Waiting

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 28 July 2017

Sebuah rasa yang lama terkubur, menyesakkan dan menyakitkan. Itulah rindu. Rasa yang muncul begitu saja tanpa sebab, namun memberikan luka yang teramat menyayat. Lamunan itu muncul lagi, seperti biasanya membawa rasa sendu.

Kenapa meninggalkanku? Kenapa tidak mencariku? Apakah kau tidak rindu padaku? Apa kau tidak ingin melihatku yang sudah tumbuh besar? Kenapa ayah? Apa kau tidak mau tahu bagaimana perasaanku, disaat aku sedih dan takut kehilanganmu. Pertanyaan itu selalu muncul di otakku. Tidakkah kau mempunyai perasaan? Bukankah seorang ayah itu harusnya melindungi anaknya? Tapi berbeda dengan kau. Kau adalah ayah yang kejam. Seperti harimau yang memakan anaknya sendiri. Aku tidak membencimu, aku hanya merasa kecewa dengan sikapmu.

Apa kau tahu ayah, betapa sulitnya ibu mencari nafkah untukku? Semua itu ibu lakukan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, agar kehidupanku berlanjut. Tidak sampai disitu saja, ibu menyekolahkanku agar aku menjadi anak yang pintar. Ibu bilang kalau aku harus jadi orang yang sukses, agar suatu saat aku bisa mencari keberadaanmu. Lihatlah ayah, betapa kuatnya hati ibu. Lalu kenapa ayah meninggalkan kami? Apakah kami hanya menjadi beban untukmu? Apakah kami sama sekali tak berarti bagimu? Aku sedih ayah.

Diam diam aku selalu menangis tanpa sepengetahuan ibu. Aku selalu berdoa agar kau sadar bahwa yang kau lakukan sangat salah bahkan fatal. Memang kalian berdua telah bercerai, tapi bukankah tidak ada yang namanya mantan anak? Aku tetap anakmu ayah. Aku adalah benih yang kau tabur di rahim ibu. Kau harusnya ada di sini bersama kami. Menyaksikan aku tumbuh besar.

Apa kau ingin tahu? Aku selalu menjadi bintang kelas ayah. Tapi aku tidak terlalu senang, bagaimana mungkin bisa jika aku selalu memikirkanmu, menantikan dirimu setiap waktu. Aku ingin kau ada di sini. Memberiku semangat agar aku tetap berprestasi. Tapi, kurasa semuanya percuma. Tidak pernah sekalipun kau menemuiku, atau sekedar melihat apakah aku baik baik saja.

Aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang selama ini selalu aku rindukan. Apakah aku salah? Kalau iya, apa salahku ayah? Aku akan menunggumu datang ayah. Mungkin saat ini bukanlah momen yang tepat untuk pertemuan kita. Entah kapan semuanya berakhir tapi, aku tidak akan pernah lelah mencarimu ayah. Aku hanya ingin tahu akhir dari kisah ini. Aku hanya ingin tahu keadaanmu, keberadaanmu, dan jika akhirnya aku harus terluka aku tidak menyesal ayah. Yang terpenting aku telah berusaha untuk mencarimu dan menjawab teka teki yang kau buat selama ini.

Aku akan tetap belajar dan berusaha menjadi orang yang sukses. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa tanpa kau, aku bisa menjadi orang yang hebat.

Teruntuk ayahku, yang entah ada di mana.

Cerpen Karangan: Renita Widia Ningrum
Facebook: Renita Widia
Semoga bisa memberikan pembelajaran bahwa hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan bagi kalian yg hidup tanpa seorang ayah, jangan membenci dia. Karena bagaimanapun juga kita lahir di dunia ini berkat adanya dia. Sebaliknya, berusaha dan belajarlah agar kalian menjadi orang yg hebat dan bisa membanggakan keluarga kalian.

Cerpen Waiting merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

Setoples Lidah Kucing

Oleh:
Manis. Gurih. Renyah. Lembut. Hidup yang gue alami rasanya mirip kaya kue lidah kucing. Kue kesukaan gue. Sejak gue masih ngemut jempol sambil lari-larian cuman pake kolor sampe sekarang

Satu Ginjal Satu Dunia

Oleh:
“Hei, Alex. Tetaplah hidup sampai aku kembali!” Itulah kata terakhir yang diucapkan Ray padaku sebelum ia berangkat menuju Singapura untuk mengejar cita-citanya, yaitu menjadi dokter. Dan saat itu aku

Tersesat Waktu Dua Belas Januari

Oleh:
Arah jarum jam telah menunjukkan angka dua belas, pertanda satu detik kemudian hari mulai berganti. Dengan dinginnya angin malam yang menyapu dedaunan untuk berayun-ayun mengikuti arah angin. Namun kenapa

Aku Berbeda

Oleh:
Sesaat kutundukkan kepalaku, duduk tidak tenang dan perasaan ragu-ragu. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus aku katakan? “Mbak Tania?” suara itu terdengar seperti tepat di telingaku. “Hemm… saya… saya…” sembari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *