Waktu Habis (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 May 2021

Ayla perlahan membuka pintu kayu yang sudah rapuh itu. Harapannya hanya terpatok pada kehadiran Sang ibu di rumah.

“Assalamualaikum Ibu. Ayla sudah pulang.”
Seorang wanita paruh baya muncul dengan senyumannya yang begitu menenangkan “Waalaikumsalam, anak ibu sudah pulang.”

Ayla langsung menyalami tangan Ibu. Ia sentuh tangan kasar itu dengan lembut. Tangan yang selalu pulang dengan membawa berbagai luka, karena Ibu yang kerja serabutan. Ia cium tangan itu dengan penuh rasa penyesalan dan permohonan maaf. Tangan yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

“Eh! Kok lama banget cium tangan Ibu?” Wajah Ibu terlihat bingung dengan perlakuan Putri semata wayangnya ini.

Bendungan air mata tidak mampu lagi untuk Ayla tahan. Ia tumpahkan semua beserta rasa bersalahnya. Seluruh sikap buruknya langsung terputar pada pikiran Ayla. Bagaimana ia membentak Ibu. Bagaimana ia berkata kasar pada Ibu. Bagaimana ia bersikap egois pada Ibu. Bagaimana ia tidak menghargai kasih sayang Ibu. Semuanya terputar dengan sangat jelas.

“Eh! Kok nangis? Ayla, kenapa sayang?” Ibu tiba-tiba panik melihat Ayla yang menangis dengan mata sembabnya.
“Kemarin Ayla udah bersikap buruk sama Ibu. Kemarin Ayla udah ngebentak Ibu. Ayla enggak peduli tentang keadaan Ibu. Ayla bersikeras buat beli ayam bakar, padahal Ibu enggak punya uang cukup buat beli itu. Ayla enggak peduli bahwa ibu lagi capek habis kerja. Tapi Ibu masih sempat senyum ketika aku lagi marahin Ibu kemarin. Ayla enggak pantas buat dimaafin. Ayla anak yang buruk. Seharusnya Ayla bersyukur punya orangtua sebaik Ibu. Seharusnya Ayla lebih bersyukur… Maafin Ayla…,” Tangisan itu begitu deras mengalir beserta seluruh penyesalan dalam dirinya. Ayla seharusnya bisa lebih bersyukur atas segala yang ia miliki. Karena tidak semua orang seberuntung dirinya.

Ibu tidak mengatakan apa-apa. Hanya Air mata yang mengalir deras pada wajah lelahnya.
Ibu mengusap puncak kepalanya. Ayla hanya bisa menangis melihat ibu begitu tulus menyayanginya. Kemudian tangan Ibu turun menghapus Air matanya yang masih mengalir deras.

“Ayla… Ibu selalu memaafkan Ayla. Ibu akan selalu memaafkan Ayla. Karena Ibu tau, Ayla anak yang baik. Ayla anak yang tulus. Dengan menyesali perbuatan Ayla kemarin, itu sudah lebih dari cukup buat Ibu. Ayla buat Ibu bangga. Ibu enggak pernah menyesal sudah melahirkan putri sebaik Ayla. Ayla sudah membuktikan bahwa hal-hal yang sudah Ibu ajarkan pada Ayla tidak sia-sia.”

Ayla langsung memeluk Sang ibu erat. Betapa beruntung dirinya memiliki seorang yang bahkan masih tersenyum saat ia membentaknya. Seseorang yang selalu rela berkorban apapun untuknya. Jika sebelum dilahirkan ke dunia, ia disuruh memilih akan hidup dengan orangtua yang mana, ia tak akan ragu untuk memilih Ibunya untuk menjadi orangtuanya. Ia tidak akan pernah menyesal. Pelukan hangat yang begitu erat, seakan ini adalah pelukan terakhir untuk Sang ibu. Sangat erat. Ia tidak mau melepasnya.

“Ayla, ayo ganti baju dulu Nak, Ibu ke Dapur dulu.” Ibu melerai pelukan erat itu. Bahkan Air mata Ayla masih tersisa banyak untuk ditumpahkan.
Ayla mengangguk lalu berlalu ke kamarnya.

Ia merasa tenang sekarang. Ia berjanji pada dirinya untuk lebih mengontrol emosinya. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ia tidak mau lagi bersikap kasar pada Ibu. Ia berjanji, kemarin adalah yang terakhir. Ia tidak akan melakukan tindakan bodoh itu lagi. Ia tidak akan menyakiti Ibu lagi.

Sebuah ketukan keras pada pintu, membuat fokus Ayla berpindah. Untung saja ia sudah selesai mengganti seragam sekolah dengan baju santainya. Ia berlalu kearah pintu yang diketuk berulang kali.

Ayla tampak terkejut melihat kehadiran Paman dan Bibinya yang tiba-tiba berkunjung.

“Paman? Bibi? Tumben kemari. Ayo masuk! Ibu lagi masak di dapur,” Ayla menyambut mereka dengan senyum riang. Paman dan Bibinya sudah jarang berkunjung sejak ia SMP. Tentu saja ia begitu antusias melihat kedatangan mereka.

Paman dan Bibinya menampilkan raut terkejut. Mereka berpandangan satu sama lain. Lalu kompak mengarahkan pandangan mereka kepada Ayla yang masih tersenyum lebar.

“Ayla…, Ibu kamu sudah meninggal karena serangan jantung. Sekarang ada di rumah sakit,” Ucap Bibinya dengan genangan Air mata.

Ayla mendadak diam. Ini pasti bohong. Tidak mungkin. Tadi ia masih melihat ibunya yang sehat. Senyuman Ibu masih dapat ia lihat tadi. Ibunya masih berbicara padanya beberapa menit yang lalu. Ia masih bisa memeluk Ibu. Ia bahkan masih bisa melihat Ibu yang menangis di hadapannya. Suara Ibu masih dapat ia dengar beberapa menit yang lalu.

Ayla langsung berlari ke dapur. Jantungnya berdegup keras. Tangannya gemetar. Kakinya bahkan sulit untuk dirasakan. Dapur kosong. Hanya ada makanan yang tersusun rapi. Ada ayam bakar di sana. Dengan sebuah kertas di sampingnya.

Dengan tangan gemetar ia meraih secarik kertas yang tergeletak beserta sebuah tulisan.

‘Ini ada ayam bakar kesukaan kamu. Maaf Ibu gak bisa pulang nanti siang buat nemanin kamu makan. Ibu sibuk banget. Maaf yaa, Nak.’

Kaki itu tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia biarkan dirinya lumpuh sesaat. Kedua kelopak itu sudah mulai mengabur. Ini sungguh tidak masuk akal. Ia berharap semua ini adalah mimpi. Sungguh, tadi ia masih bisa memeluk Ibu. Tadi ia masih bisa mendengar suara Ibu. Ayla merasa dunianya berhenti bekerja. Seolah waktu berhenti untuk dirinya. Seharusnya ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Ibu. Seharusnya ia bisa lebih bersikap baik kepada Ibu. Andai Ayla tahu hari ini adalah hari terakhir ia bersama Ibu, Ayla akan memeluk Ibu seharian dan bersikap baik padanya. Ayla tidak akan meninggalkan Ibu bahkan sedetikpun, jikalau ia tahu ibu akan meninggalkannya hari ini. Akan tetapi sudah terlambat, Ibu sudah benar-benar pergi untuk selamanya.

Waktu tak pernah terulang jika kau terus-terusan mengulurnya. Waktu tidak akan pernah menunggumu. Kau yang harus mengejarnya. Waktu akan habis jika kau terus percaya pada hari esok. Ketika kau bercanda riang dengan orangtuamu. Ketika kau memeluk mereka. Ketika kau makan bersama. Ketika kau liburan bersama. Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin. Bersyukurlah terhadap setiap keadaan. Karena kita tidak akan pernah tau rencana Tuhan untuk hari esok.

Cerpen Karangan: Winada Alfatiha
Blog: winadaalfatiha.blogspot.com
Halo! Aku Wina, seorang siswi SMA yang gemar menulis dan membaca. Ini adalah salah satu cerpen yang sudah lama kubuat. Kuharap siapapun yang membaca ini, dapat memetik pembelajaran yang berharga yaa! Selalu sayangi kedua orang tua kalian!!

Cerpen Waktu Habis (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Tak Pernah Datang di Awal

Oleh:
“Mila! Jangan pernah masuk ke kamarku dan mencoret-coret tugasku lagi!” teriakku dari ambang pintu saat kulihat adikku, Mila mencoret-coret tugas kliping yang susah payah ku kerjakan semalam, ku lihat

Arief Jadi Pengantin

Oleh:
Pagi masih berkabut. Embun masih bergelayut manja di tepian rerumputan seolah enggan untuk turun membasuh tanah. Hunian serasa sepi ngelangut meski samar-samar terdengar suara beberapa ibu tadarus bergantian di

Sekelumit Cerita Dari Sekejap Mimpi

Oleh:
Beberapa hari lalu aku bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat menamparku. Saat aku terbangun, aku segera mengambil ponselku dan merekam apa yang aku ingat. Saat ini aku akan menceritakannya kembali.

Rasa yang Pernah Tinggal (Part 2)

Oleh:
Setelah kepergian Andrian, aku masuk ke kamar. Kata-kata panjang Andrian masih terngiang dalam telinga. Kepalaku kini dipenuhi sejuta kebimbangan, tetap di sini atau pergi mencari asa ke luar kota

Arkhan Si Kesatria

Oleh:
Pada suatu masa terdapatlah sebuah kota kerajaan yang bernama Hunts yang diserang oleh sekelompok setan api. Kelompok tersebut dipimpin oleh masternya yang bernama Dray. Wujud Dray berupa setan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *