Yang Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 24 January 2017

Banyak yang mengatakan bahwa kasih sayang seorang ayah tidak lebih dari kasih sayang seorang ibu. Tugas ayah hanyalah mencari uang untuk kebutuhan hidup keluarganya. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Masih banyak ayah yang memperhatikan kehidupan anaknya. Meskipun tanpa sepengetahuan anaknya. Banyak ayah yang rela menyita waktu istirahatnya untuk mengumpulkan uang untuk kebutuhan sekolah anaknya. Banyak juga ayah yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya hanya untuk kebahagiaan anaknya. Namun sayangnya, tidak semua anak yang membalas kasih sayang ayahnya dengan baik. Banyak anak yang selalu saja melawan ayahnya. Banyak anak yang selalu saja meminta sesuatu yang sulit untuk didapatkan ayahnya. Cerita di bawah ini adalah salah satu contohnya.

Hidup di lingkungan yang serba kekurangan membuat Bagas membenci hidupnya. Bagas adalah anak bungsu di keluarganya. Bagas tinggal bersama ayah dan dua kakaknya. Ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Bagas masih berusia 10 tahun. Ibunya meninggal dalam kecelakaan beruntun saat ingin menjemput Bagas. Hari itu adalah hari yang sangat tidak diinginkan oleh Bagas. Hari itu, ayahnyalah yang seharusnya menjemputnya. Tetapi, pekerjaan ayahnya masih banyak dan ibunyalah yang jadi menjemputnya. Ibunya menjadi korban kecelakaan beruntun. Sejak saat itu, Bagas membenci ayahnya. Karena baginya yang seharusnya ada saat kecelakaan itu adalah ayahnya bukan ibunya. Dia menganggap bahwa ayahnyalah penyeban kematian ibunya.

Ayah Bagas bekerja sebagai penjahit dan juga tukang ojek. Beberapa bulan terakhir ini, ayahnya sangat sibuk. Banyak orang yang memberikan pakaian untuk dijahit oleh ayah Bagas. Usia Bagas sekarang telah mencapai 17 tahun itu berarti sebentar lagi dia akan menamatkan sekolahnya. Bagas bukanlah anak yang baik, karena ayahnya terlalu sibuk mengurus pekerjaannya. Pergaulan Bagas juga tidak baik. Teman-temannya menjerumuskannya ke kehidupan yang tidak seharusnya dilakukannya. Teman-temannya membuat Bagas jadi kecanduan oleh nark*ba. Ayah dan kakaknya sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Bagas tidak pernah mengatakannya pada keluarganya. Namun, ayahnya merasa ada yang aneh dengan Bagas. Nilai-nilai Bagas turun, perilakunya juga semakin memburuk. Bagas sering meminta uang yang banyak kepada ayahnya, meskipun ia tahu bahwa ayahnya tidak memiliki uang. Terkadang jika keinginannya tidak dipenuhi, dia akan melakukan hal yang tidak baik. Kadang dia mau menghancurkan barang-barang yang ada di rumahnya.

Hari itu, pulang dari sekolah Bagas menemui ayahnya yang sedang sibuk menjahit. Dia meminta uang kepada ayahnya. Ayahnya mengatakan bahwa sekarang ia tidak memiliki uang. Bagas tidak mempercayai perkataan ayahnya itu. Dia mengobrak-abrik lemari ayahnya. Ayahnya sudah melarangnya, tetapi dia malah mendorong ayahnya sampai terjatuh. Beberapa saat kemudian dia menemukan beberapa uang ayahnya. Ayahnya melarang Bagas mengambil uang itu, karena uang itu akan digunakan untuk membayar keperluan sekolah Bagas. Bagas tidak mengdengarkan perkataan ayahnya. Setelah mendapatkan uang itu, dia langsung pergi. Ayah Bagas mengikuti anaknya itu. Dia sangat ingin tahu mengapa anaknya berubah.

Bagas berhenti di suatu tempat, ayahnya terus memerhatikannya dari kejauhan. Ayahnya terkejut saat melihat benda yang di pegangan Bagas. Tanpa pikir panjang, ayahnya langsung mendekati Bagas dan memarahinya. “Benda apa yang kamu pegang ini? mengapa kamu melakukan ini? sejak kapan kamu menggunakannya? Bagas jawab ayah!”. Bagas tidak mendengarkan perkataan ayahnya. Dia meninggalkan ayahnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia melihat beberapa orang berpakain seragam abu-abu-coklat. Itu adalah polisi. Ternyata, jual beli nark*ba yang dilakukan oleh teman Bagas ini sudah menjadi buronan polisi. Saat itu juga polisi mengejar Bagas. Bagas sangat bingung dia berlari sekuat tenaganya. Ayah Bagas juga melihat kedatangan polisi itu. Dia lari mengejar Bagas dan berkata “Berikan benda itu ke Ayah. Ayah akan menggantikan posisimu. Cepat berikan benda itu!”. Bagas ragu memberikannya. Jika dia memberikan benda itu, maka ayahnya akan dalam masalah besar. Tetapi jika dia tetap memegang benda itu maka dialah yang berada dalam masalah besar. Bagas memutuskan untuk tidak memberikan benda itu ke ayahnya. Tetapi ayah Bagas merampas benda itu dari tangan Bagas. Bagas menghentikan larinya, dia memarahi ayahnya “Ayah apa yang kau lakukan? Berikan benda itu kepadaku. Aku tidak akan tertangkap oleh polisi-polisi itu”. Ayah Bagas hanya menyuruhnya untuk berlari. Awalnya Bagas tidak mau tetapi ayahnya terus memaksa dan akhirnya dia lari meninggalkan ayahnya.

Usia yang sudah tidak muda lagi membuat ayahnya kecapekan. Ayahnya terhenti dan saat itu juga polisi menangkapnya. Dia tidak melakukan pembelaan dia hanya mengikuti polisi itu. Bagas melihat semua itu dari kejauhan. Dia berniat untuk membantu ayahnya, tetapi teman-teman yang tadi meninggalkannya melarangnya. Bagas melihat semua itu dengan perasaan bersalah. Tidak seharusnya ayahnya yang ditangkap oleh polisi. Sedikit demi sedikit air matanya turun. Rasa bersalahnya sangat besar kepada ayahnya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, ayahnya dipenjara. Bagas melihat ayahnya dan meminta maaf kepada ayahnya. “Ayah… maaf. Karena aku Ayah menjadi begini. Tidak seharusnya Ayah dipenjara seperti ini. Mengapa Ayah mengambil benda itu dariku?” ucapnya pelan. “Sudahlah, hal itu tidak usah kamu pikirkan. Sekarang fokuslah kepada sekolahmu. Ayah mau kamu lulus dengan nilai yang bagus. Kakakmu akan mencari uang untuk kebutuhan kalian. Dia akan menggantikan tugas Ayah. Ayah sangat berharap agar kamu jangan lagi menggunakan benda itu. Ayah harap kamu mendengarkan perkataan Ayah ini” balas ayahnya menasihati. Bagas hanya mengangguk. Air matanya turun lagi. Ayah memeluk Bagas dengan hangat. Bagas masih merasa sangat bersalah. Namun, sekarang dia akan mengikuti perkataan ayahnya. Dia akan membanggakan ayah dan kedua kakaknya.

Sejak saat itu, Bagas selalu mengerjakan hal yang berguna baik untuk dirinya maupun orang lain. Setiap minggu dia mengunjungi ayahnya, dia juga selalu menceritakan apa yang telah ia lakukan. Mendengar cerita itu ayahnya sangat senang. Ayahnya senang karena Bagas telah berubah. Ayahnya sangat bangga kepada Bagas.

Oleh karena itu teman, kita sebagai anak haruslah selalu mendengarkan perkataan orangtua kita, baik itu ayah ataupun ibu. Kita tidak boleh melawan mereka. Kita juga harus selalu menyayangi mereka. Kita harus selalu memberikan yang terbaik untuk mereka. Buatlah mereka senang karena tingkah laku kita.

Cerpen Karangan: Weni Astuti
Facebook: Weni Astuti
Hai, perkenalkan nama saya Weni. Saya punya cita-cita yang banyak. Salah satunya mau jadi penulis. Bagi teman – teman yang mau lebih kenal lagi dengan saya, kirim aja pertemanan di facebook saya.

Cerpen Yang Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Midnight Clown (Part 3)

Oleh:
Aku terus menerus menangis menyesali perbuatanku. Aku sama sekali tidak menduga jika badut itu adalah ayahku sendiri. Lantas apa yang terjadi pada Ayahku? sebenarnya apa yang mau disampaikan olehnya

Menghadapi Segala Cobaan

Oleh:
Hal yang menyedihkan terjadi pada akhir tahun 2010, tepatnya ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Di mana semua hal indah yang ku miliki hilang perlahan. Seperti

Rain

Oleh:
Aku menangis dalam melodi hujan. Mengenang sebuah kenangan, yang tak mungkin kembali. Aku menjerit melampiaskan kemarahannya pada hujan. Yang telah melenyapkan seorang ‘Malaikat tak bersayap’ Pagi telang tiba. Tapi

Mengejar Cita

Oleh:
Pagi itu Dani ingin sekali bersekolah, tapi dengan kondisi keuangan yang tidak mencukupi. Dani sementara tidak bisa melanjutkan sekolah. Ibunya sehari-hari mencari nafkah sebagai penjual nasi. “Bu, kapan aku

Di Balik Doa

Oleh:
Hari ini mulai ku tulis sebuah alur hidupku yang banyak melibatkan air mata. Tentang pahitnya menghadapi kenyataan yang sebenarnya harus selalu aku lewati, Memohon agar dapat diberikan umur yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *