Wake Me Up

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Jakarta, 19.34 WIB.
Gadis itu menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Seolah-olah ada hal buruk yang baru menimpanya. Lima menit yang lalu. Ia merasakan aliran deja vu menghampiri hidupnya. Menusuk tulang belakang tubuh gadis keturunan Jerman-Indo itu dengan keras.

‘Drama yang sudah lama tak tayang, sudah tayang kembali. Dengan terpaksa’ tulisnya di akun twitter lima menit yang lalu. Suara teriakan perempuan memenuhi gendang telinga Genta. Tidak. Itu suara jeritan ibunya. Genta terdiam, mulutnya terkatup dengan rapat.

“Kapan kamu akan mengerti? Aku sudah berusaha sepenuhnya untuk menyempatkan diri dengan keluarga. Dengan kamu. Dengan Genta!!” suara ibunya terdengar dengan jelas.
“Apa? Kamu itu seorang isteri, bukan wanita karir!” ucap ayahnya dengan nada bicara yang tinggi.
“Kalau begitu kita—”
CTARR.
Suara pecahan kaca membuat Genta mematung. Ia ketakutan. Dengan cepat ia berlari ke tempat tidur lalu menghempaskan diri di atasnya. Ditariknya selimut bermotif micky mouse itu dengan tidak sabaran. Ia menenggelamkan wajah dan tubuhnya diselimut tebal itu. Air matanya perlahan jatuh. Ia tak kuasa menahan air matanya. ‘Bagaimana bisa aku menyembunyikan diri dari semua ini? Bagaimana bisa aku membiarkan ibu menangis karena ayah? Bagaimana bisa aku menjadi seperti seorang pengecut?’ pikirnya dalam hati. Rasanya sakit sekali, membiarkan semuanya terjadi tanpa harus melawan. Rasanya ia ingin berlari dari kenyataan dan pergi dengan tidur yang indah. ‘Apakah semua drama diawali dengan suara tangisan? Jeritan? Rasa sakit?’ Tidak. Hanya drama yang kusutradarai yang dimulai dengan semua hal ini. Dramaku penuh dengan kebencian. Seperti bencinya ayah dengan pekerjaan ibu.’

Jakarta, 06.51 WIB.
Genta memasuki ruangan kelasnya dengan mata yang bengkak. Semalaman menangis membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak. Sesekali ia mendengar suara tangisan ibunya di kamar. Ia hanya bisa bersembunyi dan mematung, seolah-olah takut menonton drama yang seharusnya tak kembali. Pagi-pagi sekali ia menyelinap masuk ke kamar orangtuanya untuk memastikan ibunya baik saja. Kakinya berjalan dengan gontai menuju tempat duduk di pojok kelas. Teman kelasnya terheran-heran mendapati Genta yang tidak semangat. Dengan perasaan ragu gadis bermata sipit itu mendekati Genta.
“Gen? Kau tidak apa-apa kan? Kau kenapa?” tanya Inne dengan nada menyelidik.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Apa kau tidak lihat aku masih bisa tersenyum?” jawab Genta dengan senyuman. Senyuman paksa.
“Ck, lihat matamu itu! Seperti mata panda, kau bilang tidak apa-apa?” Inne berdecak kesal. Tentu, aku seperti anak panda yang terperangkap di antara dua singa
“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa Inne! Sudahlah” dengan berat hati Genta mendorong Inne menjauh. Akhirnya Inne menyerah dan pergi dengan perasaan menyelidik. Tidak ada yang salah dalam diri anak itu, mungkin hanya kelelahan pikir Inne.

Genta mengalihkan pandangannya keluar jendela. Memandangi cerahnya sang biru, terlalu cerah untuk hatinya yang sedang mendung. Ia hanya ingin menanggis, entah mengapa rasanya air mata itu selalu mendesak ingin keluar. Ia sangat membenci dirinya sendiri, karena hanya bisa menangis dan bersembunyi. Baru ia rasakan bahwa dirinya hanya seorang yang lemah. Kelemahan yang ditutupi dengan semua tawa. Sungguh ia tidak lebih dari seorang pengecut. Genta tertawa dengan kecut.

Jakarta, 10.00 WIB.
Jam istirahat, Genta menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan teman-temannya di kantin. Ia kehilangan selera makannya. Gadis ini menghela nafas berat saat mengetahui kerumunan murid-murid menghalangi matanya disaat ia mencari teman-temannya. Wajar, karena Genta tidak sekelas dengan teman-temannya. Ia masuk kelas regular, dan teman-temannya masuk ke bagian prestasi. Matanya membulat ketika mendapatkan delapan orang anak sedang berbincang dengan serius sambil menikmati makanan. Genta berlari menuju meja di sudut ruangan.

“Hey! Aku mencari kalian!” sapa Genta dengan semangat.
Sekumpulan gadis-gadis itu memandangnya dengan tatapan sebal. Salah seorang dari mereka mendengus dengan kesal. Genta mengerutkan keningnya tanda kebingungan. Mereka menatap Genta dengan tatapan meremehkan.
“Cih, kau tidak malu menyapa kami di sini? Apa urat malumu itu sudah putus? Apa kau tidak malu berteman dengan saingan terberatmu? Apa kau tak malu berteman dengan kami yang hanya kau bagi dengan kesedihan drama di rumahmu? Apa kau tak malu dengan semua sifatmu yang tak kami suka itu?” Eren tak dapat menahan semua emosinya.
“Mak—”
“Kami membencimu.”
Kami membencimu. Ini kelanjutan skenario dramanya? Inikah? Sepahit ini? Ditengah keramaian? Salah seorang sahabatku?
“Aku tidak mengerti sung—“
“Kau hanya debu yang menempel di sepatu kami. Mengerti?”

Kaki Genta melemas. Rasanya ia ingin duduk terjatuh namun, ia yakin ia kuat. Wajah Genta memanas. Ia mengigit bibirnya agar bulir-bulir air matanya tak jatuh. Genta menundukkan kepalanya. Memandang converse kesayangan yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir. Menatap lantai yang kotor penuh dengan debu. Jadi aku seperti debu di lantai ini? Hanya mengotori saja? Hanya menganggu? Aku tak percaya. Tapi… mengapa Eren, Ruth dan Bilqish menatapku dengan begitu menjijikkan? Mengapa mereka bergabung dengan mereka? Benak Genta semakin mejadi, Genta menggeleng dengan cepat dan kembali menegakkan kepalanya. Kosong. Sepi. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya mengalir dengan deras. Aku lemah.

Jakarta, 20.56 WIB.
Genta meneguk air mineral di hadapannya dengan tak sabaran. Rasanya ia ingin marah. Ia ingin menangis. Ia kesal pada dunia nyatanya. Semua luapan amarahnya ia tuliskan di akun twitter pribadi. Tentu, tak ada yang mendengar ocehan kemarahannya di dunia nyata. Pupil matanya membesar saat melihat kicauan Eren di twitter lewat di timelinenya.

‘Seharusnya kau rubah sifatmu itu. Semua orang membencimu’
‘Dasar! Tak tau malu! Selalu saja membawa kesedihan!’
‘Kau tidak lebih dari seorang loser! Kau mengerti?’

Tubuh Genta mematung. Nafasnya terhenti. Matanya tak henti-hentinya menatap tweet-an yang membuatnya hancur seperti pecahan kaca. Mulai detik itu, semua kepercayaan, rasa sayang, dan semuanya lenyap untuk orang-orang di dunianya. Ia merasa semua orang di dunia nyata sedang bermain dengan permainan yang membuatnya muak. Ia membenci semua orang yang ingin merubah dirinya. Ia selalu mencoba agar orang-orang tidak memberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia selalu mencari siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi, aku tersesat. Ia selalu ingin membuat orang lain tertawa. Selalu mencari bahan lelucon yang sebenarnya garing untuk teman temannya. Menjadi orang lain. Bukan dirinya sendiri. Menggantikan semua tangisan dengan senyuman paksa. Ia tak pernah bercerita tentang seberapa buruk hidupnya itu.

Ia selalu menutup rapat-rapat tentang keluarganya. Tentang kesepian, tentang ayah-ibunya yang selalu bertengkar, tentang tekanan batin yang ia terima, tentang semuanya. Ia bagaikan seorang penculik yang menutupi semua kelakuannya dengan berpura-pura. Ia terlalu lelah untuk selalu berpura-pura. Ia tak punya teman yang baik untuk mendengarkan semua ceritanya. Mereka hanya sok ingin membantu. Sampai akhirnya ia seperti loser yang selalu memenuhi tuntutan teman-temannya. Menutupi semua kepedihan yang terjadi di rumahnya. Ia lakukan demi semuanya. Tapi semuanya hanya kebohongan hidup yang menjebak.

Hujan deras turun dengan kilat yang tak henti-hentinya menyambar. Dingin menyeruak masuk melalui ventilasi jendela kamar Genta.
‘Kedinginan, kesepian, semua masalah rasanya seperti hujan. Mereka jatuh lalu meresap ke tanah. Jatuh begitu saja tanpa ada peringatan. Menjadi satu. Aku sudah menyangka jika semua orang di dunia nyata itu hanya sekumpulan debu di atas kertas putih yang mencoba mengkotori. Oh ya, aku juga termasuk di antara mereka. Aku masih tak mengerti mengapa selama ini aku menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menangis. Aku lemah. Aku mudah terjatuh dan terinjak. Aku tak berani melawan. Aku seorang loser. Aku ini pengecut yang memarahi diri sendiri. Semua tawa selama ini hanya kebohongan besar. Lihat? Apa kalian melihat diriku ini? Seperti orang gila. Aku pengecut. Aku bukan seorang yang pantas berteman dengan mereka. Aku tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kami tapi akhirnya seperti ini? Ah apakah ini disebut akhir? Kurasa tidak. Mereka, yah mereka yang menganggap mereka itu tanpa kekurangan adalah mereka yang sedang memuji diri sendiri. Tak ada yang ingin mendengarkan semua cerita bodohku. Tidak ada yang mau berteman dengan orang yang banyak kekurangan seperti aku. Hah, aku telah ketinggian menilai semua orang di dunia nyata. Kau tahu di mana dunia paling aman? Dunia maya.’

Genta menghela nafas panjang. Semua yang ia lakukan terasa sia-sia. Pintu kamarnya berderit. Seorang wanita masuk dengan wajah yang pucat dan mata yang terlihat lelah. Ibu Genta. Genta memandang ibunya dengan pelupuk mata yang penuh dengan air mata. Ia beranjak dari kursinya lalu memeluk ibunya.
“Menangislah, Ibu tahu ini akan menjadi hari yang berat bagi kita semua.” Ucap ibunya dengan lembut.
Genta menanggis dengan perasaan kesal, marah dan sedih yang menjadi satu. Genta semakin memeluk ibunya dengan erat seolah enggan melepaskan lagi. Ibunya melepaskan pelukan Genta lalu mengelap air mata yang ada di pipi Genta.
“Ibu akan tidur di sini malam ini. Ibu kesepian” aku juga.

Ibu dan anak ini menenggelamkan tubuh di selimut tebal milik Genta. Tubuh mereka saling berhadapan. Genta mengelus wajah ibunya yang tampak cantik walaupun terdapat goresan kecil di pelipisnya.
“Ibu? Apa ibu percaya jika ada sebuah drama yang diawali tangisan?” tanya Genta.
“Tentu, semua cerita bisa ditentukan dengan pembuat skenarionya” jawab ibunya dengan tangisan.
“Kalau begitu, mengapa ada sebuah drama yang diawali dengan tangisan? Padahal penulis skenarionya tak harus membuat hal itu kan?”
“Tergantung dengan penulisnya. Mengapa ada tangisan? Tak perlu ditanyakan. Hanya ikuti dan syukuri saja” jawab ibunya seakan-akan dapat membaca pikiran yang dipikirkan Genta.
“Dunia ini kejam ya, bu” Genta memejamkan matanya.
“Selama kau bisa melawan kejamnya, kau akan bertahan.” Jawab ibunya dengan memejamkan matanya juga.
Mereka memeluk satu sama lain. Menyalurkan kehangatan dengan pelukan. Genta merasa hidupnya telah aman. Hanya ada suara hujan, deru nafas, dan dinginnya malam.

Jakarta, 11.34 WIB
Untuk hari ini dan dua hari kedepan sekolah Genta mengadakan libur. Dengan kesempatan ini Inne mengunjungi rumah Genta. Kebetulan ayahnya sedang tidak di rumah. Gadis bermata sipit itu masih menyimpan satu pertanyaan.

“Kau pernah merasa sebagai debu di atas sepatu sahabatmu?” tanya Genta saat mereka menikmati angin sejuk di balkon kamarnya.
“Tidak pernah” jawab singkat Inne.
“Kenapa tidak pernah? Apa selain aku ada orang lain yang merasakan ini?”
“Merasakan apa? Debu di atas sepatu temanmu? Aku tidak pernah merasakan hal itu. Karena kau tahu, semua temanku menerima apa adanya. Ada apa?”
Akhirnya Genta menceritakan kejadian yang menimpanya di kantin sampai kicauan Eren di twitter.

“Tergantung pada diri sendiri. Jika mereka ikhlas berteman dengamu pasti mereka akan menerimamu dengan apa adanya. Tanpa harus merubah dirimu. Seharusnya mereka berpikir bahwa mereka juga mempunyai kekurangan. Jika mereka merubahmu seperti yang mereka inginkan, berarti kau adalah boneka percobaan dan mereka berkaca pada dirimu. Kau mengerti maksudku kan? Just remember, Don’t let other people tell who you are, you need to decide that for yourself.”
Genta menatap Inne dengan takjub. Tentu, jika mereka ikhlas. Tanpa merubah apapun. Seharusnya juga mereka tidak pernah menuntut.

“Kau juga seharusnya tahu. Kita hidup di dunia nyata, bukan dunia maya. Kau pikir semua orang di dunia maya itu baik semua? Tolong bangunlah. Kita harus mengerti. Dunia ini kejam. Jika kau menang kau bertahan. Jadilah serigala, lawan mereka dengan prestasi. Jangan jadi pengecut. All you do is crying, apa semuanya bisa berubah? Jangan sering menutup tangisan dengan senyuman. Lalu, kau terlalu lemah. Kau membuat temanmu membencimu karena kau terlalu lemah untuk menjaga mereka. Aku tak mengerti mengapa hidupmu penuh dengan kepura-puraan? Berhenti mencintai dunia mayamu. Kita hidup di dunia nyata. N Y A T A. Kau dengar tidak?”
Genta terdiam sejenak lalu mengangguk. Anak ini selalu saja bisa membaca semua pikiran.
‘Tentu, aku adalah aku. Tak peduli seberapa buruk sifatku jika kau ikhlas berteman pasti kau akan mengerti. Tak perlu merubahku. Aku akan menjadi serigala’
Genta tersenyum. Semuanya kembali.

Jakarta, 16.57 WIB
Inne dan Genta bersenda gurau bagaikan seorang sahabat. Hari sudah tampak sore, langit sore tampak indah sore itu senada dengan hati Genta. Ia menghirup udara segar sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Genta tersenyum.

“SUDAHLAH, AKU LELAH DENGAMU!!” suara bentakan ayahnya sangat terdengar jelas.
“APA KAU PIKIR AKU TIDAK LELAH?” kini giliran suara ibunya.
Genta terdiam kembali, semnyumannya lenyap. Inne bangkit dari tempat duduknya.
“Ada apa Gen?” tanya Inne.
“Hah? Ne? Kau mengerti keadaanku kan? Maksudku bukan, tapi—”
“Sudahlah, aku mengerti. Aku pulang dulu!” Dengan cepat Inne melangkahkan kakinya ke luar rumah itu. Ia mengerti serta mendapat jawaban pertanyaan yang belum ia tanyakan.
Drama itu kembali. Aku tak akan membiarkan ayah melukai ibu.
“AKU BERTAHAN KARENA GENTA. KARENA ANAK ITU. KALAU BUKAN KARENA GENTA MUNGKIN KITA TIDAK AKAN SEJAUH INI. ANAK ITU RAPUH, DRI!” suara tangisan ibu.

Genta terdiam, mematung, menahan tangisan. Jadi penulis skenario dari drama ini adalah aku? Ibu bertahan menahan sakit karena aku? Apa benar aku hanya debu? Aku membiarkan ibu tersakiti dan bersembunyi. Aku jahat. Aku lemah. Aku tak bisa menjaga ibu karena aku lemah. Aku tak bisa menjadi serigala yang buas.

“JIKA KAU TIDAK TAHAN SUDAH KITA AKHIRI. TAK USAH BAWA GENTA. DIA TERLALU KECIL UNTUK MENGERTI INI” terlalu kecil? Aku mengertinya ayah.
“BAIK. AKU AKAN KEMBALI KE JERMAN BESOK!” aku ikut, Bu.
Badan Genta merosot terduduk di balik pintu kamarnya. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Air matanya mendesak keluar. Aku lemah, aku hanya debu.

Jakarta, 09.30 WIB
Kita hidup dari empat kata yaitu: Kebiasaan, perubahan, berpisah dan berpindah. Kata berpisah identik dengan kata berpindah. Siap berpisah siap berpindah, entah itu pindah rumah, kota, atau hati. Tak tau kapan kita harus pindah dan berpisah, semuanya bisa terjadi kapan saja. Yah kapan saja. Inilah yang membuat Genta sampai menelan ludah, tanda tak percaya dan mengerti karena kedua orangtuanya. Mereka berpisah. Apa?! Lalu aku hidup dengan siapa? Pekik Genta tak percaya. Dia hanya ingin melihat ibunya yang selalu menarik otot pipi untuk tersenyum tanpa menanggis sedikit pun. Terkadang manusia hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat saja. Begitulah Genta, ia hanya ingin selalu melihat ibunya tersenyum tanpa ada goresan luka sedikit pun. Gadis ini termenung di depan meja riasnya.

Pantulan cermin itu menangkap mimik wajah Genta yang terluka? Wajahnya memanas, matanya berkaca-kaca. Bulir-bulir hangat itu jatuh membasahi pipinya. Genta menghela nafas panjang, ia tak mengerti atas rencana Tuhan saat ini. Mengikuti alur cerita Tuhan yang telah direncanakan sebaik-baik mungkin. Ia adalah penulis skenario drama yang ada di rumahnya. Ruangan sunyi ini menambah kesunyian di hati kecil Genta. Kamar bercatkan biru muda segar tak dapat membawa kesan segar di hatinya. Derap langka sepatu high heels semakin mendekat, sampai pintu bercatkan putih susu itu terbuka, ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

“Apa kau belum bersiap-siap sedari tadi?” suara khas wanita berumur 35 tahun itu serasa mengganjal hati Genta.
“Mengapa harus berpisah?” Genta membuka mulutnya berbicara.
“Cepat kemasi barangmu, ibu sudah muak di sini” suara serak wanita itu semakin gusar menandakan ia tak pernah ingin kembali ke rumah bernuansa oriental itu.

Genta hanya menelan ludahnya, Ia harus ikut bersama wanita yang hampir berkepala empat itu. Ia harus menghapus semua memory indah di rumah ini, ah tidak ada memory indah. Ia harus pindah rumah dan menjauhi ayahnya yang bernotabene –bukan- lagi suami ibunya, namun ayah baginya. Ini wajar, mereka tidak saling mencintai lagi, mereka harus berpisah agar menemukan titik terbaik di dalam hidup mereka.

Jerman, 23.00.
Kilat tak henti-hentinya menampilkan diri yang sukses membuat Genta takut dan kaget karena susulan gemuruh yang tak kalah dahsyat terdengar. Ia menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut berwarna biru muda, warna kesukaanya. Rasa hangat menjalar di tubuhnya, tempat tidur itu membuat gadis bermata bulat ini nyaman. Suara dentuman lagu terdengar dari earphone berwarna hitam yang terpasang di telinganya, lagu yang dicoverkan Madilyn Bailey – Wake me up melantun dengan berirama. Liriknya menceritakan dengan singkat kehidupan Genta.

Feel my way through the darkness
Guided by beating heart
I can’t tell where the journey will end
But i know where to start
They tell me i’m too young to understand
They say i’m caught up in the dream
Life will pass me by if i don’t open up my eyes
Well that’s fine by me

Entah apakah ada kejutan baru lagi untuknya di depan? Semoga tidak.

So wake me up when it’s all over
When i’m wiser and i’m older
All this time i was finding myself and
I didn’t know i was lost.

Ruangan—baru itu sangat sunyi, hanya terdengar suara deru nafas dan hujan yang berpadu menjadi satu. Manik matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Terbesit di benaknya ia ingin sekali hidup seperti ini. Sunyi, hampa dan no one can hurt you now. Tidak ada lagi sesuatu yang menganggu jalan pikirannya, hanya ada suara hujan, deru nafas, dan kehidupan yang baru. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia harap tak akan bertemu masa lalu lagi. Harapan yang indah, harapan masa depan.

‘Aku menghentikan orang-orang untuk mendorongku lebih jauh lagi. Aku belajar jika aku tak bisa selalu senang. Sekarang, aku menerima kenyataan. Aku tahu setiap peristiwa terjadi karena adanya suatu alasan. Hidup dalam dunia maya hanya menjauhkanku dari kenyataan. Kita memang tidak bisa meng-kontrol apa atau apa yang orang katakan tentang kita. Tapi kita bisa meng-kontrol bagaimana perasaan kita ke mereka. Aku tak akan berubah. Aku akan menjadi serigala yang buas dan melawan hinaan kalian. Seperti yang Inne katakan’

Cerpen Karangan: Shinta Indah Sari 16
Blog / Facebook: Shinta2884.wordpress.com / sinta Indah Sari

Cerpen Wake Me Up merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friend and Boyfriend (Part 3)

Oleh:
Kevin akhirnya mengantar Hani pulang sampai di depan rumahnya. “Maafkan aku, lingkungan di sini memang padat dan jalannya agak sempit. Tapi di sini lumayan bersih kok. Makasi kak sudah

Masa SMA Ku

Oleh:
Nama gue Vino. Lengkapnya Vino G. Bastian. Hehehe. Kagak, gue cuma bercanda. Nama lengkap gue sesungguhnya adalah… Jeng jeng jeng… Vinokio. Bukan, bukan. Lengkapnya Vino Pradipta Pinnata. Nama gue

Ujung Dua Sahabat

Oleh:
Datang, duduk, diam itulah yang selalu ku kerjakan selagi pelajaran berlangsung, ku lirik lagi arloji yang melingkar di lenganku pukul 13.00 ku hela lagi napas dalam-dalam rasanya menunggu satu

Misteri MOS

Oleh:
Hai namaku Lyla Putri baru saja ini aku tamat SMP. Hari ini tepatnya tanggal 10 Juli aku mempersiapkan segala pakaian untuk melakukan mos seperti sepatu sebelah putih sebelah hitam

Lagu Untuk Angin Yang Lalu

Oleh:
Ruang kosong. Aku duduk di kursi besi yang panjang dengan memangku gitar kesayanganku. Di depanku ada meja kecil untuk meletakkan kopi hitamku. Ruang ini hanya berisi kursi, meja, ac

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *