Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 August 2017

Dalam gudang yang sempit. Diana, seorang gadis yang tengah meringkuk di sudut ruangan. Dia menangis sesegukan kala mengigat peristiwa itu, dia pun tidak mempedulikan sekitarnya yang dipenuhi binatang kecil menjijikan. Sejak peristiwa tiga tahun silam, dimana sang Ayah berusaha menyelamatkannya dari reruntuhan gempa bumi, yang membuat ayahnya meninggal. Ibunya menjadi semakin membencinya. Mulai saat itulah gudang ini menjadi kamarnya. Ruangan yang hanya terdapat kardus dan selimut menjadi penghangat tatkala ia sedang bersedih.

“Dasar anak sialan, karena kamu suamiku meninggal.” Perkataan sang Ibu terus terngiang di kepalanya. Dia tidak menginginkan ini semua. Diana hanya ingin Ibunya tidak lagi membencinya.

Ketukan pintu dari luar menyadarkan Diana dari lamunannya. Terlihat seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu dengan wajah cemas. Wanita itu menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Non Diana, Ibunya non tadi pingsan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.” Tutur wanita tadi dengan rawut wajah khawatir. Diana sangat terkejut mendengar penjelasan dari wanita itu.
“Mbok Mina, tolong antar saya ke rumah sakit. Diana ingin lihat kondisi Ibu” ucap Diana sambil terus menahan air matanya. Mbok Mina segera mengambil kursi roda dan membantu Diana untuk mendudukinya, lalu bergegas ke luar.

Mbok Mina masuk ke dalam gedung rumah sakit menuju ruang pasien, sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Diana. Terlihat bahwa dokter baru selesai memeriksa keadaan ibunya. Dengan raut kecemasaan Diana menghampiri sang dokter.
“Dok, gimana keadaan Ibu saya?”
“Keadaanya sangat memprihatinkan. Kerusakan pada kedua ginjal Ibu anda sudah sangat parah, Ibu anda harus segera menjalani operasi transplantasi ginjal. Kami sedang berusaha untuk mendapatkan pendonornya.” Jelas dokter itu.
“Terimakasih dok, tolong lakukan yang terbaik pada Ibu saya.”
“Akan kami usahakan sebaik mungkin” balas sang dokter sambil berlalu meninggalkan Diana.

Penjelasan dari dokter, bagai seribu pedang tajam menancap tepat di jantungnya. Bagaimanapun Diana sangat menyayangi sang Ibu. Melihat kondisi Ibundanya dalam keadaan tak sadarkan diri, yang bisa dia lakukan hanya berdoa dan berharap ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor Ibunya. Dia terus menunggu sang Ibu sadar, dia memegang dengan lembut tangan sang Ibu. Perlahan tapi pasti Diana merasakan pergerakan dari jari-jari Ibunya. Diana melihat sang Ibu sedikit demi sedikit membuka mata memperlihatkan iris kelamnya.

“Kamu, ngapain kamu ke sini, hah?” bentak sang Ibu.
“Ibu, Diana hanya ingin melihat kondisi Ibu, dan juga Diana ingin menemani Ibu.” Tutur Diana sambil menahan air mata yang sudah terbendung.
“Pergi kamu dari sini, jangan pernah lagi kamu ke sini, dasar anak tak tau diri.” Teriak sang Ibu sambil menahan rasa sakitnya. Liquid bening tak sanggup dibendungnya pun tumpah membasahi pipi mulusnya. Diana pergi meninggalkan ruangan. Dia tidak ingin Ibunya semakin sakit ketika dia berada di ruangan itu. Diana meminta tolong pada mbok Mina untuk mengantarnya ke rumah.

Sudah beberapa hari semenjak Ibunya dirawat, tapi Diana belum mendapat kabar bahwa pendonornya sudah ada. Dia sangat gelisah, karena semakin hari kondisi Ibunya menurun. Suara ponsel dalam saku Diana memfokuskan kesadarannya. Ia mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa sang ibu dalam keadaan kritis, dan harus segera mendapatkan transplantasi ginjal.

Diana bergegas pergi menuju rumah sakit, dan menuju ruangan Ibunya dirawat. Melihat kondisi sang Ibu semakin memburuk, Diana tidak punya pilihan lain selain melakukan itu. Dia segera menemui dokter dan membicarakan mengenai prosedur transplantasi ginjal. Diana melakukan beberapa tes untuk memastikan bahwa ginjal pendonor akan cocok untuk penerimannya. Setelah semuanya selesai, dia dibawa ke ruang rawat sebelum dioperasi. Di situ Diana terlihat sedang menulis sesuatu, pena itu terus menari-nari pada secarik kertas. Ia meneteskan cairan bening yang terus mengalir pada pipinya. Diana sangat ingin menyelamatkan sang Ibu, walau dengan cara memberikan nyawanya.

Dalam ruang yang hanya dihiasi oleh alat-alat pemicu kehidupan. Terbaring lemah seorang wanita paruhbaya, wanita itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya.
“Nyonya Sarah sudah sadar, saya akan panggilkan dokter” tutur mbok Mina. Sarah nama sang wanita paruhbaya tersebut. Dia hanya bisa diam melihat sekelilingnya. Tak berapa lama mbok Mina datang bersama dokter. Dokter mulai melakukan pemeriksaan.
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Mbok Mina ketika dokter selesai memeriksa.
“Ibu Sarah sudah mulai membaik. Sekitar dua minggu lagi, sudah boleh pulang.” Jelas dokter. Terlihat raut bersyukur di wajah mbok Mina. Mbok Mina mengantar sang dokter menuju keluar ruangan dan mengucapkan terimakasih.

Bulan menggantikan matahari, langit kelam bertabur bintang. Terlihat Mbok Mina sedang berbincang dengan majikannya. Selang beberapa menit, Mbok Mina beranjak pergi untuk mengambil sebuah kotak dan memberikannya kepada sang majikan. Wanita itu membuka kotak tersebut dan menemukan secarik surat dan selembar foto keluarga. Tangannya terus membuka surat tersebut.

Untuk Ibu
Ibu, gimana keadaan Ibu?, Diana harap Ibu lekas sembuh. Mungkin, ketika Ibu membaca surat ini, Diana tidak di dunia ini lagi. Cuma ini yang bisa Diana berikan pada Ibu. Maafin Diana. Diana harap setelah ini, Ibu gak membenci Diana lagi. Semoga Ibu sehat selalu, Diana sayang Ibu.
Diana

Tetes demi tetes bening meluncur melewati pembatasnya. Dia menangis tatkala membaca surat dari sang anak. Hatinya bagai terhunus pedang ketika membaca kata-kata yang terlukis pada lembar putih itu. Menyesal, itulah yang dirasakannya sekarang. Kenapa sang anak mau mengorbankan dirinya demi Ibu yang selama ini membenci dirinya, itu yang ada dalam pikiran wanita tersebut.

Hatinya sakit setiap mengingat perlakuannya pada Diana, tutur kata yang setiap saat menghunus perasaan Diana. Sekarang, dia membenci dirinya sendiri, kerena telah menyia-nyiakan anaknya yang malang itu.
Menangis, bersedih, penyesalan. Hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang.

Cerpen Karangan: Nadia Noferi (totoya)
Facebook: Nadia Noferi
Nama: Nadia Noferi
Status: pelajar di Madrasah Aliyah

Cerpen Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Atau Keluarga

Oleh:
3 minggu berlalu setelah kakak dari perempuan yang sedang melukis sebuah pemandangan di belakang rumahnya itu sembuh. Laki-laki yang berusia 19 tahun itu telah berada di sampingnya, menemaninya melukis.

Surya Di Ujung Senja

Oleh:
Sepasang matanya memandang sayu bunga di perkarangan. Begitu banyak bunga yang tumbuh dengan subur namun kali ini ia tertuju pada bunga mawar merah yang hendak merekah. Aah, mawar merah

Mata Delia

Oleh:
Aku ditindas, nilaiku jelek, miskin, wajahku pun apa daya, akan kuubah masa depanku! Menjadi seperti matahari yang terang menyinari dunia! The adventure begin. Akan kumulai dari PRESTASI dari 100

Pengorbanan Yang Tak Dianggap

Oleh:
Namaku Fany Indah Wardianti. Biasa dipanggil Fany. Di Sekolah, aku mempunyai teman yang banyak. Ini adalah kisahku, pengalamanku, kisah nyata hidupku yang tak mungkin bisa kulupakan. Aku punya sahabat

Kesuksesan Tuhan Yang Atur

Oleh:
Kisah ini saya angkat berawal saya masih SD, kejadian ini terjadi pada daerah saya sendiri, yaitu di Sulawesi Tengah (Masadian). Rumahnya tak jauh dari rumahku, sebelum mereka sukses seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *