Upiak Siti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Malam semakin larut kelam. Hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis pilu, yang kadang ditemani nyanyian lirih jangkrik malam di halaman. Gadis bermata sipit itu meratap sendiri di sudut kamar dalam remang. Menari-nari di benaknya ucapan sadis Sang mama siang tadi, menghakimi keputusan yang telah ditimangnya masak-masak. Kini tinggal bimbang menghimpit sunyi. Kekalutan menyerbu. Tangisnya tak jua reda hingga hari berganti. Adzan subuh sudah berkumandang, waktunya melaksanakan kewajiban. Ia segera berdiri dan menunaikannya, berdoa agar persoalannya mendapat jalan terbaik serta ia pun diberi kekuatan melewatinya.

“Buang sajo cita-cita kau yang setinggi langit itu!” Bentak mamanya siang kemarin. Ia menghela napas sedalam mungkin, lalu menghembuskan sekuatnya. Matanya basah kembali. Sampai hati kiranya sang mama mematahkan harapan yang telah dipupuknya sejak lama. “Kau gadis Minang, tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh, ujung-ujungnya nanti kau bekerja di rumah juo.” Sambung mamanya dengan suara melengking.

Upiak Siti. Gadis Minang yang bercita-cita tinggi. Ia ingin menjadi seorang lulusan FIB terbaik di UGM. Ia sangat ingin mewujudkan mimpi besarnya itu. Namun apa boleh buat, sang mama, adik dari ibunya tidak menyetujui niat dan kemauannya tersebut. Upiak bergeming, begitu pun ayahnya. Karena mengingat peran mama sangat penting dalam sistem kekerabatan Minang. Ibu Upiak sangat setuju dengan keputusan adiknya. Mengingat Upiak adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga mereka. Para kakak dan adik ibunya hanya mempunyai anak laki-laki saja. Karena itu, Upiak sangat dikekang. Sedangkan ayah Upiak hanya bisa bergeming. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa. Ia hanyalah seorang sumando, bak abu di ateh tungku. Semenjak lulus SMA dari 3 tahun lalu, Upiak belum bisa melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi karena beberapa alasan tertentu. Namun setelah niat itu digenggamnya erat, justru ia dihadang pikiran kolot mamanya.

“Kau tidak boleh berangkat, kau harus menikah!” Tegas mamanya yang menyimpan seribu emosi tertahan.
“Tidak, Mak!” Sahutnya yakin. Ditatapnya mata sang mamanya yang memerah menahan emosi.
“Apa kau mau jadi gadih lapuak?” Sambung ibu Upiak tak kalah emosi.
“Bukan begitu. Seiring waktu aku akan menemukan pendampingku di tanah Jawa sana.” Ucap Upiak berusaha meyakinkan ibunya, berharap mendapat perlindungan dari beliau.
“Apa? Kau mau mencari suami orang Jawa? Tidak! Mereka terlalu lembut, tidak bisa memimpinmu. Dan nanti anak-anakmu mau pulang ke mana?” Tukas ibunya nanar. Matanya tak lagi teduh, seakan bagai elang yang siap menerkam mangsanya.

“Cukup! Kau tetap tidak boleh pergi! Kau harus segera menikah dengan laki-laki pilihan Mama.” Upiak menggelang keras, benar-benar tak terima akan keputusan tersebut.
“Ini zaman modern Mak, ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi.”
“Jangan berani kau melawan lagi. Ambo tidak peduli. Kau harus tetap menikah dan tidak boleh pergi. Jika kau tetap pergi, Ambo akan memutus hubungan dengan kau. Kau terbuang! Ambo akan menghapus kau dari keluarga kito.” Tegas mamanya bagai hakim mengetuk palu. Air mata Upiak semakin deras. Di pagi buta ini, ia bimbang. Tetap pergi melawan arus, atau bertahan dan pasrah serta berserah diri.

Cerpen Karangan: R. Suliyarti
Blog: http://ririsuliyarti.blogspot.co.id

Cerpen Upiak Siti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Kerena-Nya

Oleh:
Tahun ini adalah tahun yang menyedihkan bagi icha, karena dia harus kehilangan kedua orang tuanya saat kecelakaan maut, saat itu icha sedang mengikuti acara pepisahan di sekolahnya, akhirnya diapun

Tegar, Sahabat Kecilku

Oleh:
“Kak sepatunya disemir, ya?” Janu melihat anak kecil dekil dan kurus sedang tersenyum menawarkan jasanya. Dengan sebal, Janu mengibaskan tangannya. “Hus! Sana kamu! Ganggu aja, entar sepatuku malah rusak!”

Untuk Kesempatan Terakhir

Oleh:
Membuka buku *Hanya memandang langit bagaikan melihat wajahmu, Karena setiap lekukan wajahmu semakin berarti dalam hidupku. Walau kau jauh di sana tetapi aku selalu merasa kau ada di sampingku*.

Janji

Oleh:
Suara embusan angin sepoi terdengar, mengalun syahdu bersama melodi klasik yang diputar. Mataku terpejam sesaat, menikmatinya tenang. Pelan-pelan, cahaya senja masuk melalui jendela kayu yang engselnya bergerak, nyaris terbuka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *