Untuk Bapak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Lelaki di hadapanku ini semakin mengeratkan pelukannya. Mengusap halus punggungku seakan berat melepasku pergi. Ujung matanya sedikit basah, berkali-kali ia menghela napas panjang. Aku berdiri canggung sejak tadi, menggenggam tangan sendiri dengan kaku. Berat juga rasanya meninggalkan lelaki di hadapanku ini. Lelaki yang memberiku banyak letupan semangat.

“Kenapa jadi canggung begini?” Kataku akhirnya.
“Kamu, kan nanti juga pulang.”
“Iya, kalau ku ingat hehehe.”
“Masuk saja sana.” Bapak lalu mundur selangkah, memberiku ruang agar segera memasuki bandara.

“Bangun, Nduk. Sudah subuh. Ndak sekolah?”
Sayup ku dengar suara bapak mengetuk pintu kamarku. Tak lama, lampu dapur di sebelah kamarku menyala, menerobos melalui celah kecil jendelaku, menyelinap masuk membangunkanku. Suara beradu panci dan alat masak lainnya terdengar bersahutan. Ah, bapak. Selalu saja dia yang menyiapkan sarapan. Aku segera bangkit, siap-siap untuk sekolah. Namaku Dita, duduk di kelas 2 SMA dan berusia 16 tahun. Bapakku adalah seorang keturunan Jawa dan Ibuku adalah orang asli suku bugis. Ibuku telah lama meninggal, sedangkan kedua kakakku sudah punya keluarga masing-masing dan tinggal di luar kota. Aku dan bapak tinggal di salah satu rumah mungil di sudut Kota Makassar. Rumah yang menjadi naungan kami sejak ibu meninggal itu berjarak kira-kira 7 kilometer dari tempatku bersekolah, membuat bapak selalu bangun lebih dulu untuk mengantarku.

Hari-hariku penuh aktivitas. Bapak-yang juga sudah 2 tahun pensiun -terpaksa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Apa saja dia kerjakan. Saat atap rumah rusak karena dijatuhi pohon yang tumbang, bapak yang memperbaikinya. Atau saat pipa rumah bocor, bapak jugalah yang menyelesaikannya. Ketika ku tanya mengapa tak pergi menyibukkan diri bersama temannya yang lain, ia hanya menjawab, “Bapak sudah tua, tidak pantaslah bersenang-senang.”

Setiap pagi, ketika bapak mengantarku dengan motor butut kuningnya -yang membuatku sedikit risih dilihat teman-bapak selalu bercerita apa saja. Tentang pertandingan bola yang ia tonton semalam, atau tentang 2 ekor ayamnya yang sudah semakin besar. Rona bahagia kerap kali terlihat dari wajah bapak saat menceritakan apa saja padaku, itu bisa ku lihat dari kaca spion motor yang bapak kendarai. Aku yang duduk di belakangnya hanya mengangguk atau sesekali berkata, “oh?” atau “hebat itu, Pak.” meskipun ku tahu bapak butuh teman cerita.

Bapak selalu mengantarku sampai tepat di depan pagar sekolah. Tak lupa, ia menyapa Pak Mustari, satpam sekolah yang setiap pagi mengatur kendaraan keluar-masuk dari halaman sekolah. Setelah melepas helm, ku cium tangan bapak seperti biasanya. Lama sekali bapak menahan tanganku, membuatku sadar keriput di tangannya semakin jelas terasa. Bapak mengelus kepalaku pelan sambil berkata, “Sekolah yang baik ya, Nduk. Belajar itu yang pintar. Biar nanti kamu sekolah yang tinggi.” Kalimat itu terdengar sayu di telingaku dan entah mengapa kalimat itu berhasil mengoyak perasaanku. Membuatku sedu sedan dengan mata yang mulai berair.

Di suatu senin di awal musim kemarau, bapak mengirimiku pesan dan memintaku untuk tidak pulang terlambat. Aku mengiyakan permintaannya meskipun berbagai pertanyaan bermunculan di kepalaku. Mengapa bapak tidak seperti biasanya? Begitu tiba di rumah, ternyata bapak membawaku mengelilingi kota dengan si butut kuning itu. Memboncengku ke suatu tempat yang tak pernah ku tahu keberadaannya. Jauh seakan tak terjamah hiruk pikuk kota. Tertutup gedung tinggi dan dibungkus pohon-pohon rindang. Bapak mengajakku duduk di bawah pohon besar bersisikan danau. Aku mengamati keadaan sekitar, menghirup udara yang terasa begitu segar. Suasana menjadi tenang sekali. Ingatanku terbayang ketika masa kecil dulu. Bapak selalu membacakan dogeng untukku. Ngeloniku dan membisikkan petuah yang hingga kini terus mengalir dalam darah. Menjadi satu-satunya sosok yang bahagianya terus ku perjuangkan.

Semilir angin berhembus pelan, mengiring harapku agar tersampaikan pada angkasa luas. Sudah sangat lama aku memendam keinginan besar. Namun rasa ingin memiliki mengalahkan mimpi besarku itu. Aku mendesah napas panjang, akan ku sampaikan keinginanku untuk melanjutkan sekolah di luar pulau padanya.
“Pak, kalau Dita kuliah di Pulau Jawa bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Ia tersenyum sekilas lalu melempar pandangan jauh ke dalam danau. “Yaa.. Bapak baik-baik saja.”

Bapak menoleh padaku, menatapku dalam lalu berkata, “Kalau Bapak rindu, bagaimana? Kamu bisa jaga diri?” Pertanyaan itu cukup menohok bagiku. Selama ini aku selalu menghabiskan waktu bersama bapak. Ia menjadi seorang yang dapat ku jadikan teman sekaligus ibu pada satu waktu. Sakitku, bahagiaku, tawaku, seluruhnya untuk bapak. “Kan bisa telepon.” Aku berusaha tertawa namun bapak lantas memelukku erat. Badannya kaku sekeras kayu dan helaan napasnya terdengar berat. Aku tahu bapak sangat mengkhawatirkanku. Namun aku kini beranjak dewasa dan mungkin sebentar lagi akan meninggalkannya pergi. “Ayo kita pulang.”

Hari demi hari terlewati. Rutinitas bapak masih sama. Keinginanku untuk melanjutkan sekolah di Pulau Jawa semakin besar, namun ketidakinginanku meninggalkan bapak juga sama besarnya. Bagaimana kalau bapak sakit? Meskipun aku tahu kalau pun suatu saat nanti bapak sakit, ia tak akan memberitahu siapa pun. Di suatu pagi di hari minggu, aku terlambat bangun. Keresahan segera menyelimutiku ketika seluruh lampu masih menyala dan pintu kamar bapak masih terkunci. Ku ketuk berkali-kali namun tak ada respon. Segera ku dobrak saja pintu itu, dan hasilnya berhasil! Bapak masih terlelap namun wajahnya pucat dan bibirnya bergetar kecil.

Aku resah bukan main. Segera ku buka lemari bapak dan mengambil beberapa sarung. Menyelimutinya hingga berlapis-lapis dan berlari membuatkannya teh panas. Tanganku sedikit gemetar. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bapak tidak pernah sakit, dia selalu kuat. Dia bapakku! Ketika kembali ke kamar, bapak sudah membuka mata. Ia memaksakan sedikit senyum tapi itu justru membuat hatiku semakin sakit. Ini pertama kalinya bapak terlihat lemah. Tak ku rasa butiran bening di sudut mataku mengalir begitu saja. “Bapak tidak apa-apa…” Selama dua hari aku membolos sekolah demi merawat bapak. Aku tidak membawa bapak ke dokter, aku yakin ia hanya kelelahan. Hanya butuh tiga hari untuk bapak pulih seperti sedia kala.

Sekolahku sibuk mempersipakan ujian nasional yang sebentar lagi akan dilaksankan. Aku juga sibuk belajar untuk melanjutkan sekolah ke Pulau Jawa. Ambisiku sudah besar, tujuanku sudah jelas. Apalagi? Bapak, meskipun ia berat hati tapi ku yakin ia mendukungku penuh. Jalur undangan segera ku bidik sesaat setelah ujian berlangsung. Berkali-kali ku minta restu bapak. Kali ini senyumnya lebih merekah, mungkin sedikit lebih bisa merelakanku pergi. Seminggu setelah itu, pengumuman jalur undangan diumumkan. Takut-takut, ku teliti daftar nama itu di antara kerumunan teman sekolahku. Anandita Restu Panrai. Ya! Namaku berada di urutan ke-10 di antara 40 anak yang lulus jalur undangan. Aku segera menelepon bapak.

“Bapak, Dita lulus, Pak!” Jika saja bapak di sini, ingin rasanya ku peluk erat tubuhnya.
“Alhamdulillah!” Bisa ku bayangkan saat ini, di balik telepon, bapak sama bahagianya denganku.

Ku giring koper besar milik bapak dengan perlahan. Tanganku tak henti menggenggam tangannya. Merasakan detik terakhir sebelum aku benar-benar merantau ke kampung orang. Bapak menatapku dalam, seolah menyampaikan petuah terakhirnya lewat binar mata teduhnya. Ia lalu memelukku sangat erat. “Jadi anak pintar, Nduk.” Itu adalah kalimat terakhir yang ku dengar dari bapak sebelum melepasku pergi. Langkahku terasa berat. Namun keinginanku untuk membanggakan bapak sudah bulat. Ku seka air mata yang tak terasa mengalir.

“Bapak, tunggu Dita pulang.”

Cerpen Karangan: Hikmah Meilani
Blog: hkmelan.wordpress.com
Perkenalkan, nama saya Melan. Sekarang duduk di bangku SMA. Cerita ini didasarkan pada kisah nyata, namun tetap bergenre fiksi dikarenakan sudah banyak “dibumbui” agar cerita lebih hidup.

Cerpen Untuk Bapak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Then I go

Oleh:
“Seperti salju yang menunggu dirinya menghilang saat musim panas datang, aku juga menunggu kalian menghilang pelan-pelan agar aku bisa mengenang kalian dengan baik,” Di tengah halaman yang berselimut salju,

Basket Keringat Dan Jeritan

Oleh:
Terkadang aku merasa tidak puas dengan prestasi-prestasiku. Ibu tak pernah bangga terhadap apa yang aku sudah lakukan. Mendali-mendali dan piagam-piagam pernghargaanku seakan tak ada nilainya di mata ibu. Aku

Hadiah Buat Mama

Oleh:
Suatu hari saat Ina baru saja pulang sekolah, dia dikagetkan oleh suara mamanya yang memanggil namanya. “Ina… ina…” “iya ma ada apa?” Jawab Ina dengan sopan. “kamu itu lagi

Masa Kecilku

Oleh:
Nama ku Riani, saat itu aku adalah murid di salah satu SMP Swasta di kota ku. Kejadian ini terjadi saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *