Yang Ada Menjadi Tiada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 December 2017

Gadis berambut ikal itu mendekapkan kedua tangannya tepat di depan dada sembari memejamkan kedua matanya. Terdengar kata aamiin dengan lirih dari bibir mungilnya. Tak lama ia membuka kedua matanya kembali. Bulu kuduknya merinding, suara angin di malam hari terasa di telinganya ketika ia fokus memandang ke depan. Beberapa kali ia tahan nafas serta air matanya agar tak jatuh membasahi pipi chubby-nya. Lengkukan senyum dari bibir tipisnya begitu menawan menandakan rasa ingin memiliki apa yang ia pandang sekarang ini. Kedua matanya tak sanggup menahan debit air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya. Buru ia usap air matanya dengan tangannya, namun tangan kanannya tertahan oleh sebuah tangan yang menggenggam erat. Gadis ikal pun menoleh ke arah empu pemilik tangan itu. Mereka saling memandang.

“Tenanglah. Kamu masih memilikiku. Selamanya.” Ucap kalimat seorang pria tepat di telinga kecilnya lebih tepatnya bisikan untuknya sembari menghapus air mata bidadarinya.
“Ayo, pergi dari sini!” Ajak gadis ikal tersebut.

Pria berusia sepantaran dengannya menggandeng tangan bidadarinya ke luar gedung. Namun sampai di lobby gadis ikal bernama Rieffy itu melepas genggaman pria itu. “Aku ingin pulang. Kamu kembalilah. Dan maaf sudah mengajakmu keluar acara.” Ujarnya sembari menghapus sisa air matanya. “Dan terima kasih atas kepeduliannya,”
“Mari aku antar. Oh ya kenalin aku Mifta. Anak 12 IPA 3. Kamu teman sebangkunya Himi kan?” Kata Mifta ketika mengulurkan tangannya sebagai syarat pengenalan.
Rieffy pun mengangguk dan menerima uluran tangan darinya. “Hmm, tak usah Kak. Aku bisa sendiri.”
“Tak apa aku temani. Lagi pula sepertinya kamu membutuhkan teman.”
Senyum Rieffy merekah terlukis lesung pipinya yang terlihat jelas. “Baiklah. Terima kasih.. tapi, malam ini aku membawa sepeda lalu kakak?”
“Aku bonceng naik sepedamu. Masalah pulangnya gampang.”

Jarak gedung dengan rumah Rieffy cukup jauh. Sepanjang jalan mereka isi dengan percakapan yang menarik.
Rasa ingin tahu Mifta tentang Rieffy begitu mengganjal di hatinya. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Rieffy yang seharusnya ia tak menangis disaat hari bahagia teman sebangkunya. Namun sekarang ia begitu senang kembali ketika Rieffy tak menangis lagi melainkan tertawa mendengar ceritanya dengan nafas tersengal.

Perjalanan sekitar 45 menit pun sampai di depan gerbang Rieffy. Pun turun dari boncengan. Pandangannya begitu sayu dan senyum serta tawa yang baru saja hadir mengelabui pada saat itu juga. Terdengar suara keras dan kuat sepasang lawan jenis lebih tepatnya kedua orangtuanya. Terdengar pula sesegukan dari sang istri.
Refleks Mifta menarik tangan Rieffy ke boncengan dan membawanya menjauh dari rumah Rieffy. Dituntunnya kedua tangan Rieffy untuk melingkar di pinggang Mifta.
Rieffy diam seribu bahasa. Dia tak menolak ataupun membatah. Dia menahan air matanya agar tak jatuh kembali. Baginya haram untuk menangis di depan orang yang baru ia kenal dan baginya menangis adalah situasi dimana kita tak mampu mengontrol diri sehingga terbuka semua hidupnya dan di saat itulah di titik kita terlemah.

Mifta menghentikan lajunya ketika sampai di Sekolah. Pun turun dengan menggenggam tangan Rieffy dan menuntunya ke Sekolah. Rieffy masih mengikuti perintah Mifta tanpa mengucapkan sekecap katapun. Mereka menuju ke lantai paling atas dengan menaiki tangga yang disinari dengan senter dari Hp Mifta.

Sampai lokasi, Mifta melepas genggamannya. Ditatapnya wajah Rieffy dari samping yang sedang mengamati pemandangan langit di malam hari. Rieffy pun melangkah pelan sembari menarik nafas dalam dalam, dihiruplah angin malam hari, dan dihembuskan nafas yang penuh beban. Nafas yang penuh rahasia. Serta nafas yang penuh secercah harapan dengan tangisan keras. Suara sesegukan keluar dari mulutnya. Ia keluarkan semua rasa amarah, rasa kesal, rasa sedih yang menumpuk di dalam kalbunya. Hingga ia terjatuh, menumpu badannya dengan kedua lutut dan kedua tangannya sembari tundukkan kepalanya. Ia meracau tak jelas bak orang mabuk.

Mifta merangkul Rieffy dari samping. Sakit hatinya melihat wanita yang disukainya seperti ini. Seperti bukan Rieffy biasanya yang selalu ceria, bahagia, jail, dan senyuman yang menawan. Rieffy menempelkan kepalanya tepat di dada Mifta. Rangkulan Mifta semakin erat sesekali ia mengelus rambut ikal Rieffy yang tertiup angin kencang menutupi wajahnya.

“Maaf kak. Aku menangis.” Ucapnya lirih hampir tak terdengar. Rieffy mengatur nafasnya agar berjalan normal kembali. “Aku iri melihat ulang tahun Himi. Bukan iri dengan hadiah handphone barunya melainkan iri dengan pelukan dan ciuman dari kedua orangtuanya. Iri dengan sejuta doa tulus dan indah dari orangtuanya. Iri dengan senyuman bahagia dari mereka. Aku iri dengan kesibukan orangtuanya yang mampu hadir di acara bahagia Himi. Iri dengan pandangan dari orangtuanya yang begitu mengharapkan kebahagiaan serta kesuksesan Himi kelak. Aku… iri… Kak.”
“Bukankah hal sepele yang aku irikan..?! hal yang mudah didapatkan seharusnya. Sesuatu hal kecil yang aku tangisi seolah aku childish. Aku sama dengan Himi. Orangtua pun masih lengkap. Sehat iya. Namun aku tak mampu merasakan keberadaan orangtuaku sebenarnya, seperti apa mereka, apakah mereka sayang padaku tidak… aku tak mampu merasakan itu. Aku seperti hidup sendiri, seperti tak ada yang mempercayaiku kalau aku mampu mewujudkan harapan mereka.”
“Mereka mengikuti ego masing masing. Saling membenci, saling menyalahkan satu sama lain seolah mereka telah melupakan kebersamaan selama ini. Entah harus percaya dengan mana, harus membela yang mana, harus berpihak yang mana. Entah. Aku tak tau!!”
“Bukankah mereka benar benar ada dalam hidupku..namun entah mengapa, rasa yang ada itu seolah menjadi tiada sekarang..”

Mifta mendengar dengan jeli setiap kata yang diucapkan Rieffy. Hingga Ia merasakan aura amarah Rieffy dengan curhatannya dengan jelas menandakan Rieffy butuh teman. Rasa bangga dan salut untuk Rieffy yang mampu menutupi sejuta luka keras di hatinya hingga menjadi batu mampu ia tutupi yang mungkin orang lain akan tak menyangka dengannya atau mungkin menganggapnya memiliki dua kepribadian.
“Menangislah hingga kamu benar benar lega dan pulih. Aku akan menemanimu. Anggaplah aku cerminmu. Yang tak akan mengelak, menolak, menjawab semua ucapanmu. Cermin ini akan menuangkan isi hatimu, dan dengan cermin ini pula kamu tau bahwa esok hari kamu akan ceria kembali.”
“Terima kasih, Kak untuk malam ini, hari ini dan esok hari…”

END

Cerpen Karangan: Riefilna

Cerpen Yang Ada Menjadi Tiada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Juara Pertama Yang Berkesan

Oleh:
Pagi ini, adalah hari pengambilan raport di salah satu SD yang berada di desa Sriwangi. Para wali murid telah berdatangan memadati halaman sekolah, untuk mengambilkan raport anaknya. Tak hanya

Percayalah

Oleh:
Langit mendung. Tapi belum ada setetes pun air kehidupan yang turun dari langit. Rasanya, hujan itu masih menggantung enggan untuk turun. Awan itu muram. Mungkin menahan tetesan air agar

Love Hour (Part 4)

Oleh:
Segelas teh limun dingin menyegarkanku kembali setelah berkutat dengan dua matakuliah memusingkan di hari Senin ini. Kevin nampak menikmati biskuit gandum krim cokelatnya -satu pak ukuran besar yang nampaknya

Buku Harian Seorang Tapol

Oleh:
Namaku Parto Giman. Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Yang Ada Menjadi Tiada”

  1. Won Gofgip says:

    Mantap ni cerpen. Bikin dek-dekan. Terimakasih gan. Mampir ke blog saya juga ya gan. Ni alamatnya. juraganblogku.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *