Unfair (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Entah kenapa Gue butuh keadilan di antara setiap lekuk kebahagiaan dalam hidup yang selalu terasa hampa dan tak pernah teradili. Semuanya terasa tak seimbang. Gue ngerasa jenuh akan semuanya, pernah gue berpikir untuk menghapus seluruh asa yang gue bangun. Serapi mungkin, gue tata setiap ekspresi wajah agar tak ada yang tahu, kalau gue gak baik-baik saja. Di bukit, ditemani dengan pemandangan Sunset yang mengagumkan membentang di langit dengan kilauan cahaya keemasan. Dia, seorang gadis dengan membawa Handycam bermerek berwarna hitam duduk dengan tenang menikmati pemandangan ciptaan Tuhan, merekam detik-detik terbenamnya matahari di ufuk barat dengan seulas senyuman kebahagiaan terpancar di wajahnya.

“Helo guys, ketemu bareng gue Diana Lovita. Ternyata udah cukup lama gue gak upload video di akun gue yang ini. Maaf buat penggemar menunggu. Guys, coba tebak gue dimana?” Tukas gadis tersebut, yang kemudian mengarah handycam miliknya ke hamparan rumput dan sunset yang sebentar lagi akan terlihat. “Lo semua pada enggak tahu kan? Pokoknya lo semua harus nyoba untuk datang ke tempat ini, cocok buat yang suka menyendiri gak suka keramaian atau hanya sekedar nenangin pikiran karena mumet tugas sekolah atau mumet karena pacar. Guys, udah dulu ya see you next time and next video. Love you. Muach,” Diana, mematikan Handycam miliknya, kembali fokus pada untuk menikmati sunset miliknya.

“Lo dari mana? Kok baru pulang?”
“Biasa Div, kayak baru kenal gue aja lo,”
“Diana!” Panggil Divia.
“Kenapa?”
“Mama, nanyain lo tadi,”
“Terus lo bilang apa?”
“Ya gue bilang kalau lo lagi ngelaksanain hobi lo itu,” Diana yang tersenyum, melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk beristirahat. Ia merengganggkan otot-otot miliknya, yang kaku. Dan mulai berbaring berhadapan menindih kasur empuk miliknya. Diikuti dengan mata yang mulai terpejam bersamaan hembusan napas yang lebih teratur.

Pagi menjelang kala suara dentingan sendok dan piring mulai beradu, suasana damai menikmati sarapan pagi mereka seperti biasanya. Hanya saja hari ini Lucas dan Jane hadir untuk ikut serta sarapan bersama kedua putri mereka, Diana dan Divia. Bukankah semua ini terasa hangat? Keluarga kecil berkumpul menikmati sarapan pagi.
“Ma, kenapa gak bilang kalau mau pulang ke Indo?”
“Udah kok, Mama udah bilang ke Divia. Emang Divia gak ngasih tahu kamu?” Jane menatap ke arah Divia, menuntut penjelasan dari Divia.
“Hehe, Lupa!” Cengirnya.

Pikun, itulah umpatan kecil yang dilontarkan Diana pada Divia, sedangkan Jane dan Lucas hanya menggelengkan kepala menanggapi sikap kedua putrinya itu. Mereka kembali melanjutkan acara sarapan pagi yang sempat tertunda. Sarapan usai, Divia mulai beranjak. Menyelempangkan tas kecil di pundaknya.
“Kamu mau ke mana Divia?”
“Mau ke rumah temen Pa, ada yang hrus aku ambil,” Divia beranjak, pamit kepada Jane dan Lucas. Lucas dan Jane mengecup pipi Divia. Diana tersenyum melihatnya.
“Ma, Pa aku berangkat juga ya,” Ujar Diana tersenyum tipis.
“Ya sayang,” Diana pamit dan menyalami orangtuanya kemudian pergi. Semuanya terasa menyakitkan.

Diana memasuki mobilnya, mengendarai dengan kecepatan normal. Dengan Headset yang melekat di kedua telinganya. Mobilnya terhenti tepat pada danau yang indah di pinggiran kota. Cukup jauh memang, hanya saja ia menyukainya. Sebuah kamera Canon sudah dikalungkan di lehernya. Berjalan menyusuri keliling danau mencari tempat yang pas untuk diabadikan. Meskipun sudah banyak momen yang ia abadikan melalui kameranya tantang tempat ini, Diana tak pernah merasa bosan sedikit pun untuk selalu berkunjung kala ia memiliki waktu luang. Cekrek, Cekrek. Beberapa foto telah ia abadikan dengan sudut pandang yang berbeda. Diana berjalan menuju pinggir danau, tangannya memain-mainkan air danau, tapi tatapannya hanya sebuah tatapan kosong.

Kalian berubah. Terlalu lama gue bertahan memberikan isyarat tapi gak ada di antara kalian yang menyadari hal tersebut. Gue nyesel akan semua yang telah terjadi. Diana menghembuskan napas gusarnya. Entah untuk yang keberapa kalinya. Hingga suara sinis menyelinap memasuki pendengarannya, menusuk hingga ke hatinya. Ingin rasanya ia berteriak dan memarahi pemilik suara, tapi apa yang bisa ia lakukan, karena sang pemilik suara adalah sahabatnya sendiri. Lebih tepatnya sahabat yang membenci dirinya.

“Ngapain lo di sini? Lo gak pantes di sini. Tempat ini bukan untuk seorang pengkhianat kayak lo!”
“Gue rasa ini tempat umum,”
“Iya ini memang tempat umum, tapi bukan untuk pengkhianat!” Diana melepaskan senyuman sinis, sejenak ia berbalik dan bergerak menjauhi 2 gadis tadi, yang tengah berkacak pinggang.
“Gue pikir kita sahabat. Tapi gue salah. Andai lo tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya,” Diana berhenti hanya untuk sekedar mengatakan hal tersebut. Dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat ia berada saat ini. “Lo yang buat semuanya jadi seperti ini Diana,” Ujar salah seorang di antara kedua gadis tersebut. Menatap kepergian Diana sendu. Sedangkan Diana, gadis itu mengatup mulutnya dengan tangan kirinya. Sebelumnya, semua baik-baik saja.

Diana memejamkan matanya, sesaat setelah ia tiba di rumah. Menarik napas dalam-dalam dan kemudian dikeluarkan. Diana beranjak dari mobilnya dan mulai memasuki rumah. Di sana di ruang keluarga, ia melihat pemandangan yang membahagiakan, duduk dan mulai bergabung. “Habis dari mall kok gak ngajak-ngajak,”
“Kamu sih selalu sibuk dengan kamera dan Handycam kamu itu sampe-sampe lupa punya masih punya keluarga,” Diana terhenyak mendengar penuturan dari Lucas, yang sangat tajam. Dia tertunduk. Salahkah ia melaksanakan hobinya? Hey, Diana telah menuruti keinginan Lucas dan Jane untuk melanjutkan kuliah di bidang Bisnis walaupun sebenarnya Diana ingin berkuliah photographer. Lalu mengapa mereka tidak memberikan ruang bagi Diana untuk menjadikan Photographer sebagai hobinya.

“Tuh, makanya kayak Divia dong! Tahu dengan waktu,” Tambah Jane membuat Diana semakin terdiam.
“Diana, lo mimisan lagi,” Dengan segera Diana merogoh tasnya mengambil tisu dan mulai mengahapus darah yang mengalir di hidungnya. Diana beranjak menuju kamarnya.
“Ma, Pa?” Ujar Divia. Ia menatap dengan tatapan seolah bertanya apakah Diana akan baik-baik saja.
“Diana gak apa-apa. Dia hanya kelelahan. Dulu, Mama dan Papa sempat khawatir. Tapi dokter bilang, itu cuma efek kelelahan mengingat Diana memiliki kondisi fisik yang lemah.” Divia hanya manggut dan mulai menyibukkan diri dengan barang belanjaan yang ia beli bersama kedua orangtuanya.

Kapan semuanya berakhir? Lain halnya dengan Diana yang tengah berbaring di tempat tidur dengan tisu yang menyumbat hidungnya. Ia berbaring sembari menatap langit-langit kamar. Air mata yang seketika melesat ke luar dari bola mata hitam miliknya. Membiarkan air mata itu mengalir sedemikian deras, karena tak akan ada yang mendengar, jeritan kerapuhannya. “Tokk, tokk,” Ketukan pintu membuatnya terduduk, segera ia menghapus air mata karena ia tak ingin terlihat lemah. Membuang asal tisu yang menyumbat hidungnya. Ceklek.. Pintu dibukanya menampilkan Divia dengan dress selutut berwarna ungu lembut, sangat cantik.

“Diana, gimana dressnya keren gak? Cocok gak sama gue,” Ujar Divia sambil menerobos masuk kamar Diana.
“Cocok kok,” jawab Diana.
“Makasih, kakak,” Ujarnya lagi dengan senyuman mengembang. Divia hendak keluar setelah meminta pendapat dari Diana saudaranya. Langkahnya terhenti kala mendengar ungkapan kerapuhan Diana. “Kenapa semuanya terjadi ke gue, Div?” Divia berhenti melangkah menoleh ke arah Diana yang menatapnya dengan tatap rapuh.
“Kenapa semua orang gak bisa adil ke gue?” Tambahnya lagi.
“Gue gak ngerti apa maksud lo,” Divia mendekati Diana menatapnya dengan lamat.

“Kenapa semuanya lebih sayang ke lo, lebih percaya dengan setiap yang lo ucapin meskipun terkadang itu kebohongan?” Diana menatap Divia sendu. Divia hanya dapat tertunduk diam membeku, membiarkan Diana mengungkapkan setiap keluh yang ia rasakan. “Kenapa Div? Apa salah gue?” Kakinya begitu lemas hingga tak dapat menahan bobot tubuhnya sendiri. Diana terduduk di pinggir kasur. Erangan pilu terdengar begitu menyakitkan.

“Gue, gue gak tahu Di,” Diana menatap ke arah Divia yang sedari tadi bungkam kini mulai bersuara, walau sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin ia dengar.
“Apa selama ini gue cuma jadi beban?”
“Gak! Lo gak pernah jadi beban. Mama dan Papa sayang kok sama lo. Mereka pasti sayang. Mana mungkin ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya,”
“Ada! Buktinya gue. Apa pernah Mama dan Papa nanyain keadaan gue secara langsung? Apa pernah Mama dan Papa meluk, ngasih kehangatan buat gue? Apa pernah Mama dan Papa di sisi gue, saat bener-bener butuh mereka? Gak Div! Gak! Mereka gak pernah ada buat gue!”

“Lo salah, mereka selalu nanyain kabar lo lewat gue, Di. Mereka biayain hidup lo, mereka beliin lo barang-barang yang lo minta,”
“Gue gak butuh itu semua! Gue cuma butuh mereka di sini bareng gue. Gue cuma pengen mereka nemenin gue. Gue cuma pengen mereka perlakuin gue, seperti mereka perlakuin lo. Sebenarnya GUE ATAU LO YANG ANAK ANGKAT, Div. Semua seakan-akan gue lah yang anak angkat, bukan lo,” Tangisan kedua pecah. Diana yang sejak dahulu berdiam membiarkan kesakitan itu mengalir hingga sudah menjadi bagian darinya.

Isakan menggema di setiap sudut ruang kamar. Suara langkah kaki mendekat tergesa-gesa ingin menyaksikan apa yang terjadi. Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan sepasang suami istri yang menatap dengan alis bertaut. Divia berlari ke luar kamar, menjauh. Diana masih terduduk dengan isakan yang masih belum terbendung. Jane dan Lucas mentap nanar Diana. “Apa yang udah kamu lakuin?” Lucas menatap Diana dengan menginterogasi. Diana diam masih menikmati tangisan memilukannya. “Papa bilang apa yang udah kamu lakuin ke Divia, Diana?” Suara Lucas membentak Diana, membuat Diana jauh lebih terisak. Dengan segenap keberanian yang ia miliki. Ditatapnya mata milik sang papa yang sudah tampak emosi.

“Aku, aku gak ngapa-ngapain Divia, Pa,”
“Mama, harap begitu. Cukup Divia merasakan kesedihannya setelah kepergian orangtuanya secara tragis. Mama harap kamu tidak membuatnya jauh lebih tersakiti,” Diana menggeleng tak percaya, dengan apa yang terlontar dari mulut mamanya. Tidakkah Jane tahu, bahwa Dianalah yang merasakan sakit yang luar biasa saat ini? Tak diacuhkan oleh orangtua? Miris! Tangisnya kembali mengiring.

“Lalu, apa harus aku yang selalu ngerasa sakit? Apa Papa dan Mama gak tahu, kalau di sini aku yang ngerasain sakit itu Ma, Pa,” Ujarnya lemah. “Jangan membuat semua hal menjadi dramatis Diana!” Tukas Lucas.
“Aku muak dengan semuanya. Apakah semuanya begitu berlebihan? Sampai kapan Mama dan Papa seperti ini? Mengacuhkanku atas segala usahaku. Apa gak ada ruang sedikit pun untuk Diana setelah Mama dan Papa mengangkat Divia?” Lucas dan Jane hendak ke luar, langkah mereka terhenti kala Diana kembali menggumamkan kata-kata yang menyesakkan hati keduanya.

“Aku tak pernah merasa baik. Semuanya selalu terlihat tak adil. Diana cuma ingin Mama dan Papa kembali pada Diana, seperti dulu lagi. Tolong kembali,” Lirihnya lagi
“Divia jauh lebih membutuhkan kami saat ini, Diana. Bukankah kamu sudah memiliki semuanya? Kamera, Handycam, Iphone semuanya. Bukankah kamu sudah mendapatkan kasih sayang lebih dari kami sejak kecil. Sedangkan Divia, sejak kecil ia hanya dirawat oleh bibinya karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat sejak ia berusia 7 tahun,”

“Tapi Diana jauh lebih butuh Mama dan Papa untuk saat ini. Hanya untuk saat ini. Aku mohon, hanya untuk saat ini. Hingga Diana benar-benar tak membutuhkan semuanya lagi. Hanya hingga sebuah cahaya datang menyambut Diana dengan kebahagiaan sejati yang sudah menanti di depan sana,” Diana bersujud di hadapan orangtuanya. Seluruh perkataan Jane dan Lucas menyayat hatinya, meninggalkan lobang yang cukup dalam hingga sulit rasanya untuk disembuhkan.

“Kamu terlalu berlebihan Diana,”

Jane dan Lucas meninggalkan Diana dengan tangis yang tiada terbendung. Jane ke luar dengan perasaan sesak saat melihat putrinya menangis bahkan bersujud di depannya dan Lucas, menuntut kebahagiaannya. Lucas, ia tak berucap apa pun, tapi ia sadar bahwa ucapannya telah menyakiti putri kecilnya. Tidak, Lucas peduli pada Diana. Ia selalu mengecup Diana ketika tidur, mengamati setiap kegiatan Diana saat ia tak berada di rumah. Tapi sulit baginya, untuk mengatakan itu semua. Lucas hanya ingin Diana tumbuh menjadi anak yang mandiri dan memberikan Diana pelajaran bahwa untuk tidak selalu mengutamakan Hobinya.

“Apakah meminta kasih sayang dari orangtua sendiri itu berlebihan?” Tanya Diana menahan tangis. Jane dan Lucas ke luar tanpa menggubris pertanyaan Diana. Diana kembali membekap tangisnya. Menangis tanpa bersuara membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Entah sampai kapan ia bertahan dengan posisi dan perasaan menyakitkan itu. Entah sampai kapan ia mampu bertahan dalam keadaan seperti ini.

Bersambung

Cerpen Karangan: Indah Dwi Kurnia
Facebook: Indah Dwi Kurnia

Cerpen Unfair (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


From First Time

Oleh:
Tak ada matahari untuk siang itu, walaupun masih pukul setengah satu siang cuacanya sangatlah mendung, awan awan hitam yang menutupinya dan mungkin beberapa saat lagi akan menjatuhkan butiran butiran

Ibu Ku Di Mana

Oleh:
Selama ini aku hanya menunggu jawaban, jawaban dari orang yang sangat ku hormati selama ini, yang telah menjadikanku manusia sempurna di atas kekuranganku. Dialah sosok seorang yang telah berjuang

Dermaga Yang Berkarat

Oleh:
– entahlah. mungkin ini hanya mimpi. jatuh ke dalam tumpukan mawar kering. berbaring di atas ngiup tanah yang basah. senja datang membawa semua pasukannya menghujat dan menjajah dengan peluru

Good Bye Misya

Oleh:
“pagi begitu indah tapi aku hanya bisa melihat ini untuk 3 bulan saja” ucapku lesu “ayo Misya” ajak papa “iya” ucapku Aku menyusul papaku yang sedang di bawah. “ya

Malaikat Kecil Bersayap (Part 1)

Oleh:
Namaku Utari, aku seorang gadis berusia 18 tahun, di sini aku akan berbagi pengalamanku yang sangat mengharukan dan mengandung pelajaran tentang kasih sayang di dalamnya. Nama lengkapku adalah Utari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *