Wanita Mulia Yang Tak Pernah Melahirkan Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Hari itu Ayahku membawa pulang seorang wanita muda yang cukup cantik, ya dia adalah calon Ibu tiriku, namun dengan acuhnya aku tidak menghiraukan kedatangan mereka dan berlagak sedang asyik menikmati permainan gameku. Sementara itu terlihat Kakek dan Nenekku menyambut kedatangan mereka dengan penuh sukacita.. lalu terdengar suara Ayah memanggil namaku. Dengan berat hati aku pun menjumpai mereka.

“Huff dasar anak bandel, kenapa kamu tidak menyambut kedatangan kami?!” Terlihat jelas di mata Ayah ia sangat kecewa dengan sikapku.
“Lagi tanggung yah, gameku belum selesai.” Jawabku datar.
“oh ya sudah, kenalkan ini calon Ibumu. “Ia memperkenalkan wanita itu padakau.
“De, inilah anakmu yang nakal dan suka ngambek itu.” Kata Ayahku padanya.

Lalu wanita itu menghampiriku, ia mengelus rambutku dan menatap mataku.
“lihat mas, apa yang kamu katakan itu tidak benar. Dia bukan anak nakal dan suka ngambek seperti yang kamu katakan! Lihat dia tegap, matanya jernih dan penuh semangat, dia anak yang cerdas dan baik tapi dia belum cukup mampu untuk mengarahkan semuanya itu. Kelak kamu akan lihat betapa dia akan membuatmu bangga.”

Aku tidak menyangka ternyata wanita yang masih asing bagiku itu mengatakan hal tersebut, perkataannya sungguh menghangatkan hatiku sehingga aku terharu dan hampir saja menitikkan air mataku. Tak pernah ku dengar kata-kata itu sebelumnya dari keluarga, tetangga dan teman-temanku, bahkan dari Ayahku sendiri. Secara tidak langsung perkataan itulah yang akhirnya menjadi motivasiku. Aku memandangi wanita tersebut, dan tersenyum padanya penuh makna, melalui senyuman aku mengutarakan terima kasihku padanya.

Seminggu setelah dilangsungkannya pernikahan Ayah dan Ibu tiriku, aku pun akhirnya harus meninggalkan kampung halaman untuk ikut tinggal bersama-sama dengan mereka di kota. Aku berpikir akan menemui banyak tantangan dan hal-hal yang baru di dalam keluarga baruku ini. Sejak kecil aku terbiasa hidup dengan kasih sayang Kakek dan Nenek, jadi aku tidak terbiasa dengan kehadiran seorang wanita yang bergelar ‘Ibu’ dalam hidupku. Apalagi banyak mitos yang mengatakan, “Ibu tiri itu kejam,” jadi aku harus siap menghadapi semua ini.

Satu, dua bulan telah berlalu, dan tak terasa setahun sudah aku hidup bersama-sama dengan mereka. Apa yang aku pikirkan ternyata berbalik dari kenyataan, Ibu tiriku adalah wanita yang sempurna. Ia begitu antusias terhadap pertumbuhan, hobi, dan pendidikanku, bahkan ia begitu sabar membimbingku, walaupun aku sedikit badung. Dan akhirnya kalimat yang dulu pernah ia ucapkan ketika pertama kali kami bertemu telah ia buktikan. Ya, melalui gagasan-gagasannya, melalui sikapnya, melalui perkataannya dan melalui cinta kasihnya ia telah membentuk aku menjadi pribadi yang baru, pribadi yang lebih baik.

Ia menjadikan aku manusia yang cerdas dan lebih baik sehingga aku memilki banyak prestasi dalam hidupku. Sekarang usiaku 24 tahun, dan aku menjadi seorang pemuda yang sukses. Dan semua ini dapat ku raih berkat bimbingan dan kasih sayang Ibu tiriku, wanita yang tidak pernah mengandungku, wanita yang tidak pernah melahirkanku, tapi dia adalah wanita yang telah menciptakan masa depanku.

“Terima kasih, Ibu.”

Cerpen Karangan: Boma Damar
Blog: bomadamar.blogdetik.com

Cerpen Wanita Mulia Yang Tak Pernah Melahirkan Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketikan Hidup Langit

Oleh:
Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu

Pertama dan Terakhir

Oleh:
Namaku Susi, umurku memang baru 15 tahun. Tetapi, beban pikiranku melebihi umurku. Tanggung jawabku sama seperti orangtuaku, semuanya demi kebahagiaanku dan keluargaku. Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu-tunggu,

Rain

Oleh:
Aku menangis dalam melodi hujan. Mengenang sebuah kenangan, yang tak mungkin kembali. Aku menjerit melampiaskan kemarahannya pada hujan. Yang telah melenyapkan seorang ‘Malaikat tak bersayap’ Pagi telang tiba. Tapi

Tuhan, Aku Tak Ingin

Oleh:
Semua bermula di sore itu, sore tanpa senja, awal dari perpisahan yang abadi. Ketika sayup lafadh-lafadh indah mengalun merdu di setiap rumah suci-Mu, bergema menelusup ke dalam lubuk hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *