XieZuo Shi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

Selamat malam. Ketika aku menulis cerita ini, di istanaku sedang malam. Matahari sudah kembali ke peraduannya semenjak satu jam yang lalu. Sebelumnya, aku ingin mengatakan sesuatu, aku selalu menulis saat malam hari -saat orang lain sudah bergulat dengan hal yang seringkali bukan menulis. Bukan karena apa. Bukan aku sok sibuk dengan sekolah seharian. Bukan. Aku bahkan tidak sekolah bulan ini. Itu konsekuensinya. Jika bulan lalu aku sudah sekolah, berarti bulan ini tidak. Dan begitu seterusnya.

“Lantas bagaimana dengan istana? bukankah seorang pangeran harus sekolah secara intensif?” pasti pertanyaan ini yang ada di benakmu. Iya kan? Haha. Iya aku memang pangeran. Tapi pangeran dalam duniaku sendiri. Ah, langsung saja aku mulai ceritanya ya. Tapi sebelumnya, selamat datang di tiongkok! XieXie.

Provinsi Xinhua-Tiongkok

Jadi begini, telah terjadi suatu keajaiban dalam istanaku minggu lalu. Ku sebut “Keajaiban,” karena peristiwa itu benar benar ajaib -dan menakjubkan (yah setidaknya bagiku). Selama ini, kegemaranku hanya satu, menulis. Tidak ada yang lain. Entah. Bila aku disuruh memilih untuk makan atau menulis pun, aku pasti lebih memilih menulis -yang tentu saja akan membuat sang raja marah terhadapku. Oh iya. Sang raja! Dia juga termasuk tokoh sentral dalam ceritaku. Dia adalah kakekku. Biasanya aku memanggilnya dengan sebutan Kakek Zhang. Di dalam istana ini hanya ada aku dan Kakek Zhang. Tanpa pengawal dan pembantu kerajaan satu pun. Kedua orangtuaku sudah wafat karena kecelakaan ketika ibuku mengandungku lima bulan. Untungnya aku selamat. Dan prematur. Jadilah aku hanya bersama dengan Kakek Zhang. Nenek? Hm, sebenarnya aku aku tidak begitu suka membahas istri kakek ini -karena gara gara dia aku mendapat julukan aneh dari Kakek Zhang. Ehm, nanti juga tahu. Oke. Kembali ke Kakek Zhang.

Kakek Zhang masih muda. Usianya memang 51 tahun, tapi semangatnya yang membuat ia terlihat seperti kakakku. Profesinya selain menjadi raja, ia adalah seorang tukang sapu berlisensi resmi di lingkungan sekolahku. Yang aku salut dengan Kakek Zhang adalah meskipun daerah wajib kerjanya hanya lingkungan sekolah, tapi ia sering menyapu hingga stasiun monorel yang jaraknya hampir 400 meter dari sekolah. Hebat bukan? Nah! Konflik bermula dari pemikiran aneh Kakek Zhang. Aku sudah tuliskan di awal bahwa aku suka menulis kan? Ketika aku kecil, Kakek Zhang membiarkanku-bahkan terkesan mendukung kesukaanku ini. Walau hanya bisa mendukung seadanya. Kakek Zhang kadang-kadang pulang dengan membawa setumpuk majalah anak-anak bekas yang dia dapatkan dari orang orang yang berbaik hati setelah mendengar kalimat kakek yang menyayat hati,

“Cucuku sangat gemar membaca dan menulis. Apakah anda ada majalah bekas untuknya?”

Dan begitulah. Akhirnya di istana bertumpuk majalah-majalah bekas. Tapi aku tidak pernah menganggap mereka bekas. Menurutku itu terlalu kasar. Mereka adalah referensi yang tersesat. Begitu saja. Agak besar sedikit, aku bisa ke perpustakaan umum daerah sendiri. Kakek Zhang sudah tidak pernah membawakanku majalah-majalah lagi. Tidak perlu juga sih sebenarnya. Di perpustakaan malah lebih banyak-dan tentunya tidak ada yang “Tersesat,” hihi. Dalam fase ini Kakek Zhang masih membiarkanku. Meskipun aku pernah tertidur di perpustakaan hingga esok paginya, karena terlalu asyik menulis malamnya.

Dan seminggu yang lalu! Adalah puncaknya. Ketika aku sudah lebih besar dari fase sebelumnya. Umurku genap 10 tahun sekarang. Kakek Zhang berubah. Makin lama ia makin cerewet atas kebiasaan menulisku. Aku ingat. Hari itu masih pagi. Kakek Zhang membangunkanku untuk sarapan kentang rebus seperti biasanya. Tapi ketika itu, entah mengapa wajah Kakek Zhang dirundung mendung. Aku tidak ingin mengusiknya. Jadi aku makan dalam diam. Begitu pula dengannya. Beberapa saat kemudian Kakek Zhang berucap.

“Daun. Kenapa kau tidak berhenti sekolah dan menulis untuk segera mulai membantu Kakek menyapu?” deg! Aku berusaha tenang dengan berlagak bodoh.
“Siapa kakek? Wo? Aku?”
“Tentu saja. Siapa lagi!” Kakek Zhang mengalihkan pandangan.
“Kenapa Kakek?”
“Kau tahu kan. Menyapu itu pekerjaan mulia. Itu bisa membantu membersihkan hatimu,” kali ini aku tahu Kakek Zhang sedang serius.
“Tapi Kek. Menulis itu–”
“Apa?!” Kakek Zhang memotong kalimatku, “Sudahlah. Kakek pergi dulu. Hen gaoxing renshi!1,”
Brak! Dan pintu tertutup sempurna dengan kasar. Yang semakin membuat runyam adalah malam harinya Kakek Zhang tidak pulang. Oh Tuhan, mengapa Kakek Zhang tidak mau mendengar penjelasanku tentang “Menulis.”

“Daun! Daun! Ayo bangun! Ayo sarapan!” tubuhku di tepuk perlahan. Siapa lagi yang memanggilku dengan sebutan ‘daun’ kalau bukan Kakek Zhang. Aku pernah menanyakannya mengapa, tapi kakek hanya berkata itu karena nenek. Aku seketika bangun. Dan semakin bahagia ketika melihat Kakek Zhang tersenyum. Apa dia lupa persoalan kemarin?
“Kakek. Apa Kakek menemukan Xie yang masih baik -lagi?”
“Tidak. Tapi Kakek ingin bercerita,” hm, sebenarnya ini agak aneh.
“Ada apa Kakek?”
“Pertama maafkan Kakek karena kakek tidak pulang semalam. Jadi,–” kakek membenarkan posisi duduknya, “semalam kakek bertemu dengan calon presiden. Ia sedang mencari wakil untuk dirinya-dan dia menawari Kakek. Tapi Kakek menolaknya. Karena Kakek merasa lebih bahagia menyapu daripada sekedar menjadi wakil presiden,” hening sesaat.

“Jadi bagaimana menurutmu Daun?” ehm, bagaimana ya, karena seingatku Kakek Zhang tidak pernah berbohong. Maksudku, aku bisa saja berkata, ‘Apa kakek sudah gila?! Itu kesempatan besar! Apa Kakek mau hidup Kakek begini-begini saja?! Aku benci Kakek!’ tapi bibirku kelu. Yang ada di pikiranku saat ini hanya, “Apa yang lebih membahagiakan daripada melihat Kakek Zhang bahagia?” dan aku menyetujuinya. Jadi aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Semua terserah Kakek,” kemudian kakek mengusap rambutku perlahan.
“Aku tahu Daun, kamu akan berkata seperti itu. Mungkin pikiran bijaksanamu ini disebabkan oleh kau yang sering membaca dan menulis ya? Hehe,” kami tergelak bersama.
“Jadi, menulis itu apa?”
Ini kesempatanku! “Xiezuo shi wo de linghun, wo de linghun ta3. Selain itu sepertinya menulis membuatku berani Kakek,” Kakek Zhang mengangguk. Kami berpelukan. Kemudian ia berbisik, “Teruslah menulis Daun.”

Oh ya. Sekarang aku tahu mengapa aku dijuluki daun oleh Kakek Zhang. Katanya, “Karena nenekmu bernama Embun,” Yah, aku juga tidak begitu paham sih. Kamu tahu maksudnya?-

Keterangan:
1. Senang betemu denganmu
2. Sepatu
3. Menulis adalah jiwaku, dan jiwaku di dalamnya

Cerpen Karangan: Aisyah Nihayah
Facebook: Aisyah Nihayah Ni’mah
Halo! sama dengan daun, aku juga sangat suka menulis di malam hari. Terima kasih sudah mau membaca cerpenku! sampai jumpa di cerpen selanjutnya. Xiexie.

Cerpen XieZuo Shi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Broken Home Is Test For You

Oleh:
Pagi itu aku di beri tau oleh orang tuaku tentang rencana perceraian mereka. Aku tak tau kenapa mereka mau bercerai… Padahal mereka akur akur saja selama ini “jadi gimana

17 Lembar

Oleh:
Mega merah mulai menampakkan warnanya. Semua orang mulai berlindung ke gubuknya untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Panji, seorang pujangga berkepala batu ini.

Goresan Terakhir Dicky

Oleh:
Terlihat seorang anak laki laki berusia 6 tahun yang sedang berlarian di koridor rumah sakit sambil menenteng boneka Stitch kesayangannya. Disitu pula terlihat gadis cantik yang tengah mengejar anak

Mutiara Hati Yang Terlupakan

Oleh:
Bukan orang yang sepandai Albert Einsten. Bukan juga orang yang sekaya Presiden Obama di Amerika. Sederhana, tidak banyak tingkah, lugu, pendiam, itulah diriku. Tidak banyak teman yang kumiliki, ‘sendiri’

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *