Untuk Yang Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 January 2017

Matahari mulai terbenam dari ufuk barat, pelahan-lahan malam pun datang. Udara dingin terasa mulai menusuk. Entah mengapa udara malam ini sangat digin sekali, tiba-tiba rintik air hujan pun turun.

Sebenarnya jika hujan seperti ini, aku sangat jengkel bukannya aku tak mensyukuri pemberian tuhan tapi, aku memang anti dengan hujan apalagi hawa dingin seperti ini, bisa-bisa aku pingsan lagi.

Kata mama jika aku terlalu memaksakan kehendak pasti bisa-bisa aku pingsan lagi, sebenarnya aku tak mau seperti ini, tapi apalah dayaku! Yang bisa kulakukan hanyalah menerima semua ini dengan lapang dada. Dan yang paling membosankan adalah ketika hujan tiba ya seperti saat ini,

Kenapa ya mama selalu memanjakanku, apa lagi kakakku, katanya ia takut melihatku kenapa kenapa, pernah sekali aku bertanya tentang keadaanku dan apa yang aku dapatkan hanyalah kata ‘kamu baik-baik saja kok sayang’
Apakah aku benar-benar baik baik saja ataukah ini cuma, cara agar aku tak mengetahui apa penyakit yang aku derita?
Air hujan masih saja jatuh dari langit, dan badanku mulai menggigil lagi, aku pergi ke kamarku, ya begitulah keadaanku kini.

“Rin sayang” panggil mama, namun aku tak mendengarnya, karena aku telah terlelap dalam selimut tebal yang sengaja dipersiapkan mama untukku.
“Ternyata kamu sudah tidur, Ma Rama” panggil mama.
“Iya ma, ada apa?” Tanya Rama mengampiri mamanya.
“Jagain adek kamu yam mama mau ke dapur sebentar”
“Kenapa harus aku sih ma, kenapa nggak bibi aja yang jaga,” ucap Rama agak males karena harus menjaga adeknya lagi.
“Udah deh. Kamu jaga adik kamu sebentar aja ya” pinta mama, Rama pun hanya mengangguk menyanggupi.
“Kasihan banget kamu dek, setiap turun hujan selalu aja begini”

Pagi telah mulai muncul, em maksudnya datang. Pagi yang cerah itu menurut kak Rama, tapi menurutku ini pagi yang mendung. Karena apa? Karena aku tak bisa masuk sekolah lagi. Ya karena aku demam lagi. Ya demam menjadi hal yang biasa untukku, ya jika hujan datang siap-siap untuk demam lagi.

“Yah adek kakak demam lagi” kak Rama mulai mengejekku lagi. Dasar kak Rama.
“Ya emang mau digimanain lagi kak, owh ya kak udah hampir jam tujuh tuh” sebenarnya aku sengaja merubah jam dindingku agar aku bisa sering menjahili kak Rama haha.
“Apa? Waduh… akunya telat nih, gimana nih. Gimana nih. Kakak berangkat dulu ya, kalau mama nanya bilang aja udah berangkat ya” tanyanya agak panik.

Kakak seperti dikejar waktu aja, aku tertawa melihat tingkahnya itu.

“Rama mana?” Tanya mama padaku.
“Kak Rama udah berangkat ma,”
“Hah, pasti kakak kamu melihat jam dinding itu kan, dasar usil” ucap mama tersenyum ke arahku.

“Sialan aku terlambat” gerutu Rama. Setelah Rama melihat pintu gerbangnya telah di tutup. Tiba-tiba pak satpam membukakan pintu gerbang sekolah dan berkata “Tumben nak Rama datangnya pagi sekali” Rama pun kaget.
“Maksudnya?”
Rama melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 06:15 pantes aja gerbangnya belum dibuka. “Dasar Ririn jahil”

“Makasih ya dek, kamu berhasil”
“Berhasil untuk apa kak?” Tanyaku sedikit berpura-pura.
“Berhasil buat jantung kakak mau copot” lanjut kak Rama membuatku tertawa kecil.
“Kenapa kamu ketawa, emangnya lucu?”
“Cie, puisi tuk siapa tuh, kenapa ada bercak merah dek. Adek nggak apa-apa?” Tanya kak Rama khawatir.

Tiba-tiba kepalaku ini sangat sakit dan aku pun pingsan lagi.
“Adek kamu kenapa, adek bangun” terlihat kakak yang sangat khawatir padaku.
Semua terlihat gelap dan aku cuma melihat setitik cahaya dan aku pun mengikutinya, aku telah mati… tidak…
“Kenapa kamu ninggalin kakak dek, kenapa! Itu yang terakhir kalinya aku melihatmu melihat candamu yang selalu buat kakak kesal” ucap Rama yang melihat adiknya telah tak bernyawa lagi.

Cerpen Karangan: Sri Ambar
Facebook: Ambar

Cerpen Untuk Yang Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karam Di Laut Tenang

Oleh:
Keluarga kecil bahagia, mungkin itulah yang terlihat dari pasangan Arman dan Amanda mereka tinggal di rumah mewah bersama anak perempuannya bernama Fika yang baru berusia sepuluh tahun. Kehangatan keluarga

Let’s Game or Die (Part 1)

Oleh:
Craang… Craaang…. Crang bruukkk… Crang… Aarrrggghhttt… Ku kernyitkan mataku sambil ku tutup rapat-rapat kedua telinga ini dengan bantal mengharap bisa menghalau suara gaduh yang sudah hampir menjadi alarm pagiku.

Kasih ibu yang Meluluhkan Hati

Oleh:
Seperti mimpi, ini benar-benar sebuah mimpi ataukah sebuah kenyataan. Ibu ku, malaikatku yang ku sayangi, kenapa berubah. Ku kira akibat benturan itu, saat ibu jatuh terpeleset karena lantai yang

Bad Days

Oleh:
Lembar putih berisi angka-angka ini menatapku dengan sinis dan mengejek. Sementara diriku terpaku tak berkutik di depan lembar yang sudah menanti untuk aku isi. Entah mengapa semua rumus dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *