Unique Stories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

“Hai mama..
Aku merindukanmu… kenapa aku tidak bisa melihatmu? Setidaknya hadirlah dalam mimpiku. Aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin memelukmu, mama. Jawab ma! Mama tidak pernah membalas suratku.. mamaaa!!!”

Sudah ke 99 surat yang aku kirim ke mama. Tapi mama tidak pernah membalas suratku. Tidak pernah! Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. “Nayla… makan!” teriak papa dari luar kamarku. Aku tidak menggubrisnya. aku benci memakan masakannya Kadang terlalu asin, kadang terlalu manis. Jauh dari rasa yang sempurna buatan mama. Padahal dia seorang manager restoran tapi tidak tahu cara memasak. payah!

Tiba-tiba aku terkejut saat papa membuka pintu dengan keras. Aku menatapnya dengan datar. “Nayla!!” serunya. Aku tidak menjawab. “ayolah, Nayla… maafkan papa nak” katanya dengan nada yang sedikit lembut. Aku mengela nafas. Aku menuruti pintanya dan langsung pergi ke meja makan. Dia mulai menuangkan nasi dan sayur asam. Aku menatap papa curiga. Biasanya papa hanya memasak yang mudah-mudah, seperti sayur rebus, telur ataupun mie intsan. Itu pun nilai masakkannya enam koma lima. Sayur asam? Mau minus berapa nilai masakannnya kali ini.

Papa hanya tersenyum manis padaku. aku mengambil sendok dan mencicipi masakan baru papa. Enak! Batinku.
“enak kan?” kata papa
“kok bisa?”
“iya dong, temen papa yang masaki khusus buat kamu, nay”
Aku mengeryitkan dahi. Teman? Pasti perempuan.. wah gawat jangan bilang papa mau menikah lagi. Tebakkanku benar. Sosok wanita muncul dari balik pintu dapur. Dia berseragam seorang koki.
“nah ini tante kila” seru papa semangat.
Aku masih memasang ekspresi waspada. “Calon mama baru kamu..” lanjut papa.
Ingin kubanting saja sendok ini setelah mendengar kabar kedua paling buruk setelah kabar meninggalnya mama setahun yang lalu.
“halo sayang…” kata wanita jelek itu padaku. aku menatapnya sinis.
“nah.. gimana, Nay. Cantik kan? Masakkannya juga sama kayak mama kamu, Nay” sambung papa.
“aku benci papa!” ketusku dan langsung meninggalkan mereka berdua. Aku masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Papa terus mengedor-gedor pintuku. Aku tidak peduli! Bahkan kalau dia sangat marah sekalipun aku tetap tidak peduli! Bisa-bisanya dia menikah lagi untuk menggantikan mama di rumah ini. papa tega ya! Papa jahat! Aku benci padanya.
“nay…” bentak papa
“jangan bicara sama ku! Pergiiii!!!” teriakku dengan keras. Setelah itu papa tidak bersuara lagi. Aku benci padanya!!!

Di sekolah…
“hei anak piatu! Papamu mau nikah lagi ya” itu suara iblis yang sedang menggangguku. Boby namanya, teman sekelasku. Dari mana dia tahu papa akan menikah lagi? Aku menatap sinis Boby.
“jadi punya mama tiri dong!” ketus manusia mengerikan itu.
Aku hanya diam. Jika aku menggubris perkataannya, bisa-bisa dia akan kubuat mati! Bahkan jasadnya tidak akan bisa ditemukan. Aku menghela napas berat. Kenapa aku bisa segila ini memikirkan pembunuhan sadis. Hiks!
Perjalanan hidup yang membosankan. Andai aku punya sihir, aku bisa menggunakan kekuatanku untuk mengahancurkan wanita tua itu! Dia sudah membuat papa jatuh cinta. Dasar papa! Kenapa dia bisa jatuh cinta selain mama sih?

Aku pergi ke perpustakaan untuk menghilangkan kebosananku saat istirahat. Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tidak mempunyai teman. Mereka menganggap aku aneh. benar juga sih… belakangan ini aku sering murung dan sinis. Aku sudah menyadarinya sejak kepergian mama.

Mataku terfokus pada satu buku. Dia terletak di pojok atas. Aku langsung mengambilnya dan membukanya. Entah kenapa aku tertarik dengan cerita fiksi ini. saat aku membuka halaman pertama, ada serangga cantik yang terbang dari halaman buku itu. Aku rasa aku sedang bermimpi. Aku mengucek-kucek mataku, siapa tahu aku salah lihat. Benar.. ini nyata. Serangga cantik itu memiliki butiran debu berwarna emas. Dia mengelilingi buku itu. Dan.. aaaaaa!!! Aku ikut masuk ke dalam buku itu.

Dan tiba di tempat, Aku terkejut bukan kepalang saat melihat orang sama sepertiku. Maksudku kami kembar? Gadis itu memiliki postur yang sama denganku. Tanda lahirnya juga. Tapi dia ada di sebelah kanan, sedangkan aku di kiri.
“kau siapa?” ucap kami tersentak.
“aku Nayla” ucapku
“aku Cita” ujar gadis itu. Kami sama-sama bengong. Raut wajah kami memang serupa. Aku menyentuh wajahnya, dia juga. Benar-benar manusia! Batinku.
“oke bagus kalau kita kembar. Kau bisa tidak membantuku?” katanya tanpa basa-basi.
“apa?”
“kita bertukar jiwa”
“kau gila ya? bagaimana bisa?” aku rasa gadis itu terlalu banyak menonton kartun sampai-sampai dia membawa khayalannya di dalam dunia nyata. Aku menatapnya curiga.
“heh kau yang gila.. kau tidak tahu apa. Lihat itu.. kau memiliki 3 daun ajaib. Itu artinya kau bisa menggunakan daun ajaib untuk meminta apa saja. Tapi hanya 3 saja” jelasnya. Aku langsung menoleh benda yang dia maksud. Ternyata benar.. aku memegang 3 daun. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku memegangnya.
“kau mau kan?” tanyanya lagi. Oh ya aku hampir melupakan dia karena aku terlalu fokus pada daun ini. aku terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana kalau aku mencoba ini. pasti seru. Aku masih punya 2 permintaan lagi. Yang satu untuk mengembalikan posisi dan satu lagi untuk.. apa ya? ahh nanti saja deh.
“hei!!” cita menepuk pundakku.
“ya.. tapi kau harus jawab pertannyaanku!” ujarku
Cita hanya menatapku. “kenapa kau mau bertukar jiwa?”
Cita menghela nafas tampak berat, “aku bosan pada kehidupanku.. aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda” jelasnya lirih.
“kalau gitu, kau mati saja..” ucapku seenaknya. Dia menatapku sinis. Yah.. yah.. aku salah.
“bercanda” ucapku akhirnya. “kau punya mama?” tanyaku.
“punya..” sahutnya. Aku mengangguk mantap. Tanpa basa-basi lagi aku bertukar jiwa dengannya. Rasanya sangat sakit… tapi yah, tak masalah sih. Dia menjadi Nayla sedangkan aku menjadi Cita. Kami tersenyum dan akhirnya berpencar pulang kerumah masing-masing.

“Cita.. kamu ke mana aja sayang? Mama mencarimu” gumam wanita paruh baya padaku. aku sontak terkejut. Tapi kemudian biasa saja karena aku sudah tahu ini pasti mama cita. Aku tersenyum hangat dan langsung memeluknya. Aku merindukan mama… batinku.
Sejak saat itu aku merasakan mama Cita adalah mama kandungku. Dia sangat hangat seperti mama. Aku jadi semakin betah berada di tubuh Cita. Dia juga memiliki teman yang banyak. Wah dia sudah gila ya? mengapa kehidupannya dibilang membosankan?
Aku tidak tahu Cita sedang apa. Dia menghilang tidak menemuiku kembali. Apa dia ingin selamanya berada di tubuhku? Baguslah.. kalau itu terjadi. Aku sudah nyaman berada di tubuhnya.

Aku duduk di bawah pohon besar. ditempat ini, aku bertemu dengan Cita pertama kali. Aku membiarkan kakiku mengayun-ayun pelan.
“Hey Nayla!” ucap seseorang dari belakang. Aku menoleh. Ternyata Cita. Dia mendekatiku dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
“oh kau sudah bosan ya” kataku.
Cita menghela nafas dan duduk di sampingku. “walaupun hidupku membosankan, tapi aku bahagia..” aku terdiam sejenak. Cita menatapku keheranan. “kau pasti selalu diam di rumah. Kau tidak bisa ke mana-mana. Kau tidak bisa menonton TV. Kau tidak bisa bermain game. Kau tidak bisa pergi jalan-jalan. Iya kan?” lanjutku.
Cita menganngguk. “tapi… aku tidak pernah bosan. Kecuali setahun belakangan ini…”
“kenapa?”
“hidupku tidak pernah bosan karena saat aku membuka mataku mama ada di sampingku. Tapi setahun berlalu hidupku menjadi tidak berarti. Kosong. Mama meninggal setahun lalu. Dan papa… ah dia! Dia menikah lagi sama wanita tua itu!”
“kau tidak boleh seperti itu. Mama tirimu baik padaku kok…”
“dia itu baik kalau ada papa!” aku memotong perkataan Cita.
“tidak, Nay. Kau salah.. bahkan papamu tidak ada dia tetap baik kok. Sama seperti mamaku. Makanya aku menemuimu karena aku merindukannya.. bisakah kau mengembalikan tubuhku, Nay?” kata Cita. Aku menangis. Sebenarnya aku sudah nyaman berada di tubuh Cita. Tapi apakah itu benar? Apakah wanita itu baik pada Cita? Maksudku pada tubuhku?
Aku akhirnya mengangguk setuju. Kami mulai bertukar jiwa. Dan kemudian kami saling berpelukkan karena akan berpisah.

Aku teringat dengan daun itu. Daunnya sisa satu. Benda itu aku beri pada Cita. Aku tidak memerlukan itu lagi. Aku sadar sekarang, harusnya aku tidak menjadi aneh hanya karena mama. Tahu juga tidak akan bisa mengembalikan mama. aku ikhlas sekarang.

Tiba-tiba… Brak!!!
Aku terduduk di lantai perpustakan. “astaga.. apa yang terjadi? Aku sudah masuk dalam buku ini ya?” aku menatap buku itu kemudian meletakkan kembali ke rak pojok atas. Aku keluar dari perpustakaan,
“Nay.. kamu di sini?” ucap guruku padaku. dia terlihat khawatir sekali. Aku tercengir dan mengangguk. “Nayla….” segerombolan orang menghampiriku dan memelukku satu persatu. Apa yang terjadi?
“aku pikir kau menghilang, Nay..” ucap Lein, teman sekelasku. Aku mengeryitkan dahiku. “maafkan aku ya, Nay” kata iblis itu, maksudku Boby. Dia berubah? Batinku.
Semua langsung memelukku. Yah.. aku merindukan suasana ini. apa karena Cita yang meminta ini semua dan… daun ajaib itu?

Sesampainya di rumah.. ternyata Cita benar. Mama tiriku sangat baik padaku. aku merasa bersalah karena sudah kasar padanya dan.. papa juga. Maafkan aku pa.

Sehari kemudian… Aku menulis surat untuk mama,
“mama.. aku sudah bertemu dengan mama tiriku. Dia baik. maafkan aku ma.. pasti mama tidak akan senang jika aku dulu pernah membencinya..”
Surat ini adalah surat ke 100. Yah.. dan akan menjadi surat terakhir untuk mama. Di pemakamanya. Kau berfikir mungkin aku sudah gila mengirim surat pada orang yang sudah mati. Tapi aku memang sudah gila.. well… aku hanya bercanda.

Selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Unique Stories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan 23 Oktober

Oleh:
“Namanya Pak Hasir. Adalah petani sayuran. Ia single parent, istrinya meninggal saat melahirkan anak semata wayangnya. Keluarga kecilnya -Pak Hasir dan Nining anaknya- tinggal di lereng bukit daerah Bogor.

Perjuangan Kehidupan

Oleh:
Kini hidup ku yang tentunya serba bingung. yang ketika aku ada pengumuman Kelulusan SMP memasuki SMA, yang aku ingin kan berencana untuk memilih SMAN, tetapi sayang dengan hasil nilai

Laksana Pengembara yang Tersesat

Oleh:
Semilir angin menampar wajahku. Rerimbunan pohon akasia dan sepasang merpati dara menatapku lekat seolah ingin bertanya, siapakah anak itu? Mengapa anak lugu seperti dia tiap senja selalu di sini,

Bahasa Kami Berdua

Oleh:
Metias. Nama yang menurutku agak aneh. Biasanya, namanya ditulis sebagai “Matias”, atau disebut sebagai “Matius”. Yang jelas, Metias bukan nama yang sering kudengar. Metias melangkahkan kakinya memasuki kelas kami.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *