly yang masih terduduk dan mendengarkan dari jauh tanpa memberikan tatapan matanya ke arah pembicaraan mereka.
“Felly! Jaga sahabat kamu baik-baik,” ucap Dokter itu dengan meninggalkan Felly yang hanya bisa terdiam tanpa menjawab pertanyaannya.
Billy mendekat. Memegang pundak Felly dengan sedikit remasan kecil agar Felly bangkit dari duduknya dan melihat kondisi Riska bersama-sama dengan mereka. Di ruangan itu, Riska tengah mengalihkan pandangannya ke arah jendela bening. Di sana, ia melihat tetesan air hujan yang mengembun dan terlihat begitu tenang. Sampai akhirnya, ketenangan itu terusik saat Bram memulai pembicaraan yang sempat terhenti karena kondisi Riska yang buruk.

“Lo sadar, kalau lo bisa bunuh diri lo sendiri, hah?!,” tanya Bram tegas.
“Bram!,” ingat Billy untuk merendahkan suaranya yang terdengar begitu keras dan kejam.
“Gimana dengan kondisi lo?,” tanya Felly dingin.
Riska mengalihkan pandangannya dan menatap Felly untuk menuntut Felly agar ia mengerti bagaiamana kondisi Riska saat itu. Kemudian, Riska kembali menatap jendela bening itu tanpa memberikan jawaban kepada Felly yang tengah memperhatikan dirinya dengan sorotan matanya yang tajam. Sebuah tatapan yang menyiratkan segala amarahnya dan itu dapat dibaca oleh Billy dan Bram.

“Kenapa lo kayak gini hah?!,” tanya Felly memulai membuka pembicaraan.
“Apa lo pikir hal yang lo lakuin dapat menyelesaikan masalah?,” tanya Felly lagi.
“Fel, gue mau menanyakan satu hal sama lo!,” kata Billy menyela pembicaraannya dengan Riska yang siap menjadi perang antara mereka berdua.
“Nggak seharusnya lo diam di depan Nyokap lo kayak tadi! Ucapin terimakasih sama beliau meski dia bukanlah seorang Ibu yang lo benci!,” ucap Billy tegas.
Felly mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi tangan Billy menarik lengan Felly untuk menuruti apa yang diinginkan oleh Billy meski hal itu adalah hal yang mustahil. Membujuk Felly Anggi Wiraatmaja sama dengan berbicara dengan batu. Tanpa sebuah jawaban, apalagi tindakan.

Bagi Felly. Meminta maaf adalah hal yang mustahil untuknya. Maaf adalah sebuah kata yang hanya bisa diucapkan oleh seorang pengemis. Dan itu, bukanlah tipe untuk Felly Anggi Wiraatmaja. Darahnya yang begitu dingin, sikapnya yang sama halnya dengan kaisar, serta perlakuannya yang kejam terhadap orang-orang yang telah melakukan kesalahan seakan kesalahan bukanlah hal yang patut untuk dimaafkan.

“Billy! Ada apa?,” tanya Dokter yang telah menangani Riska.
“Anu Tante. Ini, anu, Felly… Felly mau berbicara dengan Tante,” kata Billy gugup saat menghampiri Mama Felly yang tengah mengisi jurnal hadir di meja resepsionis.
“Oh.. Iya… silahkan,” kata Anjani formal.
“Ayo!,” kata Billy berbisik.
“Apaan sih?!,” tanya Felly dengan tatapan sinis.
“Jangan malu-maluin gue deh, Fel!,” bisik Billy.
“Salah lo sendiri ke sini!,” jawab Felly ketus.
Anjani terdiam dengan perasaannya yang kalut saat putri tunggalnya seakan tidak mau berbicara dengannya. Jangankan berbicara, menatapnya saja Felly enggan untuk melakukan hal itu.

“Felly! Bisa Mama meminta waktumu? Ada beberapa hal yang ingin Mama bicarakan denganmu,” kata Anjani lembut.
Felly menatap Mamanya dengan tatapan sinis. Bisikan Billy dengan berulangkali mendorong Felly untuk menuruti kemauan Mamanya menjadikan langkah Felly meninggalkan Mamanya seakan menjadi hal yang berarti untuk Mamanya yang tengah menunggu saat seerti itu. Dari kejauhan, Billy tersenyum kepada Anjani dan berdoa agar hati singa betina itu dapat luluh dengan ketulusan Mamanya.

“Bagaimana kondisi kamu?,” tanya Anjani lembut.
“Bukan urusan, Anda!,” kata Felly ketus.
“Ayo pulang!,” kata Anjani.
Felly seketika menolehkan kepalanya ke arah Anjani. Menatapnya dengan tatapan tajam. Ia tidak menyangka bahwa Mamanya yang egois dan mementingkan keperluannya sendiri dapat mempedulikan dirinya. Putri tunggalnya yang tidak pernah setuju dengan perceraiannya. Sebuah perpisahan yang paling ia benci.
“Mama dan Papa memutuskan untuk kembali demi kamu. Jadi, pulanglah! Kembalinya Mama dan Papa tidak akan ada artinya jika penguat hubungan kami tidak ada di antara kami,” jelas Anjani.
Felly terdiam. Tidak menjawab perkataan Mamanya.

“Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa datang ke pernikahan Mama besok. Mama rujuk sama Papa kamu, bukan laki-laki lain,” kata Anjani.
Felly masih terdiam. Namun, hatinya terasa kuat dan tegas saat sebuah undangan pernikahan berada di tangannya. Sebuah hal yang bagi dirinya adalah hal yang mustahil. Hal yang akan menjadi kehancuran hidupnya dimana hal itu menetapkan dirinya untuk hidup dalam kesendirian di apartemen tanpa penggilan Mamanya saat Felly terbangun kesiangan atau amarah Papanya saat Felly pulang terlalu malam.
“Kamu bisa memikirkan hal itu, Fel. Tapi, ingat satu hal. Pernikahan Mama dan Papa karena kamu. Bukan hal lain. Mama nggak mau kehilangan kamu, Fel,” ucap Anjani dengan mengecup kening Felly lalu meninggalkan putrinya yang masih termangu melihat undangan pernikahan itu.

Udara terus membelainya. Senyuman tersungging di sudut bibirnya saat kejadian keji itu terjadi di tengah rumah megahnya. Sebuah pertengkaran yang berujung perceraian karena kesalahpahaman satu sama lain mengenai sebuah perselingkuhan yang berujung pada Felly meninggalkan rumah untuk beberapa waktu dan kembali ke rumah itu lagi.
“Makasih Ma, udah mau percaya sama Papa kalau Papa tidak selingkuh,” gumam Felly seraya ia meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamar Riska.

Di sana, Felly dapat melihat bagaimana Bram memarahi Riska dan bagaimana Billy berusaha meredamkan amarah Bram yang membuat Riska terus menutupkan matanya. Seakan ia berharap kalau Felly akan datang dan membuat macan yang ada di depannya terdiam.
“Yang dikatakan oleh Bram ada benernya juga, Ris! Nggak seharusnya lo terus menyalahkan diri lo sendiri atas perceraian Nyokap dan Bokap lo. Bukan begitu caranya agar membuat mereka kembali. Dan, bukan seperti gue juga caranya untuk membuat mereka kembali. Kabur dari rumah, tinggal di apartemen dengan hasil kerja sendiri, atau bahkan tidak bebricara dan menyapa mereka karena kemarahan kita mengenai perceraian itu. Atau bisa juga meminum alkohol hingga tubuh lo nggak kuat untuk menompang kerasnya alkohol!,” jelas Felly panjang lebar.
“Maaf kalau gue udah bikin repot kalian. Kemaren gue kalut banget. Otak gue buntu. Makanya gue lari ke studio. Gue nggak mau lari ke kalian karena gue nggak mau ganggu kalian malam-malam,” jelas Riska dengan nada suaranya yang rendah.
“Sejak kapan lo nggak nganggep kita hah?! Kalaupun lo nginep di rumah gue yang kayak istana raja sampe banyak hantunya itu, nggak bakalan ganggu gue! Adanya, lo ganggu hantunya dodol!,” kata Bram.
“Tch! Lo tuh ya! Udah kayak Kakak sendiri buat gue! Thanks, Bram!,” kata Riska dengan senyuman decah sahabat.
“Haruskah gue meluk lo sekarang?!,” tanya Bram bergurau.
“Udah, sekarang tinggal lo aja yang mutusin, apakah lo akan memilih jalan yang diberikan oleh Felly atau enggak? Karena, hanya itu jalan yang terbaik. Bicara baik-baik, dampaknya pasti beda dengan cara yang pernah Felly coba,” kata Billy mendukung.
Riska menganggukkan kepalanya. Ia pun merentangkan kepalanya seraya tersenyum bahagia setelah ia menemukan solusi dari ujiannya yang tak ada nilai tapi bernilai. Dari sana, mereka bisa tahu. Bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian melampaui batas hamba-Nya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Blog / Facebook: praritiwinurzamzani04.blogspot.co.id / Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih)
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani. Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google. Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Cerpen Understand merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nggak Beli Lotre Pa?

Oleh:
“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti kemarin dan seperti kemarin lagi dan seperti yang

Bayang Bayang

Oleh:
TIN-TIIINNN!!! Ckiiiittt BRUAGH!! Disinilah aku. Berdiri di samping sesosok gadis yang tergolek lemas di tengah jalan. Dengan darah segar yang terus mengalir dari kepala dan tulang-tulangnya yang patah. Setelah

Emak (Part 2)

Oleh:
“Rehan, jenazah Emak sudah siap dibawa ke masjid untuk disalati,” Suara Ustad Rahman menyadarkan aku dari lamunan. “Iya ustad. Mari kita bawa ke masjid” Jawabku. Matahari sudah condong ke

Mutiara Yang Hilang

Oleh:
Hari sudah hampir maghrib, kaki gue udah pegel-pegel keliling komplek buat nyari kost-kostan. Ditambah nyeret-nyeret koper lagi. Gue salah perhitungan, ngeremehin saran Mama buat jauh-jauh hari nyari kost-kostan. Setiap

Oppa, Mianhae

Oleh:
Jingga matahari terbit seakan tak nampak tertutup gumpalan awan yang redup. Gemuruh guntur di langit terdengar samar dari kejauhan Kota Seoul. Udara sekitar menghembus gigil beku, menghempas tubuh seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *