Berdiri Tanpa Kaki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 29 May 2014

Satu lagi kisah nyata yang aku tulis dengan harapan dapat meginspirasi kita semua dalam menjalani kehidupan. Kisah ini datang dari orang yang belum lama aku kenal. Aku nggak tau meskipun aku baru mengenalnya, aku telah merasa dekat dengan dia. Aku dan dia sering bertukar fikiran semenjak dia hadir dalam dunia Blackberryku. Saat itu aku masih mengaggap bahwa hal itu wajar-wajar saja, karena banyak orang yang hanya berteman di dunia maya tanpa peduli akan dunia nyatanya. Ketertarikanku untuk lebih mengenalnya mulai datang ketika ia menceritakan apa yang tak seharusnya diceritakan kepada orang yang baru dikenal. Beginilah cerita selengkapnya…

“BERDIRI TANPA KAKI”

Siang itu ketika matahari tepat berada di atas kepala, aku yang duduk di teras rumah menikmati secangkir kopi bersama adikku merasakan panasnya siang itu. Angin yang bertiup membawa kesejukan tidak mampu mengusir panas yang terasa. Hanya menerbangkan dedaunan yang berserakan di halaman rumah. Matahari masih membanggakan panasnya, kopi yang ada setengah tersisa sementara aku dan adikku tak sepatah kata pun berbicara. Aku sibuk dengan hayalanku, ia sibuk browsing dengan handphone Nokianya. Walaupun Blackberryku lebih canggih, tapi aku memang jarang meggunakannya semenjak aku menyandang status jomblo. Aku lebih sering menikmati kesendirianku dengan menulis, bermain gitar atau terkadang bermain futsal. Begitu juga siang itu, ketika hayalanku mulai membawaku pada lagu lawas yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya dengan penggalan syair “Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan”. Aku nggak tau apa yang membawa hayalanku pada lagu itu, yang jelas lagu itu mampu mengusik duduk manisku dan memaksa aku larut dalam rasa penasaran.

Kuminta adikku untuk mencari lirik sekaligus chord gitarnya selagi aku ke kamar mengambil gitar akustikku. Di kamar, aku melihat sinar merah menyala kelap-kelip pada Blackberryku. Aku ambil saja tapi tidak langsung memeriksanya. Aku bawa keluar bersama gitar akustikku. Belum sempat adikku menyimpan lirik dan chord lagu yang kuminta, aku telah kembali dengan membawa gitar akustik dan Blackberryku. “Gimana, udah ketemu?” tanyaku kepadanya. “Udah bang, belum aku save” jawabnya.

Sementara aku menunggu, aku buka Blackberryku untuk mencari tau siapa yang mengirimkan pesan kepadaku. Ternyata bukan pesan baru, hanya sebuah permintaan pertemanan dari orang yang tidak kukenal. Dan disinilah awalnya…
Ira, adalah nama yang tertulis pada display name setelah aku konfirmasi permintaan pertemanannya. “Udah aku save nih Bang” kata adikku menyapa. “Mainkan lagu itu samaan yuk” sahutku. Matahari boleh bangga pada panasnya, angin boleh sombong pada keras hembusannya, namun aku dan adikku tetap memulai memadukan suara yang sama sumbangnya. Kupetik terus gitarku diiringi suara cangkir yang dipukuli sendok oleh adikku. Saat itu sepertinya duet kami mengalahkan duo Australia Graham Russell & Russell Hitchcock.

Di tengah lagu tiba-tiba terdengar nada pengingat pesan dari Blackberryku. Kuhentikan petikan gitar, adikku perlihatkan raut muka kesal lalu kubuka pesan yang baru saja aku terima. Dan ternyata pesan itu dari Ira, seorang gadis yang baru saja aku konfirmasi permintaan pertemanannya. Inti dari pesan yang dikirimkan Ira hanyalah rasa kagum akan rangkaian kata yang mengisi Personal Message pada Blackberryku. Aku tanggapi kekaguman Ira atas rangkaian kataku dengan biasa saja tanpa rasa bangga. Aku sudah terbiasa mendapatkan pujian dari teman-temanku karena rangkaian kata-kataku. Mungkin itu sebabnya aku merasa biasa saja menanggapi kekaguman Ira.

Rupanya Chatting antara aku dan Ira tidak berhenti disitu, Ira sepertinya terbiasa memperluas topik bahasan saat berkomunikasi dengan seseorang. Buktinya dia berhasil memancing aku untuk lebih terbuka dalam bercerita. Melihat pandangan mata yang tak lepas dari Blackberryku, entah karena bosan ataukah apa, adikku memilih meninggalkanku sendirian. Gitar masih dalam pelukanku, chatting dengan Ira terus berlanjut. Kami berbicara tentang masa lalu masing-masing dimana Ira bercerita tentang mantan kekasihnya yang telah tiada dan aku pun bercerita tentang mantan kekasih yang kini tengah menjalani hubungan dengan kekasih barunya. Aku baru tau kalau Ira ternyata mengenal mantan kekasihku bahkan Ira mengenal siapa kekasih baru mantan kekasihku itu. Jelas hal itu membuatku semakin penasaran dengan sosok Ira, sejujurnya lebih karena keingintahuanku tentang kekasih baru mantan kekasihku.

Siang itu kami berdua larut dalam cerita masa lalu sampai aku tersadar bahwa matahari tak lagi sepanas tadi, angin tak lagi mampu menerbangkan dedaunan dan aku tak lagi bersama adikku. Aku yang sendiri dikejutkan dengan datangnya sekumpulan bocah yang satu di antara mereka membawa sebuah bola kaki yang terbuat dari plastik. Mereka adalah teman-teman adikku, mereka mencari adikku untuk diajak bermain sepakbola. Disana aku menyadari bahwa siang telah berganti menjadi sore hari disaat aku dan Ira terbawa serunya suasana tukar cerita masa lalu dengan perantara Blackberry Messager.

Aku yang tersadar akan sore hari yang datang meminta Ira untuk menyimpan sisa-sisa ceritanya untuk disampaikan nanti setelah aku mandi dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang yang terlahir dalam keadaan muslim. Ira tak keberatan dengan permintaanku karena Ira juga merupakan seorang muslim yang harus melaksanakan kewajiban yang sama dengan aku dan orang muslim pada umumnya.

Setelah aku selesai mandi dan melaksanakan kewajibanku, aku tidak melihat ada pesan baru dari Ira pada Blackberryku. Aku berfikir kalau Ira masih mandi atau mungkin sedang melakukan kesibukan lainnya. Jadi kubiarkan saja, aku lebih memilih menyaksikan adikku bersama teman-temannya yang memanfaatkan halaman rumah untuk bermain sepakbola. Sampai suara adzan maghrib memaksa adikku bersama teman-temannya menghentikan permainan mereka, pesan dari Ira belum juga kuterima. Malam yang semakin menampakkan gelapnya tidak merubah apapun. Kuletakkan Blackberry di atas kasur lalu kutinggalkan pergi menyusul teman-temanku untuk sama-sama kami bernyanyi melewati malam hari. Rutinitas malam yang memang menjadi sebuah kebiasaan bagiku dan teman-temanku.

Keesokan harinya Ira kembali mengirimi aku pesan. Kali ini pesannya berisi kesedihan hatinya yang disebabkan oleh kesalahfahaman antara dia dan kekasihnya. Ia meminta saran dariku atas masalah yang tengah menimpanya, dan aku pun tidak keberatan memberikan saran dengan melatar belakangkan pengalaman pribadiku sebagai dasarnya. Ira menerima setiap saran yang aku berikan kepadanya. Ajaibnya lagi, setiap saran yang aku berikan kepadanya selalu berhasil menyelesaikan masalahnya. Disini aku merasa heran, bertanya pada diriku sendiri. “Kenapa aku dengan mudah dapat menyelesaikan masalah cinta sepasang kekasih sementara aku telah kehilangan kekasihku?”. Ironi memang, tapi beginilah hidup. Terkadang kita akan terlihat sangat cekatan memberikan solusi atas masalah orang lain disaat masalah kita sendiri tidak kunjung menemukan titik terang. Kini dua hal sudah yang membuat Ira mengagumiku. Selain karena rangkaian kata juga setiap karena saran dariku yang selalu mampu menyelesaikan masalah Ira dan kekasihnya.

Hari demi hari yang terus berganti membawa kedekatan hubunganku dengan Ira meski aku dan Ira tidak pernah sama sekali bertatap muka. Sampai suatu hari aku mendengar kabar bahwa ibunda Ira meninggal dunia. Entah apa yang membuat aku sepertinya sangat terpukul setelah mengetahui kabar itu. Padahal wajah Ira pun tidak pernah terbayang dalam setiap hayalanku, apalagi siapa sosok ibunya. Aku tak bisa untuk tak peduli. Ira adalah temanku, Ira adalah sahabatku, Ira adalah gadis yang suatu saat akan kutemui dalam dunia nyata.

Sejak saat itu, Ira lebih sering menghubungiku terlebih disaat ia merindukan sosok ibunya. Ira yang semula hanya berkominikasi via Blackberry Messanger denganku, kini ia memiliki nomor handphoneku dan kami menjadi sering berkomunikasi via telepon. Semuanya kami lakukan hanya pada saat malam karena pagi sampai sore hari Ira harus bekerja sebagai Sales Promotion girl (SPG) pada suatu perusahaan di kotaku. Tidak jarang Ira menelponku dengan satu keluhan yang sama, “Aku Rindu Mama” dan ketika kata-kata itu disampaikan Ira kepadaku, aku sangat susah memberikan ketenangan kepadanya melalui saran-saranku. Bagaimanapun, aku belum mengalami apa yang dialami Ira. Jadi aku memberikan saran seadanya kepada Ira berdasarkan pengalaman yang diceritakan teman-temanku tentang hal yang sama dan dari buku-buku yang pernah aku baca. Beruntung, Ira selalu mengatakan bahwa apa yang aku katakan banyak benarnya. Hal itu membuatku senang karena bisa sedikit membantu Ira untuk bangkit dari keterpurukannya.

Hari-hari yang dijalani Ira kini jauh berbeda dari sebelumnya. Satu musibah yang merubah banyak sisi dalam kehidupannya. Sepeninggalan mama tercinta meninggalkan segenap duka dalam keluarga Ira. Mulai dari status seorang ayah yang berubah menjadi duda sampai peran ganda yang ditanggung oleh Ira. Selain sebagai kakak tertua, Ira juga harus berperan sebagai ibu untuk mengurusi ketiga adik-adiknya. Suatu malam, aku menerima telpon dari Ira. Aku yakin ia akan membahas hal yang sama dari sebelum-sebelumnya. Dan ketika aku angkat telpon darinya, dugaanku benar. Ira merindukan almarhum mamanya. Ira juga menceritakan bahwa adik-adiknya terutama adik bungsunya yang berusia 5 tahun masih sering mencari mama. Suara Ira selalu berbeda setiap kali ia membahas tentang almarhum mama. Tidak jarang aku memperhatikan setiap penggalan kata yang keluar dari mulut Ira, suaranya terdengar seperti orang yang menahan tangis. Seandainya aku boleh berkata jujur, aku juga sepertinya merasakan sedih yang dirasakan Ira. Aku membayangkan diriku pada posisinya, namun aku tidak pernah menceritakan itu kepada Ira. Aku hanya berjanji pada diriku untuk membantunya semampuku.

Di sela percakapanku dengannya, aku teringat akan kata-kata yang pernah kurangkai ketika aku membayangkan datangnya hari itu. Hari ketika aku ditinggal orangtuaku untuk selama-lamanya, hari ketika rindu hanya akan menghadirkan tangis, dan hari ketika aku harus melewati sisa umurku tanpa orang yang telah melahirkanku, membesarkanku, merawatku, mendidikku, bahkan mengorbankan segalanya hanya untuk kebahagiaanku. Demi menguatkan Ira, rangkaian kata yang telah lama tertanam dalam benakku akhirnya aku sampaikan kepadanya. Aku takut, aku khawatir kalau kata-kata yang kuharapkan dapat menyadarkannya justru akan menambah kesedihannya. Tapi dengan satu tarikan nafas panjang, aku ucapkan kepada Ira bahwa “Segala Yang Kita Sayang Pasti Kan Hilang!!”. Aku sangat bersyukur ketika Ira menanggapi perkataanku dengan ucapan yang memang kuharapkan. Sejak malam itu, aku kembali mendapatkan kalimat-kalimat canda dari Ira. Artinya Ira telah bisa menerima segala yang terjadi meski aku yakin belum sepenuhnya. Aku pun sempat menemuinya di sebuah tempat, pertemuan itu menjadi satu-satunya kesempatan untukku melihat senyumannya secara langsung.

TAMAT

Sang Penulis Cerita

Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals (Untukmu Negeri)

Cerpen Berdiri Tanpa Kaki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkunjung ke Negeri Dongeng

Oleh:
Sabtu, 18 Mei 2013 Di pagi yang cerah itu, aku bergegas menuju ke masjid. Kakiku melangkah dengan cepat. Hatiku risau. Sepertinya aku telah mengecewakan teman-temanku karena telah membuat mereka

Disaat Aku Haus Penghargaan

Oleh:
Suara gemercik air dari sudut rumah telah membangunkan ALUYSIUS SENO AJI dari tidurnya. Pagi itu cuaca terlihat sangat bersahabat, semangat yang menggebu gebu dan perasaan yang tenang selalu ENO

The Angels in McDonald

Oleh:
Aku bertemu malaikat saat merayakan ulang tahunku bersama-sama temanku di McDonald. Sore itu sebelum bertemu dengan malaikat, tidak ada kejadian yang langka selama kami makan di sana. Kami ketawa

Balai Hujan

Oleh:
Hari ini terasa singkat sekali. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. kenapa aku bisa lupa ya kalau jadwal kuliahku di majukan jadi pukul 2 siang sekarang.

Kehidupan Mahasiswa Baru

Oleh:
Cerita ini terinspirasi dari kehidupan saya dan beberapa sahabat baru saya yang membuat saya sadar akan indahnya arti persahabatan dimana kami sering bercanda bersama melepas semua masalah dalam diri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Berdiri Tanpa Kaki”

  1. Rina Anggrainy Samosir says:

    Keren mas pas banget dengan aku, ditunggu lagi cerpen2 yang keren 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *