Waktu Yang Berharga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

Kosong.
Kutatap nanar apa yang ada di hadapanku saat ini. Tak kuhiraukan rasa dingin yang mulai menelusup sampai ke tulangku. Duniaku seakan terpusat pada satu titik saat ini, yaitu apa yang ada di hadapanku. Seiring dengan tubuhku yang dipeluk oleh setengah duniaku, tubuhku luruh di dalamnya, di dalam kesedihan yang kurasa akan abadi saat melihat setengah duniaku yang lain terbaring tak berdaya tak jauh di hadapanku.

“Nak, pulanglah, Nak, apa kamu tidak rindu pada Ibumu ini? Tidakkah kau rindu… pada Ayahmu?”
Aku berhenti mengetik di laptopku lalu memandang keluar jendela kantorku begitu percakapan singkatku dengan Ibu melintas sekilas di otakku. Sedetik kemudian kata-kata yang belum bisa aku jawab itu kembali berputar-putar seakan menuntut jawabku.
Tidakkah kau rindu pada Ayahmu?
Rindu… Ya, aku rindu pada dirinya, tapi egoku ini terlalu tinggi untuk terang-terangan mengakuinya. Egoku ini masih tinggi untuk mengakui bahwa sesukses apapun aku sekarang, aku sempat melakukan kesalahan pada Ayah, kesalahan yang tak pernah aku sesali sampai sekarang.

Pulang…
Satu-satunya kata yang jarang sekali terbersit di pikiranku semenjak hari itu. Aneh sekali rasanya ketika memikirkan bahkan mengatakan kata itu. Kata yang selalu aku sangkal dengan berbagai alasan untuk mencegah Ibu merengek dan memaksaku untuk mengiyakan keinginannya. Keinginannya agar aku cepat pulang.
Tapi sepertinya, sudah waktunya raga ini untuk kembali ke tubuhnya. Kembali ke asalnya, kembali utuh dengan keluarganya, dengan dunianya. Karena meskipun berjuta kali aku menyangkal, aku tetap rindu untuk pulang. Untuk kembali ke dekapan hangat Ibu, untuk kembali merasakan enaknya cita rasa masakan Ibu, untuk kembali bercengkerama sembari berbagi kehangatan kala hujan, untuk kembali… merasakan genggaman erat tangan Ayah ketika aku menjabat tangannya.

Ya, Aku rindu, Bu, Yah…
Tunggu, Bu, Yah, sebentar lagi kalian akan melihat anakmu ini.
Sebentar lagi aku akan kembali bisa memeluku erat, melihat kembali senyum ramahmu secara langsung, mendengar merdunya suaramu, Bu…
Sebentar lagi aku akan kembali bisa melihat tegasnya raut wajahmu, gagahnya tubuhmu, beratnya suaramu, serta kepulan asap rokok yang tak pernah lepas dari bibirmu, Yah…
Sebentar lagi aku akan bisa meminta maaf langsung pada kalian, terutama padamu, Yah, atas kesalahanku lima tahun lalu… kesalahan yang tak pernah kusesalkan namun aku tahu di dalam hatimu, Yah, masih tersimpan sedikit kekecewaan atas keputusanku selama ini. Iya, Yah, aku tahu… dan aku akan meminta maaf atas hal itu.

Jika aku bisa mengambil waktuku kembali yang telah kuhabiskan untuk mencapai apa yang aku inginkan di dunia, saat ini, aku akan langsung mengambilnya tanpa berpikir dua kali. Menghabiskannya kembali untuk berbagai hal yang lain. Menghabiskannya kembali untuk melalukan apa yang Ayahku inginkan. Karena sungguh, melihatnya terbaring saat ini dengan berbagai alat di tubuhnya, membuatku merasa untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, menyesal atas keputusan yang telah aku ambil.

Siang ini ketika aku tiba di rumah aku dikejutkan dengan keadaan rumah yang kosong. Aku sengaja tidak memberikan kabar pada Ibu serta Ayahku bahwa aku akan pulang hari ini karena aku ingin memberikan kejutan pada mereka, terutama pada Ayah karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Akhirnya aku memutuskan menelepon Ibu. Dering kedua beliau mengangkatnya. Senyum langsung mengembang di wajahku dan kusapa beliau dengan nada yang begitu riang, mengatakan padanya bahwa saat ini anaknya yang begitu mereka sayangi sudah berdiri di depan rumah dan siap menanti kepulangan mereka.

Namun, yang kudengar bukan tawa bahagia dari Ibu melainkan tangis yang makin lama semakin kencang. Aku yang kebingungan hanya bisa bertanya apa yang telah terjadi. Duniaku seakan berhenti bergerak menanti Ibu mengatakan sesuatu. Dan detik berikutnya, duniaku bukan hanya sekedar berhenti bergerak, namun kiamat kecil sepertinya baru saja terjadi di duniaku setelah Ibu menjawab pertanyaanku.

“Nak, kamu segera ke rumah sakit Cahya Hati, ya, Ayahmu baru saja masuk rumah sakit, jantungnya… jantungnya kambuh, Nak…”
Jika Tuhan dapat menghukum hamba-Nya dengan berbagai cara, mungkin dengan cara seperti inilah Tuhan menghukumku, membuatku menyesali segala keputusan yang sudah aku ambil selama lima tahun ini…

Dingin.
Hanya itu yang aku rasakan begitu memasuki ruangan Ayah dirawat. Kakiku semakin bergetar seiring dengan langkahku yang semakin dekat dengan ranjangnya. Air mataku sudah mengalir tanpa bisa aku kendalikan. Aku berhenti beberapa langkah, tak kuat kakiku melangkah lagi untuk membunuh jarak antara diriku dengan Ayah.

Wajah Ayah tak terlihat karena terlalu banyak alat yang dipasang di dada serta wajahnya. Menutupi wajahnya yang tampan, menyembunyikan tubuhnya yang gagah. Dokter bilang bahwa jantung Ayah sudah tidak berfungsi secara maksimal lagi dan alat-alat di tubuhnyalah yang membantunya hidup sampai detik ini. Aku hanya bisa memejamkan mataku, membiarkan air mataku tumpah tanpa berusaha lagi ku cegah untuk keluar.

Sewaktu aku tiba di rumah sakit, Ibu langsung menyambutku dengan pelukan, namun bukan senyum yang menyertai pelukan hangatnya, tapi derai air mata yang tak henti keluar sampai saat ini serta isakan yang semakin menghancurkan hatiku.
“Maafkan Bagus, Bu, maafkan Bagus, karena Bagus Ayah jadi seperti ini…” ucapku pelan sambil memandang Ibuku dengan tatapan penuh penyesalan.

Ibuku tersenyum, matanya sudah bengkak karena telalu banyak menangis. Aku semakin sedih ketika menyadari keriput-keriput kecil yang mulai menghiasi wajahnya, kulitnya yang tak semulus dulu, rambutnya yang mulai memutih, dan badannya yang seakan-akan bisa jatuh kapan saja.

“Ibu sudah memaafkanmu, Nak, sejak dulu, tanpa harus kamu berkata-kata dulu pada Ibu, sama seperti Ayah…”
Genggaman tangan Ibu semakin erat ketika menyebutkan kata Ayah. “Ayahmu… Ibu yakin Ayah sudah memaafkanmu, sama seperti Ibu. Begitulah orangtua, Nak, memaafkan anak-anak mereka bahkan sebelum anak-anak mereka memintanya,”
“Ayah tidak mengizinkanmu untuk bekerja di luar negeri karena beliau tidak ingin terlalu jauh darimu, Nak, karena dia tahu penyakit jantungnya bisa kambuh kapan saja dan dapat membawanya pergi kapan saja, tapi Ayah tidak ingin membebani pikiranmu, maka dari itu Ayah menutupinya dan terus menerus memintamu mencari pekerjaan lain di dalam negeri, agar Ayah bisa menghabiskan sisa waktunya bersamamu, anak lelaki kesayangannya, kebanggaannya,”
“Maafkan Ibu yang telah menutupi semuanya sama kamu, ya, Nak, maafkan Ibu…”
Kupeluk Ibu sangat erat. Semakin erat pelukanku semakin kencang pula tangisku. Aku tidak peduli pada tatap setiap orang yang melewatiku dan Ibuku, yang kupedulikan saat ini adalah terus memanjatkan doa agar Ayah cepat membuka matanya, cepat kembali sehat seperti sedia kala, agar aku bisa mengganti setiap detik waktu yang aku habiskan untuk mencapai keinginanku di dunia untuk aku habiskan bersama Ayah yang jelas lebih pantas untuk mendapatkannya.

“Ibu…”
Suara seorang perempuan membuatku melonggarkan pelukan pada Ibuku. Ternyata seorang suster sudah berdiri di depanku dan Ibuku, dia tersenyum manis sambil mengatakan sesuatu yang membuatku memintanya untuk mengulang apa yang baru saja dia katakan.
“Bapak Farhan sudah sadar, kondisi beliau sekarang sudah mulai stabil.”

Detik selanjutnya yang aku tahu aku sudah berlari menuju kamar Ayah, sangat ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika dirinya membuka mata, menjadi orang pertama yang menyapanya penuh rindu, dan menjadi orang pertama yang mendekapnya begitu erat. Mendekapnya dengan hangatnya janjiku untuk selalu berada di sampingnya.
Takkan jauh lagi raga ini dari setengah dunianya, karena raga ini tahu, kesempatan kedua untuk bersama setengah dunianya yang lain, takkan dia dapatkan di lain waktu.

Cerpen Karangan: Tasya Aulya R.
Blog / Facebook: Tasya Aulya Rachmatia

Cerpen Waktu Yang Berharga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Atau Keluarga

Oleh:
3 minggu berlalu setelah kakak dari perempuan yang sedang melukis sebuah pemandangan di belakang rumahnya itu sembuh. Laki-laki yang berusia 19 tahun itu telah berada di sampingnya, menemaninya melukis.

Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

Penyesalan

Oleh:
Banyak yang mengatakan bahwa Aulia adalah seorang perempuan yang berbeda dari yang lain. Hidup miskin bukan alasan untuk tak bisa bersekolah. Hidup di kampung sangat digemarinya walau ia hidup

Tinta Hitam Untuk Bunda

Oleh:
Sudah selarut ini, bunda masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Puluhan karton snack sudah menumpuk di atas meja makan. Bunda selalu bekerja keras. Hampir tidak pernah mendengar kata keluhan dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *