Unlimited Ikhwan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 27 February 2019

Dua buku pelajaran sastra dan dua pulpen berwarna merah dan hitam, juga penghapus karet yang tidak lagi utuh karena tugasnya. Mengahapus kesalahan menulis. Aku yang masih betah di meja belajar yang sengaja diletakkan di luar ruangan sehingga tidak akan jenuh bagi siapapun yang menulis di atasnya. Bukan karena ada mantra di sana. Tapi karena pemandangan sekitar rumah yang hijau, sejuk nan segar.

Kubuka lembaran demi lembaran dari buku sastra yang berbeda pengarangnya, mencari halaman yang dituju. Hingga sampai pada akhirnya kutemukan tepat di halaman yang kutuju. Halaman empat belas. Sebuah untaian kata yang berkumpul menjadi sebuah kalimat, dari kalimat berkumpul menjadi sebuah paragraf. Tapi ada yang aneh di sana. Ada lipatan kertas yang menyalip, menghalangi beberapa paragraf buku tugasku.

Perlahan aku buka. Dan itu adalah sepucuk surat dari laki-laki tiga tahun yang lalu. Fauzan adziima. Laki-laki yang pergi entah kemana meninggalkan kenangan yang tak habis-habis. Kutatap tajam kertas itu hingga pada akhirnya berhasil aku tenggelamkan bersama kepalan tangan dan berhasil mendarat di tong sampah dari jarak yang cukup jauh. Bakat main basketku masih melekat di diri yang tak muda lagi.

Ahhh.. nama itu. Kenapa masih saja terbayang? Kenapa masih enggan untuk pergi? Apa aku yang selalu berharap sampai saat ini? Andai Alloh menciptakan tombol delete di otakku aku akan hapus secepatnya. Pasti sampai saat ini tak akan ada dia di memori otakku. Membuat penuh saja.

Kulipatkan kedua tangan di atas meja. Menundukkan kepala di atasnya. Detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya. Nafasku terasa sesak. Tanganku gemetaran. Mataku panas mulai membentuk bulir bulir airmata yang hampir jatuh, aku tak sanggup untuk membendungnya. Hingga terbentuklah sungai yang mengalir di pipi. Terkadang ketika aku mengingat nama itu, hatiku selalu sakit, bagai diterpa beban berat hingga tak sanggup untuk bernafas. Sesak sekali. Aku semakin terpukul saat itu. Dari seberang sana, seorang perempuan paruh baya dengan gaya jilbabnya yang kalem yang bisa membuat semua mata teduh dan tenang. Apalagi aku, anaknya.

“Kamu kenapa sayang? Ingat fauzan lagi?” tanya ibu seraya memegang pundakku mencoba memberikan kekuatan.
“Ehh ada ibu” sahutku lirih sambil kupegang lagi tangannya yang mulai keriput. “Dinda nggak papa, Bu. Dinda sekarang udah ikhlas melepaskan fauzan. Dinda sudah bahagia sama ibu” pungkasku seraya memeluk ibu yang dari tadi berdiri memegang pundakku. “ingat, Nak! Kamu tidak sendiri. Masih ada ibu dan ayah di sini menemanimu sampai kapanpun. Jangan pikirkan fauzan lagi. Masih banyak ikhwan lain yang lebih baik daripada fauzan” kata ibu memberikan semangat kepadaku. “Iyaa, Nak! Ayah tau kamu sangat mencintai fauzan. Tapi Ayah tau juga kalau Alloh lebih mencintai kamu. Alloh telah siapkan laki laki yang lebih dari dia. Pokoknya kamu jangan khawatir bahwa fauzan itu unlimited ikhwan. Artinya masih banyak fauzan-fauzan yang lain, hehehe” tukas ayah seraya melemparkan senyuman manisnya. “Ah ayah. Bisa aja deh becandanya” ucapku seraya kupeluk ayah dan ibu dengan erat.

Sore itu terasa hangat. Lebih hangat dari hangatnya mentari. Kehangatan yang selalu tercipta diantara aku, ayah dan ibu. Tanpa mereka apalah aku. Mereka bagaikan roh dalam diriku. Jika ibu tidak ada, sebagian tubuhku seperti hidup tapi mati. Tak ada artinya.

Memang Alloh menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan. Seperti siang dan malam, langit dan bumi, kanan dan kiri, termasuk manusia. Makhluk hidup yang paling sempurna. Jika tidak berpasangan di dunia, masih ada akhirat. Tempat yang kekal abadi. Dan aku yakin, Fauzan yang meninggalkanku akan Alloh ganti dengan Fauzan yang lebih baik. Karena fauzan itu unlimited ikhwan.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Blog / Facebook: Ipeh Nurul
Namaku Latifah Nurul Fauziah, tinggal di Bandung karena bekerja. Aku lahir di Tasikmalaya, 14 Oktober 1997. Kini aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang peternakan. terimakasih

Cerpen Unlimited Ikhwan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remember Who You Are

Oleh:
Hai namaku airtas, aku berusia 19 tahun, ya ini adalah cerita tentang pengalaman pribadiku diawali dimana ketika keluargaku mulai terombang-ambing ekonominya, saat itu aku benar-benar masih ingat ayahku masih

The Secret of My Family

Oleh:
Sudah bertahun-tahun orangtuaku selalu sibuk. Apa jadinya aku? Aku selalu dicuekkin hanya memikirkan pekerjaannya. Aku hanya dirawat oleh pembantuku bernama mbok Maidah, dia yang selalu merawatku sejak kecil. Dia

Salah

Oleh:
“Apa dia menyukaimu?” aku menoleh sebentar dan cepat saja aku ucap padanya “Tidak, aku yakin tidak, dia sudah memiliki seseorang.” Lantas aku menelan ludah sejenak. Kenapa Karina bisa berpikir

Je T’aime (Part 3)

Oleh:
“Dek cepetan ke sini sekarang!! Emergency!!” teriak kak Cello tiba-tiba setelah Chika mengangkat telponnya. Chika menjawab dengan bingung, “Kemana kak? Apa yang emergency?”. “Pokoknya sekarang kamu ke rumah sakit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *