Untuk Kebaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 28 August 2017

“Chiko!”, teriak Deny sambil berlari. Tampak Deny sedang bermain dengan anjing kecil peliharaannya yang bernama Chiko tersebut. “Kemarilah!”, teriak Deny kembali. Chiko pun menurut dan berlari mendekati Deny. Deny menyambut anjing kecilnya itu dengan membelai kepalanya. “Hihihi.. Anjing yang pintar!”, ujar Deny. GUK! GUK! Chiko merespon seakan mengerti pujian yang diberikan oleh Deny. “Aku senang bisa menghabiskan waktu denganmu hari ini, Chiko! Ini benar-benar menyenangkan!”, tutur Deny kembali. Chiko melompat ke arah Deny dan dengan sigap Deny memeluknya.

“Deny!”, terdengar seseorang memanggil. Deny menolehkan wajahnya seraya menjawab, “Iya, ibu. Tunggu sebentar.” Deny melepaskan pelukannya pada Chiko dan segera menemui ibunya.
“Ada apa, ibu?”, tanya Deny. “Duduk dulu, nak”, ujar Ayah Deny yang ternyata juga sedang berada di sana. Deny menurut dan segera duduk.

“Deny, kita akan pindah rumah lagi ya”, ujar sang Ayah. “Lagi?”, tanya Deny pelan. “Kali ini ayah ditugaskan untuk pindah ke kota lain lagi. Akan tetapi kali ini tempat ayah bertugas sangat dekat dengan rumah nenek”, ujar sang Ayah kembali. “Oleh karena itu ayah dan juga ibu memutuskan agar kita tinggal bersama nenek saja di sana. Berhubung nenek tinggal sendiri saat ini, ibu tidak tega membiarkan nenek. Kita bisa sekaligus menjaga nenek dan menemaninya. Tak apa-apa ya, Deny?”, sambung Ibu Deny. Tampak Deny tersenyum kecil. “Kita akan ke rumah nenek? Benarkah”, tanya Deny dengan mata berbinar-binar. Ayah Deny mengangguk. “Tentu saja tidak masalah! Lagian aku juga senang bisa ikut menemani nenek di sana. Aku rindu nenek”, jawab Deny.

Deny beranjak dari tempat duduknya. “Kalau begitu, aku akan bermain kembali dengan Chiko”, pamit Deny. Baru saja Deny melangkah pergi, ayah memanggilnya. “Ada apa, ayah?”, tanya Deny heran. “Begini… Ayah tau kamu sangat sayang sama Chiko. Tetapi nenekmu tidak suka dengan hewan peliharaan, Den”, tukas sang ayah. Dahi Deny mengkerut. “Lalu?”, tanyanya lagi. “Kamu tidak bisa membawa Chiko ke sana”, jawab sang ibu. Deny membelalakkan matanya, kaget. “Tidak! Chiko harus ikut bersamaku! Aku tidak mau pergi ke sana tanpa Chiko!”, teriak Deny. “Deny sayang..”, “Tidak! Mengapa kalian bisa begitu tega meninggalkan Chiko di sini?”, tanya Deny. Tampak raut kekecewaan pada wajah Deny. “Kami juga sayang sama Chiko. Tapi Deny, nenek tidak menyukai hewan peliharaan”, ujar ibu pelan. “Kalau begitu, kita tidak usah tinggal dengan nenek!”, ujar Deny kesal. “Deny, kok kamu ngomongnya gitu?”, tegur ibu. “Pokoknya, Chiko harus ikut!”, ujar Deny singkat, kemudian dirinya pergi kembali ke tempat sebelumnya ia bermain dengan Chiko.

GUK! GUK! Sambut Chiko saat Deny datang. “Hai, Chiko”, sapa Deny pelan. “Aku sangat menyayangimu”, tutur Deny kembali. “Apa kau ingin tahu sesuatu?”, tanya Deny. GUK! GUK! Lagi-lagi Chiko seakan mengerti dan merespon pertanyaan Deny. “Kita akan pindah rumah lagi, Chiko”, ujar Deny. “Tapi kali ini… Aku tidak hanya berpisah dengan teman-teman disini. Aku… Aku harus berpisah denganmu…”, lanjut Deny. Wajahnya tertunduk. Chiko berhenti menggonggong. “Hiks… Apa yang harus aku lakukan? Aku… Aku sangat sedih”, tutur Deny. Deny memeluk Chiko erat-erat.

“Deny…”. Ibu Deny memanggil. “Maafkan ibu, sayang. Ibu tau kamu amat sangat menyayangi Chiko”, ujar Ibu Deny pelan. Deny tak bergeming dari tempatnya. Ia masih menenggelamkan wajahnya pada tubuh Chiko. “Chiko, akan kita titipkan pada tetangga, oke? Tidak apa-apa. Kita akan mengunjungi Chiko sebulan sekali. Bagaimana?”, lanjut Ibu Deny. Deny mengangkat wajahnya yang berlinang air mata. Diusap matanya perlahan. “Tapi, aku gak mau kehilangan Chiko”, balas Deny. “Kamu tidak akan kehilangan Chiko, kok. Kamu tau Deny, kalau nenek benar-benar menyayangimu sejak kamu lahir di dunia ini”, tutur Ibu Deny lembut. Deny mengangguk pelan. “Nenek bukannya membenci Chiko, akan tetapi nenek alergi terhadap bulu-bulu hewan, Den”, “Lalu kenapa kita tidak mencari rumah yang dekat dengan rumah nenek saja?”, tanya Deny. “Deny, dengarkan mama. Nenek tinggal sendiri sekarang. Kamu tahu, nenek udah mulai sakit-sakitan. Nenek tidak pernah mengeluh pada siapapun. Tapi apa iya, Deny tega membiarkan nenek hidup sendirian terus? Apalagi tempat tinggalnya dalam satu wilayah”, jawab Ibu Deny. Deny terdiam sejenak. “Benarkah Chiko akan baik-baik saja di sini?”, tanya Deny. Ibu Deny tersenyum tulus dan mengangguk. GUK! GUK! Chiko juga ikut menyahut setuju.

Deny berdiri dari tempatnya. “Baiklah, bu. Aku sayang nenek, tapi aku juga sayang kepada Chiko. Aku sadar tampaknya nenek lebih membutuhkan kita sekarang. Kalau saja aku membawanya ke sana, akan tidak nyaman bagi nenek dan Chiko yang harus saling menghindar”, ujar Deny. Deny memeluk Chiko dalam gendongannya. “Chiko, maafkan aku. Aku berjanji akan tetap mengunjungimu sering-sering”, sambungnya. “Kalau begitu, sudah siap untuk berkemas?”, tanya Ibu Deny. Seukir senyuman merekah pada wajah Deny. Deny mengangguk mantap. “Tentu!”, jawabnya.

Deny berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Chiko senantiasa mengikutinya dari belakang. Deny tidak menyesal akan keputusannya tersebut. Deny sadar, melepaskan itu bukan hal yang mudah. Namun terkadang kita harus merelakan sesuatu, untuk hal lain yang lebih membutuhkan kita. Dari sinilah kita dapat belajar untuk berpikir lebih dewasa serta mampu memberikan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, teman-teman maupun orang lain.

Cerpen Karangan: Luthfia Zahra Larosa
Blog: luthfiasasa.blogspot.co.id
Halo! Namaku Luthfia Zahra Larosa. Aku berasal dari Kota Banda Aceh. Aku gemar menulis. Kalian bisa mengunjungi blogku atau mengontakku melalui instagram di @luthfiasasa. Terimakasih!

Cerpen Untuk Kebaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan yang Sejati

Oleh:
Sheila, Sintia dan Rosa adalah sahabat, mereka bersahabat sudah lama dan rumah mereka berdekatan. Di suatu sore pada waktu Sheila dan Sintia duduk di teras rumah Sintia, tiba-tiba Rosa

Jangan Mudah Bilang Iyaa (Part 1)

Oleh:
Dalam hidup terkadang kita dihadapi dua pilihan. Ada kalanya kita diharuskan untuk secepatnya mengutarakan pilihan itu, sehingga pada akhirnya kita sering kali menjatuhkan pilihan yang salah, yang pada akhirnya

Beautiful Seventeen

Oleh:
Begitu bangun dari tidurnya. Tari langsung tersentak. Ia ingat bahwa hari ini upacara di sekolah. “Haduh, udah jam berapa nih? Ah telat dah gue” keluh Tari. Setelah bangun, ia

Jorna Yaa Jorna

Oleh:
Hingga detik ini, aku masih saja tetap bungkam tentang kejadian malam itu. Kejadian yang sungguh membuat aku mampu tersorot ke radius masa lalu yang usang, masa yang harus aku

Sahabat Gak Pernah Ketemu

Oleh:
Temenku yang satu ini setengah feminim dan setengah tomboy persis kayak aku. Oh ya hampir aja lupa namanya Dhita, emang dia agak manja tapi aku senang punya temen kayak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *