Untuk Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Aku dan rana adalah sepasang saudara kembar yang lahir 16 tahun yang lalu. Orangtuaku memberikan nama yang mirip kepada kami berdua yaitu Rana dan Rena. Meskipun kembar tetapi wajahku dan rana berbeda tidak seperti anak-anak kembar pada umumnya. Rana lebih tua 15 menit dariku maka dari itu mama menyuruhku untuk memanggil Rana dengan sebutan kakak. Aku dan kakakku besekolah di sekolah yang sama yaitu di salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta. Meskipun bersekolah di tempat yang sama tetapi aku dan Rana berbeda satu tingkatan kelas. Saat ini aku masih duduk di kelas 11 sedangkan kak Rana sudah berada di tingkat kelas 12 hal itu disebabkan karena pada saat smp kak Rana mengambil kelas akselerasi.

Pada awalnya aku sangat menyayangi kak Rana bahkan kami berdua selalu bersama tetapi pada saat menginjak bangku sekolah dasar aku melihat kak Rana mengkonsumsi obat-obatan yang cukup banyak setiap hari. Setiap kali aku bertanya kepadanya tentang obat-obatan yang selalu ia minum kak Rana hanya menjawab bahwa mama dan papa yang menyuruh kak Rana untuk meminumnya. Karena aku masih kecil pada saat itu aku tidak terlalu peduli dengan obat-obatan itu mungkin saja kak Rana sedang flu. Tetapi semenjak kak Rana megkonsumsi obat-obatan itu mama dan papa lebih memperhatikan kak Rana. Mama dan papa sering membeda-bedakan aku dengan kak Rana. Tidak ada lagi kehangatan dan kasih sayang dari mama dan papa untukku. Aku selalu merasa menjadi orang asing di keluargaku.

Setiap akhir semester mama dan papa selau bangga dengan kak Rana yang mempunyai banyak prestasi. Terutama pada saat kak Rana mengambil progam akselerasi sewaktu smp itu membuat mama dan papa semakin bangga dan melupakan aku. Kak Rana sering kali mendapatkan medali dari olimpiade matematikanya bahkan kak Rana pernah mengikuti olimpiade matematika di Singapura sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai kemampuan akademik tetapi meskipun begitu aku juga mahir dalam bermain musik terlebih bermain piano bisa dikatakan aku adalah seorang pianis muda. Aku sering mewakili sekolahku ketika ada lomba musik bahkan aku pernah tampil di sebuah konser musik di Korea mewakili Indonesia. Akan tetapi, meskipun aku juga punya prestasi yang patut dibanggakan mama dan papaku sama sekali tidak mendukung kemampuanku itu. Pernah suatu hari mama menyuruhku untuk berhenti bermain musik agar aku lebih konsisten belajar dan menjadi seperti kak Rana. Tetapi aku menolak karena bagiku setiap orang punya kemampuannya sendiri-sendiri. Sejak saat itu mama dan papa semakin sering marah-marah saat aku melakukan sebuah kesalahan.

Sikap mama dan papa tidak pernah berubah kepadaku sampai saat ini dan kak rana tetap mengkonsumsi obat-obatan setiap hari seperti dulu. Pernah suatu hari saat masih smp aku bertanya kepada mama mengapa mama selalu membeda-bedakan aku dan kak Rana. Akan tetapi bukan jawaban yang aku dapat melainkan sebuah amarah mama yang meledeak-ledak, aku tidak tahu apa alasan mama memarahiku atas pertanyaan itu, bukankah wajar aku menanyakan hal itu karena aku juga ingin mama dan papa juga menyayangiku. Semenjak saat itu aku tidak pernah lagi bertanya tentang kak Rana.

Hubunganku dan kak Rana tidak bisa dikatakan baik-baik saja, meskipun aku tetap berusaha baik kepadanya tapi lama-kelamaan tumbuh benih-benih benci di diriku kepada kakakku dan akhir-akhir ini aku sedikit menjauh dari kak Rana. Aku tidak tahu kenapa aku membenci saudara kembarku itu, rasanya aku ingin berada di posisi kak Rana yang selalu dibanggakan oleh semua orang tidak hanya mama papa, guru-guru bahkan teman-teman kak Rana juga sangat menyayangi kak Rana. Sedangkan aku meskipun guru-guru juga menyayangiku karena perstasiku akan tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari mama papa bahkan hanya sedikit orang yang mau berteman denganku, bukan mereka tidak mau akan tetapi aku yang berusaha menutup diri dan menghindari keramaian aku lebih suka menyendiri di ruang musik daripada harus berkumpul bersama teman-temanku di kantin. Situasi ini sangat berbeda dibandingkan saat aku masih duduk di sekolah dasar, dulu aku adalah anak yang ceria dan mudah bergaul tapi itu semua berakhir saat sikap mama dan papa berubah kepadaku dan berlanjut hingga sekarang.

Sore ini aku harus pulang malam karena harus latihan piano untuk persiapan lomba alat musik tingkat DKI Jakarta yang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Aku bergegas ke ruang musik dimana aku akan berlatih bersama 4 temanku yang lain. Latihan sudah dimulai sejak satu jam yang lalu dan aku memainan tuts piano dengan lancar.

“Anak-anak kalian istirahat dulu 15 menit nanti kita latihan lagi,” kata bu laras guru pembimbingku dan disambut dengan baik oleh teman-temanku yang membutuhkan waktu istirahat sejenak setelah lelah memainkan alat musik mereka masing-masing.

Aku teringat akan satu hal yang penting bahwa aku belum memberitahu mama dan papa bahwa aku akan pulang malam. Saat aku akan mengubungi mama bahwa aku akan pulang malam, sayangnya benda persegi panjang yang selalu aku bawa kehabisan baterai dan saat ini sudah dua jam setelah bel pulang sekolah berbunyi itu artinya kak rana sudah pulang lebih dahulu dan yang paling parahnya aku tidak hapal nomor mama, papa, dan kak Rana.
“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi mama dan papa?” gumamku pada diri sendiri.
“Ah, tidak masalah aku bisa mengatakan kalau aku ada latihan piano, semoga mama dan papa tidak marah,” pikirku.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam itu artinya aku sudah berada di ruang musik selama dua setengah jam. Berhubung latihan sudah berakhir sejak 5 menit yang lalu aku bergegas untuk pulang ke rumah. Tapi bagaimana caranya aku pulang rumahku cukup jauh dari sekolah sedangkan aku berangkat diantar papa.
“Kamu mau gak pulang bareng saya, kebetulan rumah kita searah dan kamu juga gak mungkin pulang sendiri soalnya udah malam,” sesorang menepuk pundakku dari belakang.
“Ehmm boleh deh, maaf ya ngerepotin, soalnya aku mau telepon orang rumah tapi hpku lowbat,” jawabku kepada Dino teman satu kelasku yang kebetulan juga ikut latihan karena dia mahir bermain gitar.

Aku dan Dino sampai di depan rumahku sekitar pukul tujuh malam tepat pada saat azdan isya berkumandang di masjid depan rumahku.
“Makasih ya sudah repot-repot mengantarkan saya pulang, maaf gak bisa nawarin mampir ke rumah soalnya udah malam gak enak sama mama papa,” ucapku kepada Dino.
“Sama-sama, aku pulang dulu salam buat mama papa kamu,” kata dino sambil tersenyum kemudian menyalakan motornya.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan tanpa sadar bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman mengiringi hilangnya Dino di perempatan dekat rumahku.

Aku memasukki rumah dengan perasaan was-was aku takut jika memancing amarah mama dan papa karena aku tidak memberi kabar akan pulang malam. Kubuka pintu rumahku dengan perasaan gelisah.
“Dari mana saja kamu, sudah mulai pulang malam sekarang mau jadi apa kamu,” suara papa yang terdengar menakutkan menyambutku saat pintu sudah terbuka.
“Tadi pulang sama siapa?”
“Tadi ada latihan piano pah di sekolah, buat persiapan lomba dua hari lagi.”
“Siapa yang mengizinkan kamu main piano, mama sudah berapa kali mengingatkan supaya kamu berhenti main piano,” kali ini mama juga mengambil peran memarahiku sedangkan mataku sudah berkaca-kaca hendak menumpahkan cairan bening yang mendesak keluar.
“Mana hp mu? Kalau mau pulang malam bisa gak kasih kabar dulu ke orangtua,”
Aku mengambil benda yang diminta papa dan kuberikan kepadanya. Tanpa kusangka ternyata benda persegi panjang tersebut sudah berceceran di lantai terpisah setiap bagiannya. Aku sudah tidak kuat lagi air mataku sudah tidak bisa kubendung lagi. Pertahananku hancur.
“Mama papa selama ini Rena sudah diam saja atas perlakuan mama dan papa yang lebih menyayangi kak Rana, Rena diam saja setiap kali mama dan papa marah sama Rena atas dasar yang tidak jelas. Tapi Rena juga punya batas kesabaran pah mah, bukan maksud Rena melawan papa mama tapi Rena dan kak Rana itu beda,” pertahananku rapuh kemudian aku berlari ke kamar dan mengunci pintu kamar.

Pintu kamarku diketuk oleh seseorang, terdengar suara kak rana dari luar kamar memohon supaya dibukakan pintu. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk aku bertemu dengan kak rana karena itu akan membuat aku semakin membenci saudara kembarku itu. Sejak periistiwa itu aku benar-benar membenci saudara kembarku dan aku tidak lagi memanggil kak rana dengan sebutan kakak. Rena yang dulu sudah mati, rena yang sekarang bukan rena yang hanya diam saja ketika orangtuanya memarahinya bukan juga rena yang selalu diam ketika orangtuanya membandingkannya dengan rana.

Aku menjalani hari-hariku sesukaku, tidak peduli mama dan papa yang selalu memarahiku, tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarku dan aku sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Rana Afsheen Diandara kakakku. Sedangkan hubunganku dan Dion menjadi semakin dekat tapi hanya sebatas teman tidak lebih. Setiap pagi aku berangkat sekolah kemudian pulang sampai larut malam dan mengurung diri di kamar sampai pagi datang kembali. Rana masih tetap menjadi kebanggaan keluargaku dan aku tetap menjadi orang asing di sini. Berulang kali Rana mencoba untuk mendekatiku, mengajakku bicara, membelaku disaat papa dan mama memarahiku dan bahkan membelaku di depan guru-guru ketika aku mendapatkan hukuman atas tingkah lakuku, tapi itu semua sama sekali tidak memadamkan api kebencian di hatiku justru aku semakin muak melihat sikapnya yang peduli kepadaku.
Aku sama sekali tidak menganggap Rana sebagai sudara kembarku. Karena Ranalah yang menyebabkan aku kehilangan kasih sayang dari mama papaku dan karena mama papalah yang menyebabkan aku membenci saudara kembarku.

Hari ini aku medapat tugas untuk meminjam buku paket di perpustakaan, karena letak perpustakaan yang berada di ujung koridor lantai satu maka aku dan Tasya harus turun ke lantai satu dan melewati pinggir lapangan basket untuk menuju perpustakaan. Tasya adalah teman sebangkuku dan juga teman yang cukup dekat denganku bahkan Tasya beberapa kali pernah berkunjung ke rumahku. Saat aku melewati lapangan aku melihat kak Rana yang sedang berlari berkeliling lapangan bersama teman-temannya. Setauku mama dan papa melarang kak rana untuk mengikuti pelajaran olahraga di sekolah dan pihak sekolah juga tahu akan hal itu. Kuperhatikan kak Rana dan aku melihat wajah saudara kembarku itu pucat dan aku merasakan sesak di dadaku. Tasya yang melihat aku kesakitan berhenti berjalan. “Rena kamu kenapa?” tanya Tasya khawatir akan keadaanku sedangkan aku hanya menggeleng sambil memegangi dadaku sebelah kiri tepat dimana jantungku berada. Saat aku menoleh ke tempat Rana tiba-tiba Rana jatuh tak sadarkan diri. Aku berlari ke arah kerumunan orang-orang yang mengelilingi Rana yang tak sadarkan diri. Aku menerobos kerumunan itu kemudian duduk di samping Rana. “Rana bangun, kamu kenapa?” isakku di samping rana. Kugenggam tangan saudara kembarku itu dan kurasakan tangannya semakin dingin. “Kita harus membawa kak Rana ke rumah sakit, kalian jangan diam saja, cepat tolong kakakku,” aku berteriak di tengah kerumunan. Entah mengapa aku menjadi khawatir kepada Rana. Mungkin ini naluri sepasang saudara kembar yang ada mengikat aku dan Rana.

Saat ini aku sudah berada di rumah sakit tempat Rana terbaring kaku di ruang ICU. Aku sudah menghubungi mama dan papa dan mereka sedang perjalanan menuju ke rumah sakit. Entah mengapa aku menangis melihat keadaan Rana sekarang ini dan menghapuskan perasaan benci di hatiku aku juga ikut merasakan sakit yang dirasakan Rana saat ini.

Tak lama kemudian mama dan papa berlari menujuku kemudian mereka memelukku sambil menangis.
“Maafkan mama Rena, selama ini mama dan papa sering memarahimu dan lebih menyayangi Rana. Hal itu kami lakukan karena kami takut kehilangan Rana. Rana menderita kelainan jantung sejak lahir dan obat-obatan yang selama ini Rana minum bukan untuk menyembuhkan Rana tetapi untuk menguatkan jantungnya.” Mama menangis sambil memelukku
“Papa tidak bermaksud menyakitimu Rena tapi saat ini Rana lebih membutuhkan papa dan mama, kami sangat menyayangi kalian. Dan hal ini yang kami takutkan, Rana tidak boleh sedih ataupun marah karena itu dapat mengganggu kestabilan detak jantungnya. Hanya satu cara untuk menyelamatkan hidup Rana yaitu dengan melakukan donor jantung.”
Aku tidak kuasa membendung rasa sesalku, seharusnya aku tidak boleh membuat Rana sedih. Aku tidak boleh membenci Rana. Ini semua adalah kesalahanku.

Kemudian pintu ruangan terbuka muncullah seorang laki-laki paruh baya yang mengenaakan jas dokter.
“jantung Rana sudah benar-benar rusak dan detak jantungnya juga sudah sangat lemah, kita harus segera mencarikan donor jantung untuk rana kalau ingin Rana selamat dari maut.”
Rasanya seperti mendengar petir di siang hari. Mama tak sadarkan diri mendengar hal itu sedangkan papa juga menangis terisak tidak sanggup kehilangan anak kebanggaannya. Aku berlari keluar rumah sakit sambil menangis dan memohon kepada tuhan agar menyelamatkan hidup Rana.

Tiba-tiba ada mobil yang datang dari arah samping bergerak mendekat kemudian terdengar samar-samar orang berteriak dan semuanya hitam.
Saat aku bangun samar-samar aku melihat mama dan papa menggenggam tanganku sambil menangis. Aku tidak rela melihat mama dan papa yang menangisi kedua anaknya yang sekarang sedang terbujur lemas di rumah sakit.
“Saya harap anda kuat menerima musibah ini, saudara Rena mengalami kerusakan hati akibat benturan yang sangat keras dan anda harus memilih Rena atau Rana yang bisa diselamatkan,” ucap sang dokter.
“Tolong selamatkan kak Rana dok, saya ikhlas kalau jantung saya ada di tubuh kaka Rana, biarlah saya yang berkorban,” ucapku dengan suara parau.

Mama dan papa menggenggam tanganku semakin erat, aku mencoba meyakinkan mama dan papa bahwa aku baik-baik saja. Setelah semua persiapan selesai aku dan kak Rana dipindahkan keruang operasi aku harap pengorbananku tidak akan sia-sia dan kedua orangtuaku tetap memiliki kedua anak kembarnya karena sekarang jantungku menyatu dengan tubuh kakakku. Biarlah ini menjadi pengorbanan terakhir dariku untuk kakakku sekaligus saudara kembarku.

Cerpen Karangan: Shinta Novia Sukma
Facebook: Shinta Novia Sukma

Cerpen Untuk Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

Sejuta Pohon Untuk Ibu

Oleh:
Dulu ketika aku masih kecil, Ayah dan Ibu selalu mendidikku bagaimana cara Aku menghadapi bumi serta alam ini, seperti; menghadapi perilaku manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi ini.

Kesakitanku

Oleh:
Mata ini panas kembali. Teringat semua yang sudah berlalu. Aku selalu ingat tentang semua yang kau ucapkan padaku. Semua yang telah membuat hati ini menjadi sebuah serpihan, layaknya paku-paku

Tak Seindah Harapan (Part 2)

Oleh:
Aku berjalan menuju ke kelas sambil tersenyum-senyum, tanpa aku sadari temanku Lusi sudah berada di sebelahku dan berkata “Ciiieee… Ciieee… Hahaha…”, Aku kaget dan berkata “Haaa? Maksuudddnya? Kamu nggak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *