Waktu Habis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 May 2021

Terik Sang matahari kian menyengat kulit putihnya. Tetesan keringat menunggu giliran masing-masing untuk berjatuhan. Tenaga hampir terkuras habis. Dahaga yang memenuhi inti tenggorokan. Jika diibaratkan sebuah mesin, maka kepalanya sudah mengeluarkan kepulan asap. Setelah hampir 10 jam berada di Sekolah, ia akhirnya bisa pulang. Seluruh materi hari ini membuat pikiran dan tenaganya harus ekstra bekerja.

Ayla lelah dengan semuanya.
Dengan raut yang sudah tak berbentuk. Ayla memasuki rumahnya. Sambutan hangat itu langsung menyambut kedatangannya.

“Anak Ibu sudah pulang. Ayo ganti baju, Ibu sudah siapkan makanan,” Raut wajah itu begitu sumringah menyambut Sang putri.
Ayla hanya menatap Ibunya datar. Tidak berniat memberi respons lebih. Ia berlalu ke kamarnya.

Selesai mengganti pakaian, Ayla menuju dapur. Suasana hatinya sangat buruk hari ini. Matanya menyapu seluruh dapur. Lalu pandangan itu terjatuh pada makanan yang tertata rapi di atas meja makan.
“Kenapa tempe lagi sih?!” Emosinya menyulut begitu saja. Alisnya menukik tajam. Rasa lelah dan kesal menyatu menjadi satu. Ia bosan memakan ini setiap hari.

Sang ibu yang baru saja mengambil air, terkejut melihat putrinya berbicara dengan nada tinggi.
“Maaf Nak, cuma ini yang bisa dibeli dari penghasilan ibu hari ini,” Tatapan ibunya begitu sendu. Sepertinya hati itu hancur.
“Enggak tau! Aku enggak peduli! Aku bosan makan ini terus tiap hari! Aku enggak mau makan ini!” Ayla menatap ibunya dengan lantang. Ia begitu lelah hari ini. Rasanya seluruh dunia ingin ia caci maki.

Ibunya terkejut. Ia tahu putrinya belum makan apapun. Ia khawatir asam lambung putrinya akan naik jika tidak makan. Sang ibu harus memutar otak mencari jalan agar putrinya mau makan. Ia akan melakukan apapun.
“Kamu harus makan. Nanti kamu sakit. Ibu enggak mau hal itu,” Sang ibu menghela napas panjang.” Oke, kamu tunggu disini. Ibu keluar sebentar, beliin kamu lauk yang lain,” Tatapan lelah itu tampak samar, tertutupi oleh senyuman yang ia kembangkan. Ia harus melakukan ini. Tangannya menyelusup ke dalam kantong bajunya. Selembar uang lima ribu rupiah. Ia bisa apa dengan ini?

“Aku mau ayam bakar! Kalo enggak ada itu, aku enggak mau makan,” Anak itu masih bersikeras dengan egonya.
Dengan raut yang tak terbaca, Sang Ibu menatap putri semata wayangnya. Sepertinya, hari ini begitu melelahkan bagi Sang putri. Mungkin karena itu suasana hatinya begitu buruk. Ia memaklumi hal tersebut. Putrinya sudah belajar dengan keras di sekolah.

Mata itu berkaca-kaca saat keluar dari pintu rumahnya. Dadanya terasa sesak saat bentakan Putrinya menggema. Betapa itu begitu menyakiti hatinya.
“Semoga Bu Tari masih mau meminjamkan uang,” Tatapan sedih itu terlihat putus asa.

Ayla secara tidak sabar berjalan menuju meja yang sudah ditempati teman-temannya terlebih dahulu. Ia baru saja membeli beberapa roti bakar dengan coklat lumer yang begitu menggugah selera.

“Haii-” Ayla tiba-tiba memotong sapaannya karena melihat suasana di meja ini yang terlihat tidak baik-baik saja.

Tiga orang yang tengah duduk di meja tersebut kompak mengalihkan pandangan kepada Ayla yang terlihat bingung dengan situasi.
Dengan kikuk, Ayla mendudukkan dirinya.

“Cella, kenapa?” Ayla bertanya dengan nada pelan, namun itu cukup terdengar tepat ketelinga Cella.
Cella hanya menanggapi diam dengan mata yang kembali mulai mengabur untuk menumpahkan seluruh isinya.
Teman-temannya yang lain hanya diam membisu. Bahkan Ayla curiga mereka pun tidak tahu mengapa Cella tiba-tiba menangis.

Merasa tidak ada yang memberikan jawaban, Ayla membungkam mulutnya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat menanyakan keadaan salah satu temannya itu.

Cella merasa dunia begitu tidak adil terhadapnya. Beban pada bahunya terasa begitu berat untuk ia pikul sendirian. Ia sadar satu hal. Cella mempunyai sahabat-sahabatnya. Tentu mereka akan mendengarkan seluruh masalahnya.

“Kalian pasti bingung kenapa aku tiba-tiba nangis,” Cella merasa air matanya akan turun lagi. Ia langsung menghapusnya dengan kasar.
Cella menatap satu persatu sahabatnya yang sudah setahun ini menemaninya dimasa SMP.

“Dara, kamu beruntung banget punya mama yang bela-belain buatin bekal buat kamu,” Matanya beralih menatap kearah kotak bekal makanan berwarna biru milik Dara. Cella sudah tidak bisa menahan buliran air matanya. Ia biarkan itu mengalir bersama segala masalah yang ia keluarkan.

Ayla, Dara, dan Gita kompak menatap Cella dengan tatapan sedih. Selama setahun mereka berteman, baru kali ini Cella menumpahkan masalahnya kepada mereka. Sepertinya hal ini sudah terlalu berat untuk ia tanggung sendirian.

“Ak-aku enggak pernah kaya gitu… mama enggak pernah lagi peduli sama aku, juga sama adek. Kami sama sekali enggak pernah dipeduliin. Mama kaya gini semenjak nikah lagi sama orang lain. Mama ikut suaminya yang baru. Aku sama adek ditelantarin gitu aja. Bahkan Mama enggak pernah tanya keadaan ataupun kabar kami. Pandangan orang terhadap hidup aku yang enak, punya banyak duit, mau beli apapun tinggal bilang. Semua itu enggak semenyenangkan yang terlihat. Apa gunanya punya banyak uang? Tapi enggak pernah dapat kasih sayang orangtua. Kadang aku pikir punya banyak uang udah cukup, ternyata enggak. Andai uang bisa buat beli perhatian mama, udah aku lakuin dari dulu. Nyatanya bahkan uang pun enggak mampu buat beli hal itu,” Inilah yang dimaksud oleh Cella, bahwa dunia tidak adil terhadapnya. Cella tidak pernah lagi merasakan kasih sayang orangtuanya. Ayahnya sudah tidak ada sejak ia berusia 5 tahun.

Cella menghela napas. Ia mencoba lebih kuat. Sudah lama ia memendam semua ini. Sekarang ia merasa lega sudah menumpahkan semuanya. Untung saja mereka menempati meja paling ujung yang cukup tak terjangkau oleh pandangan siswa siswi lain.

Gita menatap Cella dengan sendu. Dara yang terlihat langsung menunduk, memandang kotak bekal yang tadi pagi hampir ia tolak dari ibunya. Ayla menampilkan ekspresi yang tak terbaca. Ia hanya memandang Cella yang tengah menunduk sembari menghapus air matanya dengan selembar tisu.

Ayla merasa ditampar secara tidak langsung oleh Cella. Segala sikap buruk dan egois yang ia berikan kepada Ibunya kemarin, langsung terputar layaknya kaset rusak yang hanya mengulangi kata-kata kasarnya terhadap Ibu. Ibunya pasti sangat sedih. Ia begitu keterlaluan. Ia anak yang buruk. Ibunya bekerja seharian banting tulang untuk menghidupinya, tetapi ia malah memperlakukan ibunya dengan kasar. Yang lebih menyakitkan, Ibu masih tersenyum saat ia membentaknya kemarin. Ibu sadar bahwa ia kelelahan pulang sekolah, karena itu ibu tidak mau balas membentaknya. Seharusnya ia tidak bersikap seperti itu. Ibu sangat baik, masih mau mengurus dirinya yang bahkan bersikap egois dan buruk. Seharusnya Ayla bersyukur, Ibunya sangat peduli walaupun ia bersikap buruk. Karena tidak semua anak mendapatkan kasih sayang dari ibunya.

Karena itu bersyukurlah.

“Ayla?… Kamu nangis?”
Suara Dara seketika membuyarkan seluruh lamunannya. Ayla refleks menyentuh pipinya yang basah karena air mata. Ia bahkan tidak sadar sudah menangis. Seluruh sikapnya yang buruk kemarin membuatnya melupakan realita saat ini. Ayla ini belum terlambat.

Ayla tersenyum tipis, lalu mengambil tisu untuk menghapus pipinya yang basah. Ia menatap Cella yang sudah membuatnya sadar dengan sikap buruknya kemarin terhadap ibunya. Cella sangat mengharapkan kasih sayang mamanya. Tetapi Ayla malah menyianyiakan hal berharga itu.

“Cella, kamu masih punya kita kan? Kami bakalan bantu kamu. Mama kamu bakalan balik kaya dulu lagi. Kami selalu ada buat kamu.” Ayla tersenyum menguatkan. Gita dan Dara kompak mengangguk mengiyakan.

Cella merasa beruntung memiliki mereka sebagai temannya. Tuhan masih sayang kepadanya dengan mengirimkan sahabat yang begitu baik.

Seluruh kegiatan belajar telah selesai untuk hari ini. Ayla melangkahkan kakinya dengan lunglai. Panas Sang surya begitu menyengat kulit. Tentu saja hal ini tidak sebanding dengan Ibu yang banting tulang untuk menghidupinya. Ayla sungguh menyesal dengan sikapnya. Ia berdoa sepanjang jalan pulang dengan harapan semoga Ibu mau memaafkan anak yang buruk sepertinya.

Cerpen Karangan: Winada Alfatiha
Blog: winadaalfatiha.blogspot.com
Halo! Aku Wina, seorang siswi SMA yang gemar menulis dan membaca. Ini adalah salah satu cerpen yang sudah lama kubuat. Kuharap siapapun yang membaca ini, dapat memetik pembelajaran yang berharga yaa! Selalu sayangi kedua orang tua kalian!!

Cerpen Waktu Habis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Anak Jalang

Oleh:
Embun pagi ini masih begitu terasa. Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang. Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan. Terlihat sesosok

Pacarku Tak Pernah Bosan

Oleh:
Hari itu berjalan seperti biasanya, aku mengawali hari dengan semangat pagi yang cerah, sama seperti hari lainnya. Memasuki kelas yang kocak ini dan selalu ada hal baru di setiap

Kupu Kupu Musim Semi

Oleh:
Hari ini seperti biasa. Semua berjalan begitu saja. Aku menemukan diriku terlelap di meja, bersama tumpukan buku-buku tebal yang berada di depan mukaku. Suara gemericik air hujan yang semakin

Sekeping Cerita Alya

Oleh:
Pagi ini mentari tidak mencerahkan langit dengan kilaunya yang menyilaukan mata. Sudah tiga hari ini cuaca di kawasan Jakarta Selatan ini di rundung mendung. Mendung biasanya mempengaruhi mood seseorang.

Valuable Lessons

Oleh:
Tak! Tak! Tak! Aku memantul-mantulkan bola basketku. Halo namaku Natashya Melanie. Terserah kalian mau memanggilku apa. But, aku lebih suka dipanggil Nat. Yah, aku tipe cewek tomboi yang suka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *