With or Without Mother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 April 2013

Aku menguap, kembali mengeluh akan diriku yang ingin tidur sekarang juga. Tapi suatu masalah membelengguku, dimana sekarang ayah dan ibuku bertengkar hebat. Dan oke, aku akui aku sama sekali tak mengurusi mereka, SAMA SEKALI! Tapi yang pasti sekarang diriku harus rela lingkaran mata hitam dimata itu menyapaku besok, karena aku tak bisa tidur, RIBUT!
Suara piring pecah, lah… Suara maki-makian, lah… Bahkan suara tamparanpun sesekali terdengar jelas dari kamarku. Padahal mereka di dapur, berjarak 5 meter dari kamarku! Sedahsyat itukah mereka bertengkar sampai terdengar dikamar ini?

Dan kau mau tahu mengapa aku tak mengurusi mereka? Menurutku percuma menangis, tak ada guna. Karena itu akan membuat suasana bertambah ribut saja. Lebih baik diam dan melakukan aktifitas lain. Aku memang sama sekali tak mengurusi mereka… Mau mereka cerai atau apalah, terserah! Lagipula yang sekarang bertengkar dengan ayahku hanya ibu tiriku, Bukan ibu kandung.

Justru aku bersyukur jika mereka bercerai, karena lebih baik aku jadi anak piatu dibanding punya ibu tiri. Dan itu prinsipku sejak dulu setelah mendengar kalau ‘ibu tiri’ itu menakutkan, terinspirasi dari cerita ‘Cinderella’. Siapapun pasti pernah mendengar cerita ‘Cinderella’, termasuk kau. Atau kau belum pernah mengenal ‘Cinderella’? Laki-laki gini aku tau, loh!

Oke, back to the story. Kini suara piring pecah terdengar begitu keras hingga membuatku serasa tuli.
“Aduh~ berisik amat!” keluh suara disebelah kamarku, kamar kakak kandungku. Oh, ternyata dia juga menyadarinya, ya?
“Kakak baru sadar, ya? Makanya jangan sms-an terus sama pacar kakak!” balasku tak kalah keras dengan suaranya tadi. Walaupun kamar kami dibatasi dinding, tetap saja, kalau berteriak pasti terdengar sampai kamar sebelah.
Terdengar suara lengkingan dari kamar sebelah, “Ih, masalah buat loe!”.
Aku terkekeh, menjahili kakak memang sesuatu yang lumayan mengisi waktu dibanding mendengar pertarungan dahsyat diluar sana.

***

Aku menatap kaca yang berada didinding kamarku. Dugaanku benar, lingkar hitam itu sekarang sedang menghiasi wajahku. Ini akibat tidak tidur semalam suntuk. Tentu saja kau tahu mengapa.
Aku berjalan sempoyongan munuju pintu rumah. Buruk, buruk, buruk! Aku bakal ditertawai teman-temanku karena lingkar mata htam ini.
“Wajahmu aneh,” ledek seseorang yang sukses membuatku memelototinya. Dan aku tahu siapa itu.
“Ih, sebagai kakak bukannya bantu adeknya kesusahan, malah mentertawainya!” semburku menahan kesal.
Kakakku terkekeh, “Iyalah~”.
Aku berjalan meninggalkan kakakku. Aku betul-betul kesal dengan kakakku sendiri!
“Adek~! Sepatunya belum dibawa, nih!” seru kakakku. Dan, oh, ya, aku malah memakai sendal jepitku menuju sekolah!
Aku menepuk dahiku, “Bodoh, bodoh~!” gerutuku frustasi. Dan terpaksa aku kembali kerumah untuk mengganti sendal jepit ini dengan sepatuku.

***

“Pagi…” sapaku lemas sambil berjalan memasuki kelas.
“Wha!! Ada apa dengan matamu, Han?!” tanya siketua kelas kaget, Edo namanya.
Aku tersenyum kecut. Akui, tidak, akui, tidak. Entahlah!
“Ano… Mataku hitam karena…”
“Tidak tidur?” potong seorang cowok, lebih tepatnya sahabatku. Dei namanya.
“Hahahahahaha… Kok tau?” tanyaku tersenyum kaku.
“Aku tau karena aku pintar,” jawabnya narsis tingkat stadium 4. Pinter, sih, pinter, tapi kenarsisannya itu, loh! Gak ada yang nandingin!
“Sok banget, kamu. Padahal masih pinteran aku, “seseorang menyahutnya dengan nada kesal, itu Raka. Oh, ternyata ada yang menandingi kenarsisan Dei, ya?
“Ih, kok kamu nyambung-nyambung, sih, Ka!” celetuk Dei kesal. Dei menatap Raka, orang yang menyahutnya tadi.
“Itu fakta. Aku ulangi, F A K T A!” jawab Raka ketus. Oke, kedua sahabatku ini sedang bertengkar sekarang.
“Eit, dah! Sebagai ‘friends’, ga boleh gitu, dong!” bujukku sambil memegang pundak mereka. Aku pasrah, mereka mau adu jotos, nih! Someone help meee! Bisa-bisa aku jadi target jotosan mereka!
“SETOOOOPPPP!!” teriak si ketua kelas, Edo, frustasi. Suara cemprengnya membahana sampai-sampai anak cewek maupun cowok menutup kuping mereka. Dan, oh yeah, termasuk aku!
“Iya, aku dah stop! Stop juga teriakan cemprengmu!” kata Dei mengalah. Sementara Raka menutup kupingnya kuat-kuat. Bisa-bisa gendang telinganya pecah, terus di bawa kerumah sakit, ujung-ujungnya duit keluar!
“Makanya, kalian gak usah brantem!” oceh Edo.
“Iya, iya…” jawab mereka berdua pasrah. Mereka berdua kapok, kalo berantem nanti ujung-ujungnya harus keluar duit karena teriakan gak jelas si Edo.
Aku tersenyum kemenangan, akhirnya mereka tak lagi bertengkar. Ini awal hari baikku didunia. Dan awal hari burukku akan menanti…

***

“Yohan, hari ini ibu sama ayah udah cerai,” kata kakak memberi tahuku saat aku pulang dari rumah.
“Baguslah,” kataku lega.
“Kok malah bagus, sih?” kata kakak bingung.
“Iyalah. Aku dari dulu gak mau punya ibu tiri! Nanti nasibku kayak ‘Cinderella’…” jawabku asal.
“Mana mungkin! Kamu itu cowok, tau!” bantah kakak. Aku hanya tertawa kecil. Aku berhasil menyinggung kakakku yang katanya ingin menjadi secantik ‘Cinderella’. Entah kenapa aku berpendapat menyinggung itu menyenangkan.
“Lalu gimana, nih?” tanya kakak bingung.
“Gimana apanya?” tanyaku balik.
“Ya kalau ibu dan ayah cerai, kita jadi anak piatu lagi, gitu!” jawab kakakku ketus.
Aku menatap kakakku, “Entahlah. tapi kalau memang iya mau gimana lagi?”.
Kakakku menghela nafasnya, “Nanti ita tanya ayah saja, ya?” tawar kakak.
“Oke,” jawabku. Kini tinggal waktunya menunggu ayah pulang dari kerja!

***

Aku senang, ternyata saat ditanya apa ayah akan menikah lagi, ternyata jawabnya tidak! Dan yeah! Aku jingkrak-jingkrak kegirangan diatas kasur kesayanganku. Tapi kakakku sebaliknya, dia justru terlihat lesu. Kenapa? Karena semua pekerjaan rumah tangga bakal dia kerjakan karena sekarang dia cewek sendiri dikeluarga ini.
“Mentang-mentang ayah jawab gak bakal mau punya istri lagi, jangan kesenengan gitu! Kalau tuh kasur kamu ompolin, aku bakal yang nyuci karena aku satu-satunya cewek disini!” gerutu kakakku yang entah sejak kapan sudah diambang pintu menyaksikanku berjingkrak-jingkrak ria.
Aku cemberut pada kakakku, “Ya enggak, lah, kak… Aku kan udah gede, gak bakal ngompol!” jawabku ketus.
“Tapi ada buktinya, tuh…” kakak menunjuk jemuran dibelakang rumah yang terlihat dari jendela kamarku. Itu karena kamarku bagian paling belakang rumah.
“GYAAA!!”

~Bersambung~

Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa
Halo, namaku Nisrina. Saat SD biasa dipanggil Oca, dan sejak SMP sering dipanggil Nisrina / Rosa. Umur 12 tahun (saat mengirim cerpen ini). Ini karya pertamaku yang aku kirim. Aku memang bukan seorang penulis cerpen, namun menulis cerpen itu hobiku. Apa ada yang aneh dari cerpenku? Kependekan? Aku menulis ini asal, sehingga menulis apa yang ada dibenakku saja tanpa memikirkan cerpen apa yang cocok untuk dikirim. Add fb-ku, ya… Nisrina Delia Rosa (gambarnya foto Sasori)! Yah, itupun kalau kalian mau.
Sekian, dan terima kasih
Salam
πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Cerpen With or Without Mother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Marisa

Oleh:
Ini tidak biasa, mama menjemputku lebih awal dari biasanya. Bahkan aku tidak menyelesaikan pelajaran terakhirku. “Terimakasih, ya, bu Yun.” Mama menatapku haru. Wajahnya sayu dan tergambar raut ketakutan. Ia

Setangkai Mawar Putih

Oleh:
Percayalah padaku, maksudku ini sungguh. Aku tak berbohong kali ini, aku mohon percayalah padaku untuk kali ini. Dan, sekarang aku akan bercerita tentang Kay and Key. Yah, tebakanmu benar.

Malin Kundang (Bukan) Anak Durhaka

Oleh:
Di jalan raya. Malin Kundang memacu kencang mobil sport, keluaran terbaru pabrikan asal Italia miliknya. Tak dihiraukannya, kiri kanan kendaraan yang lalu lalang mendekati kendaraannya. Matanya hanya fokus ke

Kita Saling Sayang

Oleh:
β€œBang difiiiin… keluarin nggak tikusnya!” teriak seorang gadis. Ia sekarang sedang terduduk lemas sembari memeluk kedua kakinya di pojokan kamar. Di dalam tasnya terdapat seekor tikus, salah satu hewan

Lelaki Tua yang Merindukan Bintang

Oleh:
“Ya, tapi entah kenapa untuk itu, Tuhan harus meminta tumbal!” “Tumbal?” — Malam mengalun. Lampu pijar menerang susah payah sebuah teras rumah sederhana. Pada sebuah amben reyot seorang lelaki

β€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *