Di Balik Sakitku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 17 June 2021

Sania menatap pilu di balik jendela kamarnya, badannya kini terbaring lemah terkujur kaku seperti makhluk yang tak lagi bernyawa, bertahun-tahun ia mengalami sakit yang menderanya bagai mayat hidup, segala jenis obat sudah jadi santapan hari-harinya namun tanda-tanda kesembuhan tak kunjung ia rasakan, Usaha yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya hingga menjadi besar sudah tak lagi semangat untuk ia jalankan, sebagian karyawan terpaksa harus mengakhiri masa kerjanya karena makin hari usaha yang ia rintis makin sepi, semangat Sania tak lagi membara seperti dulu saat baru-baru merintis usahanya, belum lagi rasa sedih menderanya saat tau bayi di kandungannya tak bisa berkembang selayaknya bayi pada umumnya.

Bagai petir yang menyambar-nyambar di atas kepala dengan memekikkan suara yang membuat gendang telinganya mau pecah seakan tak ingin mendengar apapun masalah lainnya yang akan sampai ke telinganya. Hidup yang ia jalani tak lagi sebahagia dulu, Teman yang selalu membersamainya selama ini yang seperti satu jiwa dan kemana-mana berdua, teman yang seperti saudara bagiku namun tak ada kabar setelah seminggu yang lalu aku tak bisa meminjamkannya uang yang ia butuhkan untuk keperluannya yang katanya sangat mendesak padahal yang sebelumnya pun tak ada kabar uangku yang ia pinjam untuk biaya Rumah Sakit anaknya, sebenarnya bukan maksud mengungkit tapi apakah masuk akal aku yang baru sesekali bilang tidak bisa kemudian secepat kilat ia berprasangka jelek padaku yang sebelumnya Ia selalu datang menghambur rumahku, jika jauh selalu berkirim kabar lewat handphone namun kini bagai kacang lupa kulitnya, Tak sedikitpun ia chat menanyakan kabarku padahal ia satu-satunya yang kuberi tahu melalui pesan whatsapp namun tak ada balasan apalagi untuk menjenguk, ahh… itu semua jauh dari kata mungkin. Hati Sania kini makin hampa bagai debu yang bertaburan mengikuti arah angin yang membawanya. Seperti butiran debu yang berusaha pasrah pada takdir dan keadaan.

Sesekali aku sapu air mataku melihat gelak tawa anak-anak melalui video call bapak dan mamak di kampung, karena kondisiku yang makin hari tak berdaya maka dengan berat hati anak-anak aku titipkan disana yang jaraknya kurang lebih dua jam dengan kontrakanku saat ini. Beruntung suamiku selalu di samping menemani hingga aku menjalani rangkaian pengobatan juga terapi untuk kesembuhanku tanpa terucap rasa letih keluar dari mulutnya, suamiku memang berhati sabar dan penyayang walaupun harta kami sedikit demi sedikit terkuras, tabunganku habis juga tanahpun kami jual karena sakit yang aku derita mengeruk habis kantong kami. Namun ikhtiar demi ikhtiar kami jalankan dan ahli syaraf menyebutnya dengan Spondilosis servikal penyakit yang terbilang cukup serius ia terjadi karena kerusakan ruas tulang leher dan bantalannya, sehingga menekan saraf tulang belakang dan menyebabkan rasa nyeri di leher, bahu dan kepala.

Spondilosis servikal juga dikenal sebagai penyakit osteoartritis servikal atau artritis leher. Kini rasa sakitnya mengitari leher yang kini menjalar ke punggung hingga kaki, kata dokter jika mengenai lumbal maka bisa terjadi kelumpuhan, kemungkinan terburuk itulah yang akhirnya membuatku semakin depresi karena anakku masih kecil-kecil belum lagi kandunganku saat ini sudah menginjak tiga bulan dan sudah saatnya untuk memeriksakan kembali melihat perkembangannya, walaupun tidak ada rencana akan menimang momongan lagi karena kedua bidadariku yang masih kecil tapi bagaimanapun aku tetap ingin bayi ini tumbuh di rahimku dengan normal hingga ia lahir dan besar di sampingku kelak.

Usai sudah aku mengontrol kandunganku dan benar dugaanku bahwa janin ini tetap tak ada perubahan dari bulan sebelumnya, usia kandunganku kini memasuki empat bulan namun tak juga ada tanda-tanda ia tumbuh berkembang selayaknya janin pada umumnya. Oh Rabbku …cobaan apalagi yang kau berikan pada hambamu yang makin terkulai lemah ini, akankah aku bisa melewati semua ini, hatiku menjerit mengadu pada Allah sejadi-jadinya bahwa aku ingin sehat seperti dulu agar aku bisa merawat anak-anakku dan menjadi ibu yang baik buat mereka.

Tak lama kemudian perutku sakit seperti tertusuk benda tajam, rasanya melebihi rasa kontraksi yang pernah aku rasakan sebelumnya. Tak henti-henti aku berdzikir agar Allah ringankan rasa sakit ini. Selang berapa lama darah keluar membasahi gamis yang aku kenakan, dengan sigap suamiku menuntun ke kamar mandi dan darah makin deras mengalir dari rahimku hingga mata ini terasa gelap diikuti rasa lemas menyeruak di tubuh ini yang makin tak sanggup menopang raga sendiri sampai pada akhirnya aku terjatuh tak sadarkan diri. Histeris mas Ilham meraihku namun tubuhku telah terlanjur terhempas ke lantai. Tak ada rasa sama sekali sakitnya setelah tubuh ini terhempas bagai pohon yang tumbang.

Begitu sadar aku telah berada di klinik ruang Unit Gawat Darurat, Kupandangi wajah mereka yang nampak panik satu per satu. Dan melirik ke arah telapak tanganku yang masih di genggaman Mas Ilham, suamiku yang senantiasa di sampingku. Dan bapak berada tepat di sebelahnya, sementara anak-anak di luar bersama Mamak berdiri mengamati dari bilik jendela ruanganku. Hatiku amat lega melihat dua putriku yang masih sangat sehat di sana, aku memang lagi berduka namun tetap berusaha bersyukur karena memiliki mereka di hidupku. Melihatnya saja yang memancarkan senyum merekahnya membuatku lupa rasa sakit yang saat ini aku rasakan. Mereka anugerah terindah yang Allah berikan padaku, yang selalu bisa menyembuhkan luka. Mereka adalah harta berharga yang aku punya setelah orangtua dan keluargaku.

Telepon berdering… aku yakin pasti ibu yang meneleponku tengah malam begini, karena biasanya hanya dia yang membangunkan malam untuk tahajud, kusambar dengan cepat telepon genggamku dan berharap ibu tak merasakan suara perihnya hatiku saat ini.

“Assalamualaikum mba”,
Mendengar suaranya saja sudah membuatku tenang, ya…. suara ibu bagiku seperti obat penenang bahkan siapapun yang mendengarnya akan terhipnotis dengan suara lembut nan merdunya, karena ibu kerap kali menjadi penasihat para anak-anak muda di sekitar rumahnya, juga preman jalanan yang tak segan ia berikan uang saku sambil menyuguhi nasihat emas darinya. Oh indahnya jika mengingat Ibu, tiba-tiba ada rasa ingin sekali berjumpa dengan ibu di seberang sana.

“Mbaa…. mbaa…. Mba Sania kok ngelamun”, sahut ibu yang beberapa kali memanggilku, hingga aku tersentak.
“Oh iya bu… maaf hanya saja Sania tiba-tiba rindu Ibu”.
“Sudah sholat mba?”
“Sudah bu barusan”. Jawab Sania
“Oh iya kalau rindu kesini saja, tapi kalau memang kondisimu gak memungkinkan nanti biar ibu yang cari waktu untuk kesana”.
“Ehmm… jangaaann bu, biar Sania saja nanti kesana kalau mas Ilham lagi longgar”.
“Oh ya udah kalau gitu, yang penting kamu disana sehat kan?”
“Alhamdulillah sehat bu, ya udah Ibu istirahat ya besok Sania telepon lagi”. Dari seberang suara ibu menutup telepon diiringi jawaban salam dari Sania.

Air mataku menetes kembali setelah telepon itu kututup, kali ini dan seumur hidupku aku membohongi ibu bahwa aku baru kehilangan bayiku dan sekarang aku masih di rumah sakit. Sengaja aku tak memberi tahu Ibu bahwa aku sedang mengandung, Awalnya aku ingin memberi kejutan untuk Ibu, pasti Ibu sangat senang, Berulang-ulang aku membayangkan raut wajah bahagianya yang tau akan hadirnya zuriat baru yang Allah titipkan kembali padaku. Namun pada akhirnya aku malah membohonginya. Maafkan Sania Ibu, Sania hanya tak ingin ada raut kesedihan menghiasai wajah Ibu yang kini sedikit menua tapi terlihat masih segar dan bugar. Ingin rasanya memberi tahunya namun ketakutanku lebih besar dibanding rasa berdosaku telah membohonginya, takut Ibu panik dan khawatir kemudian langsung bergegas kemari, apalagi membayangkan ibu kemari sendiri dengan menempuh perjalanan panjang seorang diri. Karena adik-adik yang masih sama-sama kuliah di perantauan, Dan Ayah yang telah dulu dipanggil Sang Kuasa. Karena itu aku tak mau membebani ibu dengan kondisiku.

“Bun…. makan nih ayah suapin”, tiba-tiba seorang lelaki yang amat lembut ini membuyarkan lamunanku, kubuka mulutku perlahan kemudian dengan jahilnya ia jauhkan sendok itu perlahan dan makin jauh hingga keningku tepat mengenai bibirnya, seperti tak disengaja ia menciumku, namun itulah niat sebenarnya. Ahh… Mas Ilham memang selalu pintar merawat bunga di hatiku yang hari-hari selalu tumbuh mekar bersemi. Ia tau betul memperlakukan istrinya dengan istimewa juga selalu memanjakanku bahkan ketika sehat pun tak pernah kurang-kurang perhatiannya apalagi saat sakit seperti ini. Pipiku tak henti-hentinya dibuat merah merona ketika selalu berhadapan dengannya.

“Ahh mas ini”. Kita tertawa bersamaan sambil sedikit menyubit lengannya.
“Habis ngelamun terus dari tadi… ada apa sayang?”, tanyanya mesra.
“Oiya mas, Sepulang dari Rumah Sakit boleh tidak Sania ke rumah ibu?”.
“Ya boleh dong kalau hanya ke rumah Ibumu, asal perginya sama Mas”.
Sania tersenyum malu. Keduanya saling berpelukan.

Pagi ini di tanah kelahiran yang hampir tak kukunjungi setahun lamanya, desa ini masih sangat sejuk dan damai. Setelah menceritakan perihal kejadian menimpaku dan sakit yang sekarang aku alami ibu makin perhatian dan tak membiarkanku sedikitpun kerja walau sekedar membantunya membereskan rumah. Aku bak Ratu dibuatnya. Aku ingin wanita yang selalu kuat ini selalu sehat. Tak pernah kudapati wanita sekuat ia, bertahun-tahun tanpa bapak Ibu bisa melewati hari-harinya banting tulang sendiri menghidupi kami, walaupun ada sedikit usaha yang bapak tinggalkan untuk diteruskan oleh adikku. Tapi ibu tetap memilih bekerja karena ingin melihat anak-anaknya berhasil hingga meraih semua cita-cita kami. Karena itu bagiku Ibu adalah wanita kuat yang aku temui di dunia ini, tak pernah aku dengar rengekkan sakit tubuhnya, lelahnya ia hingga membesarkan kaki dan membanting tulang menghidupi kita hingga ketiga anaknya bisa sampai ke jenjang sarjana.

Saat sedang asyik berbincang tiba-tiba badanku terasa kaku, dan bergegas aku naik ke kamar atas disusul Mas Ilham yang mengetahui gerak gerikku, karena dia hapal betul aku tak pernah ingin menunjukkan rasa sakitku di depan keluargaku terutama ibuku.

“Sayang…. ada apa tiba-tiba naik ke atas, emang sudah ngantuk? Baru juga jam sembilan”, celetuk Mas Ilham dengan sederet pertanyaannya yang tak bisa aku jawab, tubuhku mendadak kaku, nafasku terengah-engah, bibirku susah untuk terkatup bahkan suaraku berat membuka sekedar memanggil nama Mas Ilham. Hanya Dzikrullah, Shalawat serta Asma Allah yang tak henti terucap dalam hati. Mas Ilham panik ia ingin ke bawah memanggil Ibu namun aku menarik tangannya, tanpa aku jelaskan Mas ilhampun pastinya paham betul apa maksudku.
Ia makin panik dan menuntunku dengan kalimat-kalimat Allah serta memutarkan suara murotal bacaan Al-quran di Handphone genggam miliknya.

Ingin ku berteriak namun tenagaku sudah tak mampu menumpahkannya ke seluruh tubuhku, badanku bagaikan es, dingin kaku menjalar di sekujur tubuhku, aku menggigil merasa sangat dingin bagai Es yang telah lama membeku di Freezer. Kutuntun hati ini semampuku berdzikir dan menyerahkan segalanya hanya pada Allah, berusaha mengikhlaskan segalanya jika memang takdir hidupku sampai saat ini. Aku ikhlas ya Raabbb… Air mata pun menguap menjalar ke seluruh wajah. Lalu seketika tubuh ini mencair, sedikit-sedikit es yang tadinya membeku telah mencair menjalar membasahi tubuhku kemudian aku merasakan seperti ada yang keluar dari badanku dan ada bayangan putih terbang di atasku, entah apa itu aku tak menghiraukannya yang jelas nyawaku telah kembali pikirku, Aku sungguh merasakan kembali aliran darahku juga detakkan nadiku. Dan nafasku memburu begitu cepat, keringat bercucuran di sekujur tubuhku, tubuhku lelah seakan habis melalui perjalanan panjang dan akupun berlalu tidur tanpa sepatah katapun untuk suamiku yang masih terjaga di sampingku.

Suamiku semalaman menjagaku, sesekali tertidur, kemudian melihatnya sujud di atas sajadahnya, ia nampak lelah sampai aku menemukannya tidur di atas sajadahnya. Seusai subuh aku merenung perihal kejadian semalam, rasanya seperti mimpi tapi aku tak bisa menepis bayangan putih yang begitu cepat pergi itu. Aku tidak sedang berhalusinasi rasanya. Tak ingin memikirkannya terlalu lama iapun bergegas ke bawah melihat anak-anaknya yang tidur dengan neneknya.

Namun sesampainya di bawah aku merasakan kembali hal aneh, badanku tiba-tiba sakit kembali, perutku sakit, badanku kembali lemah, leherku seperti tercekik, aku hampir kehilangan nyawaku lagi dan kali ini tanpa ada siapapun, mereka masih berada di kamarnya masing-masing, adik-adik barusan melihatnya selesai sholat subuh sebelum aku merasakan hal aneh macam ini, sakit yang mendadak, sakit apa yang aku derita ini, sakit yang tanpa sanggup berteriak, tubuhku melemah dan aku hanya terbaring di sofa ruang tamu, Anehnya tak lama saat ibu dan anak-anak keluar dari kamar, sakit itu seketika hilang tak meninggalkan jejak, makin sehat ketika semua telah terbangun. disusul suamiku yang datang dari atas mencariku, aku masih duduk di kursi depan TV, aku masih diam membisu bagai patung yang baru saja diubah menjadi manusia sungguhan. Entah sakit apa yang menimpaku, akankah ini tanda-tanda kelumpuhanku. Ibu dan adik-adik bingung melihat tingkahku yang hanya diam sejak tadi, ingin aku menceritakan kejadian barusan namun aku urungkan karema ceitanya mirip seperti cerita fiktif belaka.

Suamiku terbelalak dan berbisik “Apa masih sakit? Wajahmu pucat sekali”, namun aku tetap diam seribu bahasa, sambil menggelengkan kepalaku di hadapan Mas Ilham. Kulirik sedikit ke arah kaca jendela di sampingku dan ternyata benar kata suamiku, wajahku pucat bahkan aku merasa seperti mayat hidup yang baru merasakan mati suri, ditambah lingkar mata yang nampak hitamnya memperjelas aura yang susah dijelaskan oleh kata-kata.

Cerpen Karangan: Endah Karuniasih
Blog / Facebook: Neney Chilla
Endah Karuniasih, Lahir di Samarinda, 17 February 1991. Alumni D3 Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Samarinda, Kalimantan Timur. Menulis adalah berinovasi, berbagi cerita pengalaman sehingga ia akan terus menulis dan menginspirasi. Selain menulis, ia sangat suka dunia Olahraga, Fotografi, juga Wirausaha, terlebih hobbynya yang gemar membaca novel, serta membuat puisi menjadikan ia ingin menjajaki dunia penulis.
Saat ini, penulis berdomisili di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Instagram, Twitter, dan Wattpad @n.a_karunia.

Cerpen Di Balik Sakitku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam Minggu Faqih

Oleh:
Halo nama gua Muhammad Abdul Hakim Faqih, tapi lu bisa panggil gua Faqih. Yang harus lu tau gua adalah seorang pelajar SMA yang menjalani kehidupan gua yang luar biasa

Hati Yang Kau Sakiti

Oleh:
“Kala itu, tanggal 15-11-2012 aku sangat bahagia sekali setelah penantianku yang telah lama akhirnya membuahkan hasil. Karena apa yang selama ini aku impikan telah menjadi kenyataan. Yah, tepatnya dia

Gara Gara Rp 2.000

Oleh:
Mata uang kertas Rp 2.000 pertama diedarkan tanggal 10 juli 2009 dengan gambar depan Pangeran Antasari dan gambar belakang tarian adat dayak. Sedangkan uang Rp 2.000 terbaru diedarkan pada

Jadi ini Akhirnya

Oleh:
Senja pun telah bergulir, berganti pekatnya malam berhiaskan gemintang perak menggantung di hamparan langit hitam. Sirius mulai menampakkan diri ditemani bola kuning bercahaya, rembulan. Drama manusia dikejar jadwal kian

Seorang Thomas Edison

Oleh:
Di sebuah desa kecil, ada seorang bocah lelaki berusia sekitar 9 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah. Ia pulang ke rumahnya membawa selembar kertas dari gurunya supaya diberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *