Alamak! Puding Jatuh!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 12 February 2014

Setelah aku dan keluargaku melaksanakan solat Idul Adha, kami segera bersiap-siap ke masjid untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Papa dan abangku sudah pergi duluan. Sedangkan aku, adikku, dan mama masih siap-siap. Sebenarnya aku sih tinggal berangkat. Tapi kalau berangkat awal itu tidak menyenangkan, karena di sana nanti aku akan bosan. Kalian tau apa maksudku kan? Ya, semua orang suka terlambat. Jadi, kalau aku datang lebih awal, di sana hanya ada sedikit orang saja.

Ketika aku melihat jam, jarumnya menunjukkan pukul 08.30 WIB, ya waktu yang paling tepat untuk berangkat. Aku berangkat dengan ninja. Ninja itu adalah nincak jalan hehe.

Setelah sampai di sana, aku melihat 4 sapi yang sangat besar, juga 4 domba yang gemuk. Ketika aku melewati semua hewan kurban itu rasanya ada bau sesuatu. Ketika aku melihat ke bawah, astagfirullah TAI ternyata!? Arggh aku berusaha tidak menginjaknya.

Lalu aku menuju ke lantai dua halaman masjid untuk melihat proses penyembelihan kurban. Melihat sapi disembelih dari atas itu sangat menyenangkan karena bisa melihat dari jauh tapi jelas. Apalagi sapinya sangat besar, jadi cukup sulit untuk menyembelihnya. Ya harus ada tenaga ekstra gitu.

Setelah melihat 1 sapi dan 3 domba disembelih, temanku Lina mengajakku jajan. Aku baru sadar kalau dia ada di sebelahku dari tadi.
“Jajan yuk Mbak?” Ya, aku lebih tua 2 tahun darinya, jadi dia memanggilku Mbak. Bukan mbakekok ya!? “Ayo!” jawab aku.
Kami pergi ke warung Arigato. Ya Arigato adalah nama warung yang ada di dekat masjid kami. Di warung, aku membeli keripik pedas, roti dan permen loli. Sedangkan Lina hanya membeli minuman botol.

Setelah jajan kami kembali ke masjid. Belum sampai masjid, kami bertemu dengan Bu Ratna yang sedang memegang tangan cucu bulenya. Maksudnya cucunya itu mirip bule.
“Nak, tolong antarkan Belinda ke rumah ya? Katanya mau pulang aja.” Ya, Belinda adalah anak kecil yang masih berumur 4 tahun. Mana mungkin dia pulang sendirian? Jadi kami menerima permintaan Bu Ratna. “Yuk, Bel kita pulang.” Ajak Lina.
Kami pun mengantarnya pulang, untung saja rumahnya tidak jauh. Ya agak jauh sih dari warung Arigato.

Setelah sampai di rumahnya, mama Belinda membukakan pintu. “Kenapa dibawa kesini lagi?” aku curiga apa mama Belinda masih sayang pada anaknya? Ya aku tau mama Belinda hanya bercanda. “Tadi disuruh Bu Ratna dibawa kesini.” Kataku. “Oh, ya udah terimakasih ya.” Kami menjawab, “Iya.” Kami pun kembali ke masjid.

Di tengah jalan Lina menyuruhku berhenti dulu, katanya dia sakit perut. Yaiyalah, suruh siapa dia minum itu minuman botol sampai habis setengahnya sambil berjalan? Mana minumannya dingin lagi, dan masih pagi LAGI.
“Ya sudah duduk dulu di sana aja yuk.” Aku menunjuk ke kursi sebelah warung Arigato. Untung saja ada kursi di sana, jadi kami bisa duduk dulu. Lalu mbak Risa tiba-tiba melewat. “Eh, Mbak Risa bawa apa tu?” kata ku. “Bawa kamera ya?” Tanya Lina. “Iya dong, kan anak gaul.” Jawab mbak Risa. “Kalau anak gaul, foto kami dong, kita kan anak gaul juga. Kalau nggak, berarti Mbak bukan anak gaul!”
“Iya-iya.” Mbak Risa pun mengeluarkan kamera SLR-nya. Kami berdua pun bergaya, JEPRETT!!!
“Udah yaa, Mbak duluan assalamua’laikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Jawab kami berdua.
Lalu tiba-tiba bu Rea lewat, kami pun tersenyum padanya, dan dia pun membalasnya juga dengan senyuman. Aku lihat, dia membawa keranjang yang cukup berat.

“Udah yuk Mbak, ke masjid lagi.” Kata Lina, aku pun mengiyakannya. Dan di depan ada bu Rea lagi. Karena kami jalannya cepat, kami bisa menyusul bu Rea. Ketika kami berpapasan dengannya kami salam dulu. Setelah itu kami pamit, “Duluan ya Bu.” Kataku. Eh, gak kasihan ya bu Rea lagi membawa sesuatu yang kelihatannya berat? Aku pun langsung berbalik arah menuju bu Rea lagi, dan Lina pun mengikutiku. “Sini Bu, kita bantu.” Kataku. Lina pun berlari kecil ke arahku untuk membantu bawa keranjang itu juga.

Aku mengintip keranjang yang ditutupi dengan plastik, dan ternyata isinya puding cokelat. Kayaknya untuk komsumsi yang lagi mengurusi hewan kurban nih. Ketika kami membawanya, ternyata memang berat keranjang itu, untung kami segera bantu membawakannya.

Rencananya aku saja yang membawa keranjang itu sendirian, tapi karena berat, berdua saja deh. Dan ketika di tengah jalan, kami kehilangan keseimbangan, dan gubrak! Semua puding bertebaran di mana-mana.
“Haduh, maaf Buu, maaf kami tidak sengaja.” Kataku. Aku melihat wajahnya merasa was-was dan sedih. Dia segera memungut kembali puding itu, aku dan Lina pun membantunya.
“Kenapa bisa jadi begini?” kata Bu Rea lirih.
“Maaf ya Bu, maaf banget.” Kata kami berdua.
“Iya gak papa.” Jawabnya sambil memungut puding yang sudah terpisah dari wadahnya. Haduh kenapa bisa begini? Niatnya membantu, malah dapat musibah. Astagfirullah cobaan dari Allah, aku harus sabar. “Untung yang lepas cuma sedikit.” Kata bu Rea lirih. Ya, yang pudingnya lepas dari wadahnya hanya 8. Tapi tetap saja kami merasa bersalah.

Setelah semua puding itu sudah ada di atas keranjang, kami pun membawanya lagi dengan sangat hati-hati. Ya, jangan sampai pudingnya jatuh lagi.
Dan akhirnya kami pun berhasil membawa puding itu dengan selamat sampai gerbang mesjid. Di sana kami bertemu Dicky. “Asikk ada puding mau satu dong!” katanya. “Jangan dulu yaa.” Aku berkata begitu karena puding itu ada yang lepas dari wadahnya jadi pudingnya ada yang kotor. Jadi, aku takut Dicky malah mengambil puding yang lepas itu. “Maaf yaa!” kataku lagi. Kami pun pergi ke dalam masjid.

Lalu kami bertemu Shilla. “Mau ihh!” teriaknya. “Nanti dulu.” Bisik Lina. “Gitu ih!” kata Shilla lagi. Aku langsung membisiknya, “Tadi pudingnya jatuh, jadi nanti dulu ya, kita mau periksa dulu mana yang lepas pudingnya dari wadah dan mana yang nggak.” Dia pun mengangguk, dan mengikuti kami ke dalam ruangan dekat masjid. Lalu datang bu Rea.
“Cari yang tadi kotor ya.” Kata bu Rea.
“Emang jatuh di mana Mbak?” Tanya Shilla padaku.
“Rahasia.” Lina yang menjawab. Aku pun hanya diam, dan Shilla cemberut.
“Tadi Lina melamun jadi bawanya gak seimbang, dan akhirnya jatuh.” Kata bu Rea tiba-tiba. Ya waktu kami bawa, bu Rea ada di belakang kami, jadi dia melihat semuanya. “Iya gitu Bu?” Tanya Lina. “Iyah.” Jawab Bu Rea. Di situ aku rada tenang, karena kayaknya bu Rea menyalahkan Lina daripada aku. Tapi tetap saja aku merasa bersalah.

Selesai.

Cerpen Karangan: Aftina Yusliha
Facebook: Aftina Yusliha
Hai perkenalkan nama saya Aftina Yusliha. saya biasa dipanggil Yusi atau Tina. Saya masih kelas 10 SMA. nama facebook saya: Aftina Yusliha, dan twitter saya: @aftina_yusliha. kalau mau mengenal saya lebih dalam lagi atau menanyakan sesuatu, hubungi FB dan Twitter saya saja ok!!? makasih… 😀

Cerpen Alamak! Puding Jatuh! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You And My Umbrella

Oleh:
Tiga Puluh. Tiga puluh menit sudah aku menunggu teman-temanku di gang depan desaku. Rencananya kami mau bolang ke Surabaya. Sebenarnya yang paling berkepentingan dalam perjalanan kami hari ini adalah

Kenangan Berharga

Oleh:
Aku mulai mengenalnya ketika aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Tetapi aku dengan dia tidak terlalu akrab. Barulah ketika memasuki kelas 6 SD, aku menjalin persahabatan yang

Rumah Baru Gua Berhantu

Oleh:
13 september 2013 Ini adalah hari pertama keluarga gue pindah ke rumah baru. Awalnya semua seneng banget, termasuk gue. Dalam fikiran gue, udah kebayang rumah baru yang bakal kami

Because Your Smile

Oleh:
Biasanya pengalaman kisah cinta seseorang sudah pasti berbeda, ada yang berakhir dengan bahagia ataupun ada yang berakhir menyedihkan bahkan menyakitkan. Dan terkadang kisah cinta seseorang memberikan kesan yang mendalam

Berkunjung ke Negeri Dongeng

Oleh:
Sabtu, 18 Mei 2013 Di pagi yang cerah itu, aku bergegas menuju ke masjid. Kakiku melangkah dengan cepat. Hatiku risau. Sepertinya aku telah mengecewakan teman-temanku karena telah membuat mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *